TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Jakarta Fair Kemayoran


__ADS_3

Raya bersedekap sambil menatap Aby dengan tajam. "Gue pengen tanya sama loe. Loe anggap apa Keyla selama ini?"


Dengan wajah sendu, Aby menjawab. "Temen."


Meisya membuang muka dan tersenyum sinis. Rusak sudah image baik Aby dimatanya.


"Cuma temen?" Raya terus menghakimi Aby.


Pemuda itu mengangguk pelan. Ia tidak kaget dan sudah bisa menebak jika sahabat-sahabat Keyla tidak akan tinggal diam.


"Loe nggak sadar sering ngebaperin dia? Lagian mana ada temen tapi sayang-sayangan." Nada suara Raya semakin meninggi. Pertanda emosinya semakin naik.


Aby membuang nafas. Ia benar-benar frustasi oleh semua ini.


"Terus gue harus gimana?"


"Loe masih nanya? Kalau loe nggak suka sama Keyla. Berhenti bersikap baik dan berhenti ngasih harapan palsu sama dia."


"Emang Keyla pikir gue suka sama dia?"


Kali ini Raya speechless. Demi apapun, ia tidak menyangka Aby sebangsat itu. Giliran Meisya yang pasang badan.


"Kalau loe nggak suka sama Keyla, ngapain loe manggil dia sayang? Kenapa loe selalu bersikap baik dan seolah ngasih harapan sama dia?"


Skak mat. Otak Aby buntu dan tidak bisa menjawab lagi. Apalagi sakit kepala yang tiba-tiba menyerang, memaksa Aby harus terlihat baik-baik saja di depan kedua gadis itu.


"Gak bisa jawab kan loe?! Gue pikir loe ada bedanya sama si Fathan dan si Hugo. Nyatanya sama aja! Bahkan loe lebih bangsat dari mereka berdua." Ucap Meisya berapi-api. Masih segar dalam ingatannya ketika Keyla menangis terisak tadi malam. Ia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


Disaat situasi sedang memanas, Keyla keluar gerbang dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ayo gaes, kita berangkat. " Dan langsung masuk ke dalam mobil Raya tanpa menatap ke arah mereka sedikitpun. Ia sudah tidak peduli lagi dengan semuanya.


***


(Div ntar kalau loe udah nyampe, langsung ke kantin yah. Ada yang pengen gue omongin).


Pesan WhatsApp dari Raya yang Divio terima 30 detik yang lalu. Pemuda itu langsung menaruh tasnya dan bergegas menemui Bebeb-nya di kantin.


Setibanya di kantin, Divio melihat Raya yang sedang duduk sendiri sambil meminum sekaleng susu.


"Loe mau ngomongin apa?" Tanya Divio sesaat setelah ia duduk di hadapan Raya.


"Gue butuh bantuan loe."


Divio menaikan sebelah alisnya. "Bantuan apa?"


Raya langsung menceritakan masalah Keyla pada sang Bebeb. Berharap Bebeb-nya bisa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Aby, karena Raya yakin ada yang tidak beres.


Setelah mendengar penuturan Raya, Divio mengangguk pertanda bahwa ia mengerti.


"Loe tenang aja. Gue bakal nyari tahu semuanya."


"Oke. Tolong yah. Gue bener-bener gak tega ngelihat Keyla. Berturut-turut dia disakitin sama 3 cowok."


"Iyah, loe tenang aja. "


--


Hari itu, Regy baru sekolah lagi setelah beberapa hari absen karena sakit yang dialaminya.


Saat sedang berjalan menuju kelasnya, ia berpapasan dengan Keyla di belokan.


Regy memasang senyum dan menyapa Keyla. "Hai Kak Key."


Keyla hanya membalas sapaan Regy dengan senyuman paksa, sebelum akhirnya melanjutkan langkah. Semua makhluk bernama Laki-laki membuatnya ilfeel saat ini.


Sementara Regy terheran-heran. Dan menduga jika Keyla sedang tidak baik-baik saja.


Meisya yang saat itu tengah mengikuti Keyla, dibuat terkejut okeh keberadaan Regy.


"Regy? Alhamdulillah kamu udah sehat?" Meisya tampak girang.


Pemuda itu mengangguk seraya tersenyum manis. "Alhamdulillah. Saya udah sehat wal' Afiat."


Meisya balas tersenyum tak kalah manis. "Syukurlah kalau gitu."


"Oiyah Kak. Katanya sekarang lagi ada JFK (Jakarta Fair Kemayoran). Nanti malam kita kesana yuk?" Ajak Regy tanpa ragu. Ia ingin mengukir kenangan indah sebanyak mungkin bersama Meisya, sebelum Rangga kembali.


Untungnya Meisya tidak menolak. Bahkan dengan senang hati menerima ajakan Regy.


**


Pukul 7 malam. Aby menghidangkan segelas jus jeruk ke hadapan Divio. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Aby cukup terkejut.


"Minum dulu Div. By the way, tumben loe kesini nggak bilang-bilang."


Divio menatap dalam mata Aby. Seolah ingin masuk dan mencari jawaban atas pertanyaan Raya yang juga menganggu pikirannya.


"Loe lagi ngerencanain apa ?"


Aby tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Keyla! Kenapa loe ngomong sama dia, kalau loe suka sama cewek lain? Bukannya loe udah berniat nembak dia?"


Aby membuang muka, dan menghela nafas panjang. Masalah pelik ini sudah merembet kemana-mana.

__ADS_1


"Loe kenapa sih Bi? Pas Raya nyeritain semuanya, gue bener-bener gak habis pikir sama loe. Mau loe apa sebenernya?" Divio geram bukan main.


Dengan nanar Aby menatap Divio. Bahkan sedetik kemudian, cairan hangat terlihat menggenang di sudut matanya.


"Mau gue? Gue mau bahagia Div.


Tapi kayanya Tuhan gak pernah ngizinin gue buat bahagia. Entah apa salah gue, sampai-sampai Tuhan begitu kejam sama gue."


Divio mengernyit. "Maksud loe?"


Kini airmata Aby benar-benar luruh. Ia tak segan menjatuhkannya di depan Divio.


"Gue divonis Radang selaput otak sama Dokter.


Dan karena penyakit ini, gue harus mengubur dalam-dalam perasaan gue buat Keyla. Karena gue yakin hidup gue gak bakal lama lagi."


Divio tertegun. Dengan lirih ia bertanya. "Loe serius?"


Aby menunduk dan mengangguk. Air matanya semakin deras mengalir. "Jadi buat apa gue bilang suka sama Keyla, kalau ujung-ujungnya gue mati dan ninggalin dia dalam kesedihan."


Aby menatap Divio yang masih tampak shock.


"Sekarang loe ngerti? Gue ngelakuin semua ini demi kebaikan Keyla juga. Gue mau dia berhenti ngeharepin cowok penyakitan ini."


Divio memalingkan muka, menyembunyikan airmatanya.


***


Meisya dan Regy tiba di JFK.


"Kita mau kemana dulu?" Tanya Regy.


Meisya tersenyum dan langsung menarik pemuda itu ke area snow village.


"Kakak pengen main ice skating."


Regy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi saya nggak bisa Kak."


Meisya menenangkan. "Nanti Kakak ajarin."


Setelah memakai sepatu rodanya, Meisya pun berseluncur di atas lantai es dengan riang dan gembira.


Sementara Regy yang tidak biasa memakai sepatu roda, tampak kesusahan berdiri. Ia mencoba berdiri tegap sambil berpegangan ke bibir pintu.


"Ayo sini Gi! Seru tahu!" Ucap Meisya yang masih asyik berseluncur.


Tapi Regy masih belum berani menginjakkan kakinya di lantai es dan justeru tampak ketakutan.


Akhirnya Meisya menarik Regy membawanya meluncur.


Tak lama kemudian, Meisya dengan sengaja melepaskan tangan Regy. Regy pun langsung jatuh. Dan Meisya malah menertawakannya.


"Kakak mah jahat ih! Orang jatuh malah diketawain." Ucap Regy kesal, dengan logat Sundanya.


"Haha.. Maaf .. Maaf."


Regy mencoba berdiri berulang kali. Namun selalu gagal. Membuat Meisya semakin tertawa puas.


"HAHAHA!"


"KAK MEISYA!"


Setelah puas bermain ice skating, Regy mengajak Meisya ke area wild west dan menantangnya bermain flying fox.


Meisya spontan menolak. "Nggak ah. Kakak phobia ketinggian."


Regy auto meledek. "Oh.. Jadi Kakak menyerah sebelum berperang? Se-cemen inikah seorang Meisya Adriana?"


Tentu saja Meisya tidak terima. "Oke! Kakak terima tantangan kamu." Meski belum apa-apa lutut Meisya sudah bergetar saking takutnya. Haha!


5 menit kemudian.


"AAAAAAAAA!" Meisya berteriak histeris saat ia meluncur dari atas ketinggian setinggi 7 meter.


Regy tertawa puas melihatnya. Belum pernah ia merasa sebahagia ini, sebelumnya.


Setelah Meisya turun, cowok itu langsung meledeknya. "Satu sama. Wle." Kata Regy sambil memeletkan lidah.


"Oh.. Jadi ceritanya kamu lagi balas dendam? Oke!" Meisya langsung menyuruh Regy mengikutinya menuju sebuah arena.


"Kita kesana!"


Regy membaca tulisan besar yang ditunjuk Meisya. "Jakarta Zombie attack? Banyak Zombienya dong." Tanya Regy, was-was.


Berbeda dengan Rangga yang menyukai hororr, Regy orangnya penakut setengah mati.


"Kalau banyak badutnya, namanya Jakarta Badut attack. Udah buruan ah."


Meisya menarik Regy yang tampak pasrah.


10 menit kemudian, keduanya keluar dari tempat tersebut bersamaan.


"Ah Zombienya kurang serem." Ucap Meisya yang merasa tidak puas. Ia menatap Regy yang diam mematung dengan pandangan kosong.


"Gi, kamu nggak papa? Masa gitu doang takut.

__ADS_1


Kan zombienya juga nggak serem-serem amat."


Regy menatap Meisya dan merasa tidak habis pikir. " Kalau yang tadi nggak serem, terus menurut Kakak yang serem itu yang kaya gimana?"


"Zombie di film All of us are dead, Train To Busan, itu baru serem. Mau nonton bareng? Biar kamu tahu zombie yang serem itu kaya gimana."


Regy bergidik. "Nggak Kak, makasih."


Selanjutnya mereka berkeliling ke tempat lain.


Saat melintasi mesin boneka, Meisya menghentikan langkah.


Ia menatap Regy. "Mau nyoba gak?"


Regy mengangguk dan tersenyum lembut.


Setelah menukar koin, Meisya langsung memasukkannya ke dalam mesin tersebut, dan mulai mengarahkan capitannya.


"Kakak pengen boneka yang mana?"


"Yang Teddy bear warna biru itu tuh."


Regy memerhatikannya. "Mirip boneka yang pernah saya, eh. Maksudnya Rangga. Mirip boneka yang pernah Rangga kasih dulu." Ucap Regy, nyaris keceplosan.


Sayangnya Meisya tidak peka karena terlalu fokus mengincar boneka yang ia inginkan. "Oiyah?"


"Heem."


Setelah posisinya dirasa pas, Meisya langsung menekan tombol merah. Sayangnya gagal. Boneka jatuh sebelum sampai ke lubang.


"Ih! Nyebelin! Udah susah-susah juga."


Dua kali percobaan, Meisya tetap gagal dan akhirnya menyerah. Regy langsung maju untuk mencoba.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Dan rupanya, sekali mencoba Regy langsung berhasil. Keduanya sontak bersorak girang bahkan refleks berpelukan sambil loncat-loncat.


Sedetik kemudian, keduanya tersadar dan langsung menjauhkan diri masing-masing.


"Ma.. Maaf Kak." Kata Regy, gugup.


Meisya sendiri tersenyum salting. "Ng.. Gak papa."


Regy mengambil bonekanya dan menyerahkannya pada gadis pujaannya itu.


Meisya menerimanya tanpa melepas senyum di bibirnya.


"Makasih."


Terakhir di JFK, mereka mencoba photobox dan berfoto dengan berbagai pose di dalam sana.


Setelah fotonya jadi, mereka langsung membaginya.


"Ini kan ada lima. Kakak tiga, kamu dua yah?" Meisya memilih-milih foto yang bagus.


Regy pasrah. "Siap."


Kemudian mereka makan bersama di salah satu warteg yang terkenal ramai dan enak.


"Maaf ya Kak, saya nggak bisa ngajak Kakak makan di restoran yang mahal." Kata Regy, merendah.


Dengan mulutnya yang dipenuhi makanan, Meisya menjawab. "It's okay. Lagian Kakak lebih seneng makan di warteg daripada di restoran."


Regy tersenyum sambil memandangi Meisya dengan tatapan kagum. Semakin hari, ia semakin jatuh cinta pada Gadis itu. Dan semakin besar pula ketakutannya. Takut ia tidak bisa melupakan gadis itu, jika suatu hari takdir tidak berpihak pada mereka.


Terakhir, Regy membawa Meisya ke suatu tempat. Meisya mematung sambil melihat kubah besar yang berada di atas sana.


"Kita sholat dulu yuk Kak? Saya belum sholat isya."


Masya Allah..


Gantian Meisya yang menatap Regy dengan kagum. Cowok itu tidak hanya baik, tapi juga sholeh. Membuat Meisya semakin salut dan tak henti memujinya dalam hati.


Setelah berwudhu, keduanya shalat berjamaah bersama. Regy bertugas menjadi imam, dan Meisya menjadi makmum di belakangnya.


"Audzubillahiminasyaitannirajim bismillahirrahmanirrahim..


Ushalli fardlol I'syaa-i Arba'a Rakaa;aatim Mustaqbilal Qiblat. Adaa-an imamal lillahi ta'aala.


ALLAHUAKBAR.."


Setelah selesai, Regy mengangkat kedua tangannya, seraya memanjatkan doa. Begitupun dengan Meisya yang berdoa dalam hatinya.


"Ya Allah.. Dia telah mendekatkanku pada-Mu. Maka dari itu, aku mohon. " Meisya menatap punggung Regy, lalu memohon dengan segenap hati. "Dekatkanlah aku dengannya."


***


Pagi itu, Keyla membuka gerbang rumahnya dan mendapati Aby yang sedang duduk jongkok sambil muntah-muntah.


"ABI!" Keyla refleks berlari menghampirinya. Mengusap-usap punggung Aby, dan bertanya dengan penuh kekhawatiran. "Loe kenapa?"


-Bersambung-


Hai, author mau tanya nih. Siapa couple favorit kalian? Kalau author sih udah jelas Aby & Keyla hihi. Coment dibawah yah.

__ADS_1


__ADS_2