
Divio menghidangkan segelas jus jeruk ke hadapan Abi. Kemudian duduk di hadapannya. Dia sudah sangat tidak sabar.
"Gimana? Lo udah ngasih tahu Raya?"
Dengan wajah datarnya, Abi menggeleng sambil tak lepas menatap Divio.
Divio kecewa mengetahuinya. "Kenapa belum? Lo nungguin apa lagi? Gue-"
"Raya sakit." Abi memotong. Padahal terhadap Raya, dia bilang kalau memotong ucapan itu tidak sopan.
Sekarang ia malah memangkas ucapan Divio. Haha.
"Dan sebagai seseorang yang masih punya hati nurani, gue gak bisa ngomongin soal permintaan lo sama dia."
Divio tertegun. "Raya sakit?"
"Iyah! Dia sakit gara-gara lo!" Abi ngegas. Saking kesalnya ia terhadap Divio yang seolah tidak punya hati.
Sementara Divio bingung. "Kok gara-gara gue?"
"Ya lo mikir dong! Selama ini lo udah bikin dia tertekan dan kesiksa batin. Sampai-sampai dia banyak ngelamun dan akhirnya jatuh sakit gara-gara mikirin lo."
Divio terdiam dan merenungkan kata-kata Abi. Pemuda itu mengakui, kalau dia memang jahat dan tidak punya hati. Tapi semua itu karena siapa?
Abi melunak. Menurunkan suaranya. "Coba deh, singkirkan keegoisan lo.
Jangan cuma mikirin luka lo doang , tapi pikirin juga perasaan Raya. Ingat Div! Cewek itu mahluk yang sangat lemah. Jadi Lo harus belajar maafin semua kesalahan dia, sebelum lo menyesal nantinya."
Divio menghela nafas panjang. Lalu meminum jusnya dalam sekali tegukan. Semua ini membuatnya stress!
Disaat seperti itu, Abi tiba-tiba mendapat telfon dari Naura. Meski malas , namun akhirnya Abi tetap mengangkat telfon dari gadis itu.
"Halo?"
'Bi, barusan aku upload foto kita di Instagram, dan aku nge tag kamu. Gak papa kan?'
Mata Abi langsung melotot. Ingin rasanya ia marah, tapi tidak bisa. Karena resikonya terlalu besar. Akhirnya Abi hanya bisa pasrah. Meski ia yakin Keyla pasti akan terluka saat melihatnya.
"Terserah kamu Ra."
Setelah mengakhiri panggilan, Abi melemparkan handphonenya ke atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Bukan hanya Divio, dia pun sedang frustasi saat ini.
Divio heran. "Kenapa lo?"
"Stress gue lama-lama!"
"Stress kenapa?"
Sempat ragu, namun akhirnya Abi menceritakan masalahnya pada Divio.
Flashback.
Saat Naura menelfon Abi untuk pertama kali, dan menyuruh Abi menemuinya di rumah pemuda itu.
"Ada perlu apa kamu nemuin aku?" Tanya Abi seraya duduk di samping Naura, di teras rumahnya.
Gadis itu tersenyum. Berbeda dengan sebelumnya yang segar bugar, ia terlihat pucat hari itu.
"Aku pengen minta maaf karena kemarin udah nabrak kamu. Dan aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu." Tutur Naura.
Jantung Abi berdebar kencang. "Ngomong apa?"
Naura menelan ludah, lalu membuat sebuah pengakuan. "Aku cinta sama kamu Bi. Sejak pertama kali kita ketemu."
Abi terpaku. Itu adalah pertama kalinya ia mendapat pengakuan cinta dari seseorang. Sekaligus membuat Abi tidak habis pikir. Secepat itu Naura menyukainya?
Naura tersenyum tipis melihat ekspresi Abi yang seperti orang bingung. "Terlalu cepat yah? Memang.
Tapi aku punya alasan. Nggak kaya kamu, waktu aku di dunia ini udah nggak banyak Bi."
Abi heran. "Maksud kamu?"
Wajah Naura mendadak murung. Dengan kepala tertunduk ia menjawab getir. "Aku sakit sirosis hati (Kerusakan hati kronis dari berbagai penyebab yang mengarah ke jaringan perut dan gagal hati) yang udah parah. Dan kata dokter, aku cuma bisa sembuh jika mendapat donor hati dari orang lain. "
Airmata Naura tiba-tiba mengalir. Mengingat betapa pahit kisah hidupnya. "Sedangkan mencari donor hati adalah hal yang nggak gampang. Gak akan ada orang yang rela mati demi aku, sekalipun orang tua aku sendiri."
Abi terkejut dan ikut prihatin mendengarnya. Namun mulutnya terkunci. Ia tidak berkata apa-apa.
Naura kembali menatap Abi. "Dan kamu adalah orang yang berhasil membuat aku jatuh cinta di masa-masa terakhir hidup aku. Jadi aku mohon, temani aku sampai saatnya aku meninggal."
Tentu saja Abi keberatan dengan permintaan Naura, mengingat ia sudah punya Keyla yang sangat ia cintai dan harus dia jaga perasaannya.
Dengan tegas Abi menolak. "Maaf Ra, aku nggak bisa. Aku udah punya pacar. Kamu ingat cewek yang sama aku kemarin? Dia adalah pacar aku. Dan aku nggak mungkin tega nyakitin dia."
Abi langsung bangkit dan meninggalkan Naura yang hatinya hancur seketika.
Rupanya tidak berhenti sampai disana. Sorenya, Abi terkejut saat kedatangan tamu yang tidak lain adalah Papahnya Naura.
"Ada apa ya Om?" Tanya Abi takut-takut. Betapa tidak? Tampang Papah Naura yang seperti penjahat di film-film membuat nyali Abi ciut seketika.
"Kamu yang namanya Abi?" Tanya Papah Naura, dengan suara berat.
Abi mengangguk. Tanpa berani menatap pria paruh baya yang duduk di hadapannya.
"Langsung saja. Om memohon dengan sangat, penuhi permintaan Naura. Karena dia sangatlah mencintai kamu."
Abi memberanikan diri melihat kedua mata Papah Naura. "Saya nggak bisa Om."
"Kenapa?"
"Saya sudah punya pacar. Dan menurut Om, apa pacar saya tidak akan sakit hati kalau dia tahu saya dekat dengan perempuan lain?"
"Tidak akan lama Abi. Setelah Naura meninggal, semuanya selesai."
"Saya tetap tidak bisa Om. Tolong, jangan paksa saya."
Abi bangkit dan berniat pergi. Namun ucapan Ayah Naura berhasil menghentikan langkah kakinya.
"Kalau begitu, haruskah Om melakukan sesuatu terhadap pacar kamu?" Ancam Papah Naura. Ibarat kata, semuanya akan beliau lakukan demi kebahagiaan putrinya. Karena setidaknya Naura harus bahagia di sisa akhir hidupnya.
__ADS_1
Abi sendiri langsung emosi. Tangannya mengepal. Wajahnya memerah. Dengan tajam ia berbalik dan menatap Papah Naura.
"Jangan macam-macam Om!"
"Kalau begitu, turuti permintaan Om. Asal kamu tahu, Om orang yang berkuasa. Hanya dengan kata-kata, om bisa menyuruh bawahan om untuk melukai pacar kamu. Dan itu bukanlah hal yang sulit."
Flashback end
Abi menatap Divio dengan nanar. "Gue harus gimana Div?"
Divio geleng-geleng kepala mendengar cerita Abi yang tidak kalah complicated. "Ckckckckk. Ruwet juga yah masalahnya." Divio terpikirkan sesuatu.
"Gimana kalau lo jujur dan ceritain semuanya sama Keyla? Gue yakin dia bakal ngerti."
"Ngerti?" Abi tersenyum getir. "Keyla orangnya posesif Div. Sekarang aja dia lagi ngehindarin gue gara-gara cemburu sama Naura."
Divio menyandarkan punggungnya di sofa. "Kalau gitu gak ada pilihan lain. Meski terdengar jahat, lo bisa bebas dan bahagia sama Keyla, cuma setelah Naura meninggal."
"Kapan dia meninggal?" Tanya Abi polos.
"Ya mana gue tahu." Jawab Divio sambil ngegas.
Wkwkwk.
--
Di kamarnya, Keyla memantengi layar handphonenya dengan perasaan hancur lebur, saat melihat postingan Naura yang meng upload foto dirinya bersama Abi.
@Naura_Ayunda
Abi ❤️ @Abi_Ginanjar
Gadis itu menurunkan handphonenya dengan lemas, diiringi butiran bening yang jatuh dari matanya. Keyla merasa, Abi dan dirinya memang tidak ditakdirkan berada dalam satu kisah cinta yang sama.
Handphone Keyla tiba-tiba bergetar. Gadis itu kembali menatap layar. Abi menelfonnya!
Keyla buru-buru menyeka airmatanya, dan tanpa pikir panjang mengangkat telfon Abi.
"Halo?" Suara Keyla bergetar.
'Ayang lagi ngapain.'
Keyla tersenyum pahit. Abi benar-benar bajingan di matanya. "Lagi nafas."
'Haha si Ayang ngelucu.'
"Ada apa lo nelfon gue?"
'Gini Ayang. Udah lihat IG?'
"Belum. Kenapa emang?" Dusta Keyla, sengaja.
'Bagus! Kalau bisa jangan buka IG buat selamanya yah.'
Kembali, Keyla tersenyum pahit. Bahkan airmatanya juga ikut mengalir. "Kalau gue udah buka IG kenapa?"
"Udah!"
'Kalau gitu plis, jangan salah paham. Gue sama Naura gak ada hubungan apa-apa. Gue berani sumpah disambar geledek.'
"Ada hubungan juga gak papa kok. Toh gue juga bukan siapa-siapa lo kan? Jadi kenapa lo repot-repot ngejelasin sama gue?"
Sunyi. Tidak ada jawaban dari Abi.
"Tapi kalau gue boleh ngasih saran, kalau lo beneran cinta sama cewek itu, kasih dia kepastian! Jangan sampai dia ngerasain apa yang gue rasain. Dan cukup gue aja yang lo sakitin!"
Keyla mengakhiri panggilannya dan langsung melempar handphonenya dengan enteng. Membuat layarnya retak. Seretak hatinya saat ini.
***
Meisya masih menjadi penyanyi di kafe Omnya.
Setelah menemani Raya di Rumah Sakit sampai Mamahnya datang, dia bergegas ke kafe untuk menghibur para pengunjung malam itu.
Usai menyanyikan 4 buah lagu, Meisya break sejenak. Pergi ke kamar mandi untuk membenarkan riasan wajahnya yang mulai luntur.
Saat sedang memoles bibirnya dengan lip cream, tiba-tiba handphone Meisya berdering. Tertera nama REGY AlVINO di layar. Tidak ada spesial-spesialnya.
Meski malas, Meisya tetap mengangkatnya. "Halo."
'Assalamualaikum Meisya Adriana yang cantik jelita.'
"Waalaikumsalam!"
'Ih jutek banget sama pacarnya!'
Meisya tersenyum sinis. "Emang kita masih pacaran?"
'Loh, maksud kamu apa? Jadi kamu nggak nganggap aku pacar kamu selama ini?'
"Bukannya kebalik? Kamu yang nggak nganggap aku! Buktinya selama berhari-hari kamu nggak pernah nelfon dan ngechatt aku. Sedangkan dalam suatu hubungan komunikasi itu nomor satu."
'Nah ini yang bikin aku males nelfon kamu. Kalau ujung-ujungnya kita malah berantem, buat apa?'
Meisya langsung berkaca-kaca mendengar ucapan Regy yang sangat menyakitkan dan memojokkannya.
'Lagian kayanya aku selalu salah yah di mata kamu?'
Lirih Meisya bertanya, "Kenapa sih Gi kamu jadi kaya gini? Demi Allah kamu bukan Regi yang aku kenal."
'Kamu salah! Dari dulu aku emang orang yang kaya gini. Kenapa? Kamu nyesel pacaran sama aku?'
Tangis Meisya pecah. Ia tidak tahan lagi mendengar ucapan Regy yang selalu menghujam jantungnya.
Namun semua itu tidak membuat Regy iba. 'Jawab, jangan nangis. Aku gak butuh airmata kamu.'
Nyatanya tangisan Meisya justeru semakin kencang. Untuk sekedar menjawab pun ia merasa tidak sanggup.
'Ya udahlah. Buat apa kita pacaran kalau ujung-ujungnya saling menyakiti kaya gini. Gak ada gunanya.'
__ADS_1
"Ter.. us maksud kamu a..pa? Kamu ma..u kita put..us?" Jawab Meisya tersendat-sendat. Demi Tuhan hatinya sakit bukan main.
'Iyah. Aku udah gak sanggup lagi menjalani hubungan sama kamu. Jadi mulai sekarang, kita putus.'
Tangis Meisya semakin menjadi. Ia jatuh terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar tidak menyangka jika kisah cintanya bersama Regy akan berakhir sesingkat ini.
--
Meisya keluar dari toilet dengan mata sembab dan hidung yang merah. Beruntung tidak ada seorangpun yang melihatnya menangis tadi.
Melihat keadaan keponakannya, Om Meisya terkejut bercampur heran. "Meisya, kamu kenapa?"
Meisya tersenyum semu. "Aku nggak papa Om."
"Kamu yakin? Kamu masih sanggup bernyanyi dengan keadaan seperti ini?"
Meisya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba tegar, ia tersenyum dan mengangguk cepat. Bagaimanapun dia harus profesional.
"Berdiri, ku memutar waktu
Teringat, Kamu yang dulu
Ada di sampingku setiap hari
Jadi sandaran ternyaman
Saat ku lemah, saat ku lelah
Ho-wo-wo
Tersadar, Ku tinggal sendiri
Merenungi.. Semua yang tak mungkin
Bisa kuputarkan kembali s'perti dulu
Ku bahagia, tapi semuanya hilang tanpa sebab
Kau hentikan semuanya
Terluka dan menangis, tapi kuterima
Semua keputusan yang telah kaubuat
Satu yang harus kautahu
Ku menanti kau 'tuk kembali
Jujur, ku tak ingin engkau pergi
Tinggalkan semua, usai di sini
Tak tertahan air mata ini
Mengingat semua yang t'lah terjadi
Ku tahu kau pun sama s'perti aku
Tak ingin cinta usai di sini
Tapi mungkin inilah jalannya
Harus berpisah, ho-oh-oh"
(Keisya Levronka - Tak Ingin Usai)
Tanpa Meisya ketahui, diantara banyaknya pengunjung kafe malam itu, ada Sang kekasih yang sedang menatap sendu ke arahnya, di meja paling belakang.
Regy menghela nafas panjang. Merasa bersalah karena telah membuat gadis pujaannya bersedih, sekaligus merasa senang karena prank nya cukup sukses, dan membuat Meisya percaya bahwa dia benar-benar memutuskan Gadis itu.
Ya, hanya prank.
Setelah mendapat bayaran dari Omnya, Meisya bergegas pulang. Wajahnya kembali di rundung kesedihan. Hatinya benar-benar terpuruk. Ia masih tak menyangka jika hubungannya dengan Regy telah kandas begitu saja.
Hingga tanpa sadar Meisya kembali menjatuhkan airmatanya. Ia berjalan keluar kafe dengan kepala tertunduk dan hati yang remuk.
Sampai akhirnya, Meisya berhenti saat melihat sepasang kaki yang berdiri di hadapannya. Tak berminat melihat sosok itu, Meisya pun berjalan ke samping kiri dengan kepala yang masih tertunduk. Namun sosok itu mengikuti, dan seperti sengaja menghalangi Meisya. Akhirnya Meisya berjalan ke kanan. Tapi lagi-lagi orang itu menghalanginya.
Membuat Meisya terpaksa mengangkat kepala, untuk melihat orang menyebalkan yang ingin ia smackdown saat itu juga.
Saat melihat sosok itu, Meisya terpana.
Orang itu. Orang yang telah menghancurkan perasaannya begitu kejam. Kini tengah berdiri di hadapannya. Dia tersenyum, dengan wajah tanpa dosa.
Orang itu kemudian mulai memetik gitar yang sengaja ia bawa.
"Jangan pernah ada
Pertengkaran lagi
Antara diriku dan dirimu
Jangan pernah lagi
Cemburu padaku
Yang harus kau tahu
Sesungguhnya
Sumpah mati aku cinta
Cinta kepadamu hanya dirimu
Sungguh ku bisa gila
Bila tanpamu.."
-Bersambung-
__ADS_1