
Betapa Abi tercengang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Divio. Sebuah fakta bahwa ternyata operasi Divio tidak gagal.
"Div loe bisa ngelihat gue?"
Divio mengangguk, membenarkan.
Sementara Abi tidak habis pikir. Lalu dengan polosnya ia bertanya. "Tapi, kenapa Raya bilang, operasinya gagal?"
Divio membuang muka dan tersenyum miris. Rupanya Abi satu komplotan dengan Raya yang telah membodohinya selama ini.
"Ternyata loe juga terlibat dalam usaha Raya nge-begoin gue." Divio menatap Abi tajam. "Kecewa gue sama lo!"
Abi tampak menyesali kekeliruannya. Tapi demi apapun ia refleks bertanya seperti itu. Satu hal yang membuatnya penasaran.
"Jadi loe udah tahu kalau selama ini Raya pura-pura jadi cewek bernama Cinta? Loe tahu darimana?"
Divio menelan ludah pahit. Kemudian pikirannya melayang, menuju beberapa saat yang lalu.
Setelah Divio dan si pendonor memasuki ruang operasi, mereka berbaring berdampingan dan diminta menunggu untuk beberapa lama.
Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba Divio mendengar suara berat seorang pemuda yang memanggil namanya.
"Divio."
Divio tersentak. Kepalanya menoleh ke arah samping, yang ia yakini suara tersebut berasal darisana.
"Siapa loe?" Divio was-was setengah mati.
"Ini gue, Levin." ucap pemuda itu, yang kini kondisinya terlihat memprihatinkan.
Tentu saja Divio shock mendengarnya. "Ngapain loe disini? Cinta mana? Jangan-jangan loe-"
"Plis! Dengerin dulu penjelasan gue. Loe pengen tahu apa yang terjadi sebenarnya kan?"
Meski merasa kalut, Divio akhirnya mencoba menenangkan diri dan mengangguk.
"Sebenarnya, ini permintaan gue juga, buat jangan ngasih tahu loe kalau gue yang bakal donorin mata buat loe. Karena kalau loe tahu dari awal, loe pasti gak bakal mau nerima donor mata dari gue. Dan mungkin karena itu Raya ngasih tahu loe kalau cewek yang bernama Cinta yang bakal jadi pendonor buat loe. Tapi setelah ngelihat loe secara langsung kaya gini, gue tiba-tiba pengen minta maaf secara langsung sama loe."
"Tunggu! Tunggu!" Divio benar-benar tidak paham. "Raya? Ngasih tahu gue? Loe ngaco yah? Sampai sekarang gue belum pernah ketemu lagi sama Raya."
Levin ikut bingung. Bagaimana ceritanya Divio belum bertemu lagi dengan Raya? Sedangkan Raya yang mati-matian mencari donor mata untuk Divio.
Tiba-tiba Divio terpikirkan sesuatu. Apa mungkin, Cinta yang dia maksud sebenarnya adalah Raya? Masuk akal rasanya. Mengingat pendonor aslinya adalah Levin.
"Terlepas dari apapun itu, loe mau kan maafin gue?" Tanya Levin, lirih. "Seperti yang loe bilang, gue dapat karma dan sekarang ini lagi menjalaninya Div. Setahun terakhir, hidup gue bener-bener udah kaya di neraka. Bisnis keluarga gue bangkrut, hidup kami jadi miskin, dan sekarang gue juga dikasih penyakit yang bakal bikin gue mati sebentar lagi. Dan setelah gue ngerenungin semua itu, akhirnya gue sadar. Kalau semua ini adalah hukuman, karena dulu gue sering jahatin loe."
Divio menelan ludah getir mendengar perkataan Levin yang terdengar memilukan. Sepertinya, dia benar-benar sudah tobat sekarang.
"Jadi, terima donor mata dari gue. Dan gue mohon, maafin semua kesalahan gue. Biar gue bisa pergi dengan tenang."
"Mau gak mau, akhirnya gue menyetujui permintaan Levin dan nerima donor mata dari dia. Abis itu.."
Setelah sang dokter membuka perban dan menyuruh Divio menebak jari yang ditunjukkan Sang Dokter.
Divio menelan ludah getir. "Dokter.. Saya.. Apa saya tidak sedang bermimpi sekarang?" Ucap Divio, penuh keharuan. Ia tidak pernah menyangka hari itu akan terjadi. Hari dimana ia bisa melihat dunia lagi.
Mamah Divio sendiri menangis bahagia dan langsung mendekap puteranya. Beliau benar-benar lega, karena putranya dapat melihat kembali.
Setelah itu, Divio dan sang Mamah berbincang.
To the poin, Divio berkata. "Mah, jawab yang jujur pertanyaan Vio. Apa gadis yang selama ini mengaku bernama Cinta sebenarnya adalah Raya?"
Mata Mamah Divio terbelalak. Gugup, beliau bertanya. "Ka.. Kamu tahu darimana?"
Divio tersenyum miris mendengar pertanyaan Sang Mamah yang seolah membenarkan dugaannya.
"Waktu itu, gue juga sempet kecewa sama Nyokap. Bahkan bukan cuma Nyokap. Semua orang yang ngedukung sandiwara Raya dan gak ada satupun yang ngasih tahu gue. Bener-bener bikin gue marah.
Akhirnya, gue minta kerjasama Nyokap, buat balas nipu Raya dengan cara ngasih tahu dia kalau operasinya gagal." Divio berkata dengan penuh emosi. Sumpah demi apapun dia benar-benar marah pada Raya yang selama ini menipunya.
Glek! Abi menelan ludah ngeri. Belum pernah ia melihat Divio semarah itu. Mencoba menenangkan Divio, ia berkata.
"Slow Div. Jangan emosi. Mungkin aja Raya gak berniat kaya gitu. Dia cuma-"
"Persetan! Apapun alasannya, gue tetep gak terima!
Karena selama ini dia udah seenaknya bohongin gue." Divio terlanjur panas. Apapun yang Abi katakan, tidak dapat meredakan emosinya.
Abi mendesah berat. Dia tahu Divio orangnya keras kepala dan susah dinasehati. "Terus sekarang, rencana loe apa?"
Divio tersenyum sinis. Rencananya sudah matang.
"Rencana gue.."
Setelah pesan-pesan berikut ini.
--
30 menit setelah kepergian Abi, Raya datang.
Dengan langkah gontai, ia mendekat ke arah Divio.
Keadaan pemuda itu membuat hatinya hancur.
"Vio.." ucapnya, dengan suara Cinta.
Divio menoleh. Namun tatapannya tidak tertuju pada Raya. Kali ini dia juga ikut berakting. Sepertinya dia sangat dendam.
"Cinta?" Divio memasang senyum bahagia. "Sini Ta.. Sama siapa kamu kesini?"
Raya menggigit bibir, menahan kepedihannya. Ingin rasanya ia menangis sekencang mungkin. "Sama Mamah kamu."
"Sini duduk di depan aku. Hati-hati tapi, jangan sampai jatoh. Kan kamu juga udah gak bisa ngelihat sekarang."
Raya menatap Divio dengan sendu. Matanya langsung berair. Dia yang semula menipu, kini balas tertipu tanpa sepengetahuannya.
Raya pun duduk di hadapan Divio dengan pelan.
"Mamah aku udah cerita kan? Tentang operasi aku yang gagal?"
Raya menunduk. Seiring airmatanya yang benar-benar luruh. Dengan suara bergetar, ia mengiyakan.
"Entah kenapa, aku malah senang Ta. Karena itu berarti, kita udah jadi pasangan yang sempurna sekarang."
__ADS_1
Ucapan Divio membuat Raya tersentak. Dengan perlahan, ia mengangkat kepala dan menatap Divio dengan pandangan seolah tak percaya.
"Oiyah. Asal kamu tahu, aku udah berubah pikiran.
Aku akan berhenti mencintai Raya, dan belajar buka hati buat kamu."
Bagai dihujani ribuan tombak, Raya begitu sakit mendengar penuturan Divio. Bagaimana mungkin dia berubah haluan secepat itu?
Sementara Divio semakin menggila. "Setelah dipikirkan lagi, Raya nggak sebaik yang aku bayangkan. Buktinya selama aku pergi, dia nggak berusaha nyariin aku. Kenapa? Mungkin karena dia emang nggak benar-benar cinta sama aku.
Aku akan mencoba ikhlas melepaskan dia buat Levin. Musuh bebuyutan aku."
Raya memegangi kepalanya dan tampak Stress. Kepalanya berasa mau pecah. Kalau tahu semuanya akan berakhir seperti ini, dia akan jujur pada Divio, sejak kedatangan pertamanya di panti setelah sekian lama.
"Sekarang aku sadar Ta. Kamulah yang terbaik. Jadi, stay with me yah? Aku mohon."
Raya masih bungkam dan urung bicara. Sempat berpikir untuk mengakhiri sandiwaranya, namun setelah dipikirkan lagi, ini bukan waktu yang tepat.
"Ta? Kok kamu diem aja? Kamu harusnya seneng dong."
Raya menyeka airmatanya. Alih-alih menjawab, ia justeru pamit. "Maaf Vio, aku pergi dulu."
Begitu Raya berbalik dan pergi meninggalkannya, Divio langsung menatap punggung Raya, dan tersenyum sinis.
***
(Gak punya riwayat penyakit asma, tapi kenapa dada gue sesak banget yah?)
Story WhatsApp Meisya, malam itu. Setelah membacanya, Regy yang baru selesai sholat isya, langsung menghubungi Sang pacar via Video call.
Untungnya diangkat. Pemuda itu langsung memasang senyum semanis mungkin.
"Selamat malam pacarnya Regi Alvino."
Meisya tak merespon. Wajahnya pun teramat datar.
"Eh sayang, si Michelle baru lahiran tahu. Anaknya lucu banget. Aku kasih nama Justin. Mau lihat gak?"
Lawak Regy, mencoba menghibur Meisya yang tampak masih badmood gara-gara postingan Nadya.
Sayangnya usaha Regy gagal. Wajah Meisya masih datar. "Gak lucu."
Regy menghela nafas sedih. Bingung juga. Kenapa Meisya ikut-ikutan marah padanya?
"Kenapa sih? Kamu masih ngambek gara-gara postingan Nadya? Yang bikin postingan kan dia.
Kenapa aku jadi kabarerang (istilah Sunda \= ikut dimarahi padahal tidak bersalah)?"
Meisya tidak menjawab dan malah terus menatap Regy melalui layar handphonenya. Tentu saja Meisya masih marah. Karena Regy tidak menghapus tag akunnya di postingan Nadya. Selain itu Meisya juga cemburu karena di foto tersebut Nadya seolah ingin mencium Regy.
"Kenapa cicing wae (diam aja)? Jawab atuh da aku teh lagi nanya bukan lagi ceramah."
Akhirnya Meisya buka suara. "Kalau kamu yang jadi aku, kamu bakal marah nggak?"
Regy menggeleng yakin. "Nggak. Kan kamu mah nggak salah. Yang salah mah si Nadya sama si Rangga geblek"
Meisya tersenyum pahit. Dia pikir Regy dapat mengerti kan perasaannya.
"Caranya? Datang ke rumah aku dan bikin aku senyum lagi, gimanapun caranya." Meisya menguji. Penasaran, apakah Regy rela berkorban demi nya?
"Boa edan (Gila aja)! Masa aku mesti jauh-jauh ke Jakarta cuma buat ngehibur kamu. "
"Loh. Emang apa salahnya? Kalau kamu cinta, mestinya nggak masalah dong."
"Bukan masalah cinta atau nggak nya sayang. Masalahnya kan dari Bandung ke Jakarta itu jauh. Gak cukup 5 menit. Kalau aku punya jet pribadi sih gak masalah."
Meisya memalingkan muka dan kembali tersenyum miris. Oh jadi begitu? Cukup tahu saja! Padahal sebatas Regy mengiyakan pun itu sudah cukup.
Karena Meisya tidak benar-benar menyuruhnya datang ke Jakarta. Sekedar ingin tahu seberapa besar pengorbanan Regy. Hanya itu.
"Ayolah yang.. Jangan kekanak-kanakan gitu. Kita kan udah gede. Udah bukan anak SMA yang berantem gara-gara hal sepele."
Fiks! Meisya semakin kecewa mendengarnya. "Oh jadi menurut kamu ini masalah sepele? Oke!"
Klik! Meisya mengakhiri panggilannya dengan emosi dan langsung melempar handphonenya ke atas ranjang. Dia baru tahu kalau Regy semenyebalkan itu.
***
Pagi hari.
Keyla yang disuruh Mamahnya membeli sesuatu ke toko kelontong depan rumah, langsung bergegas setelah mendapatkan uang dari Mamahnya.
Begitu keluar dari gerbang, ia melihat Abi yang baru keluar dari toko tersebut.
Senyum Keyla langsung merekah.
Begitupun dengan Abi yang langsung melambaikan tangannya saat melihat keberadaan Keyla. Keyla membalas lambaian tangan Abi.
Abi menoleh ke kiri. Kosong. Tidak ada kendaraan. Segera ia menyebrang, tanpa melihat ke arah kanan, dimana terdapat sebuah mobil yang sedang melaju dengan kencang.
Keyla terbelalak melihat hal itu. "ABI AWAS!"
Abi tidak sempat menghindar dan membuat mobil sedan berwarna merah tersebut menabrak tubuhnya. Untungnya tidak terlalu keras.
Abi jatuh terduduk sambil meringis kesakitan.
Keyla auto khawatir bahkan nyaris menangis melihatnya. Setelah tengok kanan-kiri, segera ia berlari mendekati Abi.
"Ya ampun Abi. Loe kenapa gak lihat-lihat dulu sih sebelum nyebrang. Ketabrak kan jadinya?" Ucap Keyla dengan suara bergetar menahan tangis. Perasaannya panik luar biasa.
Abi hanya tersenyum mendengar kekhawatiran Keyla yang justeru menyejukkan hatinya. Keyla pun membantu Abi bangkit.
"Sakit yah? Kita ke rumah sakit yah?"
"Gak usah. Cuma kena kaki doang kok."
Disaat seperti itu, si pengemudi mobil keluar dari dalam mobilnya.
"Ya ampun, sorry yah. aku gak lihat ada orang yang mau nyebrang." Ucap Gadis berambut sebahu tersebut, yang sebelumnya mengendarai mobil sambil bermain handphone. Meski Abi tidak sempat menghindari mobilnya, beruntung gadis itu cepat-cepat mengerem. Kalau tidak, bisa-bisa Abi terlempar jauh.
Abi memasang senyum sopan. "Gak papa. Gue juga salah. Gak lihat kiri-kanan dulu sebelum nyebrang."
Keyla sendiri menatap Gadis itu dengan tatapan tidak suka. Apalagi saat dia terus memandangi Abi dan tampak terpesona olehnya.
__ADS_1
Keyla menjentikkan jarinya di depan wajah Gadis itu. "Mbak! Kenapa bengong?"
Gadis itu seperti tersadar, dan buru-buru meminta maaf. "Ummm, yaudah, kita ke rumah sakit yah sekarang?"
Abi menolak. "Gak usah, gue gak papa Kok."
Mata Gadis itu tertuju pada lutut Abi yang lecet karena mencium aspal. "Itu apa?"
"Ini luka kecil doang. Serius, gue gak papa."
Keyla yang tiba-tiba panas hati, langsung menggandeng Abi dan mengajaknya pergi. "Yaudah, loe ikut gue. Gue bakal ngobatin luka loe."
"Tunggu!" Seru gadis itu, membuat Abi dan Keyla menghentikan langkah. Gadis itu kemudian menunjuk sebuah rumah megah berlantai 2 yang terletak di samping kiri toko kelontong.
"Aku penghuni baru rumah itu. Nanti kalau ada apa-apa, kamu tinggal samperin aku aja yah. Karena gimanapun juga aku harus tanggung jawab setelah nabrak kamu."
Abi hanya diam dan tampak bingung dengan situasi ini. Sementara Keyla terlihat dongkol. Apalagi tatapan Gadis itu saat melihat Abi benar-benar tidak biasa.
"Hey? Kenapa kamu diem aja? Oiyah, kenalin." Gadis itu mendekat beberapa langkah, dan berhenti di hadapan Abi. Ia mengulurkan tangan.
"Nama aku Naura."
Bukannya menjabat uluran tangan Naura, Abi malah melihat ke arah Keyla, yang tatapannya seolah berkata.
'Awas aja kalau berani!'
Meski begitu, Abi merasa harus menerima uluran tangan Naura, dan akhirnya menyambutnya. "Gue Abi."
Naura tersenyum. "Nice to meet you Abi."
Abi berdehem dan akhirnya mengajak Keyla pergi. Takut si Ayang menelannya hidup-hidup jika dirinya terus merespon Naura.
Di teras rumah Abi, Keyla pun mengobati lutut Abi yang berdarah. Dengan menggunakan kapas yang telah diberi alkohol, Keyla menekan-nekan luka Abi.
Wajahnya masih tampak badmood. Atau lebih tepatnya cemburu. Hingga suatu ketika, Keyla seperti sengaja menekan luka Abi dengan keras hingga membuat cowok itu berteriak kesakitan.
"Aww! Pelan-pelan dong Key. Sakit tahu."
"Maaf." Jawab Keyla, ketus.
Melihat kekesalan yang terlihat jelas di wajah Keyla, Abi heran. "Kenapa sih? Loe marah sama gue?"
Sambil masih mengobati luka Abi, Keyla tersenyum miris. Bisa-bisanya Abi masih bertanya. Apakah Abi bodoh? Atau memang tidak peka?
Tiba-tiba Abi menarik dagu Keyla, hingga mata mereka bertemu pandang. Kemudian Abi mulai memajukan wajahnya. Lebih dekat, semakin dekat, hingga membuat Keyla pasrah dan langsung memejamkan mata. Jangan-jangan, Abi hendak menciumnya lagi!
Melihat hal itu, Abi sendiri tersenyum.
"3 - 1. " Bisiknya di dekat telinga Keyla, disusul tawa yang berderai. Rupanya itu adalah strategi Abi untuk membuat skor Adu Melting Nya bertambah.
Sementara Keyla semakin badmood dan langsung melempar kapas yang dipegangnya. Ia bangkit, dan segera pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Demi apapun dia benar-benar gondok setengah mati!
"Key, loe mau kemana?" Tanya Abi. Ingin menyusul Keyla, namun kakinya malah terasa sakit.
Keyla sendiri terus berjalan dengan langkah cepat, tanpa menghiraukan pertanyaan Abi.
***
Begitu mendapat pesan dari Mamah Divio, yang menyuruh Cinta datang karena permintaan Divio, Raya akhirnya bergegas ke Rumah Sakit. Meski sebenarnya ia sudah malas dan ingin segera menghentikan permainan sandiwaranya.
"Vio, cinta sudah datang." Ucap Mamah Divio, yang kini berbalik mengelabui Raya. Bagaimanapun Divio adalah putranya. Jadi sudah pasti beliau akan memihak padanya.
Divio tersenyum dan menyuruh sang Mamah mendudukkan Cinta di dekatnya. Setelah itu, Mamah Divio pergi dan memberikan ruang dan waktu untuk keduanya.
"Aku pengen tanya sama kamu Ta, gimana tanggapan keluarga kamu, tentang kamu yang rela donorin matanya buat aku? Mereka nggak marah?" Tanya Divio, dengan tatapan yang terarah ke satu titik.
Raya menghela nafas panjang. Dia merasa menjadi penulis skenario yang harus berpikir keras untuk melanjutkan cerita.
"Nggak. Mereka bilang nggak masalah, selama aku bahagia." jawab Raya pada akhirnya.
Divio manggut-manggut. "Gitu yah? Keluarga kamu antara hebat dan nggak peduli yah, berarti?"
"....."
"Oiyah, aku pengen minta sesuatu dari kamu."
"Apa?" Raya mulai was-was. Ia harap permintaan Divio bukan yang aneh-aneh.
"Dulu, Raya sering nyanyiin aku. Dan sekarang, aku juga pengen dinyanyiin sama kamu. Kamu mau kan ? Demi aku?"
Raya memijit pelipisnya dan tampak pening. Tuhan, ia benar-benar sudah muak dan ingin mengakhiri semua ini.
"Cinta? Kok diem aja?"
Fiuhhhhhh... Raya kembali menghela nafas panjang.
Sabar Raya. Sabar. Kalaupun hendak jujur, ada saatnya. Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Akhirnya ia menyanggupi permintaan Divio. "Kamu mau dinyanyiin lagu apa?"
"Lagu Anji yang judulnya Dia."
Raya tertegun. Divio benar-benar seperti sedang menyiksanya. Dan karena sudah terlanjur menyanggupi, Raya pun tidak punya pilihan dan tetap menyanyikan lagu tersebut.
Raya bernyanyi dengan suara bergetar.
"Oh Tuhan..
Kucinta dia..
Ku sayang dia..
Rindu dia..
Inginkan-"
Saat Raya masih bernyanyi, tiba-tiba Divio memegang tangannya.
Gadis itu heran. "Kenapa?"
"Suara kamu mirip Raya."
-Bersambung-
__ADS_1