TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Kasih tak sampai


__ADS_3

Sementara itu, Keyla tiba di rooftop dan langsung berhenti di hadapan Hugo yang sedang berdiri membelakangi tembok pembatas.


"Ada apa Kak?"


Hugo menghela nafas panjang. "Kakak bersumpah, ini yang terakhir kalinya Kakak bilang ini sama kamu.


I love you Key.. Kakak beneran cinta sama kamu."


Keyla membuang muka, seraya membatin. 'Bacot. Loe pikir gue percaya sama omongan loe.'


"Kakak beneran pengen jadi pacar kamu Key.


Plis, terima perasaan Kakak." Hugo memohon dan memasang wajah melas. Bagaimanapun mobil mahal itu harus jadi miliknya.


Keyla menghela nafas. "Oke.. Sekarang juga, aku akan ngasih jawaban."


Hugo tersenyum girang dan sudah sangat tidak sabar. Tapi ia yakin 100% Keyla akan menerima cintanya. 'Lukas.. Siap-siap loe kehilangan Ferarri kesayangan loe.'


"Maaf, aku nggak bisa jadi pacar kakak." Jebred! Keyla berhasil menghancurkan harapan Hugo memiliki Ferrari kepunyaan Lucas.


"Ma.. maksud kamu, kamu nolak Kakak?"


"Iyah. Sekali lagi aku minta maaf."


"Ta.. Tapi kenapa?


Kurang apa Kakak di hidup kamu?"


Kali ini, Keyla menatap Hugo tajam. Ia maju dua langkah, mendekati pemuda yang telah mempermainkan perasaannya.


"Kurang apa? Kakak kurang jujur.


Malam waktu aku minta video call, Kakak pikir aku nggak tahu kalau Kakak lagi jalan sama cewek lain? Tapi apa kenyataannya? Kakak bohong dengan bilang lagi di rumah, dan nolak pas aku minta video call."


Hugo merasa kelimpungan saat tahu dirinya sudah tertangkap basah. Tapi ia tidak menyerah.


"Maaf Key.. Kakak nggak bermaksud bohongin kamu. Dan tentang cewek itu? Dia adiknya Kakak, sumpah Kakak gak bohong."


"Cukup Kak! Aku udah nggak percaya lagi sama omongan Kakak. Jadi mau seberapa keras pun Kakak ngeyakinin aku, jawaban aku tetap sama.


Aku nggak bisa jadi pacar Kakak."


Hugo terdiam. Emosi yang sedari tadi ia tahan, kini naik ke ubun-ubun. Rahangnya mengeras. Giginya menggeretak menahan amarah.


Lalu dengan dingin, ia berkata. "Sok cantik lu lon*e! Nyesel gue udah bersikap baik sama loe."


Keyla begitu shock mendengarnya. Ia speechless. Bahkan tak lama kemudian, matanya tampak berkaca-kaca. Itu adalah pertama kalinya ia mendapat umpatan kasar dari seorang lelaki


Hugo sendiri pergi setelah berhasil menyakiti Keyla dengan kata-katanya. Impiannya memiliki mobil mewah, musnah seketika.


**


Setelah menyelesaikan misinya, Rangga kembali ke kelas. Ia duduk disamping Regy yang saat itu sedang mengerjakan tugas matematika.


"Udah?" Tanya Regy tanpa mengalihkan pandang dari buku tugasnya.


"Udah dong."


"Apa kata Kak Meisya?"


"Katanya dia bakal ngasih tahu Kak Keyla secepatnya. Oiyah gi, loe tahu gak? Semalem kan gue abis deep talk sama Kak Meisya, dan gue baru tahu kalau dia orangnya humoris juga.


Duh.. dia emang perfect. Jadi makin suka sama dia."


Regy tersenyum semu. "Oiyah? Berarti sekarang, jasa gue udah gak dibutuhin lagi dong?"


"Ya iyalah.. Sekarang kan gue udah akrab dan gak malu-malu lagi sama Kak Meisya.


Dan semua ini berkat loe. Makasih ya sob."


Regy hanya tersenyum. Rangga bahagia tapi dia yang terluka.


"Loe tenang aja Gi. Someday gue pasti bakal ngebales kebaikan loe ini."


"Gak perlu Ga.. asal loe bahagia, gue juga ikut bahagia." Tapi bo'ong. Yhaaa..


"Masa? By the way kayanya Kak Meisya jatuh cinta banget sama surat-"


"ANJING! Kecoret.. Tipe-x mana tipe-x." Regy pura-pura mencari tipe-x. Padahal ia memang sengaja mencoret bukunya. Dengan begitu Rangga akan berhenti sesumbar perihal hubungannya dengan Meisya.


Sayangnya Rangga tidak peka akan hal itu. Setelah memberikan Tipe-X miliknya, Rangga kembali bercerita.


"Tapi ada yang bikin gue heran tahu Gi."


"Apa?" Regy balik bertanya sambil menghapus coretan tinta dibukunya dengan nafsu.


"Seingat gue kan, gue cuma pernah ngasih bunga, sama surat aja. Itupun surat bikinan loe. Tapi kenapa Kak Meisya pernah bilang kalau gue juga pernah ngasih dia boneka?"


'Itu boneka dari gue bangsat.' batin Regy. Ia memang pernah memberikan boneka beruang kecil berwarna biru pada Meisya, atas nama Rangga.


Lain dimulut, lain dihati. "Kali aja itu boneka dari fansnya yang lain."


"Siapa?" Rangga mulai panas saat tahu ada seseorang yang menyukai Meisya selain dirinya.


Regy hanya mengangkat bahu. Andai Rangga bisa membaca pikiran, mungkin dia akan shock begitu tahu isi pikiran Regy.


Tak lama kemudian, seseorang memanggil Rangga. Pemuda itupun segera keluar meninggalkan Regy di tempatnya.


Regy mendesah berat. Rasanya ia benar-benar sudah lelah menghadapi semua ini. Kenapa harus dirinya yang mengalah? Dan sampai kapan ia harus berpura-pura mendukung hubungan Rangga dengan Meisya?


Regy pun mengeluarkan handphonenya dan kembali mengetik sesuatu di notepadnya.


Kau bercerita tentang rasa sayangmu padanya

__ADS_1


Kau berimajinasi segala hal indah dengannya


Haruskah aku mendengarkan?


Tidak bisakah aku juga menceritakan rasa sakitku ini ketika mendengar ceritamu?


**


Keyla kembali ke kelas dengan wajah linglung. Ia masih tampak shock karena perkataan Hugo 5 menit yang lalu.


Raya heran melihatnya. "Keyla? Lu Kenapa? Abis lihat setan?"


Meisya sendiri terus menatapnya dengan hati bimbang. Beri tahu sekarang, atau nanti saja?


"Gue gak papa." Dusta Keyla. Tapi airmatanya menetes bak air hujan. Sumpah hatinya benar-benar sakit dikatai lont*e oleh Hugo.


"Gak papa tapi kok nangis?" Tanya Raya sekaligus iba melihat sahabatnya yang tampak tidak baik-baik saja.


Keyla buru-buru menyeka airmatanya. "Sumpah gue beneran nggak papa." Ia mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya dan pura-pura sibuk menulis.


Melihat keadaan Keyla, Meisya mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Keyla tentang video tersebut. Karena hanya orang jahat yang menabur garam diatas luka.


**


Meskipun kemarin malam Aby membuat Keyla dongkol, namun gadis itu tetap mengunjungi sahabatnya malam ini. Bahkan ia berencana curhat masalah Hugo padanya. Karena Keyla merasa lebih aman curhat pada Aby ketimbang pada dua somplak.


Senyum Aby langsung terbit begitu melihat kedatangan Keyla. Seharian ia dihantui rasa takut. Takut Keyla benar-benar marah dan tidak mau memaafkan kesalahannya.


"Keyla.. Gue pikir loe masih marah dan gak mau nemuin gue."


Keyla hanya diam sambil menatap Aby dengan sendu.


Aby sendiri tak henti meminta maaf. "Sorry yah kalau kemarin becanda gue kelewatan. Gue bener-bener-"


"Abi.." belum selesai Aby bicara, Keyla sudah memotong.


"Hmm? Kenapa?"


Tiba-tiba Keyla menangis. Ia merasa tak kuasa lagi menahan kesedihan yang ia pendam sejak tadi siang. Lalu dengan parau, ia memohon. "Gue boleh meluk loe nggak?"


Betapa Aby terenyuh mendengarnya. Ya Tuhan.. ada apa dengan bidadarinya? Kenapa kau memberinya kesedihan?


Aby pun tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Jangankan meminta pelukan, minta nyawapun Aby tidak akan segan memberikannya.


Keyla segera menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Aby. Tersedu, ia menangis.


Dengan tangan kirinya, Aby membelai rambut Keyla. "Cup.. cup.. cup.. Jangan nangis dong.


Kalau nanti maskara loe luntur gimana?" Hibur Aby sekaligus bercanda.


Terisak, Keyla masih sempat-sempatnya menimpali. "Maskara gue waterproof."


"Haha.."


Keyla menggeleng. Sahabat-sahabatnya begitu baik. Mana mungkin mereka tega menyakitinya.


"Loe dimarahin bokap loe?"


Keyla kembali menggeleng. Ayahnya sedang tugas diluar kota, dan tidak punya waktu untuk memarahinya. Bahkan Keyla masih hidup atau tidak pun , Ayahnya seperti tidak peduli. Saking sibuknya beliau dengan pekerjaannya.


"Terus?" Aby benar-benar dibuat penasaran oleh permasalahan Keyla.


Keyla pun menceritakan semuanya. Membuat Aby geram sekaligus ingin balas dendam pada si Hugo yang bajingan.


"Kalau gitu harusnya loe ambil batu terus timpuk kepala dia. Bukannya diem aja. Lagian lawak banget jadi orang. Kalau dia nembak cewek, terus ditolak. Ya resiko lah.


Bukannya malah ngatain dan bikin nangis anak orang."


Keyla menjawab sambil terisak. "Gue juga baru lihat orang kaya dia."


Tring! Sebuah notifikasi masuk ke handphone Keyla. Pesan dari Meisya. Buru-buru Keyla membukanya.


(Kutil, maafin gue yah)


Keyla heran. Untuk apa Meisya meminta maaf?


[Maaf buat apa bo?]


(Maaf kalau gue tega. Tapi gimanapun juga loe harus tahu kenyataannya.)


[Apaan sih? To the poin aja deh]


5 detik kemudian, Meisya mengirimkan sebuah video. Tanpa ba-bi-bu Keyla langsung membukanya. Aby ikut menonton sekaligus mendengarkan percakapan 2 orang pemuda yang terekam dalam video tersebut.


Setelah menonton video berdurasi 1 menit 20 detik tersebut, keduanya ternganga. Apalagi Keyla yang tampak sangat shock dan seketika menangis dibuatnya.


"Jadi.. Karena itu si Hugo deketin gue?" Keyla bertanya dengan suara bergetar. Demi Tuhan hatinya tidak ridho dunia akhirat.


Sementara tangan Aby mengepal. " Anj*ng tuh cowok!"


Dengan tangan bergetar, Keyla mencari kontak Hugo dan langsung menelfonnya. Awalnya telfon Keyla tidak diangkat. Namun yang kedua kali, Hugo bersedia mengangkatnya.


'Halo?'


"Aku pengen ketemu sekarang."


'Mau ngapain? Tunggu! Kamu berubah pikiran?' tanya Hugo dengan pede-nya. Wajahnya langsung cerah. Secerah sinar mentari pagi.


"Iyah. Makanya aku mau kita ketemu sekarang." Sengaja Keyla berdusta. Dengan begitu Hugo tidak akan menolak permintaannya.


'Oke oke.. Ketemuan dimana? Kakak kesana sekarang juga.'


"Taman kota."

__ADS_1


'Siap! Kakak pergi sekarang juga.'


Klik! Keyla mengakhiri panggilannya dan bergegas menuju tempat janjiannya dengan Hugo. Wah seru nih..


"Loe mau kemana?" Tanya Aby pada Keyla yang sedang memakai tas LV kesayangannya. (Doi kolektor tas branded).


"Gue mau ngasih cowok bangsat itu pelajaran!"


"Loe yakin mau pergi sendiri? Kalau sampai dia berbuat macam-macam sama loe gimana?"


"Loe tenang aja. Gue bisa jaga diri."


"Tapi-" belum selesai Aby berkata, Keyla sudah menghilang dari pandangannya. Aby berniat menyusulnya. Namun jarum infus yang terpasang di tangannya, membuat langkahnya tertahan.


**


Hugo sampai lebih dulu di taman kota. Begitu melihat kedatangan Keyla yang datang dengan grabcar, Hugo auto bangkit dari duduknya seraya tersenyum tanpa henti. Hari ini belum berakhir. Jadi kesempatannya untuk mendapatkan Ferarri Lukas, masih ada.


Bahkan ia sudah PD membayangkan berangkat sekolah dengan mengendarai mobil mewah.


"Key.. Akhirnya kamu datang juga. Kakak bener-bener nggak sabar nunggu kedatangan kamu."


Keyla hanya tersenyum. Senyuman seribu makna.


"Jadi gimana? Kamu beneran berubah pikiran? Kamu mau jadi pacar Kakak?"


Senyum Keyla mendadak hilang. Dan yang terjadi kemudian..


PLAK! Tanpa aba-aba, ia menampar Hugo sekuat tenaga.


Hugo speechless sekaligus merasakan panas dipipinya. Emosi, ia menatap Keyla. What the f*ck nih cewek?


"Loe ngatain gue anjing? Loe lebih anjing dari anjing itu sendiri." Ucap Keyla, berapi-api.


"Apaan sih loe? Datang-datang main gampar aja." Hugo tidak bersandiwara lagi.


Keyla pun mengeluarkan handphonenya, dan memutar video yang dikirim Meisya, setengah jam yang lalu.


Hugo auto tercengang. Bajingan mana yang merekam percakapannya dengan Lukas tadi pagi?


Keyla tersenyum sinis. "Jadi karena ini, loe ngebet banget pengen jadi pacar gue? Kasihan banget hidup loe. Kalau pengen mobil tuh beli sendiri. Jangan ngarepin menang dari hasil taruhan."


Hugo menatap Keyla tajam. Tangannya mengepal. Ia merasa terhina oleh ucapan Keyla yang seolah merendahkannya.


"Oiyah.. Bilangin juga sama si Lukas.


Kalau dia sakit hati dan pengen balas dendam gara-gara dulu gue tolak, gak gini caranya.


NORAK, tahu gak?"


"Banyak bacot lu lont*e!" Hugo yang emosinya sudah mencapai batas maksimal, langsung menarik paksa Keyla dan berniat memberinya pelajaran.


Keyla auto meronta. "Lepasin bangsat! Loe mau bawa gue kemana?"


"Diem loe! Gue bakal ngasih loe pelajaran karena loe udah kurang ajar sama gue." Sekuat tenaga Hugo menyeret Keyla menuju motornya.


Keyla tidak tinggal diam. "TOLONG! Saya mau diculik!"


Seseorang berjalan cepat ke arah mereka. Dan saat jaraknya dengan Hugo sudah dekat..


BUG! Ia melempar helm yang dibawanya dengan keras, dan mengenai punggung Hugo dengan sempurna.


Bajingan itu meringis dan auto berbalik.


Tampak seorang pemuda yang sedang berdiri dengan wajah geram. "Banci loe! Beraninya sama cewek."


Hugo melepaskan tangan Keyla dan langsung mendorong pemuda itu. "Siapa loe?"


"Gue Fathan!" Yah.. pembaca kecewa. "Mantannya Keyla."


Hugo tersenyum sinis. "Owh.. Jadi loe mantannya si lont*? Kalau gitu loe ambil aja. Gue juga udah gak butuh dia kok."


Fathan semakin emosi dan langsung melayangkan bogemnya. Sayang, Keyla malah menghentikannya. "Udah Tan! Dia emang orang gila. Kalau loe ladenin, loe gak ada bedanya sama dia."


Fathan mencoba mengendalikan emosinya. Dengan sorot mata penuh amarah, ia menyuruh Hugo pergi saat itu juga.


Untungnya Hugo menurut, setelah sebelumnya meludah di hadapan mereka berdua.


Fathan memegang kedua pundak Keyla. "Key, kamu nggak papa kan? Dia nggak nyakitin kamu kan?"


Keyla menunduk dan mengangguk pelan. Entah bagaimana nasibnya jika tidak ada Fathan. (Padahal selain Fathan, ada banyak orang disana. Dan tidak mungkin mereka diam saja menyaksikan Keyla yang hendak disakiti Hugo).


Fiuhhhhhh.. Fathan menghela nafas lega.


Untung Kakak perempuannya menyuruhnya membeli siomay yang terkenal enak di taman kota.


Keyla mengangkat kepala, dan menatap kedua mata Fathan. Mata indah yang dulu tak pernah bosan ia pandangi. "Makasih ya Tan.. Kalau nggak ada loe, entah gimana nasib gue."


Fathan tersenyum dan membelai rambut Keyla. "Sama-sama Key. Udah jadi tugas aku nolongin kamu."


Keyla balas tersenyum dan membiarkan Fathan mengelus rambutnya. Hal yang sering dilakukan Fathan dulu, dan terkadang ia rindukan belakangan ini.


"Yaudah, sekarang aku anterin kamu pulang yah?"


Lagi-lagi Keyla mengangguk dan tidak menolak ajakan Fathan. Membuat kita semua kecewa dengan sikapnya.


Dari jarak 15 meter, seseorang yang berada di dalam taxi online, sedang memperhatikan mereka dengan tatapan sendu. Bukan hanya tangannya yang berlumuran darah akibat mencabut jarum infus sembarangan, hatinya juga berdarah menyaksikan kedua insan yang romannya akan CLBK tersebut.


Ya.. Dialah Aby.


-Bersambung-


__ADS_1


__ADS_2