
Sebelumnya Abi mendapat telfon dari Mamah Soraya yang menyuruh Abi menguntit Keyla dan pemuda itu. Karena perasaan Mamah Soraya tiba-tiba tidak enak. Dengan sukarela, Abi pun menuruti perintah Calon mertuanya. Aamiin.
Batu yang dilempar Abi menyerempet kepala Defon dan berakhir mengenai pintu.
Bledag!
Defon dan Keyla terkesiap dan langsung menoleh ke belakang. Tampak Abi yang sedang berdiri basah-basahan di samping mobil Defon.
Keyla yang semula sudah pasrah, seketika merasa hidup kembali saat melihat sosok Abi. Lain halnya dengan Defon yang menatap Abi dengan murka.
"Anjing loe!" Maki Devon.
Abi menghampiri mereka dan langsung menarik Keyla ke belakangnya. Berani sekali bajingan itu menyentuh bidadarinya!
"Lu Babi!" Balas Abi.
Devon tidak terima dan langsung menyerang Abi. Untungnya Abi bisa membaca gerakan tangan Devon dan langsung berkelit.
Terjadilah baku hantam diantara mereka. Keyla berusaha melerai. Namun sia-sia. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Apalagi saat Abi mendapat pukulan beberapa kali di wajahnya.
Untungnya tak lama kemudian Abi berhasil meruntuhkan Devon. Meski wajahnya babak belur di beberapa bagian. Abi menginjak paha Devon yang sudah tersungkur di lantai.
"Gue peringatin yah! Kalau sampai loe berani muncul di hadapan gue ataupun Keyla, gue gak bakal segan ngabisin loe. CATET!" Abi menggenggam tangan Keyla dan membawanya menuju motornya.
Sepanjang perjalanan, airmata Keyla tak henti-hentinya mengalir. Bahkan selanjutnya Abi mendengar Isak tangis Keyla yang begitu menyayat hati.
"Udah jangan nangis terus. Loe udah aman sekarang." Kata Abi, ketus. Karena sejujurnya ia teramat kesal pada Keyla yang bisa-bisanya bergaul dengan cowok bangsat macam Devon. Padahal Keyla jadi seperti itu karena siapa coba?
Keyla sendiri tidak mengindahkan perkataan Abi dan justeru menangis semakin kencang. Demi apapun perasaannya benar-benar kacau sekarang.
Akhirnya Abi menepikan motornya di pinggir jembatan. Melepas helm dan menatap Keyla yang duduk dibelakangnya.
"Nangis yang kenceng. Kalau perlu ngejerit sekalian. Biar perasaan loe lega." Ucap Abi.
Keyla menuruti saran Abi dan langsung turun dari motornya. Melangkah mendekati pagar jembatan, lalu berteriak, mengeluarkan semua masalah yang ia pendam.
"AARGGGHHH!" Setelah itu Keyla duduk berjongkok sambil menangis tersedu-sedu. Akhir-akhir ini, dia begitu frustasi karena perasaannya sendiri. Perasaan yang tidak dapat ia kendalikan dan terkadang bertolak belakang dengan isi pikirannya.
Abi ikut teriris melihatnya. Namun ia urung mendekati Keyla dan hanya diam di tempat. Biarkanlah Gadis itu menangis sepuasnya agar perasaannya lebih baik.
5 menit kemudian, hujan akhirnya berhenti. Seiring tangisan Keyla yang juga ikut berakhir.
Keyla pun mengelap wajahnya yang basah oleh air hujan dan airmata, kemudian bangkit dan berjalan. Tapi bukan ke arah Abi.
Membuat Abi yang semula duduk di motornya seketika berdiri dan langsung turun.
Dengan langkah cepat, ia menyusul Keyla yang entah hendak kemana.
"Loe mau kemana?"
"Pulang." Jawab Keyla, parau. Suaranya hampir habis akibat menangis.
Abi mengerti dan menyuruh Keyla segera naik ke motornya. Namun gadis itu menolak dan malah berencana memesan grabcar.
Membuat Abi tidak habis pikir. "Key, itu yang dibelakang gue motor loh, bukan odong-odong."
"Gue tahu, gue juga punya mata."
"Ya terus kenapa loe nggak mau pulang sama gue?"
Keyla akhirnya menatap Abi dengan mata sembabnya. "Ya karena gue gak mau pulang sama loe. Jadi plis, jangan maksa!"
Abi membuang muka dan beristighfar pelan. Ia harus menyetok kesabaran sebanyak-banyaknya ketika berhadapan dengan Keyla yang sekarang.
Taksi muncul. Keyla menghentikannya dan buru-buru naik.
Abi melongo. Dia benar-benar speechless.
***
Jika langit Jakarta sedang kelabu, langit Bandung justeru sebaliknya. Banyak bintang bertaburan. Dan sepotong bulan sabit menggantung indah di angkasa.
Meisya menghampiri Yazi di kamarnya dan meminjam kunci motornya. Berniat keluar untuk sekedar mencari udara segar.
Dengan motor Vespa Yazi, Meisya pun mengelilingi kota Bandung dan akhirnya berhenti di sebuah taman. Taman yang menjadi saksi bisu bertemunya Al dan Icha untuk pertama kali.
Meisya menghampiri sebuah bangku, kemudian duduk disana. Besok, ia dan orang tuanya sudah akan pulang ke Jakarta. Sementara hubungannya dengan Regy belum menemukan titik terang.
"Teh Meisya yah?" Tanya seseorang, seraya mendekati Meisya.
Gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Etdah! Si Wulan! Dia seperti nyamuk. Berkeliaran dimana-mana.
Saat tahu tebakannya benar, Wulan tersenyum girang dan langsung duduk di samping Meisya.
"Teteh teh lagi ngapain sendirian disini?" Tanya Wulan, sok kenal.
Meisya tersenyum tipis. "Lagi ngadem. Kamu sendiri?"
"Aku lagi nungguin temen ini teh, tapi dia gak datang-datang. Meni kesel aku nyampe mau lumutan." Kata Wulan sambil manyun.
Meisya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Nih anak memang kocak dan selalu bisa membuatnya tertawa. Setelah tahu bahwa Wulan adalah adik tiri Regy, pandangannya langsung berubah. Yang tadinya tidak suka, kini justeru sebaliknya. Apalagi Wulan merupakan gadis yang lucu.
"Jadi kamu adik tiri Regy?" Tanya Meisya kemudian.
Wulan mengangguk. "Iyah, aku adek tiri Kak Egi. Papah aku nikah sama Mamah Kak Egi 2 tahun yang lalu."
Meisya manggut-manggut. "Kamu tahu nggak? Kakak sempet mikir kalau kamu pacarnya Regy." Ucap Gadis itu, blak-blakan.
Wulan auto tertawa mendengarnya. Ya kali dia pacaran dengan Si Regy Alvino yang suka kentut sembarangan itu.
Sementara Meisya dibuat heran.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Karena si Teteh lucu. Meskipun ini mah nya, aku teh nggak ditakdirkan jadi adek tiri dia, aku nggak akan mungkin suka sama si Raja kentut itu."
"Raja kentut?"
"Iyah! Dia kan suka kentut sembarangan. Mana hitutna bau, bebeledagan deui. (Meledak-ledak lagi)."
Meisya ngabrut mendengarnya. Dia baru tahu kalau Regy orang yang seperti itu. Tapi semua itu tidak menjadi masalah baginya. Karena kalau sudah cinta, aroma kentutnya pun akan tercium seperti aroma surgawi.
Wulan meneruskan. "Ya tapi meskipun dia Raja kentut, aku akuin, dia baik, Sholeh, pinter, jago main gitar, dan ganteng kaya si Angga Yunanda. Tapi cowok kaya gitu sama sekali bukan tipe aku."
"Kalau gitu tipe cowok kamu yang kaya gimana?"
Wulan tersenyum. Ia mendekat dan membisikkan sebuah kalimat di telinga Meisya. "Yang kaya adek sepupu Teteh."
Meisya melongo. "Maksud kamu Yazi?"
Wulan mengangguk dan tersenyum malu-malu bagong. Lalu ujung-ujungnya, Wulan malah curhat tentang perasaan cintanya terhadap Yazi. Secara tidak langsung meminta bantuan Meisya untuk menjadi mak comblangnya.
Tak lama kemudian, teman Wulan akhirnya datang.
Gadis itupun langsung pamit pada Meisya.
"Ulan pergi dulu ya Teh. Makasih udah mau dengerin curhatan Ulan." Ucap Wulan seraya bangkit.
Meisya tersenyum. Ia tidak menyangka akan langsung akrab dengan Wulan. "Nyantai geulis. Dan kamu nggak usah khawatir. Kakak akan berusaha bikin Yazi peka."
__ADS_1
Wulan girang bukan main. "Aaa.. Makasih Teteh. Udah cantik, baik lagih. Oiyah, Teteh juga nggak usah khawatir. Ulan juga akan berusaha deketin Kakak sama Kak Egi."
Mata Meisya langsung melotot. Wulan tahu darimana isi hatinya? Apa gadis itu punya indera keenam?
"Ngomong apa sih kamu." Sanggah Meisya, dan terlihat salah tingkah.
Tapi Wulan memang sudah bisa menebak perasaan Meisya. "Udahlah, jangan ada dusta diantara kita. Aku pergi dulu. Dadah."
***
Pagi-pagi, Raya dibangunkan oleh suara dering handphonenya yang berbunyi nyaring. Dengan nyawa yang baru terkumpul setengahnya, Raya menerima panggilan.
"Halo?"
'Raya ini Om Ravi. Om punya kabar gembira buat kamu.'
Begitu mendengar berita gembira yang dimaksud Om nya, Raya langsung terjaga dan bangkit dari tidurnya.
Selanjutnya Raya menuruni tangga rumahnya dengan tergesa-gesa. Saking penasarannya, dia sampai tidak mandi dan bergegas menemui Sang Om di tempat tugasnya.
Sang Mamah heran melihatnya. "Kamu mau kemana?"
Raya menjawab sambil mengenakan sweaternya yang berwarna lilac. "Raya ada urusan Mah."
Sesampainya di Rumah Sakit, Raya langsung menemui Sang Om, di ruangan beliau.
"Om serius? Udah ada pendonor buat temen Raya?"
Tanya Raya, begitu antusias. Bagaimanapun caranya, Divio harus bisa melihat lagi. Sekalipun Raya harus mengembalikan mata Divio, ia sama sekali tidak keberatan.
Dokter spesialis onkologi merangkap Om Raya tersebut, membenarkan. "Tadi malam, salah satu pasien Om mengaku bersedia mendonorkan matanya untuk teman kamu itu.
Penyakit Kankernya sudah masuk stadium akhir dan sudah tidak bisa diobati. Jadi dia ingin mendonorkan matanya untuk orang yang membutuhkan. "
Raya benar-benar senang mendengarnya. "Pertemukan kami sekarang juga Om. Raya nggak mau buang-buang waktu, dan pengen temen Raya segera melihat dunia lagi."
Om Ravi mengerti dan langsung mengajak Raya menuju ruangan tempat pasiennya berada.
***
Dengan mengendarai mobil Ayahnya, Keyla berniat pergi ke suatu tempat. Namun ia terpaksa menghentikan laju mobilnya ketika melihat Romeo yang sedang berdiri di samping motornya, di depan gerbang.
Melihat sosok Romeo, Keyla membuang wajah seraya menghela nafas kesal. Kini ia sudah muak sekaligus kapok menjadi fuc*kgirl, dan berniat tobat.
Keyla pun keluar dari mobilnya.
Romeo memasang senyum semanis mungkin. "Pagi Key."
Keyla tidak membalas sapaan Romeo. Justeru dengan dingin, ia berkata. "Rom, tolong banget. Jangan datang ke rumah gue lagi. Dan hapus kontak gue di handphone loe. "
Romeo bingung sekaligus sakit mendengarnya. "Loh emang kenapa?"
Keyla mencari alasan. "Karena gue udah punya cowok sekarang."
Jleb! Hati Romeo auto potek mendengarnya. Padahal ia berniat mengutarakan perasaannya terhadap Keyla hari ini.
Keyla pun pergi, setelah mencabik perasaan Romeo. Gadis itu baru sadar bahwa cara move on nya salah. Tidak seharunya ia mempermainkan perasaan para lelaki hanya demi membalaskan dendamnya pada seorang laki-laki.
***
Setelah memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket, Keyla segera turun. Ketika gadis itu hendak masuk, betapa ia tercengang saat melihat seseorang yang ia kenali.
Sementara seseorang itu merasa heran. Karena anak yang menuntun langkah kakinya mendadak berhenti di tempat.
"Tasya? Ada apa?" Tanya Divio.
Tasya sendiri terus memerhatikan Keyla yang tampak shock saat melihat keadaan Divio.
Antara terkejut dan heran, Divio mengangguk. Semua orang pasti akan bereaksi seperti itu jika melihat keadaannya yang sekarang. Shock dan tidak menyangka.
Keyla meneguk ludahnya susah payah. "Loe.. Loe nggak bisa ngelihat?"
Divio mengangguk pedih. Betapapun ia mencoba mengingat-ingat, ia tetap tidak mengenali pemilik suara tersebut. "Loe siapa?"
"Gue Keyla." Jawab Keyla dengan suara bergetar menahan tangis. Dia sungguh tidak menyangka Divio akan menjadi seperti ini.
Setelah sebelumnya mengantarkan Tasya pulang ke panti, Keyla dan Divio akhirnya pergi ke sebuah danau dan duduk berdampingan di sebuah bangku.
"Gimana ceritanya loe bisa kaya gini?" Tanya Keyla, prihatin.
Alih-alih berterus terang, Divio justeru berdusta. "Gue kecelakaan Key."
Dan Keyla percaya begitu saja. "Yang sabar yah."
Divio tersenyum kecut. Sabar sudah menjadi sahabat baiknya selama ini. Saat bersama Keyla, Divio tiba-tiba teringat akan sosok Abi. Abi yang bahkan tidak ia ketahui masih hidup atau tidak.
"Oiyah. Loe udah dapat kabar dari Abi?"
Keyla mengerutkan keningnya. "Kabar?"
"Iyah. Dia udah sembuh kan? Gue lost kontak sama dia." Tutur Divio. Membuat Keyla semakin tidak mengerti.
"Tunggu! Tunggu! Maksud loe apa sih? Sembuh? Emang Abi kenapa?"
Divio menghela nafas panjang. Rupanya sampai detik ini Keyla masih belum tahu tentang penyakit Abi. Membuat Divio salut dengan Abi yang berhasil menyembunyikan penyakitnya dengan baik.
Namun tentu saja Divio tidak akan bungkam. Dari dulu ia sudah berniat memberi tahu Keyla tentang penyakit Abi.
"Gini ya Key. 3 tahun yang lalu, Abi bilang sama loe mau pergi kemana?"
"Ke luar kota. Katanya Ayahnya di pindah tugaskan."
"Faktanya mereka pergi ke Singapore buat menjalani pengobatan Abi."
"Emang Abi kenapa?"
"Dia sakit meningitis alias radang selaput otak."
Demi apapun Keyla shock mendengarnya. Bahkan sesaat kemudian, cairan hangat seketika menggenang di sudut matanya.
"Loe serius Div?"
"Buat apa gue bohong Key? Gak ada gunanya.
Dan asal loe tahu, Abi sama Nilam tuh nggak bener-bener pacaran. Dia cuma pura-pura."
"Pura-pura?"
Divio membenarkan. Sebenarnya, Abi tahu jika Keyla menyukainya. Dan karena Abi pun menyukai Keyla, Abi sudah berniat menembak Keyla tepat di hari ulang tahunnya.
"Sayangnya, sehari sebelum ulang tahun loe, Abi menerima kenyataan pahit itu dan akhirnya membatalkan niatnya. Karena dia yakin gara-gara penyakit itu, hidupnya gak bakal lama lagi."
Hancur. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Keyla saat ini. Perlahan, ia pun memutar kembali kenangan-kenangan tentang Abi yang terjadi 3 tahun silam.
(Flashback)
Saat Keyla mendapati Abi yang sedang muntah-muntah di depan rumahnya.
"Abi loe kenapa?"
__ADS_1
"Kayanya gue masuk angin. Semalam gue abis jalan sama Nilam dan pulang jam 12."
Saat kakinya patah akibat jatuh dari tangga, dan Abi menjenguknya.
"Loe tahu gak? Ada orang yang lebih gak punya hati dibanding orang tua gue. Loe tahu siapa orangnya?"
Abi terdiam. Setelah itu ia tiba-tiba terlihat mual dan langsung pamit.
Saat mereka duduk bersama di taman belakang rumah Keyla.
"Loe sakit yah?"
"Nggak."
"Tapi kok muka loe pucet? Tangan loe juga dingin."
"Gue gak papa Key."
Saat Abi tiba-tiba berhenti menyuapinya dan mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Aduh.. Aduduh"
"Abi loe Kenapa?"
"Kepala gue. Kepala gue pusing banget Key."
"Yaudah kita ke rumah sakit yah?"
Abi menggeleng dan terlihat menangis.
Dan terakhir, saat ia menemui Abi di Rumah Sakit.
"Abi loe sakit apa?"
"Sakit biasa."
"Sakit biasa apa? Semua penyakit kan ada namanya."
"Tyhphus."
Keyla tak dapat membendung airmatanya lagi. Ia menangis saat teringat semua itu. Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir.
"Kenapa Abi merahasiakan penyakitnya dari gue?" Tanyanya sambil terisak.
Divio melunak. "Karena dia nggak mau bikin loe sedih. Yang ada di pikirannya cuma satu. Gimanapun caranya, dia harus bisa bikin loe benci, biar loe bisa ngelupain dia dengan mudah ketika dia meninggal."
"Dan caranya adalah dengan pura-pura pacaran sama si Nilam?"
Divio mengangguk.
Keyla tersenyum miris. Tak menyangka Abi sepengecut dan seegois itu.
"Penyakit itu bener-bener bikin Abi pesimis Key. Dia selalu ngerasa mustahil buat sembuh. Apalagi meningitis tergolong penyakit serius. Makanya dia berusaha mati-matian bikin loe benci sama dia."
Keyla speechless. Ia hanya bisa menangis mendengarnya.
"Tapi loe harus tahu Key. Kalau semua itu Abi lakuin demi kebaikan loe juga?"
"Kebaikan apanya?! Selama ini dia udah bohongin gue. Gak cuma bohongin gue, dia juga nyakitin gue seenaknya! Anjing banget tuh orang." Keyla meledak-ledak. Dia benar-benar tidak menyangka Abi tega membohonginya selama ini.
Divio memegang pundak Keyla. "Gue ngerti loe sakit hati. Tapi coba deh, bayangin kalau loe yang ada di posisi dia. Apa loe bakal ngasih tahu Abi kalau loe punya penyakit?"
Keyla termenung mendengar pertanyaan Divio.
"Nggak kan? Dan satu hal lagi yang harus loe tahu. Abi udah lama banget suka sama loe. Kalau dihitung sampai sekarang, mungkin udah sekitar 8 tahun."
Keyla terperangah. Divio benar-benar memberitahunya banyak hal hari ini.
"Selama itu?"
"Iyah. Begonya selama itu dia gak pernah berani ngungkapin perasaannya karena berbagai alasan.
Takut di tolak lah, takut kalau kalian jadian suatu hari bakal putus lah, takut kalau kalian pacaran, pelajaran loe bakal keganggu lah. Tapi gue selalu berusaha meyakinkan dia, kalau semua itu nggak akan terjadi.
Sayangnya, sekalinya dia ngambil keberanian, Tuhan malah ngasih dia penyakit." Tutur Divio, kemudian tersenyum pahit mengingat nasib Abi.
"Kadang gue bener-bener kasihan sama dia."
Keyla menggigit bibir bawahnya, menahan rasa pedih yang menyeruak di dada.
"Loe gak tahu? Udah bertahun-tahun gue naksir sama seorang cewek."
"Loe serius? Terus kenapa loe gak ngungkapin perasaan loe sama dia?"
"Karena gue gak berani. Gue takut dia nolak, dan akan berimbas sama pertemanan yang udah kita bangun selama bertahun-tahun. Karena itu gue memilih diam dan memendam perasaan gue, demi kebaikan."
"Oh jadi cewek itu temen loe? Terus dia gak sadar kalau dia suka sama loe?"
"Nggak. Karena dia cewek paling bego dan paling gak peka sealam dunia."
"Siapa sih dia? Apa gue kenal?
Kalaupun gak kenal, gue siap jadi Mak comblang kalian. Asal loe kasih tahu gue siapa cewek itu."
"Loe pengen tahu?"
"Banget."
Tanpa diduga Aby menarik Keyla hingga jarak keduanya begitu dekat.
"Loe.. Cewek itu adalah loe.. Keyla Maheswari."
Mengingat semua itu, tangis Keyla langsung pecah.
Demi Tuhan, semua ini benar-benar menyesakkan.
"Key, kalau boleh gue ngasih saran, ketika suatu hari loe ketemu lagi sama Abi, baik-baiklah sama dia. Karena gue yakin, cowok kaya Abi gak akan pernah loe temui lagi di dunia ini." Divio memberi nasihat.
Seperti kata Anak-anak panti, WE LOVE YOU DIVIO!
***
Meisya tiba di taman tempat janjiannya dengan Wulan. Ia mengeluarkan handphonenya dan langsung menelfon Gadis itu. Memberitahunya bahwa Meisya sudah datang di taman tersebut.
Wulan mengerti dan berkata akan tiba disana dalam waktu 5 menit. Meisya pun duduk di sebuah bangku sambil menunggu kedatangan Wulan.
Nyatanya, Wulan baru datang 10 menit kemudian.
Meisya yang saat itu tengah membenarkan tali sepatunya, berkata tanpa menatap seseorang yang duduk di sampingnya.
"Lama banget Lan. Teteh nyampe lumutan tahu."
Tidak ada respon.
"Oiyah, tadi pas kamu berangkat, Regy lagi ngapain? Pasti si Raja kentut itu masih tidur yah?"
"Sok tahu!"
Meisya tersentak saat mendengar suara berat yang menimpali ucapannya. Sudah jelas itu bukan suara Wulan.
__ADS_1
-Bersambung-