TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Menonton kembang api


__ADS_3

Regy terbelalak ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Bukan, orang itu bukan Rangga. Melainkan..


"Mamah?" Pekik Regy, ia nyaris terkena serangan jantung.


"Eleuh anak Mamah beuki kasep wae (Anak Mamah tambah ganteng aja)." Ucap Mamah Regy. Wanita paruh baya tersebut tampak sangat bersahaja dengan jilbab panjangnya.


Regy langsung mengambil tangan Mamahnya, lalu menciumnya. Tanda bakti seorang anak pada ibunya. "Mamah sareng Saha kadieu? (Mamah sama siapa kesini?"


"Sareng kalangkang! Nya nyalira atuh. Da kumaha, mamah teh tos kangen pisan ka Egi. (Sama bayangan! Ya sendiri lah. Gimana lagi, Mamah sudah rindu sekali sama Egi)."


Regy mengerti dan tidak bertanya lagi. Tiba-tiba ia teringat pada Meisya! Bagaimana jika Sang Mamah salah paham ketika melihat ada seorang perempuan di dalam kosan Regy? Bisa-bisa ia dicoret dari kartu keluarga.


"Hayu atuh kalebet. (Ayo kita masuk)." Ajak Mamah Regy yang sudah ingin selonjoran. Regy pun pasrah dan langsung mengambil barang-barang bawaan Mamahnya.


Sesuai prediksi Regy, Sang Mamah langsung shock ketika melihat keberadaan Meisya yang sedang duduk di atas kasur.


"Astagfirullah! Egi! Ari maneh nanaonan mawa awewe ka Jero kosan? (Astagfirullah Egi! Apa maksud kamu bawa cewek ke kosan)?" Ucap Mamah Regy, bersiap ngamuk jika jawaban Regy tidak bisa diterima.


Meisya sendiri tak kalah kaget dan refleks bangun dari duduknya. Sekali melihat, ia sudah bisa menebak jika wanita paruh baya tersebut adalah Mamahnya Regy.


"Mamah tenang heula nya." Regy berusaha mendinginkan Mamahnya yang terlanjur panas. "Janten si teteh ieu teh sanes kabogoh Egi, sanes.


Tapina Guru privat Egi. (Jadi si Kakak ini bukan pacar Egi, bukan. Melainkan guru privat Egi)."


"Hah. Guru naon (Guru apa)?"


"Guru privat. Nilai matematika Egi teh anjlok, teras si teteh ieu teh pinter matematika. Janten Egi nuhunkeun bantosan anjeunna keur ngajaran Egi. Sangkan nilai matematika Egi hade deui. (Guru privat. Nilai matematika Egi tuh anjlok, terus si kakak ini pinter matematika. Jadi Egi minta bantuan dirinya buat ngajarin Egi. Biar nilai matematika Egi bagus lagi)."


Mamah Regy manggut-manggut dan akhirnya mengerti. Beliau percaya putranya tidak berbohong.


Mamah Regy pun kemudian menatap Meisya yang diam tertunduk. "Neng geulis.. Saha Namina?"


Dengan takut-takut, Meisya menjawab. "Meisya Tante."


"Geuning orang Jakarta teh ngartieun bahasa Sunda?(Kok orang Jakarta ngerti bahasa Sunda)." Mamah Regy takjub.


Meisya akhirnya tersenyum. " Iya Tante, Nenek saya orang Bandung. Jadi sedikit banyak saya ngerti bahasa Sunda."


"Owh.. janten kitu (jadi gitu)."


"Iyah. Tante ini, Mamahnya Regy?"


"Muhun geulis (Iyah Cantik), Tante teh Mamahna Regy."


Dan ujung-ujungnya mereka malah asyik mengobrol. Membuat Regy tersenyum bahagia melihat kedekatan Sang Mamah dan calon menantunya. Ups!


***


"Makasih udah nganterin gue lagi." Ucap Raya, mengingat hari ini Divio sudah 2 kali mengantarnya pulang.


Cowok ganteng itu tersenyum. Ia masih tidak menyangka jika pemilik suara indah yang berhasil membuatnya jatuh cinta adalah seorang Raya Monica.


"Tapi dada loe beneran gak papa? Tadi si bangsat keras banget nendang bolanya." Raya tampak masih khawatir.


"Gue beneran nggak papa Ray. Udah loe masuk gih. " Titah Divio. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oiyah.. Besok, gue jemput yah?"


Raya tersenyum dan mengangguk. Kali ini ia sudah tidak bisa mengelak atas perasaan sukanya terhadap Divio.


Disaat yang sama Aby dan Keyla juga tiba di rumah Keyla.


Namun Keyla tak kunjung turun dari motor Aby.


Membuat Aby heran dan langsung balik badan, menatap Keyla yang duduk di belakangnya.


"Kenapa nggak turun?"


"Harus yah?"


Aby tertawa. "Terus mau sampai kapan loe duduk di motor gue?"


Keyla tersenyum dan akhirnya turun. Andai saja Aby peka jika dirinya tidak mau berpisah dengan cowok itu.


"Makasih yah udah ngajakin gue."


Aby tersenyum lembut dan menatap Keyla dengan pandangan penuh cinta. "Harusnya gue yang bilang makasih. Loe udah mau ikut dan nyemangatin gue."


Keyla balas tersenyum. Kemudian ia memuji Aby yang solid dan membela Divio habis-habisan saat bermain futsal tadi.


"Gue bener-bener kagum sama loe."


"Masa sih?" Aby merasa terbang saat dipuji Gadis pujaannya.


Keyla membenarkan. Ia pun menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah jam 5. Gue masuk dulu yah? Gerah, mau mandi."

__ADS_1


"Iyah.. Oiyah Key. Nanti malam jalan yuk? Gue pengen ngerayain kemenangan gue sama loe. Mau gak?"


Tentu saja Keyla tidak menolak. Asalkan bersama Aby, mau ke ujung dunia pun Keyla tidak segan untuk pergi.


--


"Saya pulang dulu yah Tante. Udah sore soalnya." Meisya pamit seraya menyalami Mamah Regy.


Dengan bahasa Sunda, Mamah Regy mencegah dan mengajak Meisya untuk makan bersama karena Regy sedang membeli makan.


Namun Meisya menolak dengan alasan hari sudah sore dan takut Sang Mamah marah jika Meisya pulang terlalu lambat.


Disaat yang sama, Regy baru datang setelah membeli 3 porsi nasi Padang. Ia heran melihat Meisya yang berdiri dan bersiap pergi.


"Kakak udah mau pulang?"


"Iyah Gi. Udah sore."


"Terus ini makanannya gimana?"


"Udah buat kamu aja. Kakak pergi dulu yah."


Melihat Meisya yang hendak pergi sendiri, Mamah Regy mencegah dan meminta Regy mengantar Meisya pulang.


Meisya menolak. "Gak usah Tante, saya bisa pergi sendiri. Kasihan nanti Tante sendirian kalau Regy nganterin saya pulang."


"Enggak apa-apa Neng. Da sanes di kuburan ieu sendiri oge. (Sendirian juga bukan di kuburan)." Lawak Mamah Regy. Sifat humoris Regy turunan dari beliau ternyata.


Akhirnya, Regy pun mengantar Meisya pulang.


***


Pukul 8 malam. Aby sudah standby di depan gerbang rumah Keyla. Di atas motornya, ia duduk sambil asyik push rank.


Saking asyiknya ia tidak menyadari kehadiran Keyla jika saja cewek itu tidak berdehem.


"Ekhm.."


Aby tersentak dan langsung mengangkat kepala.


Masya Allah.. Bidadari surganya terlihat sangat cantik malam ini. Membuat Aby tidak berkedip dan terus memandangi keindahan diri Keyla.


"Kita mau jalan kemana?" Tanya Keyla sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


Aby menjawab tanpa memalingkan muka. "Ke hati loe."


"Sumpah loe Cantik banget Key." Ucap Aby, dari hati.


Disaat yang sama , Papah Keyla baru datang dari kantor dan langsung menghentikan mobilnya dihadapan mereka. Kedua sejoli itu langsung tampak tegang.


Papah Keyla menurunkan kaca mobilnya. "Keyla? Aby? Sedang apa kalian?" Tanya Papah Gunawan dengan raut wajah ketus. Yah beliau adalah sesosok pria kaku yang mahal akan senyuman.


Keyla dan Aby saling melempar pandang. Sebelum akhirnya Aby menjawab dengan gentle.


"Saya izin mau keluar sama Keyla Om."


"Keluar kemana?"


"Kami mau nonton kembang api."


"Oh. Jangan lama-lama. Jam 9 sudah harus pulang."


"Baik Om."


Papah Gunawan menyuruh Keyla membuka gerbang. Namun Aby yang melakukannya.


Setelah mobil beliau masuk, Aby menghela nafas lega. Ia sempat takut Papah Keyla tidak mengizinkan.


"Kenapa yah, cewek cantik rata-rata Bokapnya galak? Apa emang udah hukum alam?" tanya Aby heran.


Keyla hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Merasa tersanjung dibilang cantik oleh seseorang yang ia sukai.


Aby pun langsung membawa Keyla pergi dengan motornya. Pertama, ia mengajak Keyla makan di sebuah restoran. Setelah itu, mereka pergi ke sebuah taman untuk menyaksikan kembang api.


Di atas rerumputan, keduanya duduk berdampingan.


"Key.. Besok gue mau pergi."


Jleb! Keyla yang semula hatinya dihiasi kegembiraan, mendadak sedih ketika mendengar ucapan Aby.


Dengan pelan, ia menoleh ke arah pemuda itu.


"Pergi kemana?"

__ADS_1


"Ke Surabaya. Besok, tepat 5 tahun kepergian Ibu. Jadi gue sama Ayah mau ziarah ke makam beliau."


Mamah Aby meninggal saat Aby masih duduk di kelas satu SMP. Beliau menderita penyakit kanker otak dan akhirnya meninggal karena penyakit tersebut. Dan karena Mamah Aby asli Surabaya, maka keluarganya meminta beliau untuk dimakamkan disana.


"Oh.. Terus berapa lama loe pergi?" Tanya Keyla, terlihat tidak rela.


"Semingguan paling."


Keyla mengerti. Ia menunduk dan tidak bertanya lagi. Berat rasanya melepas kepergian Aby yang kini sangat ia sayangi.


Aby menyadari kesedihan Keyla. "Ikut yuk?"


Keyla tersenyum kecut. "Boleh emang?"


"Kenapa nggak? Ayah gue juga pasti gak bakal ngelarang."


"Tapi papah gue yang gak bakal ngizinin."


Aby hanya tersenyum. Ia pun berat meninggalkan Keyla meski hanya seminggu. Tapi mau bagaimana lagi?


"Oiyah Bi.. Gue beneran kepo deh.


Sebenarnya cewek yang udah lama loe sukain itu siapa? Gue pengen tahu. Biar gue bisa memposisikan diri." Secara tidak langsung Keyla meminta kepastian. Kan tidak lucu jika hubungan mereka terus seperti ini.


Aby menatap Keyla lekat. Keindahan wajah itu seolah tidak bosan ia pandangi. "Loe pengen tahu?"


"Iyah. Tapi awas aja kalau loe ngibulin gue lagi! Gue bakal marah sama loe!" Ancam Keyla.


Aby tertawa geli. "Oke, bakal gue jawab. Tapi nggak sekarang."


"Kapan?"


"Nanti. Sepulang dari Surabaya. Gue janji bakal ngasih tahu loe."


"Beneran?" Keyla sumringah.


Aby tersenyum dan mengacungkan kelingkingnya. "Gue janji."


Keyla balas tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Aby. Semoga seminggu cepat berlalu.


Tak lama kemudian, kembang api muncul dan menghiasi langit Jakarta. Begitu semarak dan terlihat indah.


"Waw.. Bagus banget. " Keyla takjub. Sudah lama ia tidak menyaksikan kembang api.


Aby sendiri tiba-tiba teringat kejadian kemarin malam. Saat itu, Divio sengaja berkunjung ke rumahnya.


"Gimana hubungan loe sama si Keyla?" Tanya Divio.


"Gimana apanya?" Aby pura-pura bego.


"Kalian belum jadian?"


Aby mendesah berat. Ketakutan itu selalu menghantui setiap kali ia hendak mengutarakan perasaannya terhadap Keyla.


"Gue takut Div."


"Takut ditolak? Loe bilang loe yakin kalau dia juga suka sama loe."


"Bukan itu yang gue takutin."


"Terus?"


"Gue takut kalau kita pacaran, suatu hari kita bakal putus. Dan itu artinya gue jadi gak bisa deket kaya sebelumnya lagi sama Keyla. Mungkin yang ada, kita malah jadi musuhan nantinya."


"Ya terus? Loe mau nunggu seseorang ngerebut Keyla lagi? Gak capek loe ngebatin selama 5 tahun?"


Aby menatap Divio nanar dan seolah tak mampu menjawab ucapannya. Benar, ia sudah menyukai Keyla selama itu. Dan sudah membatin selama itu pula.


"Jangan pengecut Bi. Putus atau nggak, itu masalah nanti. Sekarang saatnya loe ngutarain perasaan loe sama Keyla, sebelum orang lain datang dan ngerampok Keyla yang jelas-jelas udah ada di tangan loe."


Mengingat hal itu, Aby mengangguk yakin dan bertekad dalam hati. "Gue janji, setelah pulang dari Surabaya, gue bakal nembak loe Key.


Tanggal 5 Agustus. Tepat dihari ulang tahun loe."


**


Begitu Raya keluar, ie melihat Divio yang sedang berdiri disamping motornya sambil melempar senyum semanis madu.


"Pagi Ray.."


"Pagi Div.." Raya tersenyum tak kalah manis.


Disaat yang sama, Mamah Raya juga keluar dari rumah. Beliau terkejut melihat keberadaan Divio yang notabene anak temannya dan cukup sering ke rumah beliau.

__ADS_1


"Divio?"


-Bersambung-


__ADS_2