TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Mujhe Dosti Karoge


__ADS_3

"Abi, loe kenapa?" Tanya Keyla dengan penuh kekhawatiran, sambil memukul-mukul punggung Aby.


Meski pemuda itu telah menghancurkan perasaannya dengan telak, namun Keyla tidak bisa untuk tidak peduli padanya.


Terbatuk-batuk, Aby menjawab. "Kayanya gue masuk angin. Semalam gue abis jalan sama Nilam, dan pulang jam 12."


Jleb! Luka baru kembali ditorehkan Aby di hati Keyla. Perlahan, Gadis itu menarik tangannya dan merasa sangat menyesal telah mengasihani Aby.


Keyla bangkit dari posisinya. Aby ikut-ikutan. Setelah mengeluarkan botol minum dari dalam tas, lalu meneguknya, pemuda itu berkata.


"Oiyah, gue sama Nilam udah jadian Key." Dusta Aby. Ia sungguh-sungguh berniat membuat Keyla membencinya. Dengan begitu, saat ia pergi. Gadis itu tidak akan terpuruk.


Tapi saat ini pun gadis itu sudah terpuruk. Dan Aby sadar akan hal itu. Ia seolah tidak punya pilihan. Maju atau mundur, semuanya tetap menyakiti Keyla.


"Oiyah? Selamat kalau gitu." Ucap Keyla dengan wajah dingin. Namun hati kecilnya menangis.


Aby memasang senyum palsu. "Thanks. Ntar gue kasih PJ (Pajak Jadian) deh."


"Gak usah."


"Kenapa?"


"Gak papa. Gue gak mau aja."


"Owh yaudah."


"Yaudah loe pergi sana. Jemput cewek loe. Gak perhatian banget loe jadi cowok." Ucap Keyla, sinis.


Aby tertegun. Ucapan Keyla hampir mirip dengan kata-kata yang pernah ia ucapkan, beberapa waktu lalu.


"Yaudah gue minta maaf! Sekarang obatin sana muka pacar loe!"


"Maksud loe apa?"


"Loe bilang muka si Fathan bonyok! Sana obatin! Gak perhatian banget loe jadi cewek."


Aby menghela nafas panjang. Jika dipikirkan lagi, Keyla tidak pernah gagal mengembalikan kata-kata yang pernah ia ucapkan. Dan semua itu seperti boomerang untuk Aby.


Beberapa saat kemudian, mobil Raya akhirnya muncul. Tanpa banyak bicara, Keyla segera masuk dan meninggalkan Aby yang mendapat tatapan sinis dari Raya dan Meisya.


***


Begitu Divio tiba di kelas, Raya langsung bangkit dari duduknya, dan menginterogasi Sang Bebeb tanpa basa-basi.


"Gimana? Loe udah nyari tahu semuanya?"


Divio menatap Raya. Teringat kejadian semalam. Saat Aby memintanya bersumpah untuk tidak memberi tahu siapapun tentang penyakitnya, terutama pada Keyla dan kedua sahabatnya.


Akhirnya Divio berbohong. "Ternyata Aby emang suka sama cewek itu. Dan selama ini, dia cuma nganggap Keyla sebagai temennya. Nggak lebih."


Raya tersenyum sinis. "Bohong! Loe pikir gue bakal percaya?" Perasaannya kesal. Karena ternyata Divio tidak bisa diajak kerja sama.


Divio sendiri terus meyakinkan Raya. "Gue serius Ray. Jadi mending loe berhenti ikut campur urusan mereka, dan suruh Keyla lupain Aby."


"DIVIO BENER!"


Raya dan Divio terkejut mendengar suara Keyla, dan sontak menatap ke arah pintu. Terlihat Keyla yang sedang berdiri di luar kelas. Ia tiba beberapa detik yang lalu, dan tanpa sengaja mendengar ucapan Divio yang terakhir.


Kemudian Keyla berjalan mendekati kedua sejoli tersebut. Ia menatap kedua mata Raya sendu.


"Jangan buang waktu loe cuma buat hal yang gak berguna Ray."


"Loe percaya sama Divio? Dia bohong Key!"


"Kalaupun gue gak percaya? Apa bakal ada yang berubah? Nggak ada Ray! Jadi stop ngurusin hubungan gue sama Aby, karena gue pun udah gak peduli lagi sekarang."


Keyla duduk di bangkunya, dan langsung tiduran.


Ia benar-benar sudah muak dengan semua ini.


Sementara itu, saat Regy sedang berjalan menuju kelasnya, seseorang tiba-tiba memegang bahunya. Otomatis cowok itu berbalik, dan menatap pemilik tangan tersebut. Rupanya..


"Rangga? Loe udah balik?" Tanya Regy. Jujur, ia tidak senang melihat sahabatnya itu. Karena dengan kembalinya Rangga, ia tidak bisa dengan bebas mendekati Meisya lagi.


Rangga sendiri tersenyum. "Iyah Gi. Gue udah balik kemaren."


Merekapun berjalan bersama menuju kelas.


"Gimana keadaan Nenek loe?"


Rangga menunduk dan berkata pahit. "Masih sama. Malah makin kesini, keadaannya semakin memburuk."


"Sakit apa sih kalau gue boleh tahu?"


"Stroke."


Regy langsung merangkul bahu Rangga. Ia merasa iba. Karena bagaimanapun Rangga tetaplah sahabatnya.


Disaat yang sama, tampaklah Meisya yang sedang berjalan ke arah mereka. Saat melihat Rangga, Meisya mematung.


Tiba-tiba Gadis itu teringat akan kata-kata kejam yang ia lontarkan pada Rangga beberapa waktu lalu.


"Kamu bener! Semua yang kamu omongin gak ada yang salah. Dan kalau kamu pikir ngelupain seseorang itu gampang, maka cobalah lupain Kakak, yang sampai kapanpun gak akan pernah bisa suka sama kamu!"


Glek! Meisya menelan ludah. Bingung, harus bagaimana ia bersikap pada Pemuda itu.


Rangga sendiri berjalan mendekati Meisya beberapa langkah. Sementara Regy diam di tempat dan memperhatikan mereka berdua.


"Ra.. Rangga. Kamu udah pulang dari Jogja?" Meisya membuka suara.


"Iyah. Kenapa? Kakak kangen sama aku?" Ucap Rangga dengan begitu percaya diri.


Meisya tersenyum ilfeel. Hah. Kangen? Mana ada! Meisya justeru bahagia jika Rangga tidak muncul lagi dihadapannya, selama hidupnya. Terdengar jahat, tapi memang se-ilfeel itu Meisya pada Rangga.


"Ngomong-ngomong, Kakak nggak mau minta maaf sama aku?" Rangga bertanya dengan tatapan yang menusuk.


"Minta maaf buat apa?"


"Buat kata-kata menyakitkan yang Kakak lontarkan waktu terakhir kita ketemu. Asal Kakak tahu, sakitnya masih kerasa loh sampai sekarang. " Kata Rangga, sinis. Merasa dirinya paling tersakiti.


Meisya menghela nafas panjang. Lihat kan? Bagaimana mungkin ia bisa menyukai Rangga jika sifatnya saja seperti itu.


Tapi Meisya malas berdebat dan akhirnya meminta maaf. "Yaudah kalau gitu, Kakak minta maaf YANG SEBESAR-BESARNYA sama kamu."


Rangga tersenyum menang. "Kalau gitu, Kakak harus mau jalan sama aku nanti malam."


Meisya terdiam. Ia ingat, semalam sudah berjanji pada Regy untuk mengajarinya matematika nanti malam.


Meisya pun menatap Regy yang juga sedang menatap ke arahnya. Jika disuruh memilih, tentu saja ia akan memilih mengajari Regy. Namun untuk menolak Rangga pun ia merasa tidak tega.


"Gimana? Kakak mau nggak?" Rangga meminta kepastian.


Dan akhirnya Meisya menjawab. "Maaf Ga. Kakak nggak bisa. Kakak ada jadwal nyanyi di kafe nanti malam." Tapi bo'ong yhaaa..


Rangga membeku dan tampak kecewa. Tapi Meisya seolah tidak peduli dan langsung melanjutkan langkahnya.


Saat berpapasan dengan Regy, Meisya meliriknya dan tersenyum tipis. Regy membalas tatapan Meisya dan tanpa diduga mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Wadaw.. Regy mulai nackal.


***


Begitu bel istirahat berbunyi, Keyla langsung bangkit dari duduknya.


"Loe mau kemana?" Tanya Meisya yang selalu siaga. Takut Keyla tidak bisa berpikir jernih dan bertindak aneh-aneh.


"Toilet." Jawab Keyla singkat dan segera pergi. Meisya buru-buru mengikutinya. Kemanapun si kutil pergi, ia berjanji untuk selalu mengikutinya.

__ADS_1


Raya juga bangkit dan berniat pergi. Melihat itu, Divio segera meraih tangan Bebeb-nya.


"Loe mau kemana?"


"Bukan urusan loe." Jawab Raya, ketus.


"Loe masih marah sama gue? " Divio memasang wajah melas.


Tapi Raya tidak kasihan. "Loe pikir aja sendiri!"


Fiuhhh. Divio menghela nafas panjang. Satu sisi ia merasa sedih karena sikap Raya. Namun disisi lain, ia merasa salut pada Sang Bebeb yang sangat solid dan berpihak pada sahabatnya habis-habisan.


***


Setelah menyelesaikan urusannya, Divio keluar dari toilet. Namun entah saking apanya, saat pintu ia tarik, keningnya membentur pintu dengan keras dan membuat cowok itu meringis seketika.


Divio memegangi keningnya yang langsung memerah. "Ssshh.. Tolol banget si loe Div!"


PLAK! Ia memukul pintu tersebut. "Sialan lu!"


Tiba di depan kelas, ia mendapati Raya yang sedang berdiri di samping pintu. Entah sedang apa dia. Menunggu kedatangannya, mungkin?


Melihat kening Divio yang merah, Raya langsung terlihat cemas sekaligus penasaran. Namun ia terlalu gengsi untuk bertanya.


Divio sendiri menyadari arti tatapan Raya. Ia menunjuk keningnya. "Ini? Tadi gue dicium pintu."


"Gak nanya gue." Ucap Raya, datar.


Divio langsung menunduk. Kadang hati Raya memang sekeras batu!


"Siapa suruh nunduk?"


Divio buru-buru menegakkan kepalanya.


"Ikut gue!"


"Baik Madam."


"Jangan ngelawak!"


"Baik."


Raya berbalik dan langsung pergi. Divio mengikutinya sambil bergumam. "Galak bener cewek gue."


Di tempat favorit mereka, yakni rooftop sekolah, Raya mengompres luka Divio dengan menggunakan es batu yang dibalut sapu tangan milik Meisya. Sebelumnya mereka pergi menemui Meisya dan meminjam sapu tangannya, lalu meminta es batu ke salah satu pedagang minuman di kantin.


Divio tak henti tersenyum sambil menatap Raya yang sedang mengobatinya. Bahkan saat sedang marah pun, Sang Bebeb masih perhatian. Jadi makin sayang. Hihi.


Raya menyadari hal itu dan langsung berhenti. "Ngapain loe lihatin gue sambil senyum-senyum gitu? Emang ada yang lucu?"


"Iyah, loe lucu kaya badut Ancol. Jadi pengen gue cium."


"Ha-ha-ha." Raya tertawa maksa.


"Udahan dong beb ngambeknya. Lagian kalau loe ngambek terus nanti cepet tua loh, kaya Nini Pelet."


"Gak Lu-Cu!"


Divio menghela nafas panjang. Ini tidak bisa dibiarkan pemirsa! Ia harus melakukan sesuatu untuk meluluhkan hati Raya.


Divio bangkit, lalu tanpa diduga berlutut di hadapan Raya. Sang Bebeb auto shock.


"Heh! Loe ngapain?"


"Kelihatannya?"


"Bangun gak?" Mata Raya melotot dan nyaris keluar.


"Asal loe janji, jangan ngambek lagi."


"Apa? Bikin Aby sama cewek barunya putus?"


"Bukan! Ini bukan tentang Keyla sama Aby. Ini tentang kita berdua."


"Oke. Terus apa syaratnya?"


".........."


"Cuma gitu doang? Enteng."


"Dih, songong."


Divio bangkit dari posisinya. Menarik nafas dalam-dalam, lalu berteriak. "HEI EVERYBODY!


GUE, DIVIO MAHENDRA, BERSUMPAH AKAN SELALU MENCINTAI RAYA MONICA SAMPAI GUE MATI."


Raya merinding dibuatnya. Ia pikir Divio tidak akan mau menuruti perkataannya. Rupanya ia salah. Selanjutnya ia tersenyum sambil mengacungkan jempol. "Good Job!"


Tanpa ancang-ancang, Divio mendaratkan bibirnya di pipi Raya. Cup!


Disaat yang sama, Levin muncul dari atap sekolah yang bersebrangan. Ia tampak shock sekaligus murka melihat pemandangan yang sedang disaksikan oleh kedua matanya.


Setelah melancarkan aksinya, Divio tersenyum sambil memeletkan lidahnya, mengolok Raya.


Gadis itu sewot dan langsung memukul Divio. "Genit ih!"


"Bodo! Cewek gue sendiri kok."


Tangan Levin mengepal. "Anj*ng loe Divio! Berani banget loe nyium Raya! Lihat aja, bentar lagi gue bakal bikin loe kapok!"


Selang beberapa menit, Raya mendapat pesan WhatsApp dari Meisya. Pesan yang membuat Raya shock dan refleks bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" Divio kepo.


"Keyla jatoh dari tangga Div. "


***


"Besok loe jangan sekolah dulu." Ucap Meisya, yang sore itu tengah menemani Keyla di kamarnya, bersama Raya.


Keyla mengangguk pelan sambil menatap kakinya yang terbalut perban. Akibat insiden itu, ankle nya patah dan membuat Keyla tidak bisa berjalan.


"Gimana ceritanya loe bisa jatoh dari tangga? Loe lagi overthinking?" Giliran Raya yang bersuara.


Baru saja Keyla hendak menjawab, tiba-tiba Mbok Sumi datang, mengabarkan kedatangan seseorang.


"Non, ada Den Aby."


Mata Keyla sontak membulat. Lain halnya dengan Meisya dan Raya yang tampak gusar.


"Mau ngapain sih dia kesini?" Sungut Raya.


"Tahu! Belum puas apa dia nyakitin Keyla? Heran gue!" Tambah Meisya. Bukan tanpa alasan, mereka berkata seperti itu semata-mata karena sayang pada Keyla, dan tidak ingin dilukai lagi oleh Aby.


Tapi memang dasarnya Keyla kalau sudah bucin susah di nasihati, ia tetap menyuruh Mbok Sumi untuk mempersilahkan Aby masuk ke kamarnya.


Membuat Raya dan Meisya tidak habis pikir dan akhirnya pergi begitu Aby masuk. Tapi sebelum itu, Raya mengancam.


"Awas loe kalau bikin Keyla nangis lagi!"


Sementara Meisya menunjukkan bogemnya. "Bogem gue melayang!"


Aby meletakkan parsel berisi buah-buahan ke atas meja rias Keyla. Kemudian duduk di bibir ranjang.


Aby menatap lekat kedua mata Keyla. Mencoba mencari tahu, kenapa Keyla bisa seperti ini.


Karena setahu Aby, Keyla bukanlah Gadis ceroboh yang bisa-bisanya jatuh dari tangga dan menyebabkan kakinya patah.

__ADS_1


"Loe tahu darimana tentang keadaan gue?" Tanya Keyla, memecah keheningan.


"Dari Divio." Sejenak Aby menunduk, lalu kembali menatap Keyla. "Orang tua loe udah tahu tentang hal ini?"


Keyla mengangguk pelan.


"Terus apa kata mereka?"


"Mamah marah-marah. Beliau bilang gue ceroboh dan kurang hati-hati. Sedangkan Papah cuma bilang. 'Terus papah harus gimana? Lagian kamu cuma patah kaki doang, jangan manja. Nanti juga sembuh.' " Keyla tersenyum pahit dengan mata yang berkaca-kaca. "Hebat yah orang tua gue." Ia menunduk. Tangisnya pecah, dan tidak dapat dibendung lagi.


Ingin rasanya Aby menghapus airmata Keyla. Bahkan ia sudah berniat memeluk bidadarinya, jika saja hatinya tidak menentang dengan keras.


'Jangan Abi! Kuasain diri loe!'


Tidak ada cara lain, Aby hanya mampu menghibur Keyla dengan kata-kata. "Loe yang sabar yah."


Keyla yang masih menangis tertunduk, tersenyum miris mendengar ucapan Aby. Dengan matanya yang basah, ia tatap wajah pemuda itu.


" Loe pikir loe berhak ngomong kaya gitu?"


Aby tertegun.


"Loe tahu gak? Ada orang yang lebih gak punya hati dibanding orang tua gue. Loe tahu siapa orangnya?" Cerca Keyla.


Aby tak sanggup menjawab. Ia justru merasakan sesuatu, yang memaksanya pamit dan langsung pergi.


Setibanya di toilet rumahnya, Aby langsung membuka kloset dan memuntahkan semuanya disana. Wajahnya pucat. Nafasnya sesak. Kepalanya berat luar biasa.


Saking pusingnya, Aby sampai tidak segan membentur-benturkan kepalanya ke dinding sambil berteriak dan menangis kesakitan.


Malangnya, tidak ada siapapun di rumahnya, termasuk sang Ayah yang belum pulang dari kantornya. Membuat Aby harus menanggung rasa sakit sendirian tanpa ada seseorang yang menolongnya.


**


Malam itu, seseorang mengetuk pintu kosannya ketika Regy sedang duduk santuy sambil bermain gitar. Cowok itu auto tersenyum.


Ia sudah bisa menebak siapa orang yang datang.


Pintu dibuka. Senyum Regy semakin mengembang melihat sosok wanita pujaannya yang tampak sangat cantik malam itu. Well, Meisya memang selalu cantik di matanya.


"Assalamualaikum." Meisya mendadak agamis.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.


Silahkan masuk Bu Guru."


"Haha. Kamu bisa aja."


Setelah mempersilahkan Meisya masuk, Regy menawarinya minum.


"Bu Guru cantik mau minum apa? Air putih? Teh? Susu? Kopi?"


"Ada wine nggak?"


"Astagfirullah aladzim."


Meisya ngakak. Bersama Regy ia seperti menemukan kebahagiaan yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Cepet sini bawa buku paketnya. Kita mulai belajar." Ucap Meisya, kemudian.


"Saya lagi gak mood belajar Kak." Kata Regy, dengan wajah tanpa dosa.


"Lah? Terus?"


Regy melirik laptopnya yang terletak di atas meja belajar. "Kita nonton film aja yuk!"


Meisya mengangkat sebelah alisnya. "Film apa?"


Regy pun bangkit. Mengambil laptopnya, lalu kembali duduk di samping Meisya.


"Banyak. Ada film Lokal, Barat, Korean, bahkan Bollywood juga ada."


"Serius?"


"Iyah. Saya pecinta film berbagai negara. Dan saya mohon jangan menertawakan saya."


"Haha."


"Ih! Udah dibilangin juga."


"Nggak, Kakak takjub aja. Ternyata ada yah, cowok yang suka film Bollywood."


"Jangan salah. Film Bollywood seru tahu. Apalagi yang sedih. Bikin nangis Bombay."


"Oiyah?"


"Yes."


"Kalau gitu coba, rekomendasiin film Bollywood favorit kamu."


Regy mengerti dan langsung mencari film Bollywood favoritnya diantara list film yang ada di laptopnya.


"Nah. Ini dia. Judulnya MUJHE DOSTI KAROGE."


"Artinya?"


" Seblak di sanguan (Seblak pake nasi)."


Meisya kembali terbahak. Haduh.. Regy ada-ada saja!


"Biar Kakak tertarik, ceritain sinopsis singkatnya dulu dong." Pinta Meisya yang mendadak tergerak untuk menonton film Bollywood.


Regy mengerti. "Ceritanya tentang 3 orang yang bersahabat baik sejak kecil. Dua cewek Tina sama Puja. Dan satu cowok, Raj.


Sejak kecil, Raj udah suka sama Tina yang lincah dan periang. Dan Puja sendiri suka sama Raj. Dengan kata lain cinta segitiga."


Seperti hubungan Meisya - Regy - Rangga.


"Suatu hari, Raj dan keluarganya pindah ke London karena Ayah Raj dipindah tugaskan kesana. Dan sebelum si Raj pergi, Raj minta Tina untuk selalu ngirim email sama dia. Dan Tina berjanji.


Selama Raj di London, email-email dari Tina selalu datang. Dan karena email-email itu, mereka jadi dekat satu sama lain. Mereka saling cerita, dan sadar kalau mereka berdua punya banyak kesamaan.


Tapi satu hal yang nggak Raj ketahui adalah.. Fakta bahwa sebenarnya orang yang mengirim email sama dia adalah Puja, bukan Tina."


Meisya menyimak dan terkejut. "Kok gitu?"


"Tina sibuk sama urusannya sendiri, sampai-sampai dia males buat ngirim email sama si Raj. Dan sebagai sahabat yang baik, Puja akhirnya bantuin Tina buat nulis email sama Raj atas nama Tina, demi menepati janji Tina terhadap Raj." Regy bercerita seolah film itu sudah diluar kepalanya. Tentu saja, selain karena film favoritnya, kisahnya juga mirip dengan kisah cinta segitiga yang sedang dialaminya.


"Terus endingnya, si Raj sama siapa?"


Regy tersenyum dan langsung memutar filmnya. "We Will see.."


Meisya tak sabar dan langsung memantengi layar laptop Regy. Mendengar cerita Regy, sepertinya film yang seru.


Tiba-tiba..


TOK.. TOK.. TOK..


Regy dan Meisya saling melempar pandang. Siapa sih? Mengganggu saja!


"Siapa?"


"INI GUE GI, RANGGA!"


MAMPUS!


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2