TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Adu Jotos


__ADS_3

"Mm.. Kayanya nggak.


Karena kalau harus jujur, Rangga bukan tipe Kakak."


"Emangnya tipe cowok Kakak yang kaya gimana?" Regy terus bertanya, bak wartawan infotainment.


"Kakak suka Cowok humoris dan yang lebih dewasa pemikiran dan usianya dari Kakak.


Meski Rizvan nggak termasuk karena kami seumuran, tapi sikap dewasanya lah yang bikin Kakak suka sama dia."


Regy terpaku. Sudah jelas dia bukan termasuk tipe Meisya. Jadi apa itu berarti, ia harus mundur alon-alon?


"Kamu Kayanya niat banget yah mau nyomblangin Kakak sama Rangga." Ucap Meisya diiringi senyuman tipis.


Regy tersenyum kikuk. Mana mungkin. Meskipun terkadang ia seperti orang plin-plan, namun jauh dilubuk hatinya, ia tetap tidak rela melihat sahabatnya dekat dengan wanita pujaannya.


"Kamu sendiri gimana? Udah punya cewek?"


Regy menggeleng. 16 tahun usianya, ia belum pernah berpacaran sama sekali. Dan Meisya adalah cinta pertamanya.


"Kalau gebetan? Ada dong?"


"Ada. Sayangnya temen saya juga suka sama gebetan saya. Jadi saya lebih memilih untuk mundur dan merelakan perempuan itu untuk teman saya."


"Duh kasian banget..


Kalau Kakak boleh tahu, siapa gebetan kamu? Dan temen yang kamu maksud juga siapa?" Tanya Meisya, memastikan jika teman yang Regy maksud bukanlah Rangga, dan gebetan Regy adalah dirinya.


Tapi dugaan Meisya memang benar. Sayangnya Regy tidak mau berterus terang. Lebih tepatnya belum siap.


"Nama teman saya Adit (Rangga ADITya) dan gebetan saya Ana (Meisya AdriANA)."


"Sekolah disini?"


Regy menggeleng dusta. "Dua-duanya di Bandung."


Meisya mengerti dan tidak bertanya lagi. Ia berspekulasi jika Regy sengaja jauh-jauh sekolah ke Jakarta agar bisa melupakan Ana yang mungkin sudah bahagia bersama Adit.


Padahal kenyataannya bukan seperti itu.


***


"Pak Gion, nasgornya 2 porsi ya!"


"Siap Neng Raya! Tapi sabar yah, ada yang order banyak."


"Berapa banyak Pak?"


"20 porsi."


Buset! Banyak sekali. Raya sampai melongo dibuatnya. Padahal ia sudah sangat lapar dan ingin segera melahap nasi goreng Pak Gion yang rasanya tidak ada lawan.


"Kira-kira berapa lama lagi Pak?"


"Mungkin sekitar 15 menitan lagi. "


Mau tak mau, Raya akhirnya menunggu dan duduk di salah satu kursi. Sambil menunggu, Raya bermain game di handphonenya.


"Pak, Berapa lagi yah?" Tanya seseorang yang duduk membelakangi Raya, seraya menoleh ke arah Pak Gion. Dan orang itu..


"Divio?"


"Raya?" Divio langsung memutar badan dan duduk berhadapan dengan Raya. "Loe lagi beli nasi goreng juga?"


"Iyah.. By the way, Loe? yang pesen 20 porsi?"


Divio mengangguk sambil menyibak rambutnya yang tertiup angin.


"Terus makanan sebanyak itu mau loe abisin sendiri?"


"Gila aja! Lu pikir gue apaan?"


Raya nyengir. Ia pikir Divio mau mukbang dan menyaingi si Tanboy Kun. "Terus makanan sebanyak itu buat siapa?"


"Kepoooo!!"


"Hish!" Raya manyun. Divio memang menyebalkan! Ia teringat sesuatu dan langsung menatap Divio dengan mimik wajah serius.


"Gue pengen tanya sesuatu sama loe." Ucapnya dengan tangan yang terlipat diatas meja.


"Apaan?" Divio deg deg serrr.


"Di Blackpink loe suka sama siapa? Lisa? Jisoo? Jennie? Rose?"


Wajah Divio auto datar. Si Raya memang sesuai julukannya. KAMPRET!


"Juminten!"


"Haha stress!"


**


Saat Keyla sedang berias, handphonenya yang terletak di atas meja, mendadak berbunyi pertanda masuknya sebuah notifikasi.


WhatsApp from : Fathan ❤️


(Sayang aku jemput kamu yah sekarang)


Keyla auto tersenyum bahagia dan segera membalas: Oke yang, aku tunggu.


5 menit kemudian, Keyla keluar dari gerbang rumahnya. Disaat yang sama, Aby juga muncul dengan motornya.


"Loe udah mau sekolah?" Tanya Keyla seraya menatap tangan kanan Aby yang sedang memegang stang.


Aby hanya mengangguk. Tampaknya ia teguh dengan pendiriannya. Ia pun bersiap pergi dengan membawa motornya. Namun bagaimanapun hati tidak bisa dibohongi.


"Loe lagi nungguin temen-temen loe?"

__ADS_1


"Nggak, gue lagi nungguin Fathan." Keyla tersenyum manis, memamerkan giginya yang rapi. "Kami udah balikan Bi."


"Oh." Jawab Aby. Singkat, padat, dan jelas. Hatinya auto panas membara. Kemudian dengan sengaja, ia menarik gas motornya kuat-kuat sehingga menciptakan suara ruangan yang membuat siapapun sakit telinga.


"ABY IH! BERISIK!" Keyla langsung menutup kedua telinganya. Takut gendangnya pecah.


Tapi Aby tidak peduli dan masih melanjutkan aksinya.


"ABY! TELINGA GUE SAKIT!" Keyla berteriak ditengah raungan motor Aby.


"Hati gue juga sakit. " Gumam Aby, sekaligus curhat.


Sayangnya Keyla tidak mendengarnya. "HAH? Loe ngomong apa?"


Aby tersenyum pahit menyadari kekonyolannya, dan akhirnya berlalu tanpa menjawab pertanyaan Keyla. Berlalu dengan kecepatan nyaris 80 km/ jam.


"JANGAN NGEBUT B*ANGKE! NTAR LOE JATUH LAGI!"


Disaat yang sama, di dalam mobil Raya, Meisya sedang membaca pesan yang dikirim Keyla 7 menit yang lalu.


(Gak usah ke rumah gue ya guys, gue berangkat sama beb Fathan)


"Dih! Garila aing." Ucap Meisya dengan logat Sundanya.


Raya menatapnya lewat spion depan. "Kenapa?"


"Si Keyla mau berangkat sama si Setan eh si Fathan maksudnya." Jawab Meisya yang sangat membenci Fathan.


Raya nyengir sambil geleng-geleng kepala. Si Kebo kalau sudah membenci seseorang memang sampai segitunya.


"By the way Ray.. Loe beneran udah Move On dari si Randy?" Tanya Meisya kemudian. Mengingat perubahan sikap Raya yang begitu cepat, ia masih tidak habis pikir.


Raya termangu. Tapi akhirnya mengangguk dengan tegas.


"Serius? Gimana caranya? Ajarin gue dong."


"Caranya gampang. Loe tinggal nyebut 'Move On' 33 kali sebelum dan sesudah tidur. Maka beberapa hari kemudian, insya Allah anda akan terbebas dari belenggu mantan maupun gebetan."


"Haha.. Stress anying."


Tiba di kelas, Meisya melihat Keyla yang sudah duduk manis di tempatnya. Raya sendiri sedang ke toilet.


"Anjir yang berangkatnya di anterin sama ayang Beb." Ledek Meisya.


Keyla tersenyum sombong. "Ya dong.. Anda sirik yah?"


"What? Sirik? Maaf.. Saya lebih baik jomblo daripada punya pacar kaya si Setan, eh si Fathan maksudnya."


Keyla langsung memukul Meisya. Untungnya dia tidak marah mendengar ucapan sahabatnya tersebut.


Saat merogoh kolong mejanya, lagi-lagi! Sebuah coklat Meisya temukan di dalam sana.


"Coklat lagi! Nih orang gak tahu apa yah, tiap abis makan coklat, gigi gue suka sakit. Lagian siapa sih orangnya? Sok misterius banget."


"Gue tahu." Jawab Keyla tanpa diduga.


"Iyah. Orang pas gue dateng, gue mergokin dia yang lagi naroh coklat di kolong meja loe." Sahut Keyla, entah serius entah bercanda. Tapi kelihatannya serius.


"Demi apa loe Key? Terus siapa orangnya?"


"Yang jadi Mak comblang loe sama si Rangga. Siapa si? Gak tahu namanya gue."


Meisya menutup mulutnya yang auto menganga. "Oh My God.. SI REGY?"


"Nah! Iyah. Orang itu."


"Loe serius Key? Loe gak bercanda kan?"


Keyla tak menjawab dan malah nyengir kuda.


"Jawab Keyla!"


"Tapi Bo'ong yhaaa."


"KUTIIIIILLL! RESE LOE!"


"Muahahahaha."


**


Setelah menyelesaikan urusannya, Raya keluar dari toilet. Tiba di belokan, ia dibuat terkejut saat berpapasan dengan seseorang. Seseorang yang menjadi bagian dari masa lalunya.


"Le.. Levin?"


Pemuda itu bernama Levin. Dia adalah mantan Raya saat SMP yang terkenal badung dan pembuat onar. Bisa pindah sekolahpun karena di sekolah sebelumnya ia membuat masalah dan mengharuskan dirinya untuk pindah.


"Hai Ray.. " Levin tersenyum menyeringai. " Loe pasti seneng kan ngelihat keberadaan gue?"


Raya begidik. "Najis! Pede banget jadi orang."


"Jangan gitulah.. Najis najis gini juga dulu pernah jadi pacar loe."


"Dan pacaran sama loe adalah kesalahan terbesar dalam hidup gue!" Raya langsung pergi sambil mendorong bahu Levin dengan tubuhnya.


BRAK! Raya membanting tasnya dengan kesal. Bisa-bisanya cowok brengsek itu pindah sekolah ke SMA-nya.


"Napa lu Ray? Pagi-pagi udah emosi aja." Tanya Keyla yang sebelumnya dibikin jantungan oleh Raya yang membanting tasnya dengan keras.


"Mantan gue pindah sekolah kesini." Jawab Raya dengan nafas yang memburu.


"Wih ya bagus dong. Kalian bisa CLBK dan loe gak jomblo lagi." Celetuk Keyla yang langsung ditoyor kepalanya oleh Raya.


"Sembarangan loe kalo ngomong! Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus balikan sama cowok brengsek kaya dia."


"Brengsek gimana?" Tanya Meisya yang mulutnya dipenuhi snack kentang.


"Dulu, gue sama dia putus gara-gara dia ketahuan selingkuh sama sahabat gue sendiri.

__ADS_1


Jadi mana mungkin gue nerima dia kembali."


Meisya auto menatap Keyla yang langsung pura-pura sibuk dengan handphonenya.


Sepertinya lebih baik ia tidak nimbrung pembicaraan Meisya dan Raya. Daripada nanti jadi bahan ledekan.


Meisya sendiri menahan diri untuk tidak julid pada Keyla. Takut lama-lama sahabatnya akan tersinggung jika ia terlalu sering meledeknya.


**


SMA 70..


Aby dan Fathan berpapasan di lorong kelas.


Awalnya mereka saling melewati begitu saja. Hingga akhirnya Fathan tiba-tiba memanggil Aby.


Dengan malas Aby menoleh dan menatap Fathan dengan wajah datar.


Fathan mendekat beberapa langkah. "Gue sama Keyla udah balikan. Jadi loe jauh-jauh deh dari cewek gue. Kecuali loe mau nyari mati."


Aby membuang muka seraya tersenyum sinis. Kok ada yah orang se-tidak tahu malu Fathan?


"Gimana rasanya jilat ludah sendiri?" Tanya Aby kemudian.


Fathan yang bodoh sama sekali tidak mengerti ucapan Aby. "Maksud loe?"


" Setelah loe dengan seenaknya ngebuang dia, sekarang, dengan gak tahu malunya loe sok-sokan jadi cowok yang baik buat Keyla..


Otak situ ditaro dimana Mas?"


Fathan yang emosinya tersulut, langsung memukul wajah Aby dengan keras.


Membuat Aby tersungkur dan ujung bibirnya berdarah seketika.


"Banyak bacot lu mon*et! Udah gak punya nyokap juga masih aja belagu! Kalo berani ayo duel sama gue!"


Tangan Aby mengepal. Siapapun tidak akan lolos jika sudah menghinanya seperti itu. Tanpa mempedulikan tangan kanannya yang bahkan belum sembuh, Aby pun membalas Bogeman Fathan dengan jotosan yang tidak kalah keras.


Terjadilah adu jotos diantara mereka.


**


"Kok tiba-tiba perasaan gue gak enak yah?" Tanya Keyla sambil mengetuk-ngetuk pensilnya ke meja dengan cepat. Seolah mempunyai firasat jika pacar dan sahabatnya sedang baku hantam.


Meisya langsung menyuruhnya banyak-banyak berdoa. Karena biasanya, firasat tidak pernah meleset.


Begitu bel istirahat berbunyi, Meisya langsung mengajak Keyla ke kantin. Gadis yang sedang overthinking itu mengangguk dan langsung bangkit. Namun bukannya berjalan menuju pintu kelas, ia malah balik badan.


Meisya heran. "Key lu mau kemana?"


"Ke kantin." Jawab Keyla polos.


"Ke kantin ya ke sana bege! " Meisya menunjuk pintu kelas. "Lu mau nembus tembok?"


Keyla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar hilang fokus dan tidak bisa berpikir jernih.


"Kenapa sih loe kaya orang linglung?" Tanya Raya yang juga heran melihat sikap Keyla.


Gadis itu tak menjawab dan malah pergi keluar kelas.


Meisya geleng-geleng kepala dan langsung mengajak Raya. Namun gadis itu menolak dengan alasan tidak lapar dan ingin dikelas saja.


Meisya tak memaksa dan akhirnya pergi menyusul Keyla. 5 menit setelah kepergian si Kebo, Raya yang sedang tiduran dikejutkan oleh kedatangan seseorang di kelasnya.


"Owh jadi kelas loe disini?"


Raya terperanjat dan langsung menatap orang itu. Astoge si Levin bangsat! Mau apa dia ke kelasnya?


"Sayang banget kita nggak sekelas." Lanjut Levin dengan senyum memuakkan.


Raya tersenyum sinis. "Mending gue pindah sekolah daripada harus sekelas sama loe."


Levin berjalan mendekati Raya dan duduk di hadapannya, di bangku Keyla. "Gak usah sok jual mahal deh Ray, gue tahu loe masih ada rasa sama gue."


Raya membuang muka dan sekali lagi tersenyum sinis. Bajingan satu ini pede sekali!


"Loe bener. Gue masih ada rasa. Rasa pengen melenyapkan loe dari muka bumi.


Lagian sorry aja yah, gue udah ngehapus nama loe dari sejarah hidup gue. Dan menganggap gak pernah kenal sama loe."


"Oiyah? Kalau gitu, apa loe udah punya cowok?


Kalau belum, artinya loe emang gak bisa move on dari gue." Ucap Levin yang masih sangat yakin jika Raya belum bisa melupakannya, entah atas dasar apa.


Raya sendiri terdiam. Mana mungkin ia mengaku punya pacar tapi sudah meninggal. Lagipula Randy dan Levin tidak ada bedanya. Sama-sama bangsat!


Dan diamnya Raya membuat Levin yakin . "Nah.. Bener kan?"


Raya langsung menyangkal. "S.. Sok tahu loe! Gue udah punya cowok kok." Disaat yang sama, Divio masuk. Ia yang tadinya hendak makan di kantin mendadak kembali ke kelas karena dompetnya ketinggalan.


"Tuh orangnya!" Raya menunjuk Divio yang langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya bingung. Apa maksud Raya?


Levin pun mengikuti arah telunjuk Raya. Bangkit dari duduknya, dan menghampiri Divio.


"Loe orangnya?"


Divio semakin bingung. "Apanya?"


"Loe cowoknya Raya?"


"HAH?" Divio hendak menyangkal. Namun secepat kilat Raya berlari ke arah mereka, dan tanpa diduga menggandeng lengan Divio.


"Iyah.. Ini cowok gue. Ganteng kan? Lebih ganteng dari loe!" Tegas Raya.


Divio menatap Raya dan auto melongo. What the hell nih cewek?


-Bersambung-

__ADS_1



__ADS_2