TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Bandung Lautan Rindu


__ADS_3

Meisya terperangah saat tahu orang yang duduk di sampingnya bukanlah Wulan, melainkan Regi. 


Regy sendiri tersenyum geli, melihat ekspresi Meisya yang bengong.


"Tolong yah, jangan samakan saya sama Kakak. Karena saya bukan kebo yang hobi tidur." Lanjut Regy.


Plok! Regy mendapat gamparan di punggungnya. 


Membuat cowok itu terkekeh, karena wajah Meisya yang kesal tampak sangat cute di matanya.


Lalu Regy bertanya, "Kakak bakal lama kan di Bandung?"


Meisya menatap jam tangannya. "1 jam lagi."


Kali ini Regy yang terperangah. Secepat itu?


"Kakak serius?"


Meisya mengangguk. Tentu saja. "Jam 10 Kakak sekeluarga mau balik lagi ke Jakarta. "


Regy terlihat lemas. Karena itu artinya, mereka akan berpisah kembali. Padahal kehadiran Meisya di Bandung membuat dirinya merasa hidup akhir-akhir ini. Karena selama ini, Regy hidup tapi mati.


"Tapi sebelum pergi, ada beberapa hal yang pengen Kakak tanyain sama kamu. Dan kamu harus jawab dengan jujur. Biar gak terjadi kesalahpahaman diantara kita."


Regy mengangguk, dan langsung menyimak.


"Dulu, kenapa kamu pergi gitu aja? Tanpa pamit, dan tanpa rasa bersalah. " Tanya Meisya dengan wajah sendu. Saat teringat hal yang dilakukan Regy dulu, dadanya terasa sesak.


Regy menunduk, dan menjawab pelan. "Karena saat itu saya bener-bener gak berdaya. Saat Rangga tahu tentang kedekatan kita, dunia saya langsung runtuh. Apalagi saat itu dia menyuruh saya memilih. Saya, atau dia yang mundur. Jadi tanpa pikir panjang, saya yang memilih mundur dan pergi dari hidup kalian. "


"Nah! Tindakan kamu itu bodoh Gi! Gak seharusnya kamu mengalah. Karena dibanding Rangga, kamu yang duluan suka sama Kakak. Bukan dia." Kata Meisya, kesal. Sekesal-kesalnya. Menurutnya Regy adalah cowok paling bego sedunia.


Regy sendiri mengakui hal itu."Kakak benar. Dan harusnya dari awal saya jujur sama Rangga. Bukannya malah jadi Mak comblang kalian."


Meisya tersenyum miris. Bagus lah kalau Regy sadar.


"Kakak sendiri kenapa nggak nyusulin saya ke Bandung? Atau sekedar nanyain lewat sosmed?"


"Dih! Sorry yah. Kakak masih punya harga diri! Lagian kakak kapok dan gak mau lagi ngejar-ngejar cowok."


Regy tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala. Dasar si paling tinggi harga dirinya!


"Terus Kakak tahu darimana kalau saya adalah Al, temen kecil Kakak?"


"Dari buku diary yang kamu tinggalin di bangku taman kota."


Regy kaget. "Kakak nemuin buku itu?"


Meisya menggeleng. "Bukan. Raya yang nemuinnya.


Waktu itu dia ngelihat kamu yang hampir ngebakar buku itu, tapi akhirnya nggak jadi."


Regy manggut-manggut. "Terus waktu tahu semua itu, perasaan Kakak gimana?"


"Ya shock lah! Kakak langsung nyamperin kostan kamu. Manggil nama kamu sambil gedor-gedor pintu kaya orang gila. Gak tahunya kata temen kamu, kamu udah pergi."


Regy sangat merasa bersalah mendengarnya. Tertunduk ia berkata, "Maafin saya ya Kak."


Meisya hanya diam sambil terus menatap Regy. Mencoba mengerti dan membayangkan posisinya saat itu.


Regy mengangkat kepala dan kembali menatap Meisya. "Tapi Kakak nggak usah khawatir. Sekarang, saya udah nggak takut lagi sama Rangga. Apapun yang dia pikirkan tentang kita, saya nggak akan peduli. Karena saya udah terlanjur cinta sama Kak Icha alias Ana alias Kak Meisya Adriana."


Mata Meisya berkaca-kaca. Betapa ia terharu mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Regy.


Regy pun menggenggam kedua tangan Gadis pujaannya, dan menatap matanya lekat.  


"I Love You. Meisya Adriana.


12 tahun saya memendam perasaan ini, dan berharap akan mendapatkan akhir yang bahagia." Regy memberanikan diri mencium tangan Meisya.


"Kakak mau kan, jadi pacar saya?"


"Nggak mau." Jawab Meisya tanpa diduga.


Regy shock dong. Apa itu artinya, Meisya menolak perasaannya?


"Serius? Kakak nggak mau?"


"Iyah. Kakak nggak mau jadi pacar kamu. Maunya jadi pendamping hidup kamu. Karena yang jadi pacar, belum tentu jadi pendamping hidup."


Regy tersenyum bahagia dan langsung menarik Meisya ke dalam dekapannya. Beruntung taman sedang dalam keadaan sepi. Jadi Regy tidak segan untuk memeluk Meisya.


"Insha Allah saya akan sukses beberapa tahun kemudian. Dan ketika saatnya tiba, saya akan menjadikan kakak sebagai Nyonya Regy Alvino."


Meisya tak kalah bahagia dan balas memeluk Regy. "Aamiin. Kakak akan bantu doain."


Setelah itu mereka melepaskan pelukan dan saling menatap dengan penuh cinta. Meisya teringat sesuatu.


"Berarti kita harus LDR-an dong?"


Senyum Regy langsung redup. Ia menghela nafas berat, lalu mengangguk pelan. Berat rasanya, tapi mau bagaimana lagi?


Meisya sedih mengetahuinya. "Emang kamu nggak bisa tinggal di Jakarta yah?"


Regy tersenyum tipis. "Mau ngapain? Kan saya juga kuliah disini."


"Oiyah? Kirain kerjaan kamu sehari-hari cuma ngurusin si Michelle doang." Canda Meisya yang langsung mendapat cubitan gemas di hidungnya.


"Ih! Rese!" Ucap Regy, kesal.


Meisya hanya tertawa. 


"Kamu jangan panggil Kakak lagi yah, panggil Meisya aja. Lagian kita cuma beda setahun." Pinta Meisya, kemudian.


"Gak papa emang?"

__ADS_1


"Ya gak papa. Terus jangan manggil diri kamu dengan sebutan saya. Karena itu terlalu formal." Tambah Meisya. Si paling banyak aturan.


"Terus apa? Loe gue?"


"Aku kamu aja."


Regy mengerti. Asalkan Meisya bahagia, dia siap menuruti semua keinginannya. Yang penting jangan minta dibuatkan perahu dalam waktu satu malam saja. Karena dia bukan Sangkuriang.


"Oiyah." Regy teringat sesuatu. "Kakak eh.. Maaf. Kamu deket lagi sama si Rizvan?" Tanya Regy dengan nada cemburu.


"Iyah. Tapi sekarang aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Ibarat makanan, dia udah expired."


"Kalau aku?" Regy tersenyum menggoda.


"Kalau kamu ibaratnya makanan yang baru matang. Udah gitu rasanya enak, sehat, halal, dan bergizi."


Regy tersenyum geli dan kembali memeluk Meisya. Ini adalah saat terindah dalam hidupnya. Saat cinta yang telah lama ia pendam, akhirnya terbalaskan.


Dari jauh, Wulan begitu girang menyaksikan semua itu.


"Yes! Mission completed!" 


Tring! Wulan mendapatkan notif. Pesan WhatsApp dari Yazi!


(Ulan, ke wengi (nanti malam) ketemuan yuk? Yazi bade nyarioskeun (mau ngomongin) sesuatu)


Wadaw! Kebaikan Wulan langsung dibayar tunai.


***


Setelah menemui orang yang hendak mendonorkan matanya untuk Divio, Raya langsung menemui Mamah dan Bude Divio yang kebetulan berada di Rumah Sakit tersebut. Sampai saat ini, Bude Divio memang belum sembuh dan masih harus menjalani perawatan.


Setelah bertemu dengan keduanya, Raya langsung memberitahu mereka bahwa ada seseorang yang rela mendonorkan matanya untuk Divio.


Mamah Divio terkejut sekaligus girang mendengarnya. "Kamu serius Ray?"


Raya membenarkan dan bercerita panjang lebar.


Kemudian pada akhirnya, Raya mengusulkan satu permintaan pada Mamah Divio. Permintaan yang mungkin terdengar gila dan tidak masuk akal.


--


Pukul 12 siang, Keyla baru pulang. Saat mobilnya sampai di depan gerbang, disaat yang sama, mobil Raya juga tiba dari arah berlawanan. Keduanya saling menatap dari dalam mobil masing-masing. 


Sebelum kemudian mereka sama-sama keluar, dan mendekat. 


"Loe mau kemana Ray?" Tanya Keyla. Siapa tahu kedatangannya bukan untuk bertemu dengannya, melainkan untuk bertemu Abi.


Tapi Raya memang berniat menemui Keyla. "Ya ke rumah loe lah. Kemana lagi?"


Merekapun akhirnya pergi menuju kamar Keyla. Sesampainya disana, mereka membaringkan diri.


Keduanya tidur telentang bersebelahan, sambil menatap langit-langit. 


Keyla memulai pembicaraan. "Ray. Loe jangan kaget yah? Gue mau cerita soal Divio. Dia--"


"Loe udah tahu?"


Raya tersenyum getir dan mengangguk pelan. "Dia buta gara-gara gue Key."


Keyla langsung duduk dari posisinya. "Maksud loe?"


Raya ikut-ikutan. Duduk bersila dengan tatapan lurus. "3 tahun yang lalu, saat gue kecelakaan, gue mengalami kebutaan. Dan waktu itu gue bener-bener gak tahu kalau ternyata orang yang donorin matanya buat gue adalah Divio."


Keyla tercengang. Bagaimana mungkin semua itu terjadi?


"Loe serius? Tapi kok, dia bilang kalau dia buta gara-gara kecelakaan?"


"Mungkin dia gek pengen loe tahu. Karena kalau loe tahu, otomatis loe bakal ngasih tahu gue. Dan dia belum tahu kalau gue udah tahu tentang semua itu."


Keyla menghela nafas. Ternyata bukan hanya kisah cintanya bersama Abi yang rumit. Kisah Divio - Raya pun tidak kalah complicated.


"Gue juga baru tahu sesuatu Ray. Sesuatu yang bikin gue bener-bener gak nyangka."


"Soal Abi?" Tebak Raya.


Keyla mengangguk pelan. Ia pun menceritakan semuanya. Tidak hanya itu, Raya juga menceritakan alasan yang sebenarnya kenapa Divio memutuskannya 3 tahun yang lalu.


Membuat kedua Gadis itu dapat menarik kesimpulan. Bahwa laki-laki pujaan mereka sama-sama telah membohongi mereka berdua. 


"Terus apa rencana loe selanjutnya? " Tanya Raya, penasaran.


Keyla menatap Raya dengan intens. "Gue butuh bantuan loe Ray."


"Bantuan apa?"


**


Malam hari, Mamah Divio tiba di panti dan mengajak puteranya berbincang 4 mata di sebuah ruangan.


"Mamah punya kabar gembira buat kamu." Ucap Sang Mamah, setelah mendudukkan Divio.


Divio menaruh tongkatnya. "Kabar gembira apa Mah?"


"Ada seseorang yang ingin mendonorkan matanya untuk kamu." Ucap Mamah Divio, terdengar begitu bahagia.


Begitupun dengan putranya. "Mamah serius? Siapa orangnya?"


"Orangnya.." Mamah Divio menggigit bibir. Duhai Raya.. Betapa gilanya dirimu. Tapi bagaimanapun beliau sudah berjanji untuk menuruti keinginannya.


Akhirnya Mamah Divio menjawab. "Dia adalah Cinta."


Divio tersentak. "Ci.. Cinta ? Cinta yang mana?"


"Tentu saja Cinta yang kamu kenal. Cinta yang selama ini mengurus anak-anak panti."

__ADS_1


Divio begitu shock. Bahkan tidak habis pikir mendengar penuturan Mamahnya. Cinta. Atas dasar apa ia melakukan semua itu?


"Tadi pagi, dia menemui Mamah dan memberitahu niatnya untuk mendonorkan matanya buat kamu." Ucap Sang Mamah, dalam hati beliau meminta maaf karena sudah tega memperdaya putranya.


"Atas dasar apa? Belas kasihan? Rasa kemanusiaan? Atau-"


"Atas dasar cinta. Gadis itu mencintai kamu."


Divio semakin shock dibuatnya. Saking shocknya ia sampai tidak tahu lagi harus berkata apa. Satu hal yang jelas. Ia merasa tidak senang sama sekali.


"Nanti malam, dia akan menemui kamu. Jadi nanti, bicarakan semua yang ingin kamu ketahui, sama dia."


***


Begitu kelasnya selesai, Rizvan langsung pergi ke tukang bakso langganannya.


Sambil menunggu bakso pesanannya, Rizvan pun bermain handphone. Ketika membuka Instagram, Rizvan melihat postingan Regy yang menge-tag Meisya.


Postingan tersebut berisi foto mereka berdua yang sedang tersenyum manis dengan caption:


BANDUNG LAUTAN RINDU @Icha_Adriana


Anjay!


Rizvan melongo. Meisya dan Regy? Kok bisa?


Cowok itu langsung mengklik icon komentar dan melihat serangkaian komentar yang memenuhi postingan tersebut.


@Icha_Adriana : I'll Miss you Babe. Huhu aslinya gak pengen pisah.


@Regy_AL : I'll Miss you too. Jaga diri baik-baik yah, awas jangan genit sama cowok lain.


@Icha_Adriana : Siap sayang.


@Regy_AL : Lap yu sekebon.


@Wulandari_ : Wadaw! Akhirnya si Raja kentut mengakhiri masa jonesnya. Muahahaha


@Regy_AL : Gandeng siah Wulan! Bisi dibere kelek (Berisik loe Wulan. Dikasih ketek juga nih)


Demi apapun Rizvan benar-benar tidak menyangka.


Karena setahu dia, orang yang dulu menyukai Meisya adalah Rangga. Lalu bagaimana ceritanya Meisya bisa jadian dengan Regy yang merupakan sahabat baik Rangga dulunya?


***


Ba'da maghrib, Abi mendapat pesan WhatsApp dari Raya yang meminta bertemu di Danau dengan alasan ingin membicarakan soal Divio.


Abi menurut dan bergegas pergi dengan motornya.


Setibanya di danau, Abi langsung menghentikan motornya. Tampak seorang gadis yang sedang berdiri menghadap danau. Dari postur tubuhnya, dia tidak terlihat seperti Raya.


Abi langsung turun dari motornya dan mendekati Gadis tersebut. Dugaannya benar. Gadis itu adalah..


"Keyla? Loe lagi ngapain disini?" Tanya Abi. Heran sekaligus bahagia ketika melihat si Ayang.


Keyla balas menatap Abi. Dengan dingin ia balik bertanya. "Loe sendiri ngapain disini?"


"Gue mau ketemuan sama Raya. Katanya dia mau ngomongin soal Divio."


Keyla membuang muka dan tersenyum sinis.


Membuat Abi merasa disalahpahami. "Sumpah Key, gue gak ada hubungan apa-apa sama Raya. Dan gue juga gak pernah caper sama dia. Kedekatan kita waktu itu, semata-mata karena lagi ngomongin soal Divio."


"Kalau hubungan loe sama Nilam?"


"Gak ada! Kami udah putus dari kapan tahu. Saat ini gue lagi gak deket sama cewek manapun. Kecuali sama loe." 


Kali ini Keyla tersenyum miris. Ia menunduk dan tampak menitikkan airmatanya. Membuat Abi merasa bersalah.


"Key jangan nangis dong. Gue berani sumpah-"


Belum selesai Abi berkata, Keyla langsung memukul dadanya dengan cukup keras. Bahkan bukan hanya sekali. Sambil menangis, tangannya bergantian memukuli dada Abi.


Hingga akhirnya Abi tidak tahan dan langsung menghentikan tindakan Keyla dengan memegang kedua tangannya.


"Sakit Key." Lirih Abi. Hatinya hancur melihat Keyla yang tanpa sebab seperti itu.


Keyla akhirnya menatap Abi. Dengan matanya yang berlinang.


"Segitu doang sakit? Terus gimana sama perasaan gue yang udah loe sakitin dan loe bohongin selama ini?"


Abi tertegun. Hatinya mulai curiga.


"Ma.. Maksud loe?"


"KENAPA LOE RAHASIAIN PENYAKIT LO DARI GUE?!"


Teriak Keyla, akhirnya. Hatinya benar-benar hancur saat mendengar penjelasan Divio tadi siang.


Abi sendiri terhenyak dan langsung melepaskan kedua tangan Keyla. Bahkan kakinya refleks mundur satu langkah. Tuhan.. Dari mana Keyla tahu tentang hal itu? Sedangkan Abi selalu berusaha menutupinya mati-matian.


Keyla semakin terisak. "Lo jahat Abi! Lo egois! Dengan seenaknya loe nyakitin perasaan gue, dan bohongin gue tentang penyakit lo. Kenapa loe ngelakuin semua itu? Kenapa??!" 


Keyla menunduk dan kembali memukul dada Abi. Kali ini pukulannya terlihat lemah. "Jawab Abi! Kenapa loe tega sama gue?"


Abi menutup mata, seiring airmatanya yang ikut luruh. Untuk kesekian kali, ia membuat Keyla menangis dan bersedih. Hal yang paling dia benci.


Keyla kembali menatap Abi. "Gue gak mau kenal sama loe lagi. Karena loe adalah orang paling jahat yang pernah gue kenal!" Keyla mendorong Abi dan langsung pergi. Ia terlanjur kecewa dan sudah tidak respect dengan pemuda itu.


Abi pun tidak tinggal diam. Ia berlari menyusul Keyla dan langsung meraih tangannya hingga posisi mereka kembali berhadapan.


"Maaf." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Abi.


Selanjutnya ia menangkup wajah Keyla, lalu mencium bibirnya tanpa permisi. Diiringi airmatanya yang kembali mengalir.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2