TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
AL & ICHA


__ADS_3

"Aku mencintaimu walau aku tak beritahumu


Dari semenjak dulu cinta itu telah lama lahir


Sajak dan bait begitu mengalir


Tuntun penaku menulis tentangmu


Ini rahasia semakin tak kuat


Aku menyimpannya terlebih ada kamu


Rahasia terdalam di hatiku


Yang kan aku bilang bila tiba waktunya."


Setelah menyanyikan lagu berjudul 'Rahasia', Regy menaruh gitarnya, kemudian mengambil sebuah buku diary. Buku diary berwarna biru tempat ia mencurahkan isi hati selama ini.


Regy tersenyum menatap buku tersebut, dan perlahan membukanya. Di halaman pertama, terdapat tulisan besar yang hampir memenuhi satu halaman : AL & KAK ICA.


Ingatan Regy pun melayang, menuju peristiwa yang terjadi 9 tahun silam.


Saat itu, Regy masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Di sebuah taman, Regy kecil tengah dikerubungi 4 orang anak lelaki yang tampak asyik membully-nya.


"Heh si Al mah tong di baturan. Budakna ge teu mecakeun. (Eh jangan mau temenan sama si Al. Dia anaknya nggak asyik)." Ucap salah satu anak.


Anak yang lain langsung menimpali. "Heeuh, jaba geus teu boga bapak. (Iyah, apalagi dia Udah gak punya Ayah)."


Salah satu dari mereka lalu mendorong Al, hingga anak kecil yang malang itu jatuh tersungkur ke tanah.


Meraka langsung tertawa puas. Sementara Al meringis kesakitan sambil menatap telapak tangannya yang lecet.


"Heh! Maraneh keur nanaonan (Kalian lagi pada ngapain)?!" Teriak seorang Gadis kecil sambil berkacak pinggang. Ia mendekat ke arah mereka.


"Saha maneh? (Siapa kamu)." Tanya salah satu anak.


"Urang Icha! maneh Saha?"


Anak itu tidak menjawab dan malah menatap Icha dengan pandangan kesal. Icha pun membantu Al bangkit lalu mengibas-ngibas celana Al yang kotor akibat terjatuh.


Pada ke-empat anak itu, Icha mengancam. "Maraneh tong macem-macem nya! Om urang anggota polisi! Mun maraneh ngagalakan budak ieu deui, ku om urang bakal di jebloskeun ka penjara! (Kalian jangan macam-macam yah! Om aku anggota polisi. Kalau kalian jahatin anak ini lagi, om aku bakal jeblosin kalian ke penjara)."


"Hahahaha!" Keempat anak itu malah tertawa. Tentu saja mereka tidak percaya pada ucapan Icha yang seperti mengada-ngada.


Hingga akhirnya.


"Icha!" Teriak seorang pria berseragam polisi yang saat itu tengah mencari keberadaan keponakannya.


Icha menoleh dan tersenyum girang. "OM ANDI!"


Keempat anak itu akhirnya percaya dan langsung tampak ketakutan. Merekapun pergi, setelah sebelumnya berjanji tidak akan menganggu Al lagi.


Om polisi kemudian mengajak Icha pulang.


Gadis kecil itu meminta waktu sebentar, lalu berbicara pada Al.


"Kamu teh teu nanaon? (Kamu gak papa)."


Al yang tidak berani menatap Icha, hanya menjawab pertanyaan gadis kecil itu dengan anggukan kepala.


"Nama kamu saha (siapa)?" Icha mengulurkan tangan. "Nama urang Meisya. Tapi sok disebut Icha."


Al masih juga tak menjawab ataupun menjabat uluran tangan Icha. Baru kali ini ia didekati seorang anak perempuan yang tampak agresif. Haha.


Icha sendiri menghela nafas panjang. Ia mulai berpikir jika anak ini tuna wicara alias bisu. Mengingat daritadi ia tidak mengucapkan sepatah katapun.


Akhirnya Icha mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebungkus cokelat pemberian Om Andi tadi pagi. "Nih buat kamu."


Sayangnya Al tetap mematung dan enggan menerimanya. Icha pun mengambil tangan Al, dan meletakkan cokelatnya di sana. Setelah itu ia pamit.


"Nama urang Al." Ucap Al, pada akhirnya.


Icha yang sudah berbalik pergi, seketika berhenti. Ia menoleh, lalu tersenyum pada Al.


"Hai Al.."


Al balas tersenyum dengan malu-malu. "Hai Teh Icha."


Sejak saat itu, keduanya menjadi dekat satu sama lain. Di taman itu, mereka sering bermain, belajar, dan bercanda tawa bersama.


Al pun sudah tidak se-introvert sebelumnya berkat Icha. Sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama. Karena...


"Al.. Ke enjing Teh Icha bade mangkat (Besok Kak Icha mau berangkat)."


Al tertegun. Betapa hatinya bersedih mendengarnya. " Mangkat kamana? (Berangkat kemana)"


"Ka Jakarta. Teh Icha bade cicing sareng Mamah sareng Papah deui. (Kak Icha akan tinggal bersama Mamah dan Papah lagi)."


Keesokan harinya. Sebelum Icha pergi, ia pamit pada Al.


"Teteh seneng bisa kenal sareng Al. Jaga diri baik-baik nya." Pesan Icha.


Al tersenyum pahit. Betapa ia tidak rela melepas kepergian gadis kecil yang setahun lebih tua darinya itu.


"Al oge seneng bisa kenal sareng Teteh."


Icha tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah buku diary dari dalam tasnya. "Ieu kenang-kenangan ti Teteh kanggo Al (Ini kenang-kenangan dari Kakak buat Al)."


Al menerima buku itu, dan membukanya. Di halaman terakhir, tertulis sesuatu.


Dari : Meisya Adriana (Icha)


Untuk : Regy Alvino ( Al)


11 April 2014


"Nya ntos, Teteh mangkat nya. Dadah Al." Icha melambaikan tangan sebelum akhirnya berlalu.


Dengan tekad kuat, Al menatap kepergiannya.


"Antosan Al sababaraha tahun deui Teh. Al Janji bakal mendakan Teteh di Jakarta kumaha wae carana (Tunggu Al beberapa tahun lagi Kak. Aku Janji akan menemui Kakak di Jakarta bagaimanapun caranya)."

__ADS_1


Mengingat semua itu, Regy menghela nafas panjang. Ya, itulah alasan mengapa ia sangat jatuh cinta pada sosok Meisya hingga saat ini.


Selanjutnya, Regy membuka catatan hariannya pada tanggal 1 Juli 2023.


Saat kita bertemu lagi, kupikir kau akan mengingatku dan segera mengenaliku.


Sayangnya aku salah mengira.


Kau bahkan tidak sedikitpun menatapku.


Tapi tak mengapa. Toh sebelumnya aku tidak memberi syarat agar kau selalu mengingatku.


Karena dalam cinta tidak pernah ada syarat.


Dan biarkan cinta yang menuntun hatimu padaku.


(Flashback 1 Juli 2023)


'Betah teu maneh di Jakarta?' Tanya teman Regy di Bandung, melalui saluran telfon.


Sambil bersandar di tiang yang berada di depan kelasnya, Regy menjawab. "Alhamdulillah Jang."


'Terus rek kumaha maneh neangan teh Icha? Ceunah maneh teu nyaho manehna cicing dimana Jeung sakola dimana. Nyahona ukur cicing di Jakarta wungkul. Jakarta teh pan lega.


(Terus gimana caranya loe nyari Kak Icha? Katanya loe gak tahu dia tinggal dimana dan sekolah dimana. Tahunya cuma dia tinggal di Jakarta. Jakarta kan luas).'


"Kumaha weh carana, urang yakin bakal... (Gimanapun caranya, gue yakin bakal)"


"KEBO!" Panggil Keyla pada Meisya, yang sedang berdiri tidak jauh dari Regy. Gadis itu tidak menoleh dan tampak sibuk dengan handphonenya.


Raya mendengus kesal dan akhirnya berseru. "MEISYA ADRIANA!"


Deg! Regy tertegun. Dengan pelan, ia menurunkan handphonenya.


Meisya akhirnya menoleh. "Naon sih?Riweuh pisan! (Apa sih? Rempong banget)."


Regy terbelalak saat sadar orang yang dimaksud tengah berdiri di samping kanannya. Ia pun memutar kepala, dan shock seketika.


Ya Allah.. Secepat ini kau mempertemukan dirinya dengan sosok Icha. Regy benar-benar bahagia sekaligus tidak menyangka.


Meisya pun kemudian berjalan menghampiri Keyla dan Raya. Regy tersenyum dan bersiap menyapanya.


Sayangnya.. Meisya berlalu begitu saja. Bahkan tidak sedikitpun menoleh ke arah Regy yang memang tidak ia kenali.


"Naon ari maneh? (Apa sih loe)?"


"Jangan ngomong bahasa Sunda. Gue gak ngerti!" Protes Raya.


"Bae weh da urang keur hayang ngomong bahasa Sunda. Rek naon maneh?"


"Terserah!"


Regy menghela nafas berat mengingat semua itu. Dan sedetik kemudian, semua itu membuatnya tersadar. Jika selama ini dia bodoh karena harus takut pada Rangga, padahal jelas-jelas ia yang sudah menyukai Meisya sejak dulu.


Sudah 9 tahun ia memendam perasaannya. Dan ini saat yang tepat untuk mengungkapkan rasa cintanya terhadap Meisya. Apalagi Gadis itu juga seperti mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.


Baiklah. Regy akan mengambil keberanian.


Untungnya telfon Regy segera diangkat.


'Halo?'


"Kak, ada yang pengen saya omongin sama Kakak. Kita ketemuan di taman kota yah?"


'Oke.'


Setelah mengakhiri panggilan, Regy bergegas ke Taman kota.


Hari ini ku akan menyatakan cinta.. Nyatakan cinta..


Aku tak mau menunggu terlalu lama.. Terlalu lama..


Asek asek JOS!


Setibanya di taman kota , secara kebetulan Regy melihat Rangga yang sedang duduk termenung di sebuah bangku. Sempat ragu, namun akhirnya Regy tetap menghampiri Rangga.


Regy duduk di samping Rangga.


"Ga.. Loe kenapa?"


Dengan tatapan kosong, Rangga menjawab. "Bunuh diri dosa nggak Gi?"


"Astagfirullah! Istighfar Ga! Loe ngomong apa sih?"


Rangga menunduk dan tiba-tiba menitikkan airmata. "Hidup gue bener-bener lagi diuji Gi.


Belum cukup Rania dikasih penyakit, sekarang, orang tue gue mutusin buat cerai karena udah gak bisa lagi mempertahankan rumah tangga mereka."


Regy ikut prihatin. Ia memegang pundak Rangga, dan mencoba menguatkan. "Loe yang sabar yah."


Sebuah pesan masuk ke handphone Rangga. Pesan dari adik sepupunya yang berada di Jogja.


(Kak Rangga, nenek meninggal.)


Rangga semakin lemas. Tangisnya pun pecah seketika. Ya Allah.. Ini benar-benar ujian yang maha dahsyat.


"Rangga kamu kenapa?" Tanya Meisya yang sudah datang dan sedang berdiri di depan kedua pemuda itu.


Dengan berurai airmata Rangga menatap Meisya, kemudian bangkit dan memeluknya. Ia ingin wanita pujaannya menjadi penguat saat dunianya hancur seperti saat ini.


Giliran dunia Regy yang hancur.


"Nenek aku meninggal Kak. Selain itu, orang tua aku juga mau bercerai. Aku harus gimana."


Meisya terenyuh sekaligus tidak tega. Ia pun membelai punggung Rangga. "Sabar yah Ga."


Rangga tidak menjawab dan semakin erat memeluk Meisya. Kesempatan dalam kesempitan yesh.


Regy sendiri bangkit. Sudah cukup. Ia tidak sanggup melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya, lebih lama lagi.


**

__ADS_1


Regy pulang ke kosannya dan langsung merebahkan diri di atas ranjang. Untuk saat ini, ia tidak mau memikirkan apa-apa dan hanya ingin istirahat.


Namun ketika Regy sudah hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Mau tak mau Regy bangun kembali dan bergegas membuka pintu.


Rupanya Meisya!


"Katanya ada yang pengen kamu omongin sama Kakak? Kenapa kamu malah pergi?" Tanya Meisya dengan tatapan lekat.


Regy terdiam. Tidak mungkin ia menyatakan perasaannya saat ini, mengingat dunia Rangga sedang hancur. Bisa-bisa sahabatnya itu benar-benar bunuh diri.


Akhirnya Regy berdusta. "Saya cuma mau bilang , kalau saat ini Rangga sedang membutuhkan Kakak. Jadi saya harap, Kakak selalu ada buat dia."


Meisya tampak kecewa mendengarnya. Ia pikir masalah apa. "Apa gak ada yang lebih penting dari hal itu?"


Regy menggeleng pelan. "Cuma itu yang pengen saya omongin. Sekarang mendingan Kakak pergi." Usir Regy, halus. Dan berniat menutup pintunya.


Tanpa diduga, Meisya membuat pengakuan. "Kakak suka sama kamu!"


Regy terhenyak. Apa ia tidak salah dengar?


Dengan mata berkaca-kaca, Meisya berkata. "Udah lama Kakak memendam perasaan ini, dan berharap suatu hari kamu bakal peka! Tapi nyatanya, kamu malah terus berusaha deketin Kakak sama Rangga.


Asal kamu tahu, sekarang ini Kakak udah berhasil lupain Rizvan sepenuhnya. Dan itu semua karena kamu Gi!"


Regy membisu. Demi apapun ia bingung harus bagaimana dan berkata apa disaat seperti ini.


"Sekarang, kamu jawab pertanyaan Kakak dengan jujur. Apa salah kalau Kakak suka sama kamu? Apa Kakak nggak pantes buat kamu? Dan apa kamu masih suka sama si Ana?"


"??"


"Kalau kamu diem, Kakak anggap kamu membenarkan semua pertanyaan Kakak."


Regy menghela nafas panjang dan akhirnya bersedia menjawab. Bukan dengan ucapan, melainkan dengan sebuah pelukan hangat.


Regy memeluk Meisya dengan erat, seolah tak ingin terpisah lagi dengan Gadis pujaannya.


Meisya sempat tertegun, sebelum akhirnya tersenyum lega dan membalas dekapan Regy.


***


Karena merasa kakinya sudah membaik, Keyla memutuskan untuk berangkat sekolah pagi itu.


Raya dan Meisya menuntun Keyla yang jalannya masih terpincang-pincang.


Saat ketiganya sampai di depan kelas, mereka melihat Levin yang sedang berdiri di samping pintu.


"Good morning girls."


Tidak ada yang merespon.


Levin menatap Raya. "Ray, ntar malem loe ada acara nggak?"


Disaat yang sama, Divio muncul dari belakang Levin. Fokus Trio somvlak pun langsung teralih padanya.


Divio sendiri menghentikan langkah dan beridiri di belakang Levin.


"Emang kenapa?" Raya bertanya balik pada Levin.


"Gue mau ngajak loe jalan. Loe mau kan?"


"Gue gak bisa."


Divio menghela nafas lega. Menunduk dan menyembunyikan senyum di bibirnya.


Tapi Raya belum selesai bicara. "Mungkin besok."


Levin auto girang. "Seriously?"


Raya tersenyum dan mengangguk. Membuat Divio lemas dan langsung putar balik, membatalkan niatnya masuk kelas.


Sepeninggal Levin. Meisya yang tidak habis pikir, bertanya. "Kok loe mau sih Ray?"


Keyla sendiri bisa menebak. "Loe sengaja yah pengen manas-manasin Divio?"


Raya tidak menjawab dan malah masuk kelas. Dua somplak memang sudah tahu jika hubungannya dengan Divio telah berakhir. Berakhir dengan tragis.


"Diam berarti iya." Meisya menarik kesimpulan.


"Tapi Bo, gue masih gak percaya kalau Divio tega ngelakuin hal itu sama Raya. Waktu ngelihat ekspresi Divio tadi, entah kenapa gue malah ngerasa ada sesuatu yang gak beres antara dia sama si Levin." Firasat Keyla, cerdas!


"Bisa jadi sih. Eh til, loe cari tahu aja lewat si Aby. Mereka kan sahabatan, siapa tahu Aby tahu sesuatu."


Keyla terdiam. Sudah dua hari ia tidak melihat pemuda itu. Membuat Keyla merindukannya , kalau harus jujur.


Meisya sendiri mendapat pesan WhatsApp dari Regy.


(Kak. Sarapan bareng yuk di kantin?)


Gadis itu tersenyum girang dan langsung membalas.


(Gassskeun Gi.)


Padahal di rumah dia sudah sarapan nasi goreng dua piring. Haha!


Karena Keyla sudah berangkat, otomatis Raya tidak duduk lagi bersama Meisya. Dan tentunya tidak sudi jika harus duduk sebangku lagi bersama Divio. Akhirnya ia mendekati si Sholeh dan memintanya bertukar posisi duduk dengan mengiming-imingi sejumlah uang.


Si Sholeh yang notabene mata duitan tentu saja tidak menolak.


**


Saat istirahat, Raya dan Meisya mengajak Keyla ke kantin. Namun gadis itu menolak dan memilih memakan bekal buatan Mamahnya di kelas, karena posisi kakinya masih sakit jika dibawa jalan jauh-jauh.


Begitu keduanya pergi, tersisalah Keyla dan Divio di kelas itu. Divio yang sedang tiduran menghadap tembok kemudian mengeluarkan handphonenya dan menelfon seseorang.


"Halo Abi." Alhamdulillah. Aby sudah sadar dari masa kritisnya. "Pulang sekolah gue ke rumah loe yah."


Mengetahui Divio sedang bertelfonan dengan Aby, Keyla yang sedang makan sandwich auto berhenti mengunyah.


"APA? LOE MASUK RUMAH SAKIT?"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2