
Aby langsung tersedak ketika tahu Keyla pulang bersama kakak kelasnya yang ternyata seorang laki-laki.
Keyla yang khawatir langsung mengambil tissue di atas meja dan memberikannya pada Aby. "Loe gak papa?"
"Gue gak papa." Aby mengelap mulutnya, lalu meletakkan jus yang di pegangnya.
"Makanya sebelum minum baca doa dulu." Sungut Keyla.
Aby tak menjawab dan malah tampak memikirkan sesuatu, entah apa.
"Oiyah Bi.. Hari ini gue lagi bahagiaaaa banget."
Aby berdehem menghilangkan dahak yang nyangkut di tenggorokannya. "Bahagia kenapa?"
"Tadi pagi gue dideketin sama-" dering handphone Keyla berbunyi, memotong ucapannya. Telfon dari Mbok Sumi, pembantunya.
"Halo Mbok?"
'Ada tamu Non.'
"Tamu siapa?"
'Den Fathan.'
Keyla terkejut dan refleks bangkit dari duduknya. Fathan? Mau apa dia ke rumahnya?
Keyla pun langsung pamit pada Aby yang bertanya-tanya.
"Ada apa?"
"Ada Fathan di rumah. Gue nemuin dia dulu yah? Bye!"
Tiba di rumahnya, Keyla mendapati Fathan yang sedang duduk di teras. Fathan pun bangkit begitu melihat sosok Keyla yang ia nantikan.
"Key.."
"Mau apa loe kesini?" Keyla berhenti dan berdiri di hadapan Fathan.
Secara mengejutkan, Fathan duduk bersimpuh didepan Keyla. Membuat Gadis itu membuang muka dan tersenyum sinis. Drama apalagi ini?
"Plis, maafin aku Key..
Ternyata selama ini aku salah. Sonia bukanlah cewek baik-baik. Dan sekarang aku nyesel udah mutusin cewek sebaik kamu. Aku mohon..
Terima aku lagi Key." Fathan to the poin, menyampaikan tujuannya datang kesana.
Sungguh Keyla tidak mengerti dengan jalan pikiran Fathan. Bagaimana bisa ia berubah haluan secepat itu?
Beberapa waktu lalu, dia menjadi pacarnya dan selalu meratukannya.
Kemudian dia tergoda oleh Sonia dan berkata tidak bisa hidup tanpa perempuan itu. Lantas kenapa sekarang, dengan mudahnya ia mengatakan ingin kembali padanya? Apa urat malu Fathan sudah putus?
"Gimana Key? Kamu mau kan?" Fathan meminta kepastian. Berharap Keyla akan mengatakan Iyah saat itu juga.
Namun harapan tinggal harapan. Keyla menyuruhnya bangkit. Gadis itu maju satu langkah lalu berbisik pelan di telinga Fathan.
"Jangan ngimpi!"
Fathan mematung. Keyla melanjutkan ucapannya sambil menatap kedua mata Fathan dengan tajam. "Beberapa waktu lalu, gue emang gak bisa move on dari loe. Tapi sekarang gue sadar.
Gak ada gunanya ngarepin cowok plin-plan dan red flag kaya loe. Gue terlalu berharga buat loe."
Keyla langsung pergi sambil mendorong bahu Fathan dengan badannya.
Fathan termenung dan seolah menyesali perbuatannya yang telah menyia-nyiakan seorang Keyla Maheswari. Ternyata benar kata Aby, Keyla seribu kali lebih baik dari Sonia.
Dari celah pagar yang membatasi rumahnya dengan rumah Keyla, Aby tak luput menyaksikan semua itu.
--
Malamnya, gantian Aby yang mengunjungi rumah Keyla. Setelah dipersilahkan Mbok Sumi masuk, Aby segera pergi ke lantai atas, menuju kamar Keyla.
Tok.. Tok..
"Siapa?"
"Gue! Kembarannya Zayn Malik."
"Haha Zayn Malik kecebur got! Masuk aja Bi, gak dikunci kok."
Begitu masuk, Aby melihat Keyla yang sedang bermake-up ria di meja riasnya. Penampilannya pun sudah sangat cantik sekali.
Aby heran. "Mau kemana loe?"
"Ngedate dong." Jawab Keyla songong, seraya menyemprotkan parfum aroma vanilla ke lehernya.
Mata Aby membelalak. "Sama si Fathan?"
"Bukanlah! Gila aja gue ngedate sama dia."
"Terus?"
__ADS_1
Keyla tersenyum dan mengajak Aby duduk di tepi ranjang. Bercerita tanpa melepas senyum di bibirnya. "Gue mau ngedate sama kakak kelas yang tadi siang nganterin gue pulang.
Loe tahu gak? Dia ganteng banget anjir. Udah gitu kapten tim basket pula. Kadang gue masih gak nyangka bisa dideketin cowok populer kaya dia."
Aby manggut-manggut. Matanya menunduk, menatap bed cover yang didudukinya. "Owh gitu."
"Iyah.. Makanya sekarang ini hati gue lagi berbunga-bunga."
Aby mengerti. "Terus loe berencana move on dari si Fathan ke dia?"
"Mmm.. maybe? Sekarang kan kita lagi PDKT, kalau misalkan gue nyaman dan klop sama dia. Maka gak menutup kemungkinan gue bakal move on ke dia."
Pembicaraan mereka stuck sampai disana, karena Aby tidak berkata apa-apa lagi. Selanjutnya handphone Keyla bergetar, pertanda masuknya sebuah notifikasi.
WhatsApp from Kak Hugo: Key, Kakak udah di depan rumah kamu.
Keyla tersenyum girang dan langsung bangkit. Ia menatap Aby yang termenung, lalu bertanya. "Loe masih mau disini? Gue mau pergi sekarang."
"Gue masih pengen disini."
"Ngapain?"
"Ngapain kek. Udah sono pergi! Cowok itu lagi nungguin loe."
Keyla mengerti. Setelah menenteng tas merk Gucci pemberian Ayahnya bulan lalu,
Ia pergi dengan bersemangat sambil membayangkan kegantengan Hugo yang akan segera ia lihat. Seperti kata Aby, semoga ia bisa move on pada pemuda yang tampangnya mirip Fero Walandau tersebut.
"Key.." tiba-tiba Aby memanggilnya.
Keyla berhenti di ambang pintu kamar. "Hmm?"
Aby memasang senyum. "Have fun (selamat bersenang-senang) yah."
Keyla tersenyum dan mengangguk. Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Aby menghela nafas berat.
**
Dalam seminggu, Meisya hanya menyanyi 3 kali di kafe. Dan malam ini ia sedang free. Ia pun berencana menghabiskan waktu dengan menonton Netflix sambil makan nasi goreng favoritnya.
Di tukang nasi goreng langganannya, ia melihat seseorang yang tidak asing dan segera mendekatinya.
"Divio?"
Orang itu menoleh. Benar, dia Divio.
Merekapun duduk bersama sambil menunggu pesanan masing-masing.
Meisya membuka suara. "Loe pasti benci sama Raya karena dia udah nampar loe.
Tapi gue rasa, sebagian besar itu salah loe juga.
Udah tahu Raya orangnya sentimen, loe malah mancing dia."
Divio hanya diam. Ia pikir ucapannya bisa menyadarkan Raya. Nyatanya ia malah mendapat gamparan yang sakitnya masih terasa sampai sekarang.
Meisya penasaran. "Tapi ngomong-ngomong, loe tahu darimana kalau cowoknya Raya baru meninggal?"
Divio akhirnya menjawab. "Sebelumnya, gue mergokin dia yang tidur sambil nangis dan ngigauin seseorang. Dan siangnya, setelah tanpa sengaja gue ngelihat dia di TPU, gue baru tahu kalau seseorang yang dia maksud adalah cowoknya yang udah meninggal."
Meisya manggut-manggut. Begitu rupanya.
Divio menatap Meisya yang malam itu menggunakan t-shirt putih dibalut jaket jeans berwarna navy. "Asal loe tahu Mei.. Gue ngomong kaya gitu sama Raya, bukan tanpa alasan. Gue cuma gak mau Raya bernasib sama kaya Kakak gue."
"Emang kenapa sama Kakak loe?"
Sejenak Divio menghela nafas, lalu pikirannya melayang, menuju masa lalu. "Kejadiannya 2 tahun yang lalu..
Gue punya Kakak cewek dan dia punya cowok.
Suatu hari, cowoknya meninggal gara-gara penyakit kanker. Dan setelah cowoknya meninggal, kakak gue seakan gak punya lagi semangat buat nerusin hidupnya.
Dia gak mau makan, gak mau minum, dan selalu mengurung diri di kamar.
Sampai akhirnya, 3 hari kemudian, nyokap gue mendapati dia yang tewas ngegantung di kamarnya."
Meisya ternganga. "Inalillahi.. Kakak loe bunuh diri?"
Divio mengangguk pedih. Masih segar dalam ingatannya ketika ia melihat sosok Devi yang tewas menggantung dengan keadaan mengenaskan. Matanya melotot, lidahnya menjulur, aroma busuk tersebar ke seluruh penjuru kamar.
Meisya memegang pundaknya. "Gue turut berdukacita yah."
Divio mengangguk. Kenudian menatap Meisya dengan tatapan penuh permohonan. "Sebagai seorang temen, loe harus bantuin Raya lupain cowoknya Mei..
Karena gue gak pengen apa yang kakak gue alamin, terjadi juga sama orang lain."
Meisya mengangguk dan meminta Divio untuk tidak khawatir. "Loe tenang aja. Gimanapun caranya, gue bakal bikin Raya move on dari Randy ."
**
Keesokan paginya.
__ADS_1
Begitu Keyla muncul dari dalam rumahnya, Raya langsung melempar kunci mobilnya ke arah gadis itu. Keyla menangkapnya dengan sigap.
"Loe yang nyetir."
Sepanjang perjalanan. Raya sibuk bermain game dihandphonenya. Sementara Meisya sibuk ngemil, tanpa mempedulikan berat badannya yang sudah nyaris mencapai 55 kilo. Untung dia tinggi. Kalau tidak dia pasti akan terlihat seperti buntelan karung.
"Eh kutil.." Meisya teringat sesuatu.
Keyla yang sedang fokus menyetir, menyahut. "Hmm."
"Gimana semalem?"
"Apanya?"
"Loe sama Kak Hugo. Kalian jadi nonton?"
Keyla hanya mengangguk dengan ekspresi datar.
Meisyka kepo. "Gimana dia orangnya?"
"Baik, sopan, gak neko-neko.. Good boy sih intinya."
"Berarti tinggal nunggu waktu aja buat loe move on sama dia."
Keyla menghela nafas dan seperti sedang mempunyai beban di pikirannya. "Asal kalian tahu.. Semalem dia langsung nembak gue."
"What?" Meisya shock.
Raya tak kalah. "Serius loe?"
Keyla mengangguk, membenarkan. Setelah nonton film, Hugo mengajaknya makan malam di sebuah restoran, dan menyatakan cintanya disana. Hugo bilang, sudah lama ia menyukai Keyla, namun baru berani mendekatinya sekarang. Dan tentang benar atau tidaknya hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Terus loe terima?" Tanya Meisya, kepo setengah mampus.
"Ya nggak lah.. Emangnya gue cewek gampangan. Meskipun gue udah mulai buka hati buat dia, tapi gak segampang itu juga bagi gue nerima perasaan dia..
Cinta kan butuh proses.. Iya kan?"
Meisya mengangguk setuju. Tumben Keyla bijak.
Sementara Raya memberi nasihat. "Hati-hati Key, biasanya yang sat set gitu justru ada yang gak beres."
"Loe bener Ray.. Dan entah Kenapa, meskipun dia baik. Gue belum punya feeling sama dia."
"Key mendingan loe move on sama Aby." Celetuk Meisya, tanpa tedeng aling-aling.
Keyla langsung menatapnya melalui spion. "Apaan sih loe! Gue sama Aby tuh just friend. Gak kurang, gak lebih."
"Masaaaaa.."
"Yes."
--
Karena Keyla pergi ke toilet, dan Meisya pergi entah kemana, akhirnya Raya pergi sendiri menuju kelasnya.
Tapi saat ia tiba di depan kelas, dan sudah hampir masuk, niatnya urung ketika mendengar alunan lagu yang diputar seseorang di handphonenya.
Lagu Surat cinta untuk Starla by Virgoun, mendadak membuat hati Raya kembali melow saat teringat kenangannya bersama Randy tentang lagu tersebut.
Beberapa waktu lalu, Randy pernah menyanyikan lagu itu diiringi gitar, spesial untuk Raya.
"Gimana? Suara aku jelek kan?" Tanya Randy, begitu lagunya berakhir.
Raya tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya. "Bagus banget! Liriknya juga sweet, aku jadi baper."
Randy tertawa sambil mengacak sayang rambut Raya.
"Dan mungkin nanti, setiap kali aku denger lagu ini, aku bakal ingat terus sama kamu."
Randy berkata sombong. "Ya iyalah.. Kan selain suara dan lagunya yang bagus, yang nyanyiinnya juga ganteng. Iya kan?"
"Ih pede."
Randy tersenyum dan langsung menarik Raya ke dalam pelukannya.
Mengingat semua itu, airmata Raya kembali menganak sungai. Tuhan.. Adakah cara untuk menghapus semua rasa sakit ini? Rasanya Raya sudah tidak sanggup lagi.
'Haruskah gue nyusul Randy biar gue bisa ketemu sama dia?' batin Raya. Pikirannya mulai nekat.
Tiba-tiba seseorang berdiri disampingnya, seraya mengulurkan sapu tangan berwarna biru. Raya seketika menatap orang itu.
Sudah jelas, Divio orangnya.
2 menit sebelumnya, Divio yang juga baru datang dan hendak masuk, dibuat heran oleh Raya yang berdiri mematung di depan pintu kelas.
Bahkan sejurus kemudian, Divio dengan jelas menyaksikan Raya yang menyeka airmatanya.
Membuat pemuda itu menghela nafas panjang sekaligus turut prihatin.
Dan saat ini, melihat Raya yang tak kunjung mengambil sapu tangannya, membuat Divio akhirnya mengambil tangan Raya dan meletakkan sapu tangan itu di genggamannya.
__ADS_1
Setelah itu ia berlalu ke dalam kelas, tanpa berkata apa-apa.
-Bersambung-