TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Jangan Menyerah


__ADS_3

Raya mengendarai mobil dengan perasaan kalut yang tak berkesudahan. Ia benar-benar terguncang saat tahu Divio kini tidak bisa melihat. Satu pertanyaan besar muncul dibenaknya. Apa penyebab kebutaan Divio?


Saat teringat sesuatu, Gadis itu langsung tersentak. Matanya berkaca-kaca.


"Nggak.. nggak mungkin."


(Flashback 3 tahun yang lalu)


Setelah berhasil melewati masa kritisnya, Raya akhirnya siuman. Membuka mata perlahan, dan terdiam untuk beberapa lama.


"Mah.." Panggil Gadis itu, lemah. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya.


Sang Mamah dan Divio yang saat itu tengah menjaga Raya , seketika tersenyum lega. Keduanya langsung bangkit dan berdiri di samping gadis itu.


"Alhamdulillah kamu sudah bangun Nak." Mamah Raya tak henti-hentinya mengucap syukur. Sementara Divio tidak berkata apa-apa dan hanya tersenyum. Melihat gadis itu sadar, sudah cukup baginya.


Wajah Raya mendadak panik. "Mah.. Kenapa disini gelap? Raya nggak bisa lihat apa-apa."


Mamah Raya seakan bingung dan tidak mengerti dengan ucapan Raya. Lain halnya dengan Divio. Ia shock dan langsung bisa menebak jika Raya kehilangan indera penglihatannya akibat insiden kecelakaan tadi malam. (Namun saat itu, Raya tidak tahu jika ada Divio disana).


Tanpa banyak bicara, Divio pun bergegas mencari dokter. Setelah mata Raya diperiksa, Sang Dokter menghela nafas berat.


"Sepertinya pasien mengalami kebutaan. Akibat kepalanya mengalami benturan keras, syaraf penglihatannya menjadi ikut cedera dan membuat pasien tidak bisa melihat lagi."


Raya langsung histeris. "Nggak. Nggak mungkin! NGGAK MUNGKIN!" Raya menangis. Berteriak sambil meronta-ronta. "Aku nggak mau buta Mah! Nggak!"


Mamah Raya ikut menangis. Beliau memeluk Raya dan mencoba menenangkan putrinya.


Begitupun dengan Divio yang ikut hancur saat mendengar penjelasan Dokter.


Mengingat semua itu, Raya seolah bisa menyimpulkan jika donor mata yang ia dapatkan adalah berasal dari Divio.


Untuk memastikan hal tersebut, Raya menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah. Berniat meminta penjelasan Sang Mamah yang pasti tahu kebenarannya.


"Mah.." Raya tiba di kamar Mamahnya. Matanya merah. Suaranya serak. Pertanda bahwa ia telah menangis dan sedang bersedih.


"Raya? Kamu kenapa?" Mamah Raya bingung. Beliau pun mengajak Raya duduk.


"Ada apa Nak?"


Airmata Raya jatuh kembali. Terisak, ia berkata, "Apa mungkin, orang yang mendonorkan matanya buat Raya, adalah Divio?"


Mamah Raya terbelalak. Bagaimana mungkin Raya tahu hal itu? Sedangkan selama ini beliau berusaha menjaganya dengan rapat agar Raya tidak tahu. Karena semua itu merupakan permintaan Divio.


Raya sendiri sudah bisa menyimpulkan saat melihat ekspresi Mamahnya. Membuat airmatanya turun semakin deras. "Jadi benar?"


Mamah Raya menghela nafas dan terlihat pasrah sekarang. Biarlah Raya tahu. Toh tidak ada salahnya juga kalau dia tahu.


Akhirnya beliau menjawab pertanyaan Raya dengan anggukan kepala. Membuat Raya lemas dan jatuh terduduk seketika.


Sungguh, semua ini seperti mimpi buruk baginya.


**


Pukul 09.00 Pagi. Mamah Keyla mengetuk pintu kamar putrinya. Heran , itu anak sedang apa, sampai-sampai belum terlihat keluar kamar sejak pagi.


Tak lama kemudian, Keyla keluar dengan penampilan yang berantakan. Memakai tank top, celana hotpants, dan rambut yang acak-acakan.


Meski begitu, wajahnya masih terlihat cantik.


"Ada apa Mah?" Tanya Keyla yang bahkan belum mandi.


"Kamu lagi ngapain?"


"Lagi nonton drakor. Kenapa?"


Sang Mamah menghela nafas kesal. Si Keyla Maheswari kalau sudah nonton drakor memang suka lupa waktu!


"Nih! Kasihkan sama Abi." Mamah Keyla menyodorkan sekotak brownies yang barusan beliau beli. "Bilangin, ini sebagai rasa terimakasih Mamah karena kemarin dia udah jagain Calief. Sekaligus permohonan maaf karena udah di ompolin."


"Duh Mah. Kenapa harus repot-repot sih?" Protes Keyla. Masalahnya ia sedang seru-serunya menonton film.


Namun Mamah Keyla tidak mau tahu dan tetap menyuruh Keyla memberikan brownies tersebut pada Aby. "Kalau kamu tetap nggak mau, Mamah gak akan segan ngehancurin laptop kamu!" Ancam Sang Mamah, sadis.


Keyla auto manyun. "Ih! Mamah jahat banget!"


Dengan berat hati, Keyla akhirnya pergi. Tentunya setelah ia mandi dan berdandan rapi.


Sebelum mengetuk pintu rumah berwarna cokelat tersebut, Keyla menghela nafas sambil berkata pada dirinya sendiri.


"Ingat yah Keyla! Apapun yang dia lakuin atau dia omongin, loe gak boleh baper! Catat!"


Tok. Tok..


Sekian detik kemudian, pintu terbuka dan menampakkan sosok...


Ayah Ginanjar. Yah.. Readers kecewa.


"Keyla?" Ayah Ginanjar memasang senyum.


Sementara Keyla, ada raut kekecewaan yang terlihat di wajahnya. Kenapa? Ya karena sejujurnya ia berharap Abi-lah yang membuka pintunya.


"Pagi Om. Ini, Keyla disuruh nganterin kue ini sama Mamah."


Om Ginanjar langsung menerima pemberian Keyla. Sekotak brownies rasa cokelat yang tampak menggugah selera.


"Wah makasih yah Cantik. Ayo masuk , Om juga mau ngasih oleh-oleh Singapore buat kamu." Nahloh Ayah Ginanjar keceplosan. Wkwk.


Keyla melongo dong. "Hah? Singapore? Om abis dari Singapore?"


Dengan wajah paniknya, Ayah Ginanjar langsung mencari alasan. "Umm.. Iyah, jadi sebelum kembali ke Jakarta, Om sama Abi liburan dulu ke Singapore."


"Widih. Mantul." Keyla mengacungkan jempol. Dengan begonya dia percaya.


Merekapun masuk rumah bersama-sama. Setelah mempersilahkan Keyla duduk, Ayah Ginanjar permisi sebentar guna mengambil oleh-oleh yang beliau maksud.


Sementara Keyla menatap seember cat beserta perlengkapan mengecat lainnya yang terletak di depan dinding. Sepertinya rumah ini sedang dicat ulang, karena warnanya yang sudah memudar sejak ditinggalkan 3 tahun yang lalu.


Perhatian Keyla kemudian tertuju pada figura berisi foto kecil Aby yang tergeletak di atas meja.


Keyla tersenyum dan mengambil foto tersebut.


"Lucunya."


"Siapa yang lucu?" Tanya Aby yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya.


Keyla terkejut. Apalagi saat melihat Aby yang bertelanjang dada, menampakkan perutnya yang seperti roti sobek alias sixpack.


Aby tersenyum, lalu meneguk sebotol air yang berada di tangannya. Keringat yang membasahi tubuhnya membuat Abi terlihat semakin seksi.


Jiwa ingin digagahi Keyla seketika meronta. Tapi sesaat kemudian, ia buru-buru menggelengkan kepala, seolah menyadarkan dirinya yang sempat oleng.


Aby tertawa geli. "Kenapa?"

__ADS_1


"Gak papa." Keyla menaruh kembali foto Abi. Huuuh.. Situasi ini sangat berbahaya!


Tidak lama kemudian, Ayah Ginanjar datang sambil membawa sekantong bingkisan.


"Nih Key. Bukan apa-apa, tapi semoga saja kamu suka."


Keyla tersenyum dan menerimanya. "Makasih yah Om."


"Sama-sama. Oiyah, nanti malam kamu ikut makan malam sama Om dan Abi yah?"


Keyla menaikkan sebelah alisnya. "Makan malam?"


"Iyah. Hitung-hitung merayakan kembalinya Om sama Abi. Kamu mau kan?"


Keyla menatap Abi yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Sebenernya Keyla bersedia. Bahkan sangat bersedia. Tapi dia teringat akan janjinya bersama Andrew yang hendak menonton film di bioskop.


Dengan berat, Keyla pun menolak. "Maaf Om, mungkin lain kali. Soalnya nanti malam Keyla mau nonton film.." Keyla melirik Abi, lalu melanjutkan ucapannya, "... sama cowok."


"Owh begitu? Yaudah nggak papa." Ayah Ginanjar langsung pamit untuk kembali ke dapur. Beliau sedang memasak sesuatu. Kan tidak lucu kalau akhirnya gosong.


Keyla sendiri sudah hampir pergi, ketika tiba-tiba tangan Abi menahannya.


Keyla menatap Abi. "Apaan?"


"Loe mau jalan sama siapa?" Tanya Abi dengan tatapan lekat. Membuat Keyla tidak sanggup untuk membalas tatapan Abi lama-lama.


"Kepo!" Jawab Keyla, tanpa berani menatap Abi.


Tanpa diduga Abi menarik Keyla, hingga jarak keduanya kini hanya beberapa centi saja. Keyla terbelalak dengan wajah yang masih tertunduk.


Abi pun mengangkat dagu Keyla, menyuruh Gadis itu menatap kedua matanya.


Jantung Keyla seketika berdegup lebih kencang.


"Cowok yang tempo hari ngejemput loe, beneran pacar loe?"


Glek! Keyla menelan ludah. Rasanya seperti sedang diinterogasi oleh seorang Detektif. Gugup sekali.


"Ka.. Kalau Iyah kenapa?"


"Kalau Iyah, gue bakal sedih."


"Sedih kenapa?"


"Menurut loe kenapa?" Tanya Abi. Nafasnya yang hangat, berdesir mengenai pipi Keyla yang langsung merah merona.


Gadis itu tidak tahan lagi dan langsung mendorong Abi. Pergi dengan perasaan salah tingkah. Cowok itu benar-benar jago mengobrak-abrik perasaannya!


Abi tersenyum menatap kepergiannya. Mulai saat ini, ia berniat menjadi permen karet bagi Keyla. Lengket, dan terus-menerus menempel padanya.


***


Raya menghentikan mobilnya di jalan sebrang panti. Saat menoleh, ia melihat Divio yang sedang berkumpul bersama anak-anak panti di teras.


"Kak Vio makin ganteng deh." Ucap salah satu anak, dengan genit. Meskipun Divio sudah tidak bisa melihat, namun semua itu tidak mengurangi ketampanannya.


Divio tersipu. Dengan tatapan lurus, ia menjawab. "Kamu bisa aja. Mm, kakak tebak dari suaranya. Kamu Tasya yah?"


"Pintar! 100 buat Kak Vio."


Semua anak langsung tertawa mendengar ucapan Tasya, termasuk Divio sendiri.


Divio mencoba mengingat-ingat. Lalu asal menebak. "Kamu Niko? Iya kan?"


"Salah! Aku Fahri. Haha, Kak Vio salah."


Kali ini Divio terdiam dan tampak bersedih. 'Ya Tuhan.. Jika kau mengizinkan, hamba benar-benar ingin melihat mereka, meski hanya satu menit.' batin Divio. Hatinya menjerit. Dan sepertinya semua itu hanyalah angan-angan saja.


Melihat kesedihan di wajah Divio, Alifa berinisiatif untuk menghiburnya. "Kak Vio, kami punya lagu buat Kakak. Dengerin yah."


Setelah Alifa memberi aba-aba, semua anak panti yang berjumlah 18 orang tersebut, langsung menyanyikan sebuah lagu. Lagu berjudul Jangan Menyerah milik band D'Masiv.


"Tak ada manusia yang terlahir sempurna


Jangan kau sesali segala yang telah terjadi


Kit pasti pernah dapatkan cobaan yang berat


Seakan hidup ini tak ada artinya lagi


Syukuri apa yang ada


Hidup adalah anugerah


Tetap jalani hidup ini


Melakukan yang terbaik


Tuhan pasti kan menunjukkan


Kebesaran dan kuasa-Nya


Bagi hambanya yang sabar


Dan tak kenal putus asa


Jangan menyerah.. Jangan Menyerah.."


Divio menangis. Ia benar-benar terharu mendengar lagu yang dinyanyikan anak-anak tersebut. Lagu yang menyuruhnya untuk tidak menyerah , meski saat ini keadaannya sudah tidak sempurna.


Alifa kemudian menggenggam tangan Divio.


"Kakak jangan khawatir. Meskipun keadaan kakak kaya gini, kami akan selalu ada buat Kakak."


"WE LOVE YOU KAK DIVIO." Seru Anak-anak panti dengan kompak.


Divio terisak. Hatinya perih, bagai disayat sembilu. "Makasih adek-adek. Kakak benar-benar beruntung punya kalian."


"Kak Vio, nanti kalau Chaca udah gede, Chaca janji akan mencari donor mata buat Kakak." Ucap Anak perempuan berusia 9 tahun.


Dengan pipinya yang basah, Divio tersenyum seraya mengangguk. Semoga Tuhan mengabulkan doa Chaca.


"Eh semuanya, kita masuk yuk?" Ajak Tasya, tiba-tiba.


"YUK!"


"Aku mau main sepeda ah."


"Yang cowok! Kita main bola di lapangan yuk?"


"Ayoo!"

__ADS_1


Divio heran mendengar ucapan anak-anak yang kompak hendak pergi. Bahkan Alifa juga ikut-ikutan meninggalkannya. Menyisakan Divio seorang diri yang heran dan bertanya-tanya.


"Mereka pada kemana sih? Anak-anak! Jangan tinggalin Kakak!"


Saat Divio hendak bangkit, tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya, seolah menyuruhnya duduk kembali.


Divio was-was. "Siapa?"


Raya mengubah suaranya. "Ini aku, Cinta."


Wadaw!


Divio menghela nafas lega. Ia pikir siapa.


Merekapun duduk berdampingan.


"Oiyah, kita belum kenalan. " Divio mengulurkan tangannya. "Nama aku Divio. Divio Mahendra."


Raya menatap tangan Divio yang terulur, lalu menjabatnya. "Cinta."


"Rumah kamu dimana?"


"Ditinggal."


Divio tersenyum geli. "Maksud aku, kamu tinggal dimana?"


"Di rumah."


Divio bengek. Ini cewek gokil juga. "Kamu pinter ngelucu yah kayanya."


"Tapi aku bukan pelawak."


"Haha. Serius dong."


Tanpa Divio ketahui, Raya tersenyum tipis. "Emang kenapa kamu nanyain rumah aku? Kamu mau main?"


"Mmm.. Bisa jadi."


Keduanya tersenyum. Setelah Raya menyebut asal satu daerah, Divio kemudian berkata,


"Makasih yah udah jagain anak-anak selama Bude sakit."


"Sama-sama. Ngomong-ngomong, aku boleh nanya nggak?"


"Silahkan."


Raya berniat menguji. "Gimana cerita awalnya kamu bisa kaya gini?"


"Maksud kamu, cerita awal kenapa aku bisa jadi buta?"


"Iyah."


Divio menarik nafas dalam-dalam. Sambil bercerita, pikirannya melayang, menuju masa silam.


"Suatu malam, aku hampir mengalami tabrakan dengan seorang gadis. Aku selamat, tapi dia nggak. Mobilnya menabrak pohon dengan keras.


Dan karena insiden itu, dia mengalami kebutaan.


Dari situ aku ngerasa bersalah. Andai waktu itu aku nggak ngebut, mungkin dia masih bisa lolos dari kecelakaan yang merenggut indera penglihatannya. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan kornea mata aku buat cewek itu."


Demi apapun Raya benar-benar tidak habis pikir. "Jadi, kamu ngelukain semua itu cuma karena ngerasa bersalah sama dia?"


"Bukan cuma karena itu. Tapi juga.. Karena Gadis itu adalah Gadis yang sangat aku cintai. Dia mantan aku. Dan aku masih sayang sama dia.


Aku nggak mau ngelihat dia menderita dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kegelapan."


'Karena itu loe ngambil penderitaan gue, dengan cara donorin mata loe buat gue? ' Raya menutup mulut, dan menahan tangisannya sekuat mungkin.


Namun fakta bahwa Divio yang katanya masih mencintainya membuat Raya cukup terkejut. Lalu bagaimana dengan nasib Bela yang membuat Divio berpaling dengan mudah darinya? Apakah mereka sudah putus? Meski penasaran setengah mati, Raya tidak mungkin menanyakan semua itu, saat ini.


"Maaf yah Cinta, aku malah curhat." Ucap Divio, kemudian."


Raya tidak menjawab dan malah menatap Divio yang menjadi malaikat dalam hidupnya. Dalam hati ia bertekad.


'Karena loe udah ngambil penderitaan gue, gue janji bakal ngasih loe kebahagiaan sebagai gantinya.'


"Mmm.. Kita ke dalam yuk? Main sama anak-anak." Ajak Raya. Aktingnya sangat bagus sampai-sampai membuat Divio terperdaya.


Merekapun bangkit. Raya menuntun Divio dan berjalan masuk ke dalam panti.


***


Di kamarnya, Meisya sedang menatap surat buatan Regy yang ia berikan atas nama Rangga.


Saat surat tersebut Meisya baca ulang, ia tersenyum miris menyadari kebodohannya.


"Loe emang tolol Mei. Udah jelas banget kalau ini tuh buatan si Regy! "


Tiba-tiba Mamah Meisya muncul, member tahu kedatangan seseorang. Meisya pun beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke ruang tamu.


Rupanya Rizvan.


"Hai Sya." Sapa Rizvan dengan senyuman manis. Berbeda dengan dirinya yang dulu, yang seolah jijik setiap kali melihat Meisya.


Meisya menghampirinya. Andai dulu Rizvan seperti itu, Meisya mungkin sudah loncat-loncat girang. Berbeda dengan sekarang yang perasaannya biasa saja saat melihat pemuda itu.


"Rizvan.. Ada apa?"


"Aku mau ngajak kamu jalan. Mau nggak?"


"Sekarang?"


"Bukan, tahun gajah! Ya sekarang lah." Rizvan melawak. Tapi Meisya merasa tidak lucu.


Merasa segan untuk menolak, akhirnya Meisya bersedia menerima ajakan Rizvan.


Disaat yang sama, Rangga datang ke rumah Rizvan. Saat Mamah Rizvan alias Budenya memberitahu bahwa Rizvan sedang menemui seorang Gadis, tanpa pikir panjang Rangga segera pergi ke rumah Meisya. Yakin, Rizvan pasti pergi kesana.


Setelah berdandan rapi, Meisya dan Rizvan keluar rumah bersama-sama.


Rizvan memuji kecantikan Meisya. "Kamu cantik banget Sya."


Meisya tersenyum simpul. "Gombal!"


"Aku serius."


Saat keduanya menatap ke depan, mereka terbelalak.


Rizvan memekik. "RANGGA?"


Rangga tersenyum sinis menatap Abang sepupunya. "Ternyata bener kalian dekat lagi."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2