
Kondisi Aby yang belum pulih mengharuskan ia untuk dirawat di rumah sakit selama beberapa hari lagi. Malam itu, ia tengah bersama Keyla di ruang perawatannya.
Setelah mengupas buah apel yang dibawanya, Keyla menyuruh Aby membuka mulut.
"Aaaa.."
Dengan senang hati Aby menurut. "Aam."
Apel yang manis. Seperti yang menyuapinya.
Tiba-tiba Aby teringat sesuatu. "Oiyah Key..
Gimana hubungan loe sama Kakak kelas loe itu?"
Keyla tersenyum. Bercerita dengan senang hati. "Kita makin deket Bi..
Awalnya, gue juga gak begitu suka sama dia. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai hadir.
Dan besok, rencananya gue bakal nerima perasaan dia."
Aby terpaku. Hatinya serasa ditusuk ribuan tombak mendengar penuturan Keyla. Wanita yang ia cintai dalam diam. Dan diamnya Aby membuat ia kembali kalah oleh orang baru.
Aby memasang senyum palsu. "Bagus dong kalau gitu. Jangan lupa PMO-nya kalau kalian udah resmi jadian."
"PMO? Apaan tuh?"
"Pajak Move On."
Keyla tertawa. "Tenang, ntar gue kasih bakso segerobak."
Aby hanya tersenyum. Senyum yang sarat kesedihan. Sayangnya Keyla tidak menyadari semua itu.
Mendadak handphone Keyla yang berada di saku Jeansnya bergetar. Gadis itu langsung mengeluarkan benda Pipih tersebut dari dalam saku celananya.
WhatsApp from Kak Hugo: Malam Cantik, besok sekolah Kakak jemput yah.
Keyla tersenyum girang membacanya. Ia pun membalas: Iyah Kakak ganteng. Sekalian nanti ada yang pengen aku omongin sama Kakak.
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Keyla, Aby sudah bisa menebak. "Dari Kakak kelas loe?"
Keyla menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari handphonenya. "Iyah, besok dia mau jemput gue katanya."
Aby manggut-manggut. Ia tatap gadis yang masih sibuk dengan handphonenya itu dengan lekat. "Key.."
"Hmm?"
"Kalau suatu hari gue tiba-tiba menghilang dari hidup loe. Apa loe bakal nyari gue?"
Keyla yang sedang mengetik auto berhenti. Ia balas menatap Aby. "Emangnya loe mau kemana?"
"Ya nggak kemana-mana..
Eh, ganti pertanyaan deh. Kalau misalkan gue besok meninggal, apa loe bakal sedih?"
Mendengar pertanyaan Aby, Keyla menjatuhkan handphonenya dengan lemas. Entah mengapa hatinya terasa sakit. Bahkan tanpa terasa, airmata Keyla turun, dan mengalir dengan deras.
Aby shock. "Key loe kenapa? Kok loe nangis?"
"Menurut loe?" Keyla terisak. "Lagian pertanyaan loe aneh banget sih. Loe sengaja pengen bikin gue nangis? Hah?"
Aby tertegun. Apakah itu artinya, Keyla akan bersedih jika ia pergi dari hidupnya?
"Jadi loe bakal sedih, kalau gue-"
"Sstt! Udah ah, jangan ngomong kaya gitu.
Lagian ucapan adalah doa. Emangnya loe udah siap, kalau besok malaikat Izrail tiba-tiba datang buat ngejemput loe? "
Aby tak menjawab. Padahal ia hanya ingin tahu, seberapa besar arti kehadirannya di hidup Keyla.
**
Setelah janjian dengan Rangga untuk mabar game online, Regy bergegas pergi ke taman kota tempat janjiannya dengan Rangga.
Saat mereka sedang asyik mabar, Rangga yang matanya sudah mulai pegal memantengi layar handphone, menatap ke arah lain dan tanpa sengaja melihat Meisya yang sedang berdiri di samping gerobak siomay.
"Gi.." Rangga menyikut Regy.
"Hmm.." Regy khusyu bermain.
"Itu bukannya Kak Meisya yah?"
Regy mengikuti arah pandang Rangga. Terlihat sosok Meisya yang berjarak kurang lebih 15 meter dari tempat mereka.
Meisya yang malam itu mengenakan dress berwarna maroon dibalut cardigan silver. Rambutnya dikuncir satu. Membuatnya terlihat manis sekali.
Regy tersenyum tipis dan kembali menatap layar handphonenya. "Samperin sono."
"Gak ah.. Malu gue."
"Pake helm."
Plak! Rangga memukul bahu Regy. "Sialan lu!"
"Kalau malu terus, gimana loe mau deket sama Kak Meisya?"
Rangga menarik nafas dalam-dalam. Oke, ia tidak boleh bersikap seperti pengecut. Lagipula apa susahnya mendekati seorang perempuan?
Setelah mengumpulkan keberanian, Rangga menghampiri Meisya yang sedang menunggu siomay pesanannya.
"Hai Kak Meisya.." sapa Rangga. Dengan hati yang berdebar tidak karuan.
Meisya menoleh. Tapi tidak peka. "Hai.."
"Kakak lagi beli siomay?"
Meisya mengangguk. Pertanyaan yang konyol. Yakali dia sedang membeli es cendol di tukang siomay.
"Kakak nggak kenal sama aku?"
Kali ini Meisya menggeleng. 'Nih orang siapa sih? Kok bisa kenal sama gue, sedangkan gue gak tahu sama sekali dia siapa.' batinnya.
Sementara Rangga menghela nafas kecewa. Ia pikir Meisya akan langsung mengenalinya.
"Ini Rangga Kak." Ucap Regy yang tiba-tiba datang, seraya merangkul bahu Rangga. Betapa strong hatinya.
Meisya sendiri terkejut. Owh jadi pemuda ini adalah Rangga? "Ya ampun, maaf yah..
Kakak nggak tahu. Soalnya baru kali ini kakak berhadapan langsung sama kamu."
Senyum Rangga akhirnya terbit. Tadinya ia berniat pergi, karena toh Meisya juga tidak mengenalinya. Untung ada Regy.
"Ngomong-ngomong, kalian lagi ngapain disini?" Meisya kepo.
"Kami lagi nongkrong sambil Mabar." Jawab Rangga.
__ADS_1
"Owh." Meisya mengerti. "Oiyah.. Makasih banyak yah buat semua yang udah kamu kasih ke Kakak. Mulai dari bunga, surat, sampe boneka yang lucu banget."
"Iya Kak, sama-sama." Timpal Rangga. Meski ada yang membingungkan dari perkataan Meisya.
Regy sendiri memilih pamit dan memberi waktu dan ruang untuk mereka berdua.
"Kakak baper banget loh sama surat yang kamu bikin itu."
Rangga tersenyum. "Oiyah?"
"Iyah.. Maknanya dalem banget. Dan sejak itu, kakak jadi penasaran sama kamu."
Rangga semakin salah tingkah dibuatnya. "Sebenarnya udah lama aku pengen ngobrol berdua kaya gini sama Kakak. Tapi aku selalu gak berani."
"Gak berani? Emang muka Kakak nyeremin?"
"Haha, bukan gitu. Maksud aku.." keduanya asyik berbincang hingga lupa waktu. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama-sama.
Di bangku yang semula ia duduki bersama Rangga, Regy membuka notepad handphonenya, dan menulis sesuatu disana.
Di dunia ini banyak pahlawan super..
Ada Batman, Spiderman, iron man, dan masih banyak lagi..
Mereka sama-sama tangguh dan rela berkorban..
Tapi ketahuilah, aku tidak setangguh mereka..
Aku hanyalah manusia biasa..
Yang hatinya bisa terluka..
Dan itulah yang kurasakan saat ini..
Saat aku melihat pujaan hati..
Yang sedang tertawa bersama sahabatku sendiri..
(Regy Alvino)
**
Saat Keyla sudah hampir terlelap, ia mendapat pesan gambar yang dikirim oleh Fathan via WhatsApp.
Keyla cukup shock melihatnya. Foto bergambar Hugo yang sedang menggandeng tangan seorang perempuan di luar sebuah kafe.
Apakah foto tersebut asli? Atau sekedar rekayasa buatan Fathan?
5 detik kemudian, Fathan mengirimnya pesan: Ini asli Key. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa datang ke kafe Moonlight sekarang juga. Mumpung mereka masih ada disini.
Keyla mengabaikan pesan Fathan dan langsung menge-chatt Hugo.
(Kak lagi dimana?)
10 menit kemudian , Hugo baru membalas.
[Lagi dirumah sayang. Kenapa?]
(Aku VC yah)
Tanpa menunggu persetujuan Hugo, Keyla segera mem-video call pemuda itu. Dan jawabannya sudah jelas. Hugo menolak panggilan.
[Maaf Key, di rumah Kakak lagi banyak orang. Gak enak kalau harus video call-an]
**
Keesokan harinya.
Begitu keluar rumah, Keyla mendapati Hugo yang sedang berdiri disamping motornya.
Hugo langsung menghampirinya. "Pagi sayang." Ucapnya tanpa segan dan senyuman yang memuakkan.
Keyla hanya tersenyum. Senyuman maksa.
Pandangannya terhadap Hugo sudah berubah sejak tadi malam.
"Oiyah, kamu mau ngomong apa?" Tanya Hugo saat mengingat pesan Keyla kemarin sore.
Keyla menatapnya tanpa ekspresi. "Aku cuma mau nanya.. Kenapa Kakak bisa suka sama aku?"
Hugo terdiam dan tampak mencari jawaban. Namun otaknya buntu.
"Emang kalau suka sama seseorang harus ada alasannya yah?"
Keyla diam dan tidak berkata apa-apa lagi. Sudah bisa dipastikan jika Hugo memang tidak benar-benar mencintainya.
"Kenapa sih emangnya? Kamu ragu sama perasaan Kakak?" Hugo meraih kedua tangan Keyla dan menggenggamnya.
"Kakak beneran suka sama kamu Key."
"Serius? Kakak berani sumpah?"
"Demi Allah."
Keyla tersenyum miris. Berani sekali Hugo membawa-bawa nama Tuhan. Tapi lihat saja nanti, perlahan tapi pasti Keyla yakin kebusukan
Hugo akan terbongkar.
Sesampainya di sekolah, Keyla berjalan menuju kelasnya dengan tatapan kosong.
Seribu pertanyaan memenuhi otaknya.
'Jadi Kak Hugo nggak beneran suka sama gue? Terus kenapa dia deketin gue? Apa rencana dia sebenarnya? Dan lagi-lagi gue harus patah hati karena Cowok. Apa gue emang gak pantes dicintai? Apa salah gue sampai-sampai semua cowok nyakitin gue?'
"Key.. Key.." Meisya datang sambil berlarian.
"Kenapa lu?" Keyla heran.
"Si Raya.. Waktu gue datang dia lagi nangis dan gak bisa ditanya sama sekali. Dan sekarang pun masih gitu."
Keyla ternganga. Tanpa basa-basi ia mempercepat langkah kakinya menuju kelas.
Meisya mengikuti dari belakang.
Seperti kata Meisya, Raya masih menangis. Dibalik kedua tangan, gadis itu menyembunyikan airmata yang membasahi pipinya.
"Raya loe kenapa?" Keyla duduk disampingnya. Ia menatap Meisya dan meminta minum.
Setelah meminum air pemberian Meisya, Keyla menyuruh Raya menceritakan masalahnya jika ia sudah tenang.
Untungnya Raya bersedia menjawab. Jawaban yang membuat Keyla dan Meisya seketika merasa iba.
"Papih gue selingkuh. Semalam orangtua gue bertengkar hebat. Dan Mamih langsung ngegugat cerai."
"Ya Allah.." pekik Keyla
__ADS_1
"Sabar yah Ray." Meisya menguatkan.
Tangisan Raya semakin menjadi. Belum sembuh luka hatinya akibat kepergian Randy, kini ia dihadapkan dengan ujian yang lebih berat.
"Kenapa Allah ngasih gue ujian bertubi-tubi kaya gini. Apa salah gue?"
Keyla dan Meisya langsung memeluk Raya. Terkadang Tuhan memang begitu kejam menyiksa hamba-Nya.
**
Pulang sekolah, seperti biasa Raya pergi ke TPU untuk berziarah ke makam Randy. Selain berniat mengirim doa, Raya juga ingin menceritakan kejadian naas yang menimpa keluarganya.
Namun ada yang berbeda hari itu.
Saat Raya tiba, ia melihat seorang gadis yang tampak sedang menangis di makam Randy.
Raya langsung mendekatinya. "Permisi.."
Gadis cantik berkulit putih dan berambut cokelat itu menatap Raya dan buru-buru menyeka airmatanya. "Iyah?"
"Kalau boleh tahu, anda siapa?" Raya bertanya. Demi apapun perasaannya benar-benar tidak enak.
"Saya Shilla. Kamu sendiri?"
"Saya Raya. Anda siapanya Randy yah?"
"Saya pacarnya."
Deg! Detak jantung raya seolah berhenti saat itu juga. Apa dia bilang? Pacar Randy? Randy punya pacar selain dirinya? Bagaimana mungkin?
"Pa.. Pacarnya?" Suara Raya nyaris tak terdengar.
"Iyah. Kami sudah menjalani hubungan sejak SMA. Meskipun sempat putus karena saya harus kuliah di luar negeri. Tapi kami balikan lagi."
Raya shock. Bahkan nyaris pingsan.
Selanjutnya, ia pergi ke rumah keluarga Randy.
Dengan tergesa ia mengetuk pintu rumah berwarna cokelat itu dan berharap seseorang segera membukanya.
Tak lama kemudian, Raisa keluar. Gadis kelas 3 SMP itu heran.
"Kak Raya?"
"Dek, kamu tahu cewek yang namanya Shilla?"
"Shilla? Owh Kak Shilla mantannya Kak Randy?"
"Mantan?"
Raisa membenarkan. Setahu dia, keduanya sudah berpacaran sejak SMA. Tapi begitu mereka lulus dan Shilla mendapat beasiswa kuliah di luar negeri, mereka akhirnya putus. Karena Randy tidak mau menjalani LDR.
Raya semakin kaget dengan fakta tersebut. Itu berarti, mereka sempat putus, kemudian balikan lagi tanpa sepengatahuannya? Atau mungkinkah Randy berpacaran dengannya setelah balikan lagi dengan Shilla?
Lalu siapa yang jadi Orang ketiga sebenarnya?
Raya pun meminta izin untuk melihat handphone Randy. Raisa mengerti dan segera mengambilkannya.
"Tapi handphonenya pake password Kak. Kakak tahu password-nya?"
Raya ingat Randy pernah berkata. "Aku biasa bikin password dengan nama lengkap seseorang."
Raya pun mencoba memasukkan nama lengkapnya. Sayangnya tidak cocok.
"Nama lengkap Shilla apa?"
"Shilla Febriana kalau gak salah."
Raya langsung mengetik nama gadis itu. Dan seketika handphone Randy terbuka. Membuat Raya tersenyum miris sekaligus sakit hati.
Langsung saja Raya membuka WhatsApp Randy dan mencari sesuatu disana. Ada kontak yang diberi nama Shilla-Ku. Buru-buru Raya membuka histori chattingan mereka.
(16 Juli 2023 alias sehari sebelum Randy wafat)
Randy (Malam Ayang, lagi apa nih)
Shilla ( Malam juga ayang, biasa lagi sibuk sama tugas kuliah)
Randy (I Miss you. Aku pengen cepet-cepet ketemu sama kamu)
Shilla ( Miss you too. Sabar yah yang, studi aku cuma tinggal setahun lagi kok. Abis itu aku akan kembali buat kamu)
Randy (Bener yah? Aku janji begitu kamu lulus, aku akan langsung nikahin kamu)
Shilla (Serius?)
Sudah cukup sampai disana. Raya tidak tahan lagi dan langsung pergi dengan hati yang hancur lebur tak lagi berwujud. Ini benar-benar ujian yang maha dahsyat.
**
Malamnya, Raya berdiri dibalik pagar jembatan sambil menatap aliran sungai dibawahnya.
Teringat sebuah kejadian.
"Yang.." ucap Raya kala itu.
"Hmm?"
"Lihat handphone kamu dong."
"Buat apa?"
"Ya pengen lihat aja."
"Handphone aku nggak ada apa-apanya kok , serius."
Raya yang saat itu sedang bucin-bucinnya merasa tidak curiga dan akhirnya mengalah begitu saja.
Sekarang Gadis itu mengerti. Kenapa Randy tidak pernah mengizinkan Raya untuk melihat handphonenya.
'Ternyata loe buaya Ran.. Gue bener-bener gak nyangka sama loe.'
Ia pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil foto Randy dari dalam sana. Lalu dengan penuh emosi, ia menyobek foto berukuran 2R tersebut menjadi bagian-bagian Kecil. Tidak sampai disana, Raya juga menghapus seluruh foto Randy yang memenuhi galeri handphonenya.
Setelah itu, ia menaiki pagar jembatan dan mengambil ancang-ancang untuk lompat darisana.
Tampaknya ia sudah gelap mata dan tidak bisa lagi berpikir jernih, karena ujian hidupnya yang datang bertubi-tubi.
Untungnya seseorang datang tepat waktu.
Ia berlari mendekati Raya. Menarik Gadis itu, dan menjauhkannya dari pagar jembatan.
Telat beberapa detik, nyawa Raya pasti sudah melayang.
-bersambung-
__ADS_1