
Rizvan terkejut mendengar ucapan Rangga yang sudah tahu tentang rahasia yang selama ini ia tutupi. Dengan berat hati dan tanpa berani menatap adik sepupunya, Rizvan pun mengangguk.
Rangga lemas seketika. Ia benar-benar kecewa pada Rizvan yang sejak awal tidak jujur. "Terus kenapa Abang nggak pernah bilang? Aku bener-bener ngerasa dibegoin tahu gak?"
Rizvan yang merasa bersalah segera meminta maaf. ".. Abang gak bermaksud bohongin kamu.
Abang cuma takut kamu sakit hati dan jadi benci sama Abang. Makanya Abang nggak ngasih tahu hal itu. Tapi asal kamu tahu, dari dulu sampai sekarang, Abang nggak pernah punya rasa sama Meisya. Abang cuma nganggap dia teman, gak lebih dari itu."
Rangga hanya diam dan tak membalas perkataan Rizvan. Entahlah.. Untuk saat ini, ia benar-benar kecewa pada Rizvan.
Kemudian Rizvan memegang kedua pundak Rangga. "Tapi kamu nggak usah khawatir.
Abang udah nemuin cara biar Meisya bisa move on dari Abang. Dengan begitu, kamu punya kesempatan buat masuk ke hatinya."
"Gimana caranya?"
"......."
***
"Shi*t! Kerjaan siapa nih?" Maki Divio begitu melihat keempat ban mobilnya yang kempes.
Celingak-celinguk mencari seorang tersangka yang telah mengempeskan ban mobilnya.
Tiba-tiba Levin datang dan mengoloknya. "Haha rasain! Emang enak?"
Sudah jelas semua itu perbuatan manusia setengah iblis di hadapannya. "Ini kerjaan loe?"
"Yup! Betul sekali."
Divio tersenyum sinis. Sungguh kekanak-kanakan! "Mau loe apa sih?"
"Mau gue? Loe putusin Raya, dan jauhin dia."
"IDIH NGAREP!" Teriak Raya yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Levin dan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka. Kemudian Raya mendekati mereka, dan menatap ban mobil Divio yang semuanya bocor.
"Ini perbuatan loe?" Tanyanya pada Levin.
Dengan bangga Levin membenarkan. Dan jawaban Raya sungguh diluar nalar. "Bagus! Cowok gue jadi bisa pulang sama gue." Raya menarik lengan Divio, dan membawanya menuju mobilnya.
Sebelum pergi, Raya berkata. "Makasih loh.. Udah bikin kami makin langgeng!"
Levin menendang mobil dihadapannya dan berseru kesal. "Mony*t! Kenapa jadi kaya gini?"
Sepanjang perjalanan, baik Raya maupun Divio sama-sama tak bersuara dan tampak segan memulai pembicaraan. Bahkan suasana canggung begitu terasa diantara keduanya.
Raya merasa bersalah. Karena dirinya, Divio menjadi korban kejahilan Levin. Si manusia egois yang suka menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginannya.
Sementara Divio ingin memulai pembicaraan, tapi bingung mencari topik.
Namun akhirnya, Raya berkata. "Maafin gue Div."
Divio yang semula menatap keluar, sontak mengalihkan pandangannya pada Raya. "Maaf buat apa?"
"Gara-gara gue, loe jadi dikerjain sama si Levin . Gue bener-bener minta maaf."
Divio menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Raya meminta maaf untuk sesuatu yang tidak penting dan jelas-jelas bukan kesalahannya.
"Ray.. Ntar malem loe mau ikut gue gak?" Divio bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Kemana?" Raya balik bertanya sambil fokus menyetir.
"Rahasia. Dan kalau misalkan loe mau, jam 8 gue tunggu di minimarket yang ada di depan SMA kita yah. Terus kalau bisa, loe jangan bawa mobil."
Raya mengangguk pertanda mengerti. Kalaupun ada acara, Raya rela membatalkannya demi Divio. Karena saat ini, ia benar-benar merasa bersalah pada pemuda itu dan berniat menuruti
semua ucapannya.
**
Sore hari, Keyla yang sedang bersantai di ruang tamu, mencium aroma susu yang ia yakini berasal dari dapur. Bergegas ia pergi ke dapur untuk melihat apa yang terjadi disana.
Rupanya sang Mamah baru selesai membuat pie susu. Keyla tersenyum sumringah menatap kue kesukaannya tersebut.
"Wih.. Mamah bikin pie." Saat Keyla hendak mencomotnya, Sang Mamah langsung menepis tangan putri tunggalnya.
"Cuci tangan dulu! Itu tangan bekas ngupil kan tadi?"
"Hehe." Keyla mendekati wastafel dan mencuci tangannya disana.
"Oiyah Key, nanti anterin pie itu yah sama Aby." Perintah Mamah Keyla seraya menatap sepinggan pie yang sengaja beliau siapkan untuk keluarga Aby.
Keyla tercenung. Entah kenapa, ia belum siap bertemu Aby. Lebih tepatnya, bingung. Harus bagaimana ia bersikap terhadap pemuda itu.
"Suruh Si Mbok aja deh mah."
"Loh.. Loh.. Kenapa?" Mamah Keyla heran. Biasanya Keyla paling bersemangat jika disuruh ke rumah Aby.
Keyla sendiri tidak menjawab dan malam memainkan keran wastafel. Wajahnya amat galau menghias angkasa.
Mamah Keyla menebak seraya menyuap pie buatannya. "Kalian lagi berantem?"
Keyla menjawabnya dengan anggukan pelan.
Sang Mamah menghela nafas. Mendekati Keyla, dan membelai lembut rambut hitamnya. "Kalian kan udah gede. Masa masih suka berantem sih?
Udah, sekarang.. Kamu kasih pie ini sama Aby, dan baikan lagi sama dia. Gih sana.."
Mau tak mau, Keyla menuruti ucapan Mamahnya dan bergegas menuju rumah Aby.
Tok.. Tok.. Tok..
"ABI! BUKAIN PINTU NAK!" Seru Ayah Ginanjar yang sedang asyik masak di dapur. Karena istrinya telah meninggal, beliau diharuskan berperan menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Aby.
"Iya Yah." Sahut Aby yang sedang bermain handphone di kamarnya. Ia bangkit, dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Ketika pintu dibuka, Aby langsung mematung ditempatnya. Gadis itu.. Gadis yang sangat ia rindukan senyumannya, kini tengah berdiri di hadapannya.
"Gue disuruh nganterin pie ini sama Mamah." Kata Keyla dengan pandangan tertunduk, tak berani menatap Aby.
Aby menerimanya. Berucap pelan. "Makasih."
Disaat seperti itu, Ayah Ginanjar muncul sambil memegang spatula. Celemek berwarna pink yang beliau kenakan membuat Keyla tersenyum geli.
"Eh.. Ada Keyla."
Keyla tersenyum manis. "Hai Om.. Om lagi masak? Itu celemeknya cute banget warna pink."
"Haha iyah.. Ini punyanya Mamah Aby. Ngomong-ngomong, kamu ngasih apa?" Ayah Ginanjar menatap sepinggan pie yang dipegang putranya.
"Mamah abis bikin pie. Mohon dicobain yah Om."
"Wah.. Makasih ya, cantik."
__ADS_1
Keyla tersenyum sambil mengangguk. Aby ikut tersenyum melihat senyum Keyla yang sudah lama tidak ia lihat.
Lalu pada putranya, Ayah Ginanjar berkata, "Bi, kamu ke supermarket gih."
"Mau ngapain Yah?"
"Ya belanja lah.. Masa shooting film."
Keyla tertawa mendengar guyonan Ayah Ginanjar. Gadis itu yakin, sifat humoris Aby turunan dari beliau.
"Maksud Abi, mau beli apa Ayaaaahh."
"Beli kecombrang. Tahu nggak?"
"Apaan tuh? Sejenis hewan kah?"
Keyla menahan tawa mendengar pertanyaan Aby yang tidak tahu apa itu kecombrang.
"Kok hewan sih? Ya bukanlah."
"Ya Abi kan nggak tahu Yah. Tahunya juga kecebong sama kecomberan."
Ayah Ginanjar tampak bingung. Bagaimana kalau sudah seperti ini?
Sekian detik kemudian, beliau menatap Keyla. "Keyla sendiri tahu kecombrang nggak?"
"Tahu Om. Kecombrang itu tumbuhan rempah yang bentuknya kaya bunga kan?"
"Tuh! Keyla aja tahu."
"Ya dia kan cewek. Justru aneh kalau dia nggak tahu."
Keyla mendengus kesal. Padahal tidak semua cewek tahu kecombrang. Ia yakin itu.
"Yaudah, Keyla anterin Aby beli kecombrang yah? Soalnya om mau bikin ayam sambel kecombrang, makanan favoritnya Mamah Aby."
Keyla dan Aby sontak bertukar pandang. Aby sih dengan senang hati. Sementara Keyla membayangkan betapa canggung mereka nantinya.
"Gimana? Keyla mau nggak?" Ayah Ginanjar meminta kepastian.
Akhirnya, Keyla mengangguk.
Sebelum berangkat, Aby menyerahkan helm berwarna biru yang dulu sengaja ia beli untuk Keyla. "Nih pake."
"Ng.. gak usah."
Aby yang kesal langsung memasangkan helm tersebut ke kepala Keyla. "Nurut napa!"
Keyla hanya diam sambil menatap Aby yang sedang memasangkan helm ke kepalanya. Pemuda itu sungguh pandai membuat perasaannya campur aduk.
Aby menyadari hal itu. "Kenapa ngelihatin gue? Gue ganteng? Udah dari lahir."
PLOK! Keyla melakukan kebiasaannya. "PeDe!"
Aby tersenyum dan langsung menaiki motornya, disusul Keyla.
"Udah?"
"Hmm."
"Pegangan."
Dengan gugup Keyla berpegangan ke pinggang Aby. Aby pun melesat, membawa ninja merahnya dengan kecepatan standar.
"Abi.."
"Hmm."
"Buat?"
"Loe udah bela-belain nganterin buku gambar gue."
Ckiiiiitt! Aby refleks mengerem motornya. Ia menaikkan kaca helmnya dan memutar badan, menatap Keyla yang duduk dibelakangnya.
"Loe tahu darimana?" Aby heran. Kalau bukan Mbok Sumi, pastilah Divio.
"Dari Mbok Sumi." Jawab Keyla, jujur.
Aby menghela nafas panjang. Mbok Sumi benar-benar ember dan tidak bisa dipercaya!
"Terus gara-gara gue, loe bolos dong?" Tanya Keyla kemudian.
Aby berdehem. Alih-alih menjawab, ia malah melanjutkan perjalanan tanpa berkata apa-apa.
"Kenapa nggak dijawab? Gue bener-bener kepo, kenapa loe rela berkorban demi gue. Sedangkan Fathan yang jadi cowok gue aja gak mau."
"Itu artinya gue lebih baik dari cowok loe."
Keyla terdiam mendengar ucapan Aby yang memang fakta. Tapi Aby masih belum menjawab pertanyaannya.
"Terus kenapa loe rela berkorban demi gue?"
Aby menelan ludah getir. Semua itu sudah jelas. KARENA DIRINYA MENCINTAI KEYLA.
Lain dimulut, lain dihati. "Udahlah! Loe kaya reporter deh, banyak tanya."
"Karena ini masalah perasaan Bi."
"Hufffhhhhhh.. Oke, jawabannya adalah.. Karena loe sahabat gue. Puas?"
"Cuma itu?"
"Harusnya?"
Keyla tersenyum miris dan menggeleng. Ia pikir semua itu Aby lakukan karena Aby mencintainya.
(Padahal memang Iyah). Tapi ternyata dugaannya salah. Aby hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih.
--
"Kaya gini bentuknya?" Tanya Aby setelah sebungkus kecombrang berpindah ke tangannya.
Keyla mengangguk, membenarkan.
"Kaya bunga yang belum mekar yah?" Aby masih takjub dengan sesuatu bernama kecombrang itu.
"Kan emang sayuran berbentuk bunga."
"Rasanya kaya gimana?"
"Lu kaya reporter deh, banyak tanya!" Keyla mengembalikan kata-kata Aby. Haha.
__ADS_1
Bukan Aby namanya jika tidak bisa menjawab.
"Banyak tanya kan bagus. Daripada sesat di jalan? Hayoo.. Loe mau ngomong apa?"
"Terserah!" Keyla kalah. Lebih tepatnya mengalah. Karena sampai matahari terbit dari barat pun ia tidak akan pernah menang melawan Aby.
Saat Aby menoleh kesamping, ia melihat seseorang yang sedang mendorong troli sambil fokus bermain handphone. Dia terus mendekat.
Mendekat ke arah Keyla yang berdiri di hadapannya.
Dan sebelum troli tersebut menabrak Keyla, Aby langsung menarik Gadis itu ke dekatnya.
"Mas, Hati-hati dong!" Hardik Aby, kesal. Mas-mas itu langsung meminta maaf.
Saat Aby melihat Keyla, Gadis itu tengah menatapnya lekat. Membuat jantung Aby berdegup kencang seketika. Apalagi jarak wajah mereka hanya beberapa centi.
Sebelum terkena serangan jantung, Aby buru-buru menjauhkan dirinya. Lalu berdehem menutupi rasa gugupnya. "Ekhm.. Gue ke toilet dulu yah."
Keyla menatap kepergian Aby dan teringat ucapannya pada dua somplak beberapa waktu
lalu.
"Key, jujur deh.. Selama loe sahabatan sama si Aby, loe pernah suka gak sih sama dia?" Tanya Raya.
"Loe pengen tahu?"
Raya mengangguk cepat.
"Jawabannya.. Pernah."
"Kapan?" Kali ini Meisya yang bertanya.
"Awal masuk SMA. Dan asal kalian tahu, Fathan adalah alasan gue move on dari Aby."
"Itu artinya, loe lebih dulu suka sama Aby daripada sama si Fathan?" Meisya kepo.
"Iyah. Perhatian Aby, tingkah konyolnya, sifat humorisnya, senyumannya, dan semua yang ada pada dirinya bikin gue akhirnya suka dan selalu nyaman tiap kali deket dia.
Gue bahkan pernah punya rencana buat ngungkapin isi hati gue sama dia. Tapi..
Setelah gue lihat pengalaman Meisya, gue jadi takut."
"Maksud loe, loe takut Aby bakal kaya Rizvan?" Tanya Raya. Meisya sendiri langsung terlihat murung.
Keyla membenarkan. "Makanya gue berusaha mati-matian ngebunuh perasaan gue buat Aby.
Karena gue gak mau bernasib sama kaya Meisya.
Apalagi persahabatan gue sama Aby juga bukan cuma setahun dua tahun. Tapi udah hampir 17 tahun.
Jadi gue gak pengen ngerusak hubungan persahabatan kita, cuma karena keegoisan diri gue sendiri."
Mengingat hal itu, Keyla menghela nafas panjang. Hatinya bergumam. "Plis Bi.. Jangan biarin rasa sayang gue buat loe tumbuh lagi."
Setelah Aby kembali, Aby langsung mengajak Keyla ke tempat pembayaran.
"Eh Bi, abis ini ke food court bentar yah? Gue pengen beli burger." Kata Keyla yang mendadak lapar.
Aby tersenyum dan mengangguk. Istilahnya, apa sih yang nggak buat kamu.
Sesampainya di food court, hati Keyla dibuat remuk oleh sebuah pemandangan. Yakni Fathan yang sedang suap-suapan dengan seorang Gadis. Bukan, itu bukan Sonia. Melainkan gadis lain yang sejenis dengan Sonia (baca: Cabe).
Fathan sendiri kalang kabut saat menyadari dirinya tertangkap basah. "Ke.. Key.. Plis jangan salah paham. Aku bisa jelasin."
"Oke. Jelasin sekarang juga." Suara Keyla bergetar. Sekuat tenaga ia menahan tangisannya.
"Oke. Jadi dia ini-"
"Pacarnya! Gue pacarnya Fathan. Loe siapa?" Gadis berambut pirang, bergigi kawat, dan berdempul tebal itu memotong ucapan Fathan. Entah darimana Fathan menemukannya. Yang jelas selera dia benar-benar rendah.
Keyla tersenyum miris mendengar penegasan pelakor tersebut. Sementara Fathan tidak berusaha menyangkal lagi dan tampak pasrah.
Keyla menatap gadis itu. "Jadi loe ceweknya? Kalau gitu selamat menikmati bekas gue!"
Keyla berbalik dan berniat pergi. Namun tidak seru rasanya jika dia pergi begitu saja. Ia pun kembali menatap Fathan selama beberapa detik, kemudian..
PLAK! Fathan digampar tanpa tedeng aling-aling.
Membuat perhatian seluruh pengunjung food court tertuju pada mereka. Tapi Keyla tidak peduli. Yang penting hasratnya memukul Fathan sudah tersalurkan. Barulah setelah itu ia berlari pergi sambil menangis.
"Key!" Aby berniat menyusulnya. Namun Fathan mencegah dan malah memarahi Aby.
"Loe ngapain jalan berdua sama cewek gue?"
Aby tersenyum sinis. "Lu ngapain jalan sama cewek yang jelas-jelas bukan pacar loe?"
Kata-kata Aby berhasil membungkam Fathan hingga cowok bangsat itu bingung harus menjawab apa.
"Dasar goblok!" Setelah mengucapkan kata-kata mutiara tersebut, Aby buru-buru berlari mengejar Keyla yang sudah jauh.
**
Keyla pergi ke sebuah danau yang sepi, dan berdiri mematung menatap hamparan air yang berada dihadapannya.
Airmatanya tak dapat dibendung lagi. Ia menangis sambil berkata dalam hati. 'Kayanya emang udah jadi takdir gue buat selalu disakitin sama cowok.
Tapi gue selalu berharap, ada seseorang yang bener-bener tulus dan sayang sama gue.' Keyla menengadah, menatap langit biru dengan airmatanya yang berlinang. 'Adakah seseorang yang seperti itu.. Ya Allah?'
Dalam hitungan detik, Allah segera menjawab pertanyaan Keyla. Sebuah tangan tiba-tiba terulur dan memegang pelan pundak Keyla.
Gadis itu tertegun dan berbalik perlahan.
Tampak sesosok Aby yang sedang menatapnya dengan cemas. Keyla seolah tak menyangka. Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Atau Aby memang merupakan jawaban atas doanya barusan?
"Loe tahu gak? Loe jelek banget kalau lagi nangis. Jadi plis, jangan nangis lagi.
Airmata loe terlalu berharga buat nangisin cowok bangsat kaya si Fathan."
Keyla terdiam dan terus menatap Aby, yang kemudian menyeka airmatanya.
"Maskara loe luntur. Katanya waterproof." Canda Aby, bisa-bisanya.
Dan bukannya berhenti, tangis Keyla justeru pecah. Ia menunduk, dan menangis tersedu-sedu.
Aby jadi tidak tega dan langsung menarik Keyla ke dalam pelukannya. Sungguh, ia paling benci melihat Gadis pujaannya menangis dan bersedih.
"Abi.." Keyla menyebut nama Aby dalam tangisnya.
Aby tersenyum lembut sambil membelai rambut Keyla. "Iyah Key.. Gue disini."
Dengan erat, Keyla membalas pelukan Aby.
-Bersambung-
__ADS_1