TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
JERA


__ADS_3

"APA? LOE MASUK RUMAH SAKIT?" Pekik Divio dengan mata melotot. Bahkan refleks terbangun dari posisinya yang semula tiduran di atas meja.


"Rumah sakit mana? Ntar siang gue kesana."


'Pelita harapan. Ruang Kamboja nomor 10.'


Setelah Divio mengakhiri panggilannya, Keyla berbalik dan bertanya dengan khawatir.


"Div, Abi masuk rumah sakit?"


Divio baru menyadari keberadaan Keyla disana. Tidak mungkin berkata jujur, ia pun berkelit. "Ini.. bukan Abi yang loe kenal. Ini Abi temen gue di Medan."


"Berarti pulang sekolah loe bakal langsung ke Medan buat jengukin dia?" Tanya Keyla, sekaligus meng-skak mat Divio.


"Haha." Divio nyengir garing, kemudian beralasan. "Duh perut gue mules. Gue ke toilet dulu ya Key." dan langsung ngacir.


Keyla mendengus kesal. Ia pun langsung menelfon Aby untuk memastikan keadaannya.


Kampretnya telefon Keyla tidak diangkat meskipun Aby sedang online saat itu.


Keyla tak patah arang. Ia segera menelfon Om Ginanjar.


Alhamdulillah. Om Ginanjar mengangkat telfonnya.


"Halo Om? Maaf Keyla ganggu.."


***


Pulang sekolah, Divio langsung menjenguk Aby di Rumah Sakit. Saat melihat kondisi sahabatnya, Divio mengusap dada, prihatin.


Aby yang sebelumnya terlihat segar bugar, kini terlihat kurus dan pucat pasi. Dalam waktu singkat, penyakit itu menggerogoti tubuhnya dengan ganas.


"Bi.." ucap Divio seraya duduk di bibir bangsal.


Aby tersenyum dengan bibir pucatnya. "Hai Div."


Divio menatap wajah Aby. Matanya berair seketika. "Janji sama gue, loe harus sembuh."


Aby tersenyum getir. Menundukkan kepala, lalu menggeleng. "Gue gak bisa Div. Penyakit ini terlalu ganas dan gak bisa gue lawan."


Aby kembali menatap Divio dengan nanar. "Loe tahu gak? Kalau udah kambuh, rasanya gue pengen mecahin kepala saking pusingnya. Rasanya bener-bener sakit, sampai-sampai gue berpikir lebih baik mati daripada harus ngerasain semua ini."


Divio tidak berkata apa-apa lagi. Sesaat kemudian, airmatanya tampak mengalir. Buru-buru pemuda itu menyekanya.


Tidak ingin Divio larut dalam kesedihan, Aby langsung mengalihkan pembicaraan.


"Keyla udah sekolah lagi?"


Divio menatap langit-langit sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. "Udah."


"Syukurlah. Hubungan loe sama Raya gimana? Terus waktu itu, apa maksudnya loe nyuruh gue ngirim kata-kata mesra dan ganti Poto profil pake foto si Bela?"


Divio tersenyum getir. Bukan hanya Aby, ia pun ternyata harus mengalami kegagalan cinta. Padahal baru sesaat ia merasakan kebahagiaan, bersama seorang Gadis yang benar-benar ia cintai.


"Kami udah putus Bi."


Aby kaget. Sesingkat itu? Bagaimana mungkin?


Divio pun menceritakan semuanya. Tentang Alifa yang diculik oleh Levin , dan akhirnya mengancam dirinya untuk memutuskan Raya jika ingin Alifa dan anak-anak panti selamat.


Membuat Aby shock dan tidak menyangka jika Levin sebangsat itu.


"Apa keputusan gue salah Bi?" Tanya Divio yang masih penasaran. Jika orang lain ada di posisinya, apa mereka akan melakukan hal yang sama? Atau justeru sebaliknya?


Aby menggeleng. "Loe bener Div. Meskipun Raya dan tentunya loe yang jadi korban, gimanapun juga keselamatan anak-anak panti lebih penting dari hubungan kalian."


Getir, Divio berkata. "Kok nasib kita gini banget ya Bi? Disaat kita udah bahagia sama cewek yang kita sayang, Tuhan tiba-tiba merenggut kembali kebahagiaan kita."


Aby tersenyum kecut. "Mungkin mereka diciptain bukan buat kita."


Beberapa lama kemudian, Divio akhirnya pamit.


Setelah Divio pergi, Aby merebahkan diri sambil memejamkan mata, berniat tidur. Meski setiap kali hendak tidur, ia selalu merasa takut. Takut ia tidak akan bangun lagi dan tidak sempat memeluk Ayahnya untuk yang terakhir kali.


Ceklek! Seseorang membuka pintu ruang perawatan Aby dari luar. Pemuda itu pun terpaksa membuka mata untuk melihat siapakah orang yang datang.


"Abi.." lirih Keyla.


Aby terpaku. Perasaannya campur aduk saat melihat sosok itu. Senang, sedih, rindu, semuanya berbaur menjadi satu kesatuan.


Dengan terpincang-pincang, Keyla berjalan mendekatinya. "Abi loe sakit apa?"


Demi apapun, Aby benar-benar ingin memeluk Keyla dan menangis sekeras mungkin. Namun mustahil ia melakukan semua itu.


Akhirnya Aby hanya menjawab. "Sakit biasa."


"Sakit biasa apa? Setiap penyakit kan ada namanya." Ucap Keyla geram.

__ADS_1


"Typhus." Jawab Aby, sedingin kulkas. Bagaimanapun ia harus berakting agar Keyla membencinya.


Keyla tidak sepenuhnya percaya. "Beneran? Loe gak nyembunyiin sesuatu kan dari gue?"


Aby mengangguk tanpa menatap Keyla.


"Loe berani sumpah? Gue gak akan percaya kalau-"


"DUH! Loe kepo banget sih?! Loe terlalu sibuk ngurusin hidup orang tahu gak?!" Maki Abi dengan nada tinggi.


Keyla terhenyak. "Apa loe bilang?"


"Kenapa? Gak terima? Emang gitu kan faktanya?


Loe orangnya rempong Key! Makanya banyak cowok yang muak dan akhirnya ninggalin loe.


Jadi saran gue, kurang-kurangin deh sifat jelek loe itu." Aby berkata dengan sadis.


Bagai sebuah pedang, ucapan Aby berhasil mengoyak perasaan Keyla dengan kejam. Sumpah, rasanya sakit sekali. Apalagi kata-kata itu terlontar dari pemuda yang sampai saat ini masih menguasai hatinya.


"Gimana mungkin loe ngomong kaya gitu?" Tanya Keyla, dengan airmata yang mulai mengalir deras. Ia masih tidak menyangka Aby setega itu.


Aby membuang muka dan mendengus kasar. "Udah sana loe pergi! Bentar lagi Nilam mau kesini. Gue gak mau dia salah paham kalau ngelihat kita lagi berduaan."


Keyla menutup mulutnya. Menahan suara tangis yang ingin membuncah. Tanpa banyak bicara, ia pun berlari pergi dengan hati yang remuk redam.


Kakinya yang masih sakit mendadak tidak terasa, sebab hatinya jauh lebih merasakan sakit.


Aby sendiri bersandar lemas. Ia menutup mata dengan pergelangan tangannya, lalu menangis tak tertahankan. Tuhan.. Kenapa keadaan selalu memaksanya untuk bersikap pengecut?


**


Malam hari.


Di teras kosan, Regy sedang ngopi bersama Jerome, temannya sekaligus penghuni kosan sebelah.


"Jer, gue pengen tanya sama loe." Ucap Regy dengan tatapan lurus.


Jerome menyulut rokoknya. "Nanya apa?"


"Ibaratnya nih ya, loe udah lama suka sama seorang cewek. Terus loe pendem kan.


Nah, suatu hari, tiba-tiba gue ngasih tahu loe kalau gue suka sama gebetan loe itu. Respon loe gimana?"


"Ya gue bakal ngomong jujur kalau gue juga suka sama cewek itu."


Regy terdiam. Benar, harusnya dari awal ia berkata jujur pada Rangga, kalau sebenarnya dia juga menyukai Meisya. Bahkan jauh lebih dulu menyukainya.


Namun disisi lain, ia memikirkan Rangga yang saat ini sedang terpuruk dan diterpa berbagai musibah. Rasanya jahat sekali jika ia harus bahagia diatas penderitaan Rangga.


Tiba-tiba Regy mendapat pesan dari Meisya.


(Gi, bawa laptop kamu ke tamkot yah. Kakak pengen nobar film Bollywood yang kamu maksud sekarang. Sekalian Kakak pengen nunjukin permainan gitar Kakak sama kamu)


Regy tersenyum. Ia seolah mendapat jawaban atas kebimbangannya. Dengan tekad kuat, ia berniat meresmikan hubungan dengan Meisya saat ini juga. Persetan dengan Rangga!


(Ahsiaaaappp. Tunggu bentar ya Kak, saya siap-siap dulu).


Regy langsung pamit pada Jerome. Pemuda itu mengerti dan langsung masuk ke dalam kosannya.


Setelah ganti baju dan berpenampilan seganteng mungkin, Regy bergegas keluar dari kosannya.


Ia pastikan malam ini akan menjadi malam yang berkesan sepanjang sejarah hidupnya. Sudah terbayang, betapa nantinya Meisya akan shock bahkan mungkin nyaris pingsan saat Regy mengaku bahwa dirinya adalah Al. Teman masa kecilnya.


"Loe mau kemana?"


Oh My God..


Regy shock. Saat matanya menangkap sosok Rangga yang kini sedang berdiri di depan kosannya.


"Ra.. Rangga." Regy mendadak gagap. "Loe bukannya lagi di Jogja?"


Rangga tersenyum sinis. "Kenapa? Loe gak suka ngelihat keberadaan gue?" Pemuda itu mendekat beberapa langkah ke arah Regy.


"Gue tanya, loe mau kemana?" Ucapnya, penuh penekanan.


Regy benar-benar kalang kabut. "Gu- Gue.. Gue mau-"


"Nemuin Kak Meisya?" Potong Rangga, 100 untuk tebakannya.


Regy sendiri semakin kalap. Bagaimana Rangga bisa tahu? Apa dia punya indera keenam?


Melihat ekspresi Regy yang mirip maling yang tertangkap basah, Rangga tersenyum miris.


"Gue gak nyangka loe sejahat ini Gi."


Regy memejamkan mata dan tampak stress. Otak menyuruhnya menjelaskan pada Rangga jika antara dia dan Meisya tidak ada hubungan apa-apa. Sementara hati memintanya untuk berkata jujur bahwa sebenarnya ia yang lebih dulu menyukai Meisya dan berhak akan cintanya.

__ADS_1


"Kenapa diem?" Rangga terus memojokkan Regy.


"Loe tahu? Waktu gue lihat loe pelukan sama Kak Meisya tempo hari (Saat Meisya mengaku menyukai Regy dan akhirnya mereka berpelukan, rupanya Rangga melihat semua itu. Karena sebelumnya ia memang berniat menginap di kosan Regy barang semalam), perasaan gue hancur! Belum cukup gue diterpa masalah keluarga, loe juga ikut-ikutan ngehancurin perasaan gue." Rangga berkata dengan emosi yang meledak-ledak.


"Dan loe pikir gue gak tahu? Selama di Jogja, loe ngerasa bebas deketin Kak Meisya kan?"


Regy semakin tercengang. Wajahnya kian memucat. "Loe.. Loe tahu darimana?"


"Denis! Dia adalah mata-mata gue."


Denis adalah pemuda yang duduk di depan bangku Regy. Ia yang kerap melihat Regy dan Meisya berduaan saat Rangga tidak ada, merasa aneh dan akhirnya memutuskan untuk laporan pada Rangga belum lama ini.


Rangga mengambil jalan tengah. Karena bagaimanapun semua ini harus diselesaikan.


"Sekarang, ambil keputusan. Loe, atau gue yang mundur! Kita gak bisa mencintai orang yang sama GI. Kecuali loe ngibarin bendera perang sama gue."


Regy terpaku. Alih-alih menjadi malam yang berkesan, ini justeru menjadi malam paling menyedihkan sepanjang hidupnya.


--


Meisya menatap layar handphonenya. Rupanya sudah 30 menit ia menunggu kedatangan Regy yang tidak kunjung tampak batang hidungnya.


Akhirnya Meisya memutuskan untuk menelfon Pemuda itu. Naas. Handphonenya tidak aktif.


Meisya pun bangkit dan bergegas menuju kosan Regy yang terletak tidak jauh dari taman kota. Beberapa kali mengetuk pintu, namun tidak kunjung ada sahutan dari dalam. Membuat Meisya semakin khawatir.


Tak lama kemudian, Jerome muncul.


Melihat Meisya yang terus mengetuk pintu kosan Regy, ia pun mendekatinya.


"Regy nggak ada Kak. Tadi dia bilang mau pergi."


"Tapi motornya ada." Meisya menunjuk motor Regy yang terparkir di depan kosan.


Jerome jadi bingung. Iya juga yah. Tiba-tiba handphonenya berbunyi pertanda masuknya sebuah notifikasi.


Pesan WhatsApp dari Regy. Heh?


(Jer, bilangin sama cewek itu kalau gue pergi gak bawa motor. Plis Jer, bikin dia pergi).


Jerome menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan akhirnya menuruti perintah Regy.


***


Di teras panti, Divio tengah menemani Alifa belajar. Saat teringat akan sosok Raya, gadis kecil itu tiba-tiba berhenti menulis.


"Kak Vio.. Kalau kakak sama Kak Raya putus, berarti kak Raya nggak akan kesini lagi dong?"


Tanya Alifa. Ucapan Levin saat sedang menyanderanya, membuat gadis kecil itu tersadar jika Raya dan Divio memiliki hubungan.


Divio membeku. Raut kesedihan tergambar jelas di wajahnya yang tampan. Bukannya menjawab, ia justeru mengalihkan pembicaraan.


"Alifa mau susu nggak? Kak Vio buatin yah?" Divio bangkit dan berjalan menuju dapur.


Saat sedang membuat susu untuk Alifa, ia mendapat chatt dari Sang Mamah.


(Div, seperti biasa anterin baju ke Tante Mayang yah)


--


30 menit kemudian, Divio tiba di rumah Tante Mayang. Dua kali menekan bel, pintu rumah nan megah itu akhirnya terbuka. Sang Asisten rumah tangga yang membukanya.


Setelah mempersilahkan Divio duduk, Bi Ijah pamit sebentar guna memanggil Nyonya besarnya, sekaligus mengambil minum.


Divio pun duduk termenung dengan tatapan kosong. Akhir-akhir ini dia banyak melamun.


Sebelum kemudian, terdengar suara indah Raya yang sedang karaokean di sebuah ruangan yang terletak di dekat dapur.


"Salam hangat untuk cintamu


Aku yang kandas dan patah hati


Biarlah orang memandang lemah


Aku tak mau bercinta lagi


Engkau yang..."


Raya tak melanjutkan lagunya dan terdengar menangis. Menangisi kisah cintanya yang kandas untuk kesekian kali.


Ia pikir kehadiran Divio dapat mengobati luka hatinya. Namun nyatanya ia justeru memperparah luka yang ada. Membuat Raya benar-benar jera dalam percintaan.


Sambil mengelap airmatanya, Raya keluar dari ruangan tersebut menuju ruang tamu. Berniat mencari udara segar, agar hatinya tidak terlalu sesak.


Dan langkahnya terhenti ketika melihat Divio yang sedang duduk seraya menatapnya sendu.


Anyeong Readers..

__ADS_1


Untuk saat ini, kita bersedih-sedih dulu yah. Tapi nanti , ada masanya semua couple akan bahagia. Jadi saksikan terus novel trio somplak karya Mamah Sabira ini. Salam somplak.


-bersambung-


__ADS_2