TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Rapunzel


__ADS_3

"INI GUE GI, RANGGA!"


Meisya dan Regy kelimpungan. Persis seperti maling yang tertangkap basah oleh warga.


Dengan segera Regy memutar otak, mencari tempat persembunyian yang aman bagi Meisya.


5 menit kemudian, Regy akhirnya membuka pintu.


Rangga menatapnya kesal. "Abis ngapain sih loe? Lama banget."


"Sorry, kosan gue berantakan. Jadi gue beres-beres dulu."


Rangga manggut-manggut. Lalu perhatiannya tertuju pada sepasang wedges berwarna krem yang nangkring di depan pintu kosan Regy.


"Ini sendal siapa?"


Mata Regy membesar. Ini adalah moment terpanik sepanjang sejarah hidupnya.


"Itu.. Sendal Nyokap gue.


Karena gak nyaman, jadi sendalnya ditinggalin dan pulang pake sendal jepit." Regy menjawab, semasuk akal mungkin.


Untungnya Rangga percaya. Bahkan merasa tidak habis pikir. "Lagian nyokap loe aneh-aneh aja deh. Itu kan sendal buat orang muda."


"Haha.. Iyah." Regy tertawa maksa. "By the way, ada apa loe kesini?"


Wajah Rangga mendadak murung. Kemudian tanpa dipersilahkan, ia menerobos masuk ke dalam kosan Regy.


"Orangtua gue ribut lagi. Males gue dengerinnya." Ia duduk di tepi ranjang tempat tidur Regy.


Regy berdiri di hadapannya. "Mereka masih suka ribut?"


Rangga tersenyum kecut. Daridulu, orang tuanya tidak pernah akur. Terkadang masalah sepele pun selalu mereka besar-besarkan. Namun ajaibnya, kedua orangtuanya masih mempertahankan pernikahan mereka hingga detik ini.


Selanjutnya, ucapan Rangga membuat Regy semakin panik bukan main. "Gue nginep yah."


"Hah? Nginep?"


"Iyah. Gue bener-bener males pulang ke rumah."


Regy benar-benar kalang kabut. Otaknya berpikir keras. Bagaimanapun caranya, Rangga tidak boleh sampai menginap malam ini, atau perang badar season 2 akan terjadi jika dia tahu Meisya ada di kosannya sekarang.


Tiba-tiba Rangga bangkit.


Regy langsung mengahadangnya. "Loe mau kemana?"


"Berak. Perut gue mules."


Oh Tidak! Jangan sampai Rangga ke toilet karena ada Meisya yang sedang bersembunyi disana.


"To- Toilet kosan gue rusak. Loe numpang ke toilet kosan sebelah aja yah."


"Rusak kenapa?"


"Kloset nya mampet. Gue belum sempet manggil tukang sedot WC. Loe gak jijik emang lihat tai gue yang terapung di kloset?"


"Huekkk. Jorok!"


"Haha. Ya makanya loe jangan ke toilet."


Tinunit Tinuninuninunit! Dering handphone Rangga berbunyi , menyelamatkan Regy. Cowok itu langsung mengeluarkan handphonenya dari dalam saku dan segera mengangkat telfon yang berasal dari adik perempuannya.


"Halo Dek?"


'Kak, Kepala aku pusing lagi. Bahkan sekarang ditambah mimisan. Tolong aku Kak. Mamah sama Papah juga masih berantem. Aku jadi tambah pusing.'


Rangga auto panik. "Yaudah yaudah, Kakak pulang sekarang."


Meski tidak tahu apa yang terjadi, Regy langsung menghela nafas lega begitu Rangga berkata akan segera pulang.


Setelah Rangga menutup panggilannya, Regy bertanya. "Ada apa?"


"Rania ngeluh sering pusing akhir-akhir ini. Kayanya gue harus bawa dia ke dokter."


Regy mengerti dan menyuruh Rangga untuk segera pergi. Mengusirnya secara tidak langsung.


Sepeninggal Rangga, Regy bergegas ke toilet yang dia bilang rusak, padahal tidak.


Disana, ada Meisya yang sedang berdiri bersandar sambil memainkan handphonenya.


"Rangga udah pergi?" Tanya Meisya, begitu Regy membuka pintu.


Regy mengangguk pelan. "Maaf ya Kak. Gara-gara saya, Kakak harus mengalami semua ini."


Meisya tidak mengerti. "Kenapa semua ini gara-gara kamu? Kan Kakak yang duluan ngejanjiin bakal ngajarin kamu malam ini."


"Ya tapi semua ini berawal dari saya yang minta diajarin matematika sama Kakak."


"Ck udahlah Gi, gak usah nyalahin diri sendiri.


Sejujurnya kita berdua emang jahat sama Rangga, tapi mau gimana lagi. Perasaan Kakak kan gak bisa dipaksain. "


Regy tersenyum tipis mendengar penuturan Meisya yang sedikit banyak menenangkan hatinya.


"By the way, kayanya kita gak jadi nonton deh.


Kakak disuruh pulang sama Mamah. Gak papa kan?"


Regy mengangguk dan tersenyum lembut. "Gak papa, kita bisa nonton next time. Yaudah, saya anterin Kakak pulang yah?"


Meisya mengangguk dan tersenyum semangat.


Pintu hatinya benar-benar telah terbuka untuk Regy.


***


Pagi hari, saat Raya keluar dari rumahnya, ia mendapati Divio yang sedang berdiri di samping motornya. Raya kaget dong.


"Ayang? Tumben pagi-pagi kesini. Mau jemput gue yah?" Raya tersenyum menggoda.


Alih-alih tergoda, Divio justeru menatap Raya dengan tatapan dingin dan menusuk.


"Nggak. Gue kesini karena ada yang pengen gue omongin sama loe." Ucap Divio, serius.


Membuat Raya takut sekaligus heran. "Loe mau ngomong apa?"


"Gue pengen kita putus." Ucap Divio, tidak ada angin, tidak ada hujan.


Jleb! Raya terhenyak. Apa katanya? Putus? Belum sebulan jadian, Divio sudah minta putus?


"Apa? Putus?" Mata Raya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iyah. Gue udah gak bisa nerusin hubungan kita.


Dan gue juga udah nemuin cewek yang jauh lebih baik dari loe." Kata Divio, enteng seperti tidak ada beban. "Gue harap loe ngerti."


Setelah mematahkan hati Raya, Divio langsung pergi begitu saja. Raya menangis. Tidak menyangka Divio tega melakukan semua ini padanya.


"Raya? Raya bangun Nak!" Mamah Raya membangunkan putrinya yang menangis dalam tidurnya.


Kampret! Ternyata semua itu hanyalah mimpi.


Raya sendiri tampak lega saat sadar jika semua itu hanyalah bunga tidur. Karena kalau kenyataan, ia merasa tidak sanggup melaluinya.


Melalui hari tanpa sosok Divio yang kini begitu ia cintai.


"Kamu mimpi apa sih? Kok sampai nangis begini?" Tanya sang Mamah, seraya menyeka airmata Raya dengan lembut.


Raya tersenyum tipis. "Nggak mimpi apa-apa kok Mah."


"Beneran?" Mamah Raya tidak yakin.


Raya mengangguk cepat. Akhirnya Sang Mamah percaya dan langsung pamit untuk bekerja.


Setelah sarapan dan berseragam rapi, Raya bergegas keluar dari dalam rumahnya.


Dan rupanya, persis seperti di dalam mimpi, Divio tengah berdiri di samping tiger putihnya.


Raya mulai was-was. Demi apapun dia takut mimpinya akan menjadi kenyataan.


Glek! Raya menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. "Di- Divio? Ada apa loe kesini?"


"Gue pengen ngomong sesuatu sama loe." Ucap Divio dengan tatapan yang sama persis seperti di mimpinya.


Raya auto lemas. Sudah fix, mimpinya akan menjadi nyata. Divio pasti akan meminta putus.


Membuat Raya tidak dapat menahan laju airmatanya dan menunduk sambil tersedu.


Sementara Divio dibuat bingung. "Raya loe kenapa? Kok tiba-tiba nangis sih?"


Raya menatap Divio kesal. "Menurut loe?"


"Ya mana gue tahu. Emangnya gue cenayang yang bisa baca isi hati seseorang."


"Loe kesini mau mutusin gue kan?" Kata Raya sambil terisak.


Demi apapun Divio kaget. Bagaimana bisa Raya berpikir seperti itu. "HAH? Mutusin? Kata siapa?"


"Kata gue! Soalnya gue mimpi, loe datang pagi-pagi dan bilang ada yang pengen loe omongin sama gue. Terus ujung-ujungnya loe minta putus dan pergi gitu aja.


Sekarang pun sama kan? Loe tiba-tiba udah ada di depan rumah gue terus bilang ada sesuatu yang pengen loe omongin sama gue.


Dan sama kaya di mimpi gue, loe juga mau minta putus kan sekarang?" Curhat Raya panjang kali lebar sambil masih menangis.


Sesaat Divio tertegun. Sebelum akhirnya ia tertawa dan tampak sangat puas. "Ya Allah.. Ternyata segitu cintanya yah seorang Raya Monica sama gue. Aku jadi terharu. Hiks." Divio pura-pura menangis.


Membuat Raya gondok setengah mati dan langsung memukul bahunya. "Apaan sih! Orang lagu serius juga."


Divio mendekat. Tersenyum lembut sambil menghapus airmata Raya. "Loe tahu darimana kalau gue bakal mutusin loe? Lagian sejak kapan loe percaya sama mimpi? Mimpi itu cuma bunga tidur sayang."


Raya menatap Divio dengan tatapan seakan takut kehilangan. "Jadi loe kesini bukan buat mutusin gue?"


"Ya bukanlah! Gila aja gue mutusin cewek yang cantiknya ngalahin Lisa Blackpink ini."


Kemudian Raya mengambil tangan Divio dan menggenggamnya erat. "Div..


Waktu gue mutusin buat pacaran sama loe, gue langsung bikin komitmen.


Kalau misalnya loe sampai nyakitin gue, gue bersumpah gak bakal pacaran lagi sama siapapun. Jadi jomblo seumur hidup pun gue gak peduli. Karena bukan sekali gue disakitin sama cowok.


Dan kalau misalnya loe gak bener-bener cinta dan cuma niat main-main sama gue, silahkan loe pergi sekarang juga, dan jangan pernah datang lagi di kehidupan gue.


Gue ngasih kesempatan, sebelum kita melangkah lebih jauh."


Dengan sendu Divio menatap Raya. Lalu tanpa banyak bicara, ia merengkuh Gadisnya ke dalam dekapan. Sama seperti Raya, Divio juga takut. Takut kehilangan Raya yang kini begitu ia cintai.


"Gimana mungkin gue berpikir buat ninggalin loe, ketika loe udah jadi rumah tempat gue berpulang.


Lagian loe lupa sama sumpah yang gue teriakin kemarin? Itu semua dari relung hati yang paling dalam Ray. Bukan sekedar omong kosong."


Raya kembali menangis. Namun kali ini, tangisan bahagia. Ia balas memeluk Divio dengan erat.


"Gue sayang sama loe Div."


"Gue jauh lebih sayang sama loe Ray."


"Oiyah!" Raya teringat sesuatu dan langsung melepaskan pelukannya. "Terus kalau bukan buat minta putus? Loe mau ngomong apa?"


Divio tersenyum dan membelai rambut Raya. "Gue cuma mau bilang, nanti malam loe harus mau ngedate sama gue. Sejak jadian kan kita belum pernah ngedate."


Raya tersenyum bahagia dan mengangguk dengan semangat. Saat ini, hanya Divio lah yang bisa membuatnya bahagia.


**


Setelah sarapan, Meisya juga langsung pamit pada Mamahnya dan bergegas berangkat sekolah. Namun saat membuka pintu, ia melihat sesosok pemuda yang sedang duduk tertunduk di teras rumahnya. Meskipun posisi Cowok itu membelakanginya, namun Meisya sudah tahu siapa dia.


Dalam hati, ia bergumam kesal. 'Mau ngapain sih dia pagi-pagi kesini?'


Meski begitu, Meisya tetap mendekatinya dan duduk di samping cowok itu. "Rangga.."


Rangga mengangkat kepala dan menatap Meisya dengan sedih. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sedang dihadapkan dengan masalah yang serius.


"Kak.. Aku lagi terpuruk. Kakak bisa hibur aku nggak sekarang?" Rangga terlihat menahan airmatanya sekuat tenaga.


Meisya menghela nafas. Ia melunak. "Terpuruk kenapa?"


Rangga kembali menunduk. Menyembunyikan airmatanya yang benar-benar jatuh, tak tertahankan.


"Adek aku sakit. Kata dokter, dia divonis penyakit Kanker otak dan udah masuk stadium 2."


Meisya terkejut sekaligus iba mendengarnya. Ia pun merangkul Rangga sambil menepuk-nepuk bahunya. Bermaksud menguatkan.


"Kamu yang sabar yah."


Tanpa segan Rangga menyandarkan kepalanya di bahu Meisya. Membuat perasaan seseorang hancur saat menyaksikan kemesraan mereka dari jarak jauh.


Ya. Regy. Dia berniat mengajak Meisya berangkat sekolah bersama. Meski ia tahu resiko ketahuan Rangga akan besar, namun ia mengambil keberanian dan seolah tidak peduli akan hal itu.


Dan saat ini, Regy kembali hancur melihat kebersamaan mereka berdua. Fiuhhhh..


Tiba di kelas, Rangga melihat Regy yang sedang duduk sambil bermain handphone. Dengan lemas, Pemuda itu berjalan mendekati sahabatnya.


"Gi, gue pengen cerita sama loe. Ini tentang Rania. Dia-"

__ADS_1


"Sorry Ga." Regy memotong. Berkata dengan suara dan wajah yang dingin. "Gue harus ke perpustakaan sekarang." Dan pergi melewati Rangga tanpa menatap sedikitpun ke arahnya.


Demi apapun, ia benar-benar sudah muak!


**


"GUE BOSEENN!!" Teriak Keyla yang terpenjara di dalam kamarnya. Tahu begitu dia memaksa sekolah saja meski kakinya sakit.


Akhirnya Keyla memutuskan untuk mencari udara segar dan langsung menyingkap selimutnya. Dengan bantuan tongkat, ia berjalan menuju pintu kamarnya.


Saat pintu terbuka, Keyla terbelalak. Serasa mimpi ia melihat Aby yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Abi? Loe lagi ngapain disini? Loe gak sekolah?"


Aby menatap Keyla lekat. "Sekolah gue dibubarin." Tapi bo'ong. Aslinya Aby ada jadwal check up pagi itu. Dan saat tahu Keyla tidak berangkat sekolah, sepulang dari rumah sakit, ia langsung pergi ke rumah Keyla.


"Loe mau kemana?" Tanya Aby kemudian.


"Taman belakang rumah. Sumpek gue di kamar terus." Keyla berjalan melewati Aby menuju tangga rumahnya.


Saat Keyla sudah hampir turun, Aby tiba-tiba memanggilnya. Gadis itupun menoleh.


Tanpa diduga Aby mengambil tongkat Keyla. Menggendong Gadis itu di depan, lalu berjalan menuruni anak tangga yang lumayan panjang.


Keyla tertegun dengan sikap Aby. Dan selama Aby menuruni tangga, Keyla tidak melepaskan tatapannya dari cowok itu sedetikpun.


Sesampainya di taman belakang rumah Keyla yang asri, Aby langsung mendudukkan Keyla di atas sebuah bangku.


"Anjir loe berat banget. Berapa kilo sih?" Aby memegangi pundaknya yang semula menjadi pegangan Keyla.


Keyla sewot. "Enak aja! Berat darimana? Orang BB gue cuma 45 kilo."


"45 apa 54?"


"Bodo amat!"


Aby tersenyum tipis. Sudah lama ia tidak bercanda dengan Keyla. Ia pun menghempaskan diri di samping Gadis itu.


Keyla memerhatikan wajah Aby yang hari itu tampak pucat. "Loe sakit yah?"


Aby segera membantah. "Nggak."


"Tapi kok muka loe pucet?" Keyla memegang tangan Aby. "Tangan loe juga dingin."


Aby tersenyum melihat kekhawatiran Keyla. "Gue gak papa Key." Lalu perhatiannya tertuju pada punggung tangan Keyla yang tampak gosong.


"Tangan loe kenapa?" Ganti Aby yang khawatir.


Keyla buru-buru menyembunyikan tangannya. "Gak papa."


"Gak papa apanya? Orang gosong gitu!"


"Ya terus?"


"Terus gue nanya, loe dapet luka itu darimana?"


"Kepo!"


Aby menahan nafas, lalu membuangnya perlahan. Mencoba meredam kekesalannya terhadap Keyla yang ingin ia gigit hidungnya.


Ia pun menyuruh Keyla menunggu, sementara dirinya pergi mengambil kotak P3K.


Keyla sendiri menatap tangannya dan mengingat kejadian semalam.


Saat itu, Mbok Sumi menghidangkan segelas susu panas dan meletakkannya di atas nakas.


Tak lama setelah Mbok Sumi pergi, handphone Keyla yang terletak di samping gelas susu tiba-tiba berbunyi.


Namun jarak handphonenya yang terlalu jauh membuat Keyla tidak mampu meraihnya, meski ia sudah merentangkan tangan sejauh mungkin.


Dan tanpa sengaja, tangannya justeru menyenggol gelas, sehingga susu panas di dalamnya tumpah dan mengenai tangan Keyla yang malang.


5 menit kemudian Aby kembali. Dengan penuh perhatian, ia membalut tangan Keyla dengan kain kasa.


Keyla terus memperhatikannya. Dalam hati ia meminta Aby untuk sekalian membalut luka hatinya yang terluka begitu parah.


Setelah selesai Aby langsung menatap Keyla yang hingga saat itu masih memandangi wajahnya. Merekapun saling menatap dalam diam untuk beberapa lama.


Hingga akhirnya Keyla tersadar, dan buru-buru memalingkan muka.


'Sadar bego!' Keyla mengutuk dirinya sendiri.


Aby mencairkan suasana. "Loe udah makan?"


Keyla menggeleng. Sejak pagi, belum ada makanan yang masuk ke mulutnya sama sekali.


Selain karena tidak lapar, nafsu makannya juga berkurang akhir-akhir ini.


Dan Aby kembali kesal dibuatnya. Ia pun kembali pergi guna mengambil makanan untuk Keyla.


Tak lama ia kembali setelah mendapatkan makanan dari Mbok Sumi. Saat Aby hendak menyuapi Keyla, Gadis itu menolak.


"Biar gue aja. Gue bisa makan sendiri kok."


"Diem!" Larang Aby dengan mata melotot. Seperti seorang Ayah yang sedang memarahi anaknya. Lalu perhatiannya tertuju pada rambut Keyla yang terurai ditiup angin.


Keyla sendiri merasa risih dan langsung mengeluarkan ikat rambutnya dari dalam saku.


Namun dengan keadaan tangan kanannya yang masih sakit, ia jadi kesulitan mengikat rambutnya yang panjang.


Akhirnya Aby turun tangan dan segera merebut ikat rambut Keyla. "Kalau gak bisa tuh minta tolong."


Cowok itu bangkit dan beralih duduk di belakang Keyla. Dengan manis, mengikat rambut gadis pujaannya.


"Loe gak risih punya rambut sepanjang ini?"


"Nggak. Waktu kecil kan gue pernah punya impian jadi Rapunzel."


Aby tersenyum simpul. "Terus sekarang, loe masih pengen jadi Rapunzel?"


"Nggak. Saat ini gue cuma pengen satu hal."


"Apa?"


"Abi yang dulu."


Deg! Aby terhenyak. Ia melepaskan tangannya dari rambut Keyla yang sudah terkuncir sempurna.


Keyla berbalik. Menatap Aby dengan mata yang merah menahan tangis yang ingin membuncah.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2