TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Cemburu menguras hati


__ADS_3

"Loe? Loe cowok yang semalam nolongin gue kan?" Tanya Raya sambil mengingat kejadian tadi malam. Meisya dan Keyla langsung menatap Aby.


Awalnya pemuda itu terlihat bingung. Tapi kemudian ia tersenyum seraya membenarkan. "Iyah."


"Nolongin gimana?" Tanya Meisya, satu-satunya orang yang berada di dalam mobil.


Raya langsung menjelaskan. "Jadi semalam, gue dicegat sama Dua orang preman sepulang dari tamkot (taman kota). Untungnya ada dia yang nolongin." Raya menatap Aby dengan mata yang berbinar. "Gue pikir itu suara mobil polisi beneran loh."


Aby tersenyum manis. "Bukan, itu cuma suara boongan di aplikasi handphone gue."


Entah kenapa, Keyla tiba-tiba panas hati melihat Raya dan Aby yang saling tersenyum dan langsung tampak akrab. Mungkinkah dia cemburu?


Meisya sendiri menyadari sesuatu. "By the way.. Loe ini Aby kan?"


Raya kaget. "Oh.. Jadi loe Aby? Tetangga sekaligus sahabat Keyla dari kecil itu, loe?"


Aby tersenyum dan mengangguk. Apakah itu artinya, Keyla sering menceritakan dirinya pada dua sahabatnya?


"Yaudah yuk ah! Udah siang!" Keyla sewot. Ia memasuki mobil Raya sembari membanting pintu mobilnya.


Membuat Raya auto ngomel. "Pelan-pelan kutil! Kalau mobil gue rusak loe mau tanggung jawab?"


Keyla tak merespon dan malah memasang headset di telinganya. Padahal masih pagi, tapi kenapa dia merasa gerah sekali?


Raya pun pamit pada Aby, dan berterimakasih sekali lagi. Aby hanya tersenyum. Sebelum mereka pergi, ia melihat Keyla yang sekilas melirik ke arahnya.


"Seumur kita temenan, gue baru kali ini ngelihat Aby secara live, Key." Ucap Raya.


Keyla yang masih sibuk mencari lagu di playlist handphonenya, balik bertanya. "Kenapa? Loe suka sama dia?"


Raya langsung menoleh dan menatapnya. "Apaan sih loe."


Mengingat Keyla dan Aby yang tidak saling bertegur sapa. Meisya menebak. "Kalian lagi perang dingin yah?"


Keyla membenarkan. "Dia minta gue buat gak ngurusin hidup dia. Jadi buat apa gue deketin dia."


Meisya dan Raya saling bertukar pandang. Sementara Keyla menatap keluar dengan pandangan sedih. Pikirannya bertanya-tanya. Kenapa hubungannya dengan Aby bisa seperti ini?


**


"Hai Gi.." sapa Meisya yang berpapasan dengan Regy di depan perpustakaan.


Tanpa ekspresi, Regy menatap Meisya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan, dan harus melupakan Meisya bagaimanapun caranya. Lagipula seperti kata orang-orang, cinta pertama tidak akan pernah berhasil.


Regy pun berlalu tanpa menghiraukan sapaan Meisya. Membuat Gadis itu speechless sekaligus bertanya-tanya.


"Anjir gue di cuekkin! Salah gue apa?"


Saat Regy duduk di tempatnya, ia dihampiri Rangga yang baru kembali dari toilet.


"Eh Gi.. Gue pengen nanya sama loe."


Regy tidak merespon dan malah mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. Sedangkan Rangga tetap berkicau.


"Weekend nanti, gue berencana ngajak Kak Meisya jalan. Menurut loe, enaknya gue ngajak dia kemana yah?"


"Terserah! Yang mau jalan kan loe sama dia. Kenapa nanya sama gue?"


Mendengar jawaban Regy yang ketus, Rangga heran. "Kok loe ngegas? Gue kan nanya baik-baik."


"Gue lagi pusing mikirin tugas! " Alasan Regy. Padahal bohong. Untuk saat ini, ia berencana menghindari dua manusia yang kerap kali membuat hatinya hancur.


**


Pukul 06.45 Divio baru datang. Saat tiba di belokan, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang sedang berjalan sambil bermain handphone.


Handphone orang itu pun jatuh seketika. Dengan geram, ia menatap Divio. Rupanya orang itu adalah Levin.


Divio yang tidak merasa bersalah, akhirnya berlalu begitu saja. Namun tentu saja Levin tidak tinggal diam.


Levin menahan bahu Divio. "Ambil gak?" Perintahnya sambil menunjuk handphone berlogo apel yang tertelungkup di lantai.


Divio menolak mentah-mentah. "Loe yang jatohin, kenapa harus gue yang ngambil?!"


Levin langsung mencengkram kerah baju Divio. "Loe nabrak gue Mony*t! "


Divio tidak gentar dan balas menarik baju Levin. "Loe kalau jalan pake mata anj*ng !"


Raya datang dan langsung memisahkan dua anak manusia yang sedang berseteru tersebut. "Stop! Sejak kapan sekolah ini jadi kebon binatang?"


Keduanya tak menjawab dan malah saling bertatap ngeri. Sebelum kemudian Levin berkata pada Raya. "Kok loe bisa-bisanya pacaran sama cowok bangsat kaya dia?"


Divio tersenyum sinis. "Bangsat kok teriak bangsat."

__ADS_1


Levin murka dan langsung melayangkan bogemnya. Untunglah Raya berhasil menahannya.


"Jangan pukul dia! Pukul gue aja."


Levin terdiam dan menurunkan tangannya perlahan. Meski amarahnya masih memuncak, namun jika Raya sudah berkata seperti itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Raya sendiri semakin memojokkannya. "Kenapa diem? Ayo pukul! Dulu kan loe juga sering mukulin gue gara-gara hal sepele."


Divio tercengang mendengar pernyataan Raya. Baginya, hanya cowok pengecut yang berani kasar terhadap perempuan.


Sedangkan Levin tidak mampu menjawab.


"Ternyata loe gak berubah Vin! Loe masih brengsek kaya dulu!" Raya langsung pergi, diikuti Divio di belakangnya.


Seperti kemarin, mereka berbincang di rooftop yang memang selalu sepi.


"Loe serius sama omongan loe Ray?" Divio masih tak percaya. Kok bisa-bisanya dulu Levin menyakiti Raya, padahal jelas-jelas dia pacarnya.


Sedangkan Raya membenarkan. Hubungan mereka memang toxic. Dan karena saat itu Raya seolah dibutakan oleh cinta, ia masih tetap mempertahankan hubungannya dengan Levin.


"Ini gak bisa dibiarin! Gue harus ngasih dia pelajaran!" Tekad Divio dan berniat melabrak Levin saat itu juga.


Tanpa diduga, Raya meraih tangannya. Menghentikan langkah Divio. "Plis Div.. Gue gak pengen loe berurusan sama Levin."


"Tapi ini udah kelewatan Ray! Kok bisa-bisanya sih dia mukul cewek? Dasar Banci!"


"Udahlah gak papa.. Lagian kejadiannya kan juga udah lewat."


Divio menghela nafas. Mencoba meredam emosinya yang bergejolak. "Dia sering mukulin loe?"


Raya menelan ludah getir. Jika dipikirkan lagi, ia benar-benar bodoh kala itu. "Beberapa kali. Dan masalahnya sepele. Cuma gara-gara gue gak ngabarin, atau telat bales chatt dia. Besoknya gue langsung dihajar tanpa ampun."


Divio membuang muka, dan membuang nafas kasar. Ia sampai tidak tahu lagi harus berkata apa.


Tapi kemudian dia bertanya kembali, "Terus gara-gara itu kalian putus?"


"Bukan..


Gara-garanya waktu itu gue gak sengaja mergokin dia yang lagi ciuman sama seorang cewek yang ternyata sahabat gue sendiri."


"Wah.. Gila.. Tuh cowok bener-bener bangsat!" Divio langsung memegang kedua pundak Raya dan menasehatinya. "Ray, dengerin gue..


Gimanapun juga, kalau someday dia ngajak loe balikan, loe gak boleh mau.


Sekalipun dia mintanya sambil guling-guling di tengah jalan. Pokoknya jangan pernah loe terima dia."


"Good! Dan kalau misalkan nanti, dia tiba-tiba bersikap kasar sama loe, loe jangan sungkan manggil gue."


Raya hormat sambil berseru. "Siap Pak Guru!


Eh by the way.. Kalau misalkan suatu hari orang lain tahu kita pacaran, meskipun settingan, kira-kira bakal ada masalah nggak?"


Divio ora mudeng. "Maksud loe?"


"Maksud gue, kalau misalkan pacar loe tahu kita pacaran boongan, gimana?"


"Pacar gue siapa?"


"Ya mana gue tahu."


"Gue jomblo udah hampir 3 tahun. Pacar dari Hongkong."


"Kenapa nggak nyari lagi?"


"Karena sejauh ini, belum ada cewek yang bisa bikin gue jatuh cinta. Eh tapi.." tiba-tiba Divio teringat sesuatu. Seorang Gadis yang dua kali Divio pergoki sedang bernyanyi sedih, membuat Divio penasaran sekaligus merasakan sesuatu.


"Tapi apa?" Raya heran mendengar Divio yang menggantungkan ucapannya.


Divio tersenyum gugup. "Nggak jadi deh."


"Dih, gajelas!"


***


Istirahat, di kantin.


Melihat dua sahabatnya yang tampak murung dan tak berselera, Raya mengernyit heran.


"Kenapa lu pada?"


Meisya dan Keyla langsung bertukar pandang selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Meisya balik bertanya.


"Kenapa apanya?"

__ADS_1


"Muka kalian kusut, kaya baju yang belum di setrika. Pada kenapa sih?"


Meisya menghela nafas panjang. Ia hanya tak mengerti, kenapa Regy tiba-tiba cuek dan tidak membalas sapaannya tadi pagi. Namun semua itu Meisya pendam sendiri, dan tidak berniat ia ceritakan pada dua somplak.


Sementara Keyla juga tak luput memikirkan hubungannya dengan Aby yang sedang tidak baik-baik saja.


Raya menatap Keyla yang masalahnya tampak serius. "Key, loe kenapa sama si Aby? Kenapa kalian perang dingin?"


Sambil mengaduk-aduk mie rebusnya yang sudah mengembang, Keyla menjawab pelan. "Gue juga gak ngerti sama sikap dia akhir-akhir ini. Dia jadi cuek, sensitif, dan kadang sinis sama gue."


"Oiyah? Terus kenapa mukanya pada bonyok gitu?" Raya kepo sejak tadi pagi.


"Dia abis berantem sama Fathan."


"What?" . "Loe serius?" Tanya Meisya dan Raya bersamaan.


Keyla membenarkan. "Dan waktu gue ngekhawatirin dia, kalian tahu jawaban dia apa?


Dia malah nyuruh gue buat gak ngurusin hidupnya.. Salah gue apa coba?"


Meisya berspekulasi. "Menurut gue, dia kaya gitu gara-gara dia cemburu sama si Fathan."


Keyla tidak paham. "Maksud loe?"


"Maksud gue, si Aby suka sama loe!" Ucap Meisya, geregetan. Kadang si kutil memang lemot!


Keyla sendiri protes. "Apaan sih loe Mei, jangan ngarang deh! Mana mungkin Aby suka sama gue." Padahal di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin.


Raya jadi penasaran. "Key, jujur deh.. Selama loe sahabatan sama si Aby, loe pernah suka gak sih sama dia?"


"Loe pengen tahu?"


Raya mengangguk cepat. Dan jawaban Keyla..


Setelah pesan-pesan berikut ini.


**


Bel pulang berbunyi..


Raya menyuruh Keyla dan Meisya menunggu di parkiran, sementara ia membereskan buku-bukunya.


Saat Meisya dan Keyla keluar kelas, keduanya mendapati Rangga yang sedang berdiri di samping pintu.


"Rangga?" Meisya heran. Sedang apa dia berdiri disana. Menunggu seseorang kah?


Rangga tersenyum. "Kak, aku anterin pulang yah?"


Awalnya Meisya tampak ragu. Namun saat mengingat perubahan sikap Regy, ia pun bersedia menerima tawaran Rangga dan berniat menanyakan hal itu padanya.


"Boleh deh." Meisya menatap Keyla dan berpesan. "Bilangin sama Raya, gue balik sama Rangga yah."


Keyla hanya mengangguk. Dari tatapan matanya, ia terlihat tidak menyukai Rangga. Entah karena apa.


Setelah keduanya pergi, seseorang berdiri disamping Keyla yang belum beranjak dari tempatnya.


Keyla menatap orang itu. Rupanya pengagum rahasia Meisya.


"Butuh tissue?" Keyla menawarkan. Pasti sakit rasanya jadi dia.


Regy tersenyum pahit. "Saya mau nyerah Kak."


"Kok gitu? Kan mereka juga nggak ada hubungan apa-apa."


"Tapi saya udah capek. Saya nggak pengen terus-terusan nyiksa diri sendiri.


Dan saya juga sadar.. Kak Meisya gak pantes buat saya."


Keyla bingung harus berkata apa lagi. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu perasaan Regy terhadap Meisya. Dan ucapannya tentang Regy yang memberi Meisya coklat selama ini, juga bukanlah dusta belaka.


Setelah menggendong tasnya, Raya bersiap pergi. Tanpa diduga, Divio (yang juga masih berada di kelas) memanggilnya. Raya pun menoleh.


"Loe suka anak-anak nggak?"


"Tergantung. Kalau anaknya nyebelin gue nggak ak suka. Tapi kalau baik, gue suka."


Divio mengerti. Ia tersenyum. "Oke."


"Kenapa emang?"


"Nggak, gue cuma nanya. Yaudah, gue duluan yah.."


Sepeninggal Divio, Raya tersenyum simpul.

__ADS_1


Wah.. Sepertinya benih-benih cinta mulai bersemi di hati keduanya.


-Bersambung-


__ADS_2