
Tak pernahkah kau sadari
Akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu
Yang telah kau ingkari
Saat melihat story WhatsApp yang diunggah Regy tadi pagi, Meisya terperangah dan seketika terbangun dari posisinya yang semula rebahan. Demi apapun ia baru ingat pada pemuda itu.
"Ya ampun! Regy!" Tanpa banyak bacot, Meisya langsung menelfon Regy. Berniat menyampaikan permintaan maafnya. Padahal usianya baru 17 tahun. Namun dia sudah sepikun itu.
1 menit menunggu, akhirnya penantian Meisya membuahkan hasil. Regy tidak menolak dan bersedia mengangkat panggilannnya.
'Halo?'
"Gi? Kamu dimana? Bisa ketemuan nggak sekarang?"
'Emang mau ngapain?'
"Kakak mau minta maaf. Sumpah Kakak lupa ngasih tahu kamu kalau Kakak nggak bisa datang tadi pagi." Meisya merasa bersalah teramat sangat.
'Owh masalah itu..
Gak papa kok Kak. Lagian bukan cuma kakak, saya juga ada urusan tadi pagi. Jadi saya pun nggak datang ke taman kota. ' dusta Regy, tidak ingin Meisya merasa bersalah. Entah terbuat dari apa hatinya.
"Owh gitu.." Meisya percaya dong. Tapi ia tetap ingin bertemu dengan Regy malam ini. "Ketemuan di taman kota yah? Sekalian bawa gitar kamu Gi. Nanti kita nyanyi dan seru-seruan bareng."
Regy sih dengan senang hati. Seumpama mendapatkan jackpot ia tersenyum amat bahagia. 'Oke Kak, saya siap-siap dulu yah.'
**
Malam itu, Divio kembali disuruh Mamahnya mengantarkan baju ke Rumah Mamah Raya.
Berkali-kali ia menekan bel rumah megah tersebut, namun tidak ada seorangpun yang kunjung membukanya.
Mendengar bel rumahnya berbunyi sedari tadi, Raya yang sedang scroll ig di kamarnya, bergegas bangun dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Namun saat Raya hendak menuruni tangga, handphonenya mendadak berdering pertanda masuknya sebuah panggilan. Disaat yang sama, Bi Ijah, pembantu rumahnya baru keluar dari toilet.
"Bi, bukain pintu yah. Aku mau ngangkat telfon."
"Oh, iya Non."
Raya tidak jadi turun dan kembali ke kamarnya. Sangat disayangkan!
**
Meisya dan Regy sudah tiba di taman kota dan tengah duduk berdampingan di sebuah bangku.
Dipelukan Regy terlihat sebuah gitar berwarna coklat, kesayangannya.
"Kamu beneran nggak datang tadi pagi?" Meisya memastikan.
Regy menunduk dan mengangguk pelan. Biarlah ia mendapat dosa akibat berbohong. Yang penting pujaan hatinya tidak merasa bersalah.
"Terus story itu buat siapa?" Tanya Meisya yang mengira story Regy ditujukan untuknya.
"Bukan buat siapa-siapa. Saya cuma iseng ngeupload." Jawab Regy, tapi bohong.
Meisya tidak memperpanjang masalah itu dan mengajak Regy bernyanyi. Namun pemuda itu menolak dengan alasan suaranya fals.
"Mending Kakak yang nyanyi, saya iringin pakai gitar."
"Boleh deh. Lagu apa?"
"Terserah Kakak."
Tiba-tiba semilir angin berhembus kencang. Menerbangkan rambut Meisya yang terurai panjang, sekaligus membuat tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Apalagi ia hanya memakai t-shirt berwarna maroon dan celana jeans selutut.
"Anjir darimana datangnya angin yang menggebu ini." Kata Meisya sambil menyibak rambutnya yang sebagian menutupi wajah.
Melihat hal itu, Regy yang gentleman langsung menaruh gitar. Melepaskan jaket hitamnya, dan menyampirkannya ke tubuh Meisya. Membuat gadis itu seketika mematung dan menatap Regy dengan pandangan lembut.
"Mau nyanyi lagu apa?" Regy meminta kepastian setelah memegang gitarnya kembali.
Meisya tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah lain, mencoba menghilangkan debaran jantungnya yang terasa begitu kencang. Ya Allah.. Perasaan macam apa ini?
Setelah berpikir beberapa lama, Meisya akhirnya menjawab. "Gimana kalau lagu Kisah sempurna."
"Mahalini?"
Meisya mengangguk. Regy tersenyum dan menyanggupinya. Dia adalah fans berat Mahalini. Jadi tidak ada satupun lagu Mahalini yang dia tidak hafal.
"Tenggelam jiwaku dalam angan
Tersesat hilang dan tak tahu arah
Ku terjebak masa lalu yang kelam
Tak kulihat lagi cahaya cinta
Dan kamu hadir coba bawa bahagia
Ketika ku masih mati rasa
Karena..
Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang
Keliru akan cinta
Jadi kisah yang sempurna.. "
Saat bagian bridge, Regy ikut bernyanyi bersama Meisya.
"Tuhan..
Yakinkan cinta ini wouuu
Hati yang terkunci terbuka kembali..
Dia yang pertama.."
Meisya bernyanyi dengan penuh penghayatan. Seolah lagu itu adalah gambaran perasaanya terhadap Regy saat ini. Regy yang mendobrak pintu hatinya yang semula dikunci oleh Rizvan.
Setelah lagu berakhir, Regy langsung tepuk tangan. Memuji suara Meisya yang bagus dan tidak kalah dari Mahalini.
"Ngomong-ngomong, itu lagu buat Rangga yah?" Tebak Regy dengan hati yang berdebar. Ia harap jawabannya bukan.
Dan ternyata memang bukan. Meisya menyanggah dengan tegas.
"Terus buat siapa?"
__ADS_1
"Menurut kamu?"
"Buat.. Pak Otong?" Regy melawak. Pak Otong adalah petugas kebersihan di sekolah mereka.
Meisya langsung memukul bahunya. "Apaan sih kamu."
"Haha.. Terus buat siapa?"
"Makanya coba tebak yang serius."
"Saya nggak bisa nebak selain Rangga."
"Kalau gitu dilarang kepo!"
Regy cemberut dan akhirnya tidak bertanya lagi. Dan Meisya justeru tersenyum melihat Regy yang tampak cute dimatanya.
Kemudian gadis itu menghela nafas, dan menatap lurus.
"Andai cowok yang suka sama Kakak itu kamu, bukan Rangga. Mungkin Kakak bisa move on dari Rizvan." Ucap Meisya, diluar prediksi BMKG.
Regy terpaku mendengar ucapan Meisya yang nyaris membuatnya terkena serangan jantung.
Ia pun kemudian bertanya. "Apa karena Rangga adalah sepupu Kak Rizvan? Makanya Kakak nggak bisa move on ke dia?"
Meisya menggeleng. Sebenarnya tidak masalah kalaupun Rangga adalah sepupu Rizvan. "Tapi entah kenapa, Kakak nggak ngerasa nyaman tiap kali sama dia.
Lain ceritanya kalau lagi sama kamu."
Susah payah Regy menelan Salivanya. "Ma.. Maksud Kakak. Kakak cukup nyaman saat bersama saya?"
Meisya mengangguk dan tersenyum getir.
Regy auto lemas dan merasa benar-benar tidak berdaya. 'Ya Allah.. Bolehkah hamba meminta-MU mencabut nyawa Rangga? Astagfirullah aladzim!' Regy buru-buru meralat doa yang ia panjatkan dalam hati. Tenang, ia tidak sejahat itu.
"Sayangnya kamu bukanlah Rangga yang suka sama Meisya. Kamu adalah Regy yang sukanya sama Ana." Sesal Meisya. Dengan mudah dan tanpa beban, ia mengatakan semua itu.
Lain halnya dengan Regy yang dibuat speechless. Ingin menjawab, namun bingung. Apa tepatnya yang harus ia katakan disaat seperti itu. Mengungkapkan perasaannya selama ini? Jelas tidak bisa. Ada Rangga yang harus ia jaga perasaannya.
Meisya sendiri pamit dengan alasan sudah malam. Setelah mengembalikan jaket Regy dan berterimakasih, ia pun pulang dengan motornya.
"Meisya sama Ana itu satu orang Kak." Ungkap Regy. Baru berani mengatakan hal itu setelah Meisya benar-benar pergi.
Uffffhhh... Kisah cinta yang rumit.
***
"Jadi mobil loe masuk bengkel?" Tanya Keyla, sesaat setelah meneguk segelas susu.
'Iya Key. Sorry yah, gue gak bisa jemput loe. Gue juga mau dianterin Nyokap.' Suara Raya dari ujung sana.
Keyla menaruh gelas kosong bekasnya di wastafel dan berjalan menuju tangga. "Iya kamvret. Woles aja keles."
'Sip. Atau nggak, loe minta si Aby aja yang nganterin loe.'
Mendengar ucapan Raya, Keyla yang sedang menuruni tangga langsung berhenti. Menyinggung soal Aby, ia jadi ingat kejadian saat di tukang bubur kemarin.
"Ini lagu, buat siapa?"
"Buat seorang cewek yang nggak suka ngelihat gue deket-deket sama cewek lain."
Aww! Pipi Keyla auto merona mengingat ucapan Aby yang berhasil membuatnya salah tingkah tersebut.
'Kutil! Kok loe diem?' Raya membuyarkan lamunan Keyla. Disaat yang sama, terdengar suara klakson motor yang berasal dari luar gerbang. Keyla tersenyum dan meyakini jika itu adalah Aby.
"Udah dulu ya Ray. Bye!" Keyla bergegas keluar dengan bersemangat.
"Mau ngapain lagi sih loe kesini?" Tanya Keyla murka.
"Key, aku mohon dengerin penjelasan aku."
"Bacot! Udah sana minggir! Gak sudi gue lihat muka loe." Keyla berniat pergi, namun Fathan berhasil menahannya.
"Jangan gitu dong Key. Lagian harusnya aku juga marah sama kamu. Waktu itu kamu lagi jalan kan sama si Aby?"
"Bodo amat Tan, gue udah gak peduli! Gue gak pengen berususan sama loe lagi. Jadi lepasin tangan gue."
"Nggak! Sebelum kamu maafin aku dan kita balikan lagi, aku nggak akan pernah lepasin tangan kamu."
"Kalau gitu gue bakal teriak."
"Silahkan! Aku nggak takut."
Keyla menatap Fathan dengan pandangan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Hingga akhirnya, seseorang datang dan melepaskan genggaman Fathan dari lengan Keyla. Yes! That's Aby.
Fathan tidak terima dan langsung mendorong Aby. "Apaan sih loe? Jangan ikut campur yah! Ini urusan gue sama Keyla!"
"Mulai sekarang urusan Keyla jadi urusan gue juga." Tegas Aby.
Keyla terbelalak dan langsung menatapnya dengan shock. Apa maksud Aby berkata seperti itu.
Fathan sendiri tersenyum sinis. "Kenapa? Loe suka sama dia? Atau jangan-jangan.." ia melihat Keyla. "Kamu yang duluan ngeduain aku? Kamu selingkuh kan sama si bangsat ini?"
"Apaan sih loe!" Keyla ngamuk mendengar tuduhan Fathan yang tidak berdasar.
"Beberapa waktu lalu, Bokapnya Keyla nyuruh gue buat jagain anaknya.
Jadi kalau Keyla kenapa-napa, gue bakal disalahin." Tutur Aby, entah benar entah bohong.
Ia pun menatap Keyla dan tanpa diduga menggenggam tangannya. "Ayo Key, loe berangkat sama gue."
Lantas keduanya pergi meninggalkan cowok bangsat itu.
"Bi.." ucap Keyla yang kini sudah bertengger di jok motor, di belakang Aby.
"Hmmm.."
"Serius bokap gue ngomong kaya gitu?"
Hening beberapa saat. Sebelum akhirnya Aby menjawab. "Hmmh."
Keyla tidak benar-benar yakin. "Kapan ngomongnya?"
"Gue lupa. Yang jelas, Om Gunawan pernah ngomong gitu sama gue."
Entah percaya atau tidak, yang jelas Keyla tidak bertanya lagi. Tapi satu hal yang pasti, sekarang ia mempunyai malaikat yang akan selalu menjaganya. Dan malaikat itu bernama Aby Ginanjar.
5 menit kemudian, ninja merah yang membawa Aby dan Keyla akhirnya sampai di SMA Kartini.
Keyla langsung turun kemudian berjalan ke samping Aby.
Aby tertawa kecil melihat rambut Keyla yang acak-acakan. Ia pun menyuruh Keyla mendekat, kemudian merapikan rambut gadis itu dengan penuh perhatian. Membuat Keyla tertegun dan salah tingkah diwaktu yang bersamaan.
"Oiyah Key, nanti siang nobar yuk? Loe bilang udah download film M3GAN kan?" Ajak Aby yang rindu nobar bersama Keyla.
Gadis itu hanya mengangguk dan berusaha menghilangkan debaran jantungnya yang begitu terasa.
"Mau di rumah siapa? Rumah loe atau rumah gue?"
"Terserah."
__ADS_1
"Yaudah, di rumah gue aja yah."
Dengan kepala tertunduk , Keyla mengangguk sekali lagi.
Melihat Keyla yang tidak ceria, Aby jadi heran."Kenapa sih cemberut Mulu? Senyum dong.
Loe tuh paling cantik kalau lagi senyum."
Keyla pun menatap Aby dan akhirnya menyunggingkan senyum di bibirnya yang glossy.
Aby ikut tersenyum. "Nah gitu dong..
Ululuh cantik banget. Anak siapa sih ini?" Godanya sambil mencubit pelan pipi Keyla.
"Anak Bapak Gunawan." Balas Keyla masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Oh Iyah.. Bapak Gunawan yang kumisnya setebal kamus bahasa inggris itu kan?" Ledek Aby.
Keyla kesal dan langsung memukulnya. "Ih! Gue bilangin nih!"
"Sono! Gue juga punya bapak Ginanjar kok. Wlee."
"Oh Iyah! Bapak Ginanjar yang kurus dan tinggi kaya tiang itu kan?"
Tuk! Aby menjitak pelan kepala Keyla. Dasar si tidak mau kalah!
"Udah sono masuk!"
"Loe pergi dulu, baru gue masuk."
Aby berdecak kesal. "Ck! Anak Bapak Gunawan ngeyel terus deh!"
"Bodo!" Keyla memeletkan lidahnya.
Aby pun mengalah. "Yaudah deh. Gue duluan yah."
Keyla mengangguk. Aby langsung memakai helmnya, kemudian menghidupkan motornya.
Saat Aby hendak pergi, tiba-tiba Keyla memanggilnya.
"Bi.."
"Hmm?"
"Jangan genit sama Nilam."
"Haha.. siap sayang." Ups! Aby keceplosan.
Keyla kaget dong. "Apa loe bilang?"
Aby kalang kabut. "Maksud gue, siap Keyla."
"Nggak, tadi loe gak bilang Keyla."
"Loe salah denger kali. Udah ah, gue berangkat. Bye!"
Keyla mengantar kepergian Aby dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasanya semakin sini, ia semakin yakin jika Aby menganggapnya lebih dari seorang sahabat.
--
Setelah menyimpan motornya, Divio berjalan meninggalkan tempat parkir. Disaat yang sama, ia melihat Raya yang baru datang.
Divio pun berhenti dan menunggu Raya yang berjalan ke arahnya.
"Raya? Loe gak bawa mobil?"
"Mobil gue masuk bengkel."
Merekapun berjalan bersama menuju kelas.
"Terus loe berangkat sama siapa?"
"Sama Mamah."
Divio mengerti dan tidak bertanya lagi.
"Oiyah Div.. Levin udah gak pernah ngerjain loe lagi kan?"
Divio terdiam, kemudian pikirannya melayang, mengingat kejadian 2 hari yang lalu. Saat itu, Divio tengah berjalan menyusuri koridor sambil mengetik sesuatu di handphonenya.
Dari jarak 2 meter, Levin tersenyum menyeringai melihat kehadirannya. Dan saat Divio berjalan melintasinya, dengan sengaja, Levin menjulurkan kakinya hingga membuat Divio jatuh tersungkur dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Sontak semua orang yang berada disana tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.
"Haha! Makanya kalau jalan tuh pakai mata! Jangan pake dengkul!"
Tangan Divio mengepal kuat. Ingin rasanya ia menjotos wajah laknat yang sedang berdiri disampingnya. Divio pun bangkit sambil mengibas-ngibas celananya yang kotor.
Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, dari jauh, ia melihat Raya yang sedang berjalan ke arah mereka. Akhirnya Divio mengurungkan niatnya dan pergi begitu saja. Membuat Levin tersenyum puas.
Nyatanya dia berbohong pada Raya. "Nggak kok."
"Bener? Kalau dia ngerjain loe lagi, loe jangan sungkan ngomong sama gue."
"Iyah. Loe tenang aja."
Raya sedikit tenang mendengar ucapan Divio. Ia tahu persis sifat Levin. Dia adalah seseorang yang tidak akan berhenti menghancurkan musuhnya. Dan Raya tahu Levin menganggap Divio sebagai musuhnya. Karena itu, Raya merasa tidak tenang dan selalu khawatir Levin akan bertindak macam-macam pada Divio. Contohnya seperti waktu itu. Dengan sengaja, Levin mengempeskan keempat ban mobil Divio.
"Oiyah Ray.. Loe udah berhasil lupain Randy kan?" Tanya Divio sambil meletakkan tasnya. Kini mereka sudah sampai di kelas.
"Udah lah.. Ngapain gue nginget-nginget cowok bangsat kaya dia. " Saat teringat pengkhianatan yang dilakukan Randy, darah Raya seolah mendidih. Kadang ia masih tak menyangka. Dibalik sifatnya yang sangat baik, Randy tak ubahnya seekor srigala berbulu domba.
"Loe sendiri? Masih betah ngejomblo?" Raya bertanya balik. Penasaran. Dengan wajah tampannya yang diatas rata-rata, seharusnya Divio bisa mendapatkan cewek manapun yang dia sukai.
"Kalau harus jujur. Belakangan ini, gue dibuat penasaran sama seorang cewek. Meskipun gue belum pernah lihat mukanya, tapi gue bener-bener tertarik sama dia."
Jleb! Entah kenapa, Raya merasa sakit hati mendengarnya. Padahal tanpa sepengetahuan dia, cewek yang dimaksud Divio adalah dirinya sendiri.
"Gimana ceritanya loe bisa tertarik sama cewek itu?" Tanya Raya, kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.
"Jadi ceritanya..
Gue nganterin nyokap ke rumah temennya. Gue ikut masuk dan numpang ke toilet.
Terus pas gue jalan ngelintasin kamar anak gadisnya, gue denger dia lagi nyanyi sedih.
Dari situ gue seakan jatuh cinta sama suaranya, dan berharap bisa ketemu orangnya someday."
"Kalau ternyata cewek itu jelek dan gak sesuai ekspektasi loe, loe bakal tetep suka sama dia?"
"Gak masalah. Tapi gue yakin, wajahnya secantik orangnya."
"Tahu darimana loe? Ketemu juga belom."
"Ntar deh.. Gue bakal coba tanyain sama Nyokap gue. Karena makin sini, gue makin penasaran sama sosok cewek itu."
Raya terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Ya Tuhan.. Padahal masih pagi, tapi kenapa Raya merasa panas sekali? Oh! Bukan cuacanya yang panas, tapi hati Raya yang terbakar. Ya, terbakar api cemburu.
-Bersambung-
__ADS_1