
"Ujung bibir loe kenapa ? Kok lebam?" Wajah Raya dihiasi kekhawatiran.
Divio memutar otak. Mencari jawaban yang masuk akal dan bisa diterima oleh nalar.
"Gue.. Kejedot pintu."
Raya tersenyum miris. "Loe pikir gue percaya? Tunggu! Jangan-jangan.. Ini ulah si Levin yah? Loe ditonjok sama dia?"
Mendengar suara Raya yang semakin meninggi, Keyla yang sedang mencatat sesuatu dibukunya langsung menoleh.
Terpaksa Raya menatapnya. "Ngapain loe lihat-lihat?"
"Gak boleh emang?"
"Nggak! Sana lihat ke depan!"
Keyla memanyunkan bibir dan akhirnya kembali ke posisi semula. Dasar kampret!
Sementara Divio menjawab. "Nggak kok, ini bukan gara-gara si Levin. "
"Terus?"
"Ck! Udahlah gak penting, mending sekarang kita bahas yang lain aja."
Meski kesal, Raya tetap menuruti ucapan Divio. "Bahas apa?"
"Bahas masa depan." Divio nyengir. Memamerkan giginya yang putih dan rapi. "Kalau kita udah nikah, loe mau punya anak berapa?"
"Sebelas." Jawab Raya, enteng.
Divio melongo. "Buset! Banyak banget. Loe mau nyaingin keluarga halilintar?"
Raya nyengir. Jangan kira dirinya sedang bercanda. Cewek itu serius dengan ucapannya.
"Gue anak tunggal, dan selalu ngerasa kesepian karena gak punya saudara. Dan gue gak pengen anak pertama gue nanti ngerasain apa yang gue rasain."
"Ya tapi gak sebelas juga kali."
"Lah terserah gue dong. Yang berojolin bayi kan gue. "
Divio tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala. Ayang beb-nya memang lucu. Jadi pengen nyubit ginjalnya. Haha!
--
Setibanya di kelas X IPA 5, Meisya tak menemukan Regy maupun tasnya. Bangku itu kosong. Begitupun dengan bangku sebelahnya, yakni tempat duduk Rangga.
Meisya pun mendekati cowok yang duduk di depan bangku Regy.
"Permisi Dek, Regy belum datang yah?"
"Regy atau Rangga?" Tanya pemuda itu. Heran, dia budek atau bagaimana? Jelas-jelas Meisya menyebut nama Regy.
"Regy."
"Regy nggak masuk. Dia sakit. "
Meisya cukup terkejut mengetahuinya. Apakah, Regy sakit gara-gara hujan-hujanan tadi malam?
Sambil melangkah meninggalkan kelas Regy, Meisya mengetik sesuatu, kemudian segera mengirimkannya pada Regy.
(Gi, kamu sakit?)
Sayangnya ceklis satu.
***
Pukul 2 sore, Regy terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Ia pikir dengan tidur seharian, pusing yang ia rasakan akan segera hilang.
Nyatanya salah. Kepalanya justeru semakin berat sekarang.
Akhirnya Regy bangkit. Mengambil kunci motor dan berniat membeli obat ke apotek. Meski ia paling anti meminum benda kecil yang rasanya pahit tersebut. Namun bagaimanapun ia ingin sembuh.
Begitu pintu terbuka, ia melihat sesosok manusia yang saat itu hendak mengetuk pintu kosannya.
Sayangnya pandangan Regy kabur. Saking pusingnya, ia sampai tidak bisa melihat dengan jelas orang tersebut. Bahkan sedetik kemudian, tubuh Regy tumbang dan jatuh ke dalam dekapan Meisya. Ya, Meisya.
Gadis itu panik. "Regi! Bangun Gi!"
Disaat yang sama, Jerome (Teman kosan sebelah Regy) muncul dari dalam kosannya dan langsung membantu Meisya.
--
Mbok Sumi masuk rumah sambil membawa sekotak bolu. Keyla yang sedang bermain handphone di sofa, seketika kepo.
"Mbok bawa apa?"
"Ini bolu lapis Surabaya Non. Oleh-oleh dari Ayahnya Den Aby."
Keyla terkejut dan seketika bangkit dari duduknya. "Aby udah pulang?"
"Sudah barusan."
Keyla tersenyum girang dan segera berlari menuju rumah Aby. Saking bahagianya ia sampai tidak melihat batu besar dan membuatnya jatuh tersandung.
Sempat meringis, namun Keyla bangkit kembali dan melanjutkan berlari. Seolah tidak mempedulikan lutut dan telapak tangannya yang lecet dan berdarah.
Setelah membuka gerbang, Keyla lari berbelok, dan...
__ADS_1
DUK! Ia bertabrakan dengan Aby yang saat itu hendak menemuinya.
"Keyla! Loe mau kemana?" Aby heran melihat Keyla yang seperti sedang dikejar setan. Tapi mana ada orang yang dikejar setan sambil senyum-senyum.
"Nemuin loe." Jawab Keyla dengan nafas tersengal dan wajah berseri. Ia sangat bahagia melihat sosok Aby dihadapannya.
Aby tertegun. Ucapan Keyla membuat hatinya bergetar.
Kemudian tatapannya tertuju pada lutut Keyla yang lecet mengalirkan darah.
"Itu kenapa?" Aby menunjuk lutut Keyla.
"Oh ini? Gue jatoh tadi. Saking pengen cepet-cepet ketemu sama loe, gue sampe gak lihat ada batu di depan. "
Aby menelan ludah getir. Tanpa banyak bicara, ia menarik Keyla ke dalam dekapannya. Ia membelai lembut rambut gadis itu, kemudian mencium kepalanya.
Persetan dengan status. Aby sudah menganggap Keyla sebagai miliknya.
Keyla tersenyum dan membalas dekapan Aby dengan erat.
"Gue kangen banget sama loe."
"Apalagi gue."
Senyum Keyla semakin merekah. Belum pernah ia merasa sebahagia ini sebelumnya.
Kemudian Aby melepaskan pelukannya, dan menatap Gadis yang sangat ia cintai tersebut.
"Ke rumah gue yuk? Kita obatin luka loe."
Keyla mengangguk semangat. Saat ini, ia ingin terus bersama Aby dan tidak mau jauh-jauh darinya. Aby adalah dunianya. Dan Aby berhasil membuat Keyla menyerahkan seluruh cinta yang ia miliki.
--
Sementara itu, Regy akhirnya sadar.
Saat membuka mata, ia melihat sesosok Meisya yang sedang duduk di sampingnya sambil menatap khawatir ke arahnya.
Regy auto melotot dan hendak bangun dari posisinya. "Kak Meisya?"
Meisya mencegah dan menyuruh Regy untuk tetap tiduran. Pemuda itu pasrah dan kembali ke posisinya.
Kemudian dengan penuh perhatian, Meisya mengompres kening Regy dengan sapu tangan berwarna biru miliknya yang selalu ia bawa kemanapun dan kapanpun.
Regy tak berkutik. Namun hatinya senang bukan main. Bagaimana tidak? Wanita pujaannya kini sedang merawat dirinya yang sedang sakit dan membutuhkan seseorang.
"Maafin Kakak Gi. Gara-gara Kakak, kamu jadi sakit." Sesal Meisya. Andai semalam ia menolak ajakan Regy, mungkin cowok itu tidak akan berakhir seperti ini.
Regy menyanggah dengan tegas. "Kok bisa semua ini gara-gara Kakak? Saya sakit udah seharusnya. Jadi saya mohon, jangan menyalahkan diri Kakak sendiri."
Meisya tak menjawab dan hanya mampu menelan ludah getir. Bagaimanapun ia tidak bisa tidak merasa bersalah.
"Alhamdulillah Mamah Kakak nggak papa."
Meisya lalu mengambil semangkuk bubur yang terletak di atas meja belajar Regy. Bubur itu masih hangat, karena belum lama jadi.
"Barusan kakak bikin bubur buat kamu. Maaf kalau lancang, tapi kamu harus makan.
Makan dulu yah, Kakak suapin."
Regy tersenyum dan mengangguk. Tentu saja ia tidak menolak. Apapun perkataan Meisya, ia tidak akan menyanggahnya.
Meisya pun mulai menyuapi Regy. Regy yang berhasil membuatnya berpaling dengan mudah dari sosok Rizvan.
"Enak nggak?"
"Enak lah. Kan Kakak yang masak. Tukang bubur juga kalah."
"Haha. Lebay ih."
Regy hanya tersenyum. Ini adalah saat terindah dalam hidupnya.
Tuhan..
Andai waktu dapat ku hentikan.
Aku ingin menghentikannya saat ini juga.
Saat dimana aku begitu bahagia karenanya.
Saat dimana aku bisa dengan leluasa menikmati senyumannya.
Juga saat dimana tidak ada orang ketiga diantara aku dan dia.
Namun..
Terlepas dari apa yang akan terjadi nantinya..
Kuharap dia selalu bahagia.
Dengan, atau tanpa adanya diriku di sisinya.
-Regy Alvino-
***
Sore hari, Jum'at 04 Agustus 2023..
__ADS_1
Setelah mandi dan berdandan secantik mungkin, Keyla bergegas ke rumah Aby sambil menenteng laptop miliknya. Ia berencana mengajak Aby menonton film Teman Tapi Menikah yang diperankan Vanesha Pricillia dan Adipati Dolken.
Saat Gadis itu tiba di depan rumah keluarga Ginanjar, ia melihat Aby dan ayahnya keluar bersamaan dan seperti hendak pergi.
"Om.. Aby.. Kalian mau kemana?"
Aby dan sang Ayah saling menatap. Lalu Aby memberi kode pada sang Ayah untuk tidak berkata jujur pada Keyla.
Akhirnya Ayah Ginanjar berdusta. "Kami mau kondangan Key."
"Owh." Keyla manggut-manggut. Ia menatap Aby yang justeru diam tertunduk. Wajahnya tampak pucat.
"Bi loe sakit? Kok muka loe pucet?"
Aby akhirnya melihat Keyla. Tatapannya nanar.
Dengan bibirnya yang pucat dan kering, ia menjawab. "Gue gak papa Key. Yaudah kami pamit dulu yah?"
Keyla mengangguk pelan. Kemudian Ayah dan anak tersebut berjalan menuju taxi online yang sudah menunggu sejak 2 menit yang lalu.
**
"Sudah seminggu Dok. Kepala saya sering sakit. Sakit yang bener-bener sakit banget. Selain itu, kadang muntah. Selera makan saya juga berkurang. Tengkuk sering sakit. Melihat cahaya juga langsung pusing." Aby menceritakan hal-hal yang dialaminya selama seminggu ini. Membuat ia yakin jika dirinya tidak baik-baik saja.
Sementara Ayah Ginanjar menatap putranya sendu. Dalam hati beliau terus berdoa agar putranya selalu diberi kesehatan.
"Kira-kira, saya kenapa ya Dok?"
"Saya tidak bisa langsung menyimpulkan. Sebaiknya, saudara menjalani serangkaian tes terlebih dahulu. Dengan begitu, penyakit yang saudara alami bisa langsung diketahui."
Akhirnya Dokter mengajak Aby ke sebuah ruangan. Disana, Aby melakukan serangkaian pemeriksaan seperti diambil sampel darah. Scan MRI, bahkan menyuntikkan jarum ke kepala Aby untuk diambil cairan serebrospinal untuk sampel.
Beberapa jam menunggu, hasil pemeriksaan Aby akhirnya keluar. Sang Dokter menatap data yang berada di tangan kanannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan sesuatu yang tidak baik.
"Begini..
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anda di diagnosis penyakit meningitis atau biasa disebut Radang selaput otak yang sudah cukup serius."
Geruduggg! Bagai dijatuhi batu satu truk, Aby seketika lemas mendengarnya.
Sementara Ayah Ginanjar langsung menangis mendengarnya. 'Ya Allah.. Setelah kau mengambil istriku, apa kau juga akan mengambil anakku?'
Gagap, Aby berkata. "Ra.. Radang selaput otak?"
Sang Dokter yang sudah cukup berumur tersebut mengangguk, membenarkan.
"Tapi anak saya bisa sembuh kan Dok?"
"Bisa saja. Semua penyakit pasti ada obatnya.
Saya akan meresepkan obat anti virus, nanti diminum yah." Sang Dokter langsung mencatat resep obat yang harus ditebus Aby.
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam.
Aby dan sang Ayah keluar dari rumah sakit bersama-sama.
Aby membuang nafas lemah. Tuhan.. Haruskah takdir hidupnya berjalan seperti ini? Ahh.. Tapi Aby tidak keberatan. Kalau pun ia meninggal, ia bisa bertemu dengan Sang Ibu yang sangat ia rindukan.
Pemuda itu memutar kepala, menatap sang Ayah yang tertunduk dan tak kunjung berhenti meneteskan airmata.
Aby langsung merangkulnya. "Aby gak papa Ayah. Udah Ayah jangan nangis terus."
Ayah Ginanjar menatap putranya dengan mata yang sangat basah. Tangisnya tak tertahan lagi.
Dengan tersendat-sendat, beliau berkata.
"Jangan tinggalin Ayah Bi. Cukup Ibu kamu saja yang pergi. Ayah Mohon.. Kamu harus sembuh demi Ayah."
Aby ikut menangis dan langsung memeluk Ayahnya. Dibawah sinar lampu rumah sakit, keduanya menangis menyakitkan.
**
Rupanya Keyla belum beranjak dari rumah Aby. Sejak jam 4 sore, ia masih setia menunggu kedatangan pemuda itu di teras rumahnya.
Begitu melihat taxi online yang membawa Aby dan Ayah Ginanjar, Keyla tersenyum bahagia dan langsung bangkit dari duduknya.
Tak lama, kedua lelaki itu turun. Mereka dibuat kaget oleh keberadaan Keyla yang sedang berdiri di teras. Terlebih Aby. Entah kenapa, ia justeru ingin menangis saat melihat Gadis itu.
Keyla berlari menghampiri Ayah dan Anak tersebut.
"Kamu belum pergi Key?" Tanya Ayah Ginanjar.
"Hehe belum Om. Keyla daritadi nungguin Aby, pengen nobar sama dia."
Aby menatap Keyla sendu. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya yang memaksa ingin keluar.
Sementara Ayah Ginanjar pamit dan memberi waktu untuk mereka berdua.
"Lama banget kondangannya. Antrian rendangnya panjang yah?" Canda Keyla.
Aby menunduk dan tersenyum tipis.
"Nobar yuk Bi? Gue udah download film Teman Tapi Menikah." Ajak Keyla. Sekaligus berharap judul film itu terjadi pada hubungannya dengan Aby.
Aby tertegun. Menatap Keyla selama beberapa detik. Sebelum akhirnya melakukan hal tak terduga.
Cup! Ia mendaratkan bibirnya ke pipi Gadis itu, diiringi airmatanya yang mengalir tak tertahankan.
__ADS_1
'Mungkin ini yang pertama dan terakhir kalinya gue nyium loe Key. '
-Bersambung-