
Setelah mencium pipi Keyla selama beberapa detik, Aby membuang muka dan buru-buru menyeka airmatanya. Jangan sampai Keyla melihat ia menangis.
Sementara Keyla tersenyum salah tingkah dan tidak menyangka dengan tindakan Aby.
"Nobar nya next time aja ya Key. Gue capek, pengen istirahat." Ucap Aby dengan senyuman.
Keyla mengangguk sambil mengulum senyum. Semburat merah terlihat jelas di pipinya yang ranum.
Begitu Aby berbalik dan meninggalkan Keyla, senyumnya menghilang. Berganti menjadi kesedihan yang begitu dalam dan terlihat jelas.
***
"HAPPY BIRTHDAY KUTIL!" Seru Raya dan Meisya begitu Keyla keluar dari gerbang rumahnya.
Raya memegang kue tart. Sementara Meisya memegang party popper dan langsung meledakkannya ke udara. Membuat isinya terbang dan berserakan ke tubuh Keyla.
Si Kutil tersenyum haru. "Makasih gaes."
"Sekarang loe make a wish, abis itu tiup lilinnya. " Ucap Raya setelah menyalakan lilin.
Keyla memejamkan mata seraya memanjatkan doa . Tidak banyak yang ia minta. Ia hanya ingin diberi kebahagiaan dengan seseorang yang tulus mencintainya.
Setelah meniup lilin, Raya dan Meisya bergantian mencium pipi kanan-kiri Keyla sambil mengucapkan selamat, sekali lagi.
Keyla tersenyum bahagia menatap si kebo dan si kampret. Mereka adalah salah dua kado terindah dalam hidupnya.
Raya yang iseng kemudian mencolek krim yang ada di kuenya dan menggoreskannya ke pipi Keyla.
Membuat Keyla auto ngamuk. "KAMPRET!"
Raya terbahak. Sementara Meisya bertanya.
"Si Dia udah ngucapin?"
"Si Dia siapa?" Keyla ngelag.
"Pangeran loe. Pacar 5 langkah."
Keyla terdiam dan justeru mengingat kejadian semalam. Saat Aby mengecup pipinya dengan manis dan membuat Keyla merasa bahagia sampai detik ini.
Sayangnya sampai sekarang , ia belum menerima ucapan selamat dari pujaan hatinya tersebut.
Padahal Keyla berharap Aby menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
***
Pukul 8 malam, Mbok Sumi mendatangi kamar Keyla dan memberi tahu kedatangan Aby pada Nona Muda-nya.
Keyla yang saat itu hanya mengenakan tanktop dan hot pants seketika kalap mencari baju.
"Suruh Aby nunggu sebentar Mbok."
Dengan memakai dress berwarna pink yang sangat indah, ditambah make up yang cantik dan tidak berlebihan , Keyla terlihat seperti bidadari malam itu. Bergegas ia menemui Aby di ruang tamu rumahnya.
Begitu Keyla muncul, Aby yang semula duduk seketika bangkit. Seperti biasa, ia terpana oleh kecantikan Keyla yang tiada tara.
Alih-alih senang, Aby justeru merasakan kesedihan dalam hatinya. Sedih, karena apa yang ia rencanakan harus gagal karena penyakit sialan itu. Aby mendadak pesimis. Menganggap hidupnya tidak akan lama lagi.
Dengan senyuman pahit, Aby menyerahkan sebuket mawar merah yang berada di genggamannya.
"Selamat ulang tahun Keyla Maheswari."
Keyla tersenyum bahagia dan menerimanya.
"Makasih Aby Ginanjar."
Kemudian mereka berdua duduk berdampingan di atas sofa yang empuk.
"Kirain loe lupa sama ulang tahun gue." Ucap Keyla yang sebelumnya uring-uringan karena Aby tak kunjung datang dan memberinya ucapan selamat ulang tahun.
Aby tersenyum tipis. "Ya nggak lah. Mana mungkin gue lupa sama ulang tahun loe."
Keyla tersipu. Ucapan Aby seolah menyiratkan bahwa Keyla adalah seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Oiyah Bi. Kapan loe mau ngasih tahu gue tentang cewek yang loe suka? Sumpah, gue bener-bener udah gak sabar."
Aby menatap Keyla nanar. Jika saja penyakit itu tidak datang, malam ini mungkin akan menjadi malam terindah dalam hidupnya.
"Sekarang."
__ADS_1
"Oiyah?" Mata Keyla berbinar. Jantungnya mendadak berpacu dengan keras. Ia sudah sangat tidak sabar mendengar pengakuan Aby.
"Terus siapa cewek itu?"
Glek! Aby menelan ludah. Tanpa Keyla ketahui, pemuda itu sedang berperang melawan dirinya sendiri. Hati memintanya untuk tidak bersikap pengecut dan berkata jujur pada Keyla. Sementara otak menyuruhnya untuk tidak egois dan berpikir jika berbohong akan lebih baik.
"Dia adalah.. Nilam." Ahh.. Rupanya Aby lebih memilih mengikuti kata otaknya.
'Sorry Key, gue harus bohong dan terpaksa nyakitin loe. Karena kalau gue jujur dan kita jadian, saat gue meninggal, loe pasti bakalan sedih. Karena gue yakin, hidup gue gak akan lama lagi gara-gara penyakit sialan ini.'
Sementara Keyla bagaikan disambar petir. Tubuhnya lemas . Hatinya hancur seketika.
"Ni.. Nilam?" Tanya Keyla lirih, hampir tak terdengar.
Aby berusaha setegar mungkin. "Iyah. Loe inget omongan gue waktu di tukang bubur yang nganggap Nilam cuma sebatas adik kelas? Sebenernya gue bohong. Gue ada rasa sama dia.
Dia adalah cewek yang udah gue sukai selama bertahun-tahun."
Keyla menundukkan pandangan. Wajahnya seperti orang linglung. Atau lebih tepatnya shock? Kemudian ia merasakan sakit yang teramat di dadanya.
Keyla meremas dadanya dengan kuat. Tuhan..
Ini benar-benar menyakitkan.
"Key, waktu itu loe bilang siap jadi Mak comblang gue kan? Bantuin gue ya Key. Gue bener-bener bingung harus nembak Nilam dengan cara apa."
Keyla menatap Aby dengan tatapan seakan tak percaya. Sebisa mungkin ia mengendalikan diri yang seolah ingin berteriak sekencang-kencangnya.
"Key? Kok loe diem aja?" Tanya Aby. Jiwanya tegar. Tapi hatinya menangis.
"Sorry. Gue gak bisa." Ucap Keyla. Suaranya bergetar menahan tangis.
"Kenapa? Katanya waktu itu loe mau bantuin gue."
Keyla membuang muka, menyembunyikan airmatanya yang benar-benar luruh. 'Aby.. Terus loe anggap apa gue selama ini?'
Menyeka airmatanya kasar dan kembali menatap Aby. "Sekarang beda. Gue gak bisa bantuin loe." Gadis itu bangkit dan mengusir Aby.
"Loe pergi gih. Gue mau tidur. Oiyah, bunganya loe bawa lagi aja. Buat si Nilam." Keyla menaruh bunga pemberian Aby dan segera berlari menuju kamarnya. Berniat menangis sekencang-kencangnya dan menumpahkan segala kesedihannya.
Sementara Aby menatap kepergian Keyla dengan linangan airmata.
**
Minggu 06 Agustus 2023.
Malam itu, Raya merasa gabut. Apalagi handphone Divio tidak aktif. Entah sedang kemana Bebeb-nya itu.
Ia pun langsung mengambil handphonenya dan menge-chatt Keyla.
(Til, ke kafe Om nya si Meisya yuk? Kita nongki sambil nonton penampilan tuh anak. Gabut gue di rumah.)
Tidak berselang lama, Keyla membalas: Oke.
(Sip, langsung ketemuan di kafe aja yah.)
--
Raya tiba lebih dulu di kafe Diamond. Setelah masuk, ia duduk di meja paling depan agar Meisya bisa melihatnya.
Meisya sendiri sedang bernyanyi saat itu. Ia menyunggingkan senyum tipis melihat kedatangan si kampret yang mengejutkan.
Tidak lama kemudian, Keyla juga datang. Seiring lagu Meisya yang berakhir. Dengan lemas, Keyla duduk di samping kanan Raya.
Si kampret shock melihat mata Keyla yang bengkak seperti habis dipukuli orang sekampung. Saking sembabnya Keyla bahkan terlihat kesusahan membuka mata.
"Astagfirullah! Kutil loe kenapa?"
Keyla tak menjawab dan malah menatap Meisya yang sedang minum dan break sejenak. Di tempatnya, Meisya juga terkejut melihat keadaan Keyla.
Raya menarik dagu Keyla, meminta sahabatnya tersebut menatapnya. "Jawab gue! Loe kenapa?"
Keyla akhirnya tersenyum. Membuat bola matanya hilang dan tertutup sempurna. "Gue gak papa." Jawabnya dengan suara serak.
Tentu saja Raya tidak percaya. Bahkan anak TK pun bisa tahu jika Keyla sedang tidak baik-baik saja.
Setelah minum, Meisya kembali bernyanyi. Lagu berjudul Tanpa Rasa bersalah milik penyanyi Fabio Asher.
"Andai sejak awal ku tahu akhirnya begini
__ADS_1
Ku tak akan mau mencintaimu tlah sedalam ini
Entah apa salah dan dosaku
Hingga Tuhan pertemukanku denganmu
Hancurkan diriku
Hadirmu hanya menambah luka baru"
Wah.. Lagu yang sangat sempurna untuk menggambarkan hancurnya perasaan Keyla saat ini.
Keyla pun menunduk. Setelah lelah menangis seharian, kini ia harus menangis lagi gara-gara lagu yang dinyanyikan Meisya.
"Keyla loe kenapa?" Raya memegang pundak Keyla. Sumpah demi apapun dia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada si kutil.
Keyla tak menjawab dan malah menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. Sedetik kemudian ia benar-benar tidak tahan dan memilih pergi sambil berlarian. Raya langsung mengejarnya.
"Keyla!" Raya berhasil meraih tangan Keyla. Sementara orang-orang yang hendak masuk ke kafe dibuat heran oleh tingkah mereka berdua.
"Serius, loe kenapa?" Raya mengguncang Keyla dan terus mendesaknya agar mau menceritakan masalahnya.
Dengan mata yang basah, Keyla menatap Raya.
"Tolongin gue Ray. Tolong kasih tahu gue cara ngilangin rasa sakit." Keyla meremas dadanya yang terasa sesak
"Disini. Ini sakit banget."
Tanpa terasa, Raya ikut menangis mendengar ucapan Keyla yang tampak sangat hancur dan tak berdaya.
Disaat yang sama, Meisya juga keluar dan langsung mendekati mereka.
"Keyla loe kenapa?"
Keyla tak menjawab dan malah semakin menangis tersedu-sedu. Sedangkan Raya membuang muka, dan menyeka airmatanya kasar. Meski tidak tahu masalah Keyla, namun ia bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu
"Kalian kenapa sih? Ray! Kok loe ikut-ikutan nangis?" Meisya tak mengerti.
Akhirnya, mereka bertiga duduk melingkar di dalam kafe tersebut. Karena sedang break time, Meisya bisa ikut duduk bersama kedua sahabatnya.
"Sekarang, jawab gue. Loe kenapa?" Tanya Raya, setelah Keyla lebih tenang.
"Gue cuma gak ngerti. Apa gue emang bener-bener gak pantas dicintai sama cowok manapun?" Tanya Keyla dengan tatapan kosong. Rasanya ia sudah mati rasa sekaligus trauma dengan makhluk bernama lelaki.
"Maksud loe? Kan ada Aby yang suka sama loe. Dia juga kelihatan tulus." Sanggah Raya. Meisya mengangguk setuju.
Keyla tersenyum miris. Aby. Ingin rasanya ia membunuh pemuda itu. Pemuda yang telah menerbangkan perasaannya setinggi angkasa, lalu membantingnya ke dasar jurang.
"Kalian masih mikir dia suka sama gue? Kalian salah besar! Bukan gue cewek yang dia suka."
"Terus siapa?" Tanya Raya dan Meisya kompak. Sebelumnya mereka sangatlah yakin bahwa Aby menyukai Keyla mengingat sudah banyak buktinya.
"Namanya Nilam. Dia adek kelas cowok itu.
Gue pernah ketemu sama dia sekali. Waktu itu, dia bilang cuma nganggap cewek itu sebagai adik kelasnya. Tapi kemarin, dia terang-terangan ngasih tahu gue, kalau sebenarnya dia udah lama suka sama cewek itu, dan minta bantuan gue buat jadi Mak comblang mereka."
"Anying parah banget si Aby." Maki Meisya.
Sementara Raya tak serta merta percaya. "Loe serius?"
"Mata bengkak gue jadi saksi Ray."
Raya tak habis pikir. "Kok bisa sih? Terus apa arti sikap baik dia selama ini? Dia cuma niat nge-PHP in loe doang?"
Keyla tersenyum miris. "Mungkin."
Raya tidak akan tinggal diam. "Loe tenang aja. Gue bakal nyari tahu kebenarannya lewat Divio."
***
Keesokan harinya, Raya dan Meisya menunggu kedatangan Keyla di dalam mobil. Tak lama kemudian, Aby muncul dengan motornya.
Tanpa basa-basi, Raya langsung keluar mobil, disusul Meisya. Berniat melabrak Aby saat itu juga.
"ABI!"
Aby menoleh dan langsung menghentikan laju motornya. Raya dan Meisya segera menghampirinya.
-Bersambung-
__ADS_1