TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
GERCEP!


__ADS_3

Mamah Raya mengernyit heran kala melihat keberadaan Divio di pagi hari. Apalagi pemuda itu tampak sedang berbincang akrab dengan putrinya.


"Divio?"


Sempat kalang kabut, Divio akhirnya mendekat dan menyalami Mamah Raya. Karena bagaimanapun ia harus terlihat baik di mata Mamah calon pacarnya. Ups!


"Assalamualaikum Tante."


"Waalaikumsalam. Kamu, mau apa kesini? Kamu kenal sama Raya?" Tanya Mamah Raya, sekaligus.


Divio membenarkan dan mengaku teman sekelas sekaligus teman sebangku Raya di sekolah.


Sedangkan Raya dibuat heran. Bagaimana ceritanya Sang Mamah dan Divio bisa saling mengenal, padahal setahu dia mereka belum pernah bertemu.


"Mamah kenal sama Divio?"


"Ya kenal lah. Divio kan anak teman Mamah. Malah dia cukup sering datang kesini."


Raya tambah heran. "Kesini? Ngapain?"


Mamah Raya menjelaskan jika Mamah Divio merupakan fashion designer. Dan beliau adalah salah satu customer setianya.


"Karena itu Divio sering kesini buat nganterin baju pesanan Mamah."


"Kok aku nggak tahu?"


"Ya jelas nggak tahu lah. Orang kamu kerjaannya di kamar terus."


Raya cemberut. Selain untuk makan, ia memang jarang keluar kamar. Karena baginya, tempat ternyaman dalam rumahnya adalah kamarnya.


Ia menatap Divio kesal. "Loe kok gak pernah bilang sering ke rumah gue?"


"Ya loe nggak nanya." Jawab Divio polos. "Dan gue juga baru tahu kemarin-kemarin, kalau ternyata loe anaknya Tante Mayang."


"Makanya, jangan di kamar terus kerjaannya. " Nasihat sang Mamah pada Raya.


Gadis itu merengut kesal. "Iyah."


Divio tersenyum. Bagaimanapun ekspresi wajahnya, Raya tetap terlihat cantik dimatanya.


**


Saat sedang berjalan menuju kelasnya, Meisya berpapasan dengan Regy yang kala itu hendak pergi ke perpustakaan.


Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya berhenti di hadapan masing-masing.


"Selamat pagi Bu Guru."


Meisya tertawa renyah mendengar panggilan yang dilontarkan Regy. "Oiyah, Apa Mamah kamu ngomong sesuatu tentang kakak?" Gadis itu kepo.


"Iyah." Tegas Regy. Membuat Meisya langsung penasaran.


"Ngomong apa?"


"Katanya selain pintar, Kakak juga cantik, baik, dan sopan. Dengan kata lain calon menantu idaman."


Wadidaw! Meisya seakan tersanjung mendengarnya. Tersenyum salah tingkah, ia berkata, "Masa sih? Kamu nggak bohong kan?"


"Buat apa saya bohong? Gak ada faedahnya."


Masih teringat dalam ingatan Regy ketika ia pulang sehabis mengantar Meisya, Sang Mamah dengan jelas mengatakan jika Meisya Gadis yang sempurna untuk dijadikan calon menantu. Membuat Regy berucap aamiin sekeras mungkin dan meminta ridho ibunya agar bisa dipersatukan dengan Meisya kelak.


"Oiyah berarti hari ini, giliran kamu yang jadi guru Kakak. Iya kan?" Tanya Meisya, mengingat Regy sudah berjanji akan mengajarinya bermain gitar.


Regy tersenyum lembut seraya menganggukan kepala. Tidak mungkin ia melupakan janjinya terhadap gadis impiannya.


"Tapi nggak papa kan kalau tempatnya di gazebo yang ada di belakang kosan? Soalnya kalau ditempat lain, saya nggak tega ninggalin Mamah.


Sekarang pun saya nggak tenang ninggalin mamah sendirian di kosan."


Sebelumnya, Regy menawarkan sang Mamah untuk tinggal di rumah kerabat jauh mereka yang ada di kampung sebelah, sementara ia sekolah. Namun mamah Regy menolak dan bersedia menunggu Regy selama ada televisi.


Untungnya Meisya tidak mempermasalahkan hal itu. ".... Kakak malah senang bisa ketemu sama Mamah kamu lagi. Oiyah kamu tahu nggak, tape pemberian Mamah kamu langsung ludes dimakan sama Mamah Kakak. Kakak sampai nggak kebagian." Ucap Meisya yang kemarin sempat diberi oleh-oleh khas Bandung oleh Mamah Regy.


Regy tertawa kecil. "Oiyah? Yaudah nanti saya kasih lagi."


"Ih nggak gitu maksudnya, kakak bukan mau minta lagi. Kakak cuma ngasih tahu kamu doang."


"Masaaaaaaaa.." Kini Regy menggoda Meisya, yang langsung dihadiahi pukulan ringan di bahunya.


Kepergian Rangga seolah menjadi kesempatan emas baginya. Meski terdengar jahat, tapi Regy berharap Rangga menetap lebih lama di Jogjakarta.


***


Waktu istirahat, Trio somplak terlihat makan bersama di kantin. Setelah sesuap bakso masuk ke mulutnya, Meisya bertanya sambil mengunyah.


"Key.. Loe bilang Aby udah berani manggil loe sayang kan? Terus jadinya, status kalian apa sekarang?"


Keyla menghela nafas sambil mengaduk-aduk jus jeruknya. Jangankan Meisya, ia pun bingung dengan status mereka sekarang.


"Dibilang temen, kayanya lebih dari temen. Dibilang pacaran, kapan jadiannya." Ujar Keyla dengan wajah murung. Jatuhnya Aby jadi tukang PHP alias pemberi harapan palsu.

__ADS_1


Sambil mengipasi diri dengan kipas mini elektrik, Raya berkata, "Kalau gue jadi loe, gue bakal minta kepastian dari si Aby. Emang enak digantung terus-terusan?"


"Eh tapi dia bilang, sepulang dari Surabaya, dia bakal ngasih tahu gue tentang cewek yang dia suka." Keyla teringat janji Aby tadi malam.


Meisya menyimpulkan. "Berarti loe kudu sabar. Setelah pulang dari Surabaya, dia pasti bakal nembak loe. Yakin gue!"


Raya setuju. Dia yakin perempuan yang disukai Aby adalah Keyla. Buktinya? Cara menatap Aby setiap kali melihat Keyla. Yakni tatapan penuh cinta, yang membuat Raya sedikit iri.


Tring! Sebuah pesan masuk ke WhatsApp Keyla.


Dari Aby!


(Key, boleh gak sih gue kangen sama loe?)


Aww! Pipi Keyla auto merona. Aby memang jago menerbangkan perasaannya! Dengan gerakan cepat, Keyla mengetik pesan balasan.


[Boleh dong. Apa sih yang nggak buat kamu]


Melihat Keyla yang senyum-senyum sendiri seperti cewek kurang waras, Meisya heran.


"Kenapa loe?"


"Paling dapet pesan dari si Aby." Tebak Raya, 100% benar.


***


Suatu malam, Meisya dan Raya bermain ke rumah Keyla. Kini, mereka sedang berkumpul dan seru-seruan di kamar Keyla yang bernuansa pink. Warna kesukaan Keyla.


Hingga tak lama kemudian, Keyla mendapat telfon dari Aby. Tanpa menunggu lama, Keyla pun segera mengangkatnya.


"Halo?"


'Lagi ngapain Ayang?'


Keyla tersenyum salah tingkah. Lama-lama dia seperti cewek Stress yang sering senyum-senyum sendiri.


"Gue lagi-"


Meisya yang duduk di samping Keyla tentu mendengar pertanyaan Aby, dan langsung memotong, "LAGI MIKIRIN SI ABI!'


Raya auto ngakak. Sementara Keyla langsung memelototinya. Hendak pergi, namun Meisya menarik paksa tangannya, dan menyuruh Keyla untuk tetap disana.


Sedangkan Aby heran. "Lagi ada temen-temen loe yah?"


'Iya nih. Temen gue pada rese. Maafin mereka yah.'


Aby tersenyum sambil memainkan kukunya. Posisinya saat ini sedang rebahan di kamar tamu rumah bibinya.


Hening beberapa lama. Aby terlihat bingung mencari topik. Sementara Keyla membaca pesan yang diketik Raya di handphonenya. Gadis itu sempat ragu. Namun akhirnya ia menuruti perintah si kampret yang tidak ada salahnya untuk dicoba.


'Silahkan.'


"Jadi gini. Ini cerita Si Meisya, salah satu temen gue. Dia itu punya sahabat Cowok namanya si Rizvan. Mereka udah sahabatan lama banget.


Tapi makin kesini, si Meisya kaya yang baper dan suka sama si Rizvan. Apalagi kayanya si Rizvan juga suka sama dia. Pertanyaannya, kira-kira kalau si Meisya ngungkapin perasaannya, si Rizvan bakalan seneng atau-"


"Suruh si Meisya sabar. Karena gak lama lagi, si Rizvan bakal nembak dia. " Demi apapun, Aby langsung peka oleh perkataan Keyla yang sebenarnya merujuk pada mereka berdua.


"ANJAAYY... BAPER GUE!" Meisya histeris dan langsung menggigit bantal. Sementara Raya nyeletuk sambil mendorong bahu Keyla."Cieee.. loe dapat lampu hijau Key."


Dan Keyla? Jangan ditanya. Hatinya melambung menuju angkasa, menembus tujuh lapis langit hingga mencapai Arsy. (Duh lebay sekali bahasanya wkwk)


'Lusa gue pulang. Loe mau apa?'


Lagi-lagi! Belum sempat Keyla menjawab, Meisya langsung menyambar dengan menyanyikan sebuah lagu.


"Aku tidak minta oleh- oleh, Emas permata dan juga uang..


Tapi yang kuharap engkau pulang, dengan membawa kesetiaan.."


"Yihaaa.. Majalengka digoyang." Raya ikut-ikut stress.


Keyla yang gemas dan tidak tahan lagi, langsung mengambil bantal dan bergantian memukul kedua sahabatnya. Membuat dua kampret semakin tertawa terpingkal-pingkal.


"Duh Bi, nanti aja yah nelfonnya. Disini banyak orang gila."


'Haha, yaudah.'


Begitu telfon ditutup, Meisya langsung menyikut Keyla seraya menggodanya. "Cie.. Yang bentar lagi bakal ditembak."


Raya ikut-ikutan dan mencolek dagu Keyla. "PJ (Pajak jadian) lah PJ."


"Nih PJ! NIH!" Keyla kesal dan kembali memukuli mereka dengan bantal. Kesal tapi sebenarnya bahagia. Haha.


Tak lama kemudian, Raya juga mendapat pesan dari Divio yang isinya : Ray, gue lagi di panti nih. Loe mau kesini gak? Katanya Alifa juga pengen ketemu sama loe."


Gadis itu otomatis bangkit dan berkata tanpa melepas tatapannya dari handphone. Karena Divio yang menyuruh, dia langsung gercep (gerak cepat).


"Girls, gue pergi dulu yah?"


"Mau kemana?" Keyla heran.

__ADS_1


"Ke.. mana saja boleh."


"Stress!"


Dan tidak hanya Raya, Meisya juga ikut-ikutan pamit karena malam ini, dia ada jadwal menyanyi di kafe.


***


Melihat sesosok manusia yang sedang duduk di salah satu kursi, senyum Meisya mengembang dengan sendirinya.


Dengan langkah sedang, Gadis itu menghampiri pemuda yang sedang merenung, entah memikirkan apa.


"Hayo!" Meisya menggebrak meja.


Regy terlonjak dan tersadar dari lamunannya. "Eh, Kak Meisya?"


"Jangan ngelamun, nanti kesambet nyalahin setan." Celetuk Meisya.


Regy menunduk dan tersenyum geli. Guyonan gadis itu selalu berhasil membuatnya terhibur.


Jadi makin cinta. Ups!


Disaat seperti itu, tiba-tiba seorang pelayan mendekati keduanya. Ia menyapa Meisya, kemudian melihat Regy yang tampak familiar baginya.


Setelah berusaha mengingat, akhirnya pelayan itu tahu. "Gak nitipin coklat lagi Mas?" Celetuknya, buka kartu.


Regy sendiri terbelalak. Ia lupa berpesan pada sang pelayan untuk merahasiakan hal itu, waktu lalu.


Meisya terheran. "Cokelat apa?"


"Itu loh Kak, cokelat -"


"Maaf, mas kayaknya salah orang deh. Saya nggak pernah nitipin apa-apa." Potong Regy, seraya mengedipkan mata. Memberi kode pada sang pelayan untuk tidak ember perihal hal itu.


Untungnya pelayan laki-laki itu mengerti arti kedipan mata Regy dan akhirnya berlalu setelah pamit.


Sementara Meisya terdiam dan tiba-tiba teringat akan ucapan Keyla beberapa waktu lalu, yang berkata jika orang yang selama ini menaruh cokelat di kolong mejanya adalah Regy.


"Kak? Kok bengong?" Tanya Regy, gantian membuyarkan lamunan Meisya.


Gadis itu tersadar. "Hah? Oh Iyah, Maaf.


Tapi, bener yang diomongin pelayan tadi? Kamu pernah nitipin cokelat buat kakak?"


"Ng.. Gak. Dia salah orang. Lagian buat apa di titip, saya orangnya kalau mau ngasih, langsung ngasih aja." Tapi bo'ong yhaaa.


Meisya memutuskan percaya dan akhirnya pamit untuk bersiap-siap tampil. Fiuhhhhhh.. Regy menghela nafas lega.


"Hampir aja ketahuan!"


**


Tiba di panti, Raya turun dari mobilnya.


Matanya langsung menangkap sosok Alifa yang sedang duduk di halaman panti, di atas kursi rodanya.


Raya segera mendekati Gadis kecil itu, lalu menyesuaikan posisinya.


"Cantik, kamu lagi ngapain sendirian disini?" Raya celingak-celinguk, mencari keberadaan Divio yang katanya sudah ada di panti. "Kak Vio mana?"


Alih-alih menjawab, Alifa justeru tersenyum seraya menyerahkan sepucuk surat dan sebatang cokelat.


Dengan perasaan heran, Raya menerimanya dan segera membaca surat itu. Alifa sendiri memutar balikkan kursi rodanya dan langsung pergi.


Gadis itu bernama Raya..


Pertama melihatnya, aku sangat membencinya. Dia Gadis yang kasar dan arogan sekali. Tapi dibalik semua itu, aku menemukan sesosok gadis yang rapuh, dan lembut hatinya. Berkali-kali disakiti, dia tetap setegar batu karang.


Itulah yang membuatku kagum padanya. Dan kini, seiring berjalannya waktu, rasa benci itu telah terkikis habis oleh sesuatu bernama (....)


Penasaran yaaa..


Coba sekarang, angkat kepala loe dan lihat ke depan.


Secepat mungkin, Raya menuruti perintah Divio di surat tersebut. Dari jarak 5 meter, terlihat Divio dan 3 orang anak yang berdiri disamping kanannya sambil masing-masing membawa sebuah papan.


Raya senyum-senyum sendiri. "Apaan sih? Gajelas ih!"


"Gajelas tapi kepo kaaan? " Goda Divio. Kemudian menatap ke-3 anak itu dan memberi aba-aba.


Setelah Divio menghitung sampai angka 3, satu persatu anak bergantian mengangkat papan yang mereka pegang.


Papan anak pertama bertuliskan huruf : I


Anak Kedua : LOVE


Anak Ketiga : YOU


Disusul Divio yang membuka jaket hitamnya dan menunjukkan t-shirt bertuliskan: RAYA MONICA.


Raya tertegun melihat semua itu. Apakah ini artinya, Divio sedang menembaknya sekarang?

__ADS_1


Wah cowok itu benar-benar gercep!


-Bersambung-


__ADS_2