TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Adu Melting


__ADS_3

'MAAF. KARENA SAMPAI KAPANPUN, AKU NGGAK BISA BERPALING DARI RAYA.'


Mendengar ucapan Divio, Keyla dan Meisya tercengang . Meisya bahkan refleks menutup mulutnya yang menganga lebar.


Begitupun dengan Raya yang tampak shock sekaligus terharu. Ia benar-benar tidak menyangka Divio akan memilihnya.


Divio melanjutkan. 'Entah sihir apa yang udah dia kasih, sampai-sampai aku cinta mati dan nggak bisa lupain dia. Aku bener-bener sayang sama Raya dan gak bisa milih kamu Ta.'


Keyla menggigit bibirnya dan tampak gemas. Ingin sekali ia berkata pada Divio bahwa cinta dan Raya itu satu orang. Namun sebisa mungkin ia tahan hasrat tersebut.


Sementara Raya mulai menjatuhkan airmatanya yang tak tertahankan.


'Aku ngerti kalau kamu benci sama aku. Dan seandainya kamu berubah pikiran, dan pengen batalin niat buat donorin mata kamu, sumpah aku nggak akan marah. Karena gimanapun juga, aku nggak pengen berhutang budi sama kamu.'


Raya tak sanggup berkata-kata dan hanya bisa menitikkan airmatanya kembali. Dia sungguh terharu karena pada akhirnya Divio tetap memilihnya.


Dan diamnya 'Cinta' membuat Divio menghela nafas berat dan seakan merasa bersalah. Pastilah Gadis itu kecewa dengan keputusannya.


Pada akhirnya, Raya menyeka airmatanya, dan berkata. "Gak papa. Aku ngerti. Dan kamu nggak usah khawatir. Aku nggak akan batalin niat aku buat donorin mataku buat kamu."


Klik! Raya memutuskan panggilannya dan langsung menangis terang-terangan. Membuat Meisya dan Keyla seketika menatap sendu ke arahnya.


"Loe beruntung Ray, bisa dicintai Divio sampai segitunya. " Ucap Keyla, sekaligus menghibur Raya.


Meisya mengangguk setuju. "Jaga Divio baik-baik Ray. Dia cowok langka yang patut dilestarikan."


Keyla ngabrut mendengar ucapan Meisya. Begitupun dengan Raya yang mau tak mau tersenyum geli di sela-sela tangisnya. Bisa-bisanya si kebo melawak di saat seperti itu.


****


Malam hari, di teras rumah Keyla. 


"Abi."


"Apa Umi."


Alih-alih baper, Keyla justeru bergidik. "Anjir! Geli gue dengernya."


Abi terkekeh. "Yaudah, manggil Ayang lagi aja. Apa ayang?"


Keyla pasrah. "Bantuin gue yah."


"Bantuin apa?"


Keyla menunjukkan handphonenya dan memperlihatkan spam chatt dari kontak yang ia beri nama Vino.


(Pagi Key)


(Siang Cantik)


(Malam Key, lagi ngapain nih?)


(Key kok di read doang sih?)


(Aku akan ke rumah kamu sekarang juga!)


Abi terheran. "Siapa nih cowok?"


"Salah satu korban PHP gue. Semenjak loe pergi, gue jadi fuc*kgirl yang hobbi mainin perasaan cowok-cowok. " Kata Keyla, terang-terangan.


Membuat Abi terhenyak. Dan seketika merasa berdosa.


"Jadi loe harus tanggung jawab dan bantu gue beresin semua masalah yang gue bikin sendiri." Lanjut Keyla.


Abi menghela nafas dan akhirnya mengangguk. "Tapi sekarang loe udah tobat kan?"


"Ya iyalah! Karena si Devon bangsat gue jadi kapok. 


Selain itu.." Keyla menggantungkan ucapannya, dan malah senyum-senyum sendiri.


Abi jadi heran. "Selain itu?"


Baru saja Keyla mangap hendak menjawab, motor Vino sudah muncul, dan langsung masuk ke dalam gerbang yang terbuka.


Vino menghentikan motornya di depan Keyla dan Abi, kemudian turun setelah melepas helm.


"Key. Kenapa chatt aku nggak dibales? Aku punya salah sama kamu?" Tanya Vino, tanpa basa-basi. Ekspresi kekesalan terlihat jelas di wajahnya.


Bukannya menjawab, Keyla malah terus menatap Vino. Begitu pula dengan Abi.


Vino jadi semakin panas. Apalagi saat melihat keberadaan Abi disana. "Jujur deh, selama ini kamu cuma niat nge-PHP in aku doang kan?"


"...."


"Key, ngomong dong!" Bentak Vino yang kesabarannya setipis kertas.


Abi langsung bangkit dan turun tangan. "Permisi ya Mas, datang-datang itu harusnya ngucapin salam. Assalamualaikum. Bukannya ngoceh-ngoceh kaya tukang obat."


"Siapa loe?" Tanya Vino, sengit.


"Gue Kakaknya Keyla."


"Jangan ngarang! Keyla anak sulung."

__ADS_1


"Kakak sepupu."


Vino langsung menatap Keyla. "Serius?"


Tanpa berani menatap Vino, Keyla mengangguk.


Tapi Vino seolah tidak peduli. "Yaudah terserah! Yang penting kamu jawab pertanyaan aku sekarang. Kenapa kamu tiba-tiba jauhin aku? Sedangkan sebelum-sebelumnya kamu bener-bener baik, perhatian, dan selalu gercep balas chatt aku."


Keyla menghela nafas panjang. Dia tampak stress.


Andai saat itu Abi tidak membuatnya gila, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.


"Karena.. Karena sekarang aku udah punya cowok baru." Ucap Keyla, akhirnya. Membuat perasaan Vino hancur seketika.


"Kamu serius?" Tanya Vino, lirih. Ia benar-benar tidak menyangka.


Dan pertanyaan Vino dijawab Keyla dengan anggukan kepala. Demi apapun Keyla benar-benar merasa bersalah karena telah menyakiti banyak lelaki.


Mata Vino langsung memerah. Sedih dan amarah bercampur menjadi satu, hingga tanpa sadar membuat tangannya mengepal kuat.


Ia bersumpah serapah. "Cewek bangsat! Anjing lu Keyla! Gue sumpahin loe gak bakal laku!" 


Vino langsung pergi dengan emosinya yang memuncak. 


Sepeninggal Vino, Keyla menunduk dan tak dapat lagi menahan airmatanya. Ya, dia memang jahat. Tapi apakah pantas Vino berkata seperti itu, sampai-sampai ia tega menyumpahinya?


Keyla benar-benar sakit hati, sekaligus takut mendengarnya. Takut ucapan Vino menjadi kenyataan. Apalagi setahu dia, ucapan orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan.


Melihat hal itu, Abi tidak tinggal diam dan langsung menarik Keyla ke dalam pelukannya. Sambil mengusap-usap punggung Gadis pujaannya, Abi mencoba menenangkan.


"Jangan dengerin dia. Gue pastiin omongan dia gak bakal kejadian." Tentu saja. Meskipun seluruh laki-laki yang ada di dunia ini menolak Keyla, Abi tidak termasuk dan akan menjadi satu-satunya lelaki yang mencintai Keyla.


Keyla sendiri tidak menjawab dan malah terisak. 


Abi pun semakin mempererat pelukannya.


***


Keesokan harinya..


Divio dan si pendonor sudah memasuki Ruang Operasi. Sementara Mamah Divio dan Mamah Raya menunggu di luar ruangan. Duduk sambil berbincang.


"Kenapa si pendonor tidak mau mengungkapkan identitasnya sama Divio?" Tanya Mamah Raya, heran.


"Kata Raya sih, dulu si orang ini sering jahatin Divio.


Jadi mana mungkin Divio mau menerima donor darinya. Akhirnya si pendonor minta Raya buat merahasiakan indentitasnya. Dengan begitu Divio nggak akan menolak untuk di donor."


Mamah Raya manggut-manggut. Belum puas, beliau kembali bertanya. "Kalau dulu dia sering jahatin Divio, kenapa sekarang dia tiba-tiba jadi baik dan mau mendonorkan matanya buat Divio?"


Mamah Raya mengerti dan tidak bertanya lagi.


Sudah jelas kan siapa orangnya?


2 jam kemudian..


Dengan hati-hati, Dokter membuka perban yang menutupi mata Divio. Disaat yang sama, Mamah Raya mendapat panggilan yang mengharuskan beliau pergi saat itu juga.


"Sekarang, buka mata kamu pelan-pelan."


Divio menuruti perintah Sang Dokter dan membuka matanya perlahan.


"Berapa ini?" Tanya Sang Dokter sambil menunjukkan 3 jarinya.


"Sayang, kamu bisa lihat Mamah nak?" Suara Mamah Divio yang terdengar begitu cemas. 


Divio menelan ludah getir. "Dokter.. Saya..."


Sementara itu. Sang Dosen mengakhiri mata kuliahnya siang itu. Trio somplak yang berada di satu kelas yang sama, segera membereskan buku mereka.


"Mau langsung pulang? Nongkrong dulu kuy?" Ajak Meisya.


Raya menolak dengan alasan hendak menemui Divio yang hari ini menjalani operasi transplantasi kornea. 


Ia pun segera pamit pada dua somplak setelah mengenakan tasnya.


Dengan langkah cepat, Raya berjalan meninggalkan kelasnya. Ia benar-benar sudah tidak sabar menemui Divio dan memberinya kejutan.


Tring! Sebuah notifikasi masuk ke handphonenya.


Pesan WhatsApp dari Mamah Divio yang berisi:


(Ray, operasinya gagal. Divio tetap tidak bisa melihat.)


Raya begitu shock saat membacanya. Operasinya gagal? Bagaimana mungkin?  Tuhan... Ini seperti mimpi buruk baginya.


"Nggak.. Ini nggak mungkin." Ucap Raya, disertai matanya yang berkaca-kaca. 


***


Bukan hanya Raya, Keyla juga menolak nongkrong.


Akhirnya Meisya pulang dengan mengendarai taxi online. Dalam perjalanan, ia bermain handphone. Sambil menunggu Regy yang hari itu sama sekali belum mengabarinya. 

__ADS_1


Akhirnya Meisya memutuskan untuk menelfon Bebeb-nya. Aneh! Telfonnya tidak diangkat.


Meisya jadi kesal sekaligus cemas.


"Nih orang kemana sih?!"


Meisya pun membuka akun Instagramnya. Matanya melebar. Di deretan teratas, terpampang postingan Nadya yang menge-tag Regy.


Postingan berupa foto Regy yang sedang tertidur di atas meja, dan Nadya seolah hendak menciumnya. Meskipun foto lawas, tetap saja Meisya panas hati melihatnya. Apalagi caption Nadya yang membuatnya tampak seperti cewek gatal.


Si @Regy_AL kalau lagi bobo lucu. Jadi gumush pengen sun. Hihi.


"Wah ngajak gelut yeuh awewe. (Wah ngajak ribut nih cewek." Celetuk Meisya. Darah Sundanya keluar.


Langsung saja ia mengomentari postingan Nadya.


@Icha_Adriana : Maksudnya apaan yah?


Bukannya Nadya, justeru Rangga yang membalas komentar Meisya.


@Aditya_Rangga : Kakak nggak tahu? Mereka kan pernah deket. Aku bahkan pernah lihat Regy meluk Nadya.


Mata Meisya langsung melotot saat membaca komentar Rangga yang entah benar entah hoax.


Demi apapun hatinya semakin panas.


Apalagi saat komentar Nadya muncul.


@NadyaPutri_Alvino : Rangga ih! Jangan suka buka kartu. Nanti dia ngamuk terus gue dijambak, loe mau tanggung jawab?


@Aditya_Rangga : Biarin aja. Biar Kak Meisya tahu kalau Regy orangnya nggak sebaik itu. Muka polos tapi aslinya biadab.


Meisya yang sudah merasa seperti di panggang, langsung mematikan handphonenya. Tak sanggup lagi membaca komentar 2 manusia laknat yang seolah sengaja memanas-manasi nya. Apalagi si Regy juga belum muncul dan memberi penjelasan.


***


Di taman rumah sakit, Raya dan Mamah Divio duduk berdampingan. Raya menatap lurus dengan pandangan kosong.


"Kok operasinya bisa gagal Tante?"


Mamah Divio mendesah berat. "Menurut Dokter, Operasi tranplantasi itu sudah terlambat. Saat ini, saraf mata Divio sudah rusak. Karena itu, melakukan operasi transplantasi pun sudah tidak ada gunanya."


Airmata Raya luruh seketika. "Artinya, Divio nggak akan pernah bisa melihat lagi buat selamanya?"


Dengan sedih, Mamah Divio membenarkan.


Selanjutnya, Raya berlari-lari menuju ruang pasien tempat Divio berada. Sesampainya disana, ia melihat Divio yang sedang duduk termenung dengan tatapan lurus. Raya menutup mulutnya, menahan tangis yang ingin membuncah.


Divio sendiri heran. "Siapa yang datang?"


"...."


"Mamah? Atau Cinta? Ah.. Nggak mungkin kalau Cinta. Kalau gitu siapa?"


Bukannya menjawab, pada akhirnya Raya lebih memilih pergi darisana. Di dalam mobil, Raya baru berani menangis tersedu-sedu.


Semua ini benar-benar diluar dugaan. 


****


Pukul 4 Sore. Abi tengah bermain handphone di ruang tamu, ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Cowok itu segera bangkit dan membuka pintu.


"Sore Ayang." Ucap Keyla disertai senyum manis. Anjay!


Senyum bahagia Abi langsung terbit. "Sore juga Ayang."


"Sepedaan yuk?" Ajak Keyla seraya menatap sepedanya yang ia parkirkan di depan rumah Abi.


"Oke. Ntar yah, gue ambil sepeda dulu." Saat Abi hendak masuk, tiba-tiba Keyla meraih tangannya.


"Satu sepeda berdua aja. Loe bonceng gue."


Abi tersenyum menggoda. "Cie.. Loe pengen deket terus sama gue yah? Loe gak mau jauh-jauh dari makhluk Tuhan paling seksi ini kan?"


"Iyah. Gue selalu pengen bersama sama loe tiap saat." Ucap Keyla lembut, dan terdengar bersungguh-sungguh.


Abi terpaku mendengar ucapan Keyla yang berhasil melelehkan hatinya. Untuk beberapa saat, merekapun saling bertatap lekat.


Sebelum tiba-tiba, Keyla nyengir dan mencubit pipi Abi. "Cie! Yang Melting. Haha."


Abi membuang muka dan mendengus kesal. Sial! Keyla memang tidak pernah gagal mempermainkannya. Selanjutnya ia menantang Keyla.


"Mau adu Melting?"


"Teknisnya?"


"Kita berdua berusaha bikin melting (meleleh) satu sama lain. Dan yang paling banyak bikin melting, berarti dia yang menang."


Tanpa banyak berpikir, Keyla menyanggupi tantangan Abi. 


"Oke! Siapa takut."

__ADS_1


-Bersambung-


Bonus double up untuk Readers tercinta.


__ADS_2