
Pukul 06.43 Keyla tiba di sekolahnya setelah diantarkan oleh Fathan, Sang pacar. Tiba di kelas, ia bergabung bersama kedua sahabatnya dan menghempaskan diri di kursi.
"Tumben jam segini baru dateng. Biasanya loe yang datang duluan daripada kita ." Ucap Meisya.
Keyla jarang sarapan dirumah. Karena keluarganya hanya makan roti dan susu. Tidak mengenyangkan sama sekali.
Karena itu Keyla selalu meminta Fathan menjemputnya lebih pagi untuk sarapan nasi uduk di kantin.
"Si Fathan kesiangan. Jadi telat ngejemput gue."
"Terus sekarang loe belum sarapan dong?" Tanya Raya.
Keyla mengangguk pelan. Ia hanya meminum segelas air mineral sebelum berangkat. Membuat perutnya keroncongan saat ini.
"Yaudah loe sarapan dulu gih. Masih ada waktu 17 menit kok." Ucap Raya.
"Nggak ah.. Loe kan tahu sendiri gue kalau makan lama. 17 menit mana cukup. Belum jalan ke kantin, belum pesen makan. Bisa-bisa baru sesuap bel masuk udah bunyi."
Kedua sahabatnya kompak geleng-geleng kepala. Benar.. Keyla memang lama kalau makan.
Bahkan setiap makan bersama, dia selalu menjadi orang terakhir yang menghabiskan makanannya.
Raya teringat sesuatu. "Eh, kalian udah pada ngegambar tokoh idola kan? Lihat dong."
"Astagfirullah aladzim!" Keyla seperti diingatkan. "Gue lupa! "
"Lupa belum ngerjain apa lupa gak dibawa?" Tanya Meisya. Si kutil selain makannya lama, dia juga suka pelupa.
"Lupa gak dibawa! Gue bener-bener gak inget kalau pelajarannya hari ini." Keyla mulai kalap.
Raya menenangkan. "Yaudah, loe telfon seseorang yang kira-kira bisa dimintain tolong."
Keyla mengerti dan langsung menelfon Fathan.
Pertanyaannya, sudikah Fathan berkorban waktu dan juga bensin demi kekasihnya?
"Halo? Yang tolongin aku yah."
'Tolongin gimana yang?'
"Hari ini ada pelajaran seni budaya. Ada tugas menggambar. Aku udah ngerjain, cuma buku gambarnya ketinggalan di rumah.
Kamu bisa ke rumah aku nggak?'"
'Duh Yang.. Kamu suka ngaco deh.
Kalau sekarang aku ke rumah kamu, emangnya keburu? Lagian gimana ceritanya sih buku gambar kamu bisa ketinggalan?"
"Aku lupa .. Plis yang, aku nggak mau dihukum."
'Sorry yang, aku dipanggil temen. Udah dulu yah.' Klik! Fathan mengakhiri panggilannya. Fiks, dia tipe cowok egois dan mau enaknya saja.
--
Keyla menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 06.59. WIB.
Ia tertunduk pasrah dan siap menerima segala hukuman yang sudah menanti didepan mata.
"Si Fathan gak mau berkorban demi loe?" Tanya Meisya seraya mengeluarkan buku gambar dari dalam tasnya.
Keyla hanya diam. Ia benar-benar kecewa pada sikap Fathan yang seolah tidak mengasihaninya.
Raya sendiri menghela nafas panjang dan ikut prihatin pada si kutil. Sudah mah tidak sarapan, buku tugas pun harus ketinggalan.
Kemudian perhatian Raya tertuju pada Divio yang juga baru datang.
"Gue gak telat kan?" Tanya Divio pada Raya, lalu duduk disampingnya.
Disaat yang sama, bel masuk berbunyi.
Raya tersenyum tipis. "Nyaris."
5 menit kemudian, Bu Dewi muncul. Keyla yang sempat berdoa agar Bu Dewi tidak masuk, seketika lemas. Fix, dia pasti akan dihukum karena keteledorannya.
"Selamat pagi Anak-anak.. Ada tugas kan? Silahkan dikumpulkan." Ujar Bu Dewi dengan senyum yang melekat di bibirnya.
Meisya langsung bangkit. Sebelum maju, ia menguatkan Keyla. "Sabar yah til."
Raya sendiri menepuk pundak Keyla, "Loe berdoa aja. Semoga loe ada temennya."
Keyla tersenyum kecut. Ia yakin, hanya dirinya sendiri yang tidak mengumpulkan tugas.
"Oiyah, bagi yang tidak mengumpulkan, ada hukumannya yah.. Yaitu tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran dan silahkan hormat kepada tiang bendera selama satu jam pelajaran."
"Mati gue.." Keyla menundukkan kepalanya di atas meja, dan sudah hampir menangis. Ketika tiba-tiba, Divio mendekatinya dan menyerahkan sebuah buku gambar.
"Nih." Divio meletakkan buku gambar Keyla diatas mejanya.
Keyla mengangkat kepala dan auto shock. Bagaimana mungkin buku gambar miliknya kini ada di tangan Divio?
"Sumpah demi apa? Kok buku ini bisa ada di loe?" Keyla tak menyangka sekaligus senang.
"Tadi ada orang yang nitipin buku itu sama gue. Katanya suruh dikasih sama si Keyla Maheswari." Jelas Divio. Sudah tahu kan siapa orangnya?
"Siapa?" Keyla auto penasaran. Divio tidak menjawab dan malah berlalu menuju meja guru.
Keyla jadi kesal. Namun kemudian, ia juga buru-buru maju. Alhamdulillah, tidak jadi dihukum!
Setelah Divio kembali, Raya langsung bertanya. " Loe ngegambar siapa?"
"Kepo!"
"Paling-paling salah satu member Blackpink." Ledek Raya. Sepertinya ia lupa dengan syarat yang diajukan Divio kemarin.
Divio pun langsung mengancamnya. "Ntar istirahat gue kasih tahu Levin yah? Kalau hubungan kita cuma settingan."
"Dih! Kok gitu?"
__ADS_1
"Loe lupa sama perjanjian kita?"
Setelah berpikir sekian detik, Raya baru ingat. "Oh Iyah.. Gue lupa, serius. Maaf yah?"
Divio berdecak kesal. Untuk saat ini, ia bersedia memaafkan Raya. ".... tapi kalau sampai loe kaya gitu lagi, gue bakal langsung datengin si Levin dan ngasih tahu dia kenyataan yang sebenarnya!"
"Iyah gue janji. Bawel amat sih loe!"
"Bodo!"
Disaat yang sama , diluar sebuah minimarket, Aby tengah duduk sambil meneguk sekaleng minuman soda. Kalau tahu dirinya bolos, Sang ayah pasti akan mengamuk. Tapi Aby tidak peduli. Yang penting gadis itu selamat dari hukuman.
Tring! Sebuah notifikasi masuk ke handphone Aby. Chatt dari Divio.
(Loe bolos dong jadinya)
Aby langsung membalas. [Yup]
(Anjir Demi cinta)
[Sssstt! Tidak boleh banyak bacot]
Tidak ada balasan lagi. Aby menyimpan handphonenya dan kembali meneguk sodanya.
Kemudian pikirannya melayang, mengingat kejadian setengah jam yang lalu.
Saat Fathan mendapat panggilan dari Keyla, Aby yang berada di belakang Fathan diam-diam mencuri dengar percakapan mereka.
Dan saat tahu kemalangan yang menimpa Keyla , tanpa berpikir dua kali, pemuda itu langsung pergi ke parkiran untuk mengambil motornya, lalu melesat dengan kecepatan tinggi.
Jika kecepatan normal membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke rumah Keyla, maka Aby hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke tujuan. Karena dia mengendarai motor seperti orang gila.
Setelah mendapatkan buku gambar Keyla dari Mbok Sumi, Aby segera pergi. Tak lupa ia berpesan pada Si Mbok untuk tidak memberi tahu Keyla tentang semua ini.
5 menit kemudian, Aby akhirnya tiba di sekolah Keyla. Dari arah berlawanan, Divio yang baru datang, melihat keberadaan Aby dan langsung turun dari mobilnya.
"Aby? Loe mau ngapain kesini?"
"Alhamdulillah, gue ketemu loe Div..
Loe bilang loe sekelas kan sama Keyla? Tolong kasihin ini yah." Pemuda berhati malaikat itu menyerahkan buku gambar milik pujaan hatinya pada Divio.
Divio heran. "Ini gimana ceritanya? Dia nyuruh loe nganterin buku gambar ini?"
"Nggak. Udah pokoknya loe kasih aja buku itu sama si Keyla Maheswari. Tapi jangan kasih tahu dia kalau gue yang nganterin buku itu."
Divio manggut-manggut. Meski sebenarnya dia masih bingung dengan apa yang terjadi. "Terus sekarang loe mau balik lagi ke sekolah?" Pemuda blasteran itu menatap jam tangan berwarna hitam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Udah jam tujuh kurang lima menit anjir. Gak bakal keburu.
Aby tersenyum kecut. "Baguslah.. Lagian gue lagi pengen bolos."
Mengingat semua itu, Aby menghela nafas panjang. Ternyata benar, cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Tapi Aby tidak keberatan jika harus dijuluki sebagai pria terbodoh di dunia.
Satu hal yang pasti, ia tidak pernah menyesal mencintai Keyla.
***
"Kenapa nggak loe tanyain?" Meisya bertanya balik setelah menyuap bakso ke dalam mulutnya.
"Dia keukeuh nggak mau jawab. Kan bangk*e!"
Raya punya ide. "Coba loe telfon pembantu loe. Dia pasti tahu siapa orangnya."
Keyla tersenyum senang mendengar ide Raya yang brilian. Tanpa banyak cingcong, ia langsung menelfon Mbok Sumi.
"Halo Mbok? Aku mau nanya..
Tadi pagi ada yang ke rumah dan mintain buku gambar aku kan? Siapa orangnya?"
Tanpa suara, Raya menyuruh Keyla untuk me-loudspeaker panggilannya. Ia sungguh kepo dengan jawaban Mbok Sumi.
'Mmm.. Anu Non.. Kata Den Aby, Mbok gak boleh ngasih tahu Non kalau Den Aby yang minta buku itu. Eh! Astagfirullah! "
"BHAHAHAHAAHA.." Meisya dan Raya auto ngakak mendengar jawaban Mbok Sumi yang polos. Sementara Keyla cukup terkejut dengan kenyataan tersebut.
"Owh.. Jadi Aby yang nganterin buku itu?" Keyla tampak terharu. Padahal mereka sedang perang dingin. Tapi Aby rela berkorban demi dirinya.
Mbok Sumi sendiri menyangkal. "Bukan Non, maksud Mbok bukan Den Aby, tapi -"
"Yaudah Mbok, udah dulu yah." Setelah menutup panggilan, Keyla langsung mencari kontak Aby dan mengetik pesan.
[Bi, loe lagi dimana?]
"Haha.. Kocak banget pembantu loe." Ucap Raya yang masih merasa lucu mendengar penjelasan Mbok Sumi.
"Wah.. Si Aby bener-bener baik yah." Puji Meisya. Ia merasa iri pada Keyla yang mempunyai sahabat sebaik Aby. Bahkan tidak hanya baik, Aby juga ganteng. Sebelas duabelas lah sama si Rizvan.
Keyla sendiri tidak menanggapi ucapan dua somplak, dan tampak tidak sabar menunggu pesan balasan dari Aby.
(Di sekolah lah)
Untuk membuktikan Aby bohong atau tidak, Keyla segera mem-video callnya. Satu-satunya cara mengetes kejujuran seseorang.
Dan ternyata.. Aby menolak panggilan. Ia beralasan.
[Gue lagi berak di WC, loe mau nonton?]
"Haha.." Keyla akhirnya tertawa. Duhai Aby.. Seperti kata Syahrini, dikau memang SESUATU YAH.
"Kenapa loe?" Meisya heran.
"Hah? Ng.. nggak. Gue gak papa." Jawab Keyla sambil mesem-mesem dan tampak salah tingkah.
Dan Aby yang menolak panggilan membuat Keyla yakin jika pemuda itu berbohong, sekaligus membenarkan ucapan Mbok Sumi bahwa Aby-lah yang mengantarkan bukunya tadi pagi.
Saat Meisya mengedarkan pandang, ia menangkap sebuah pemandangan yang cukup menyakitkan. Yakni Rizvan dan Diana yang sedang duduk di salah satu meja, dan tampak mesra bersama. Sesekali mereka tertawa dan terlihat sangat bahagia.
Raya menyadari hal itu dan langsung menarik dagu Meisya, mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Kalau sakit jangan dilihatin terus!"
Namun Meisya batu dan kembali menatap kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut. Padahal Meisya sudah berjanji untuk melupakan Rizvan. Tapi nyatanya, seperti kata Regy, TAK SEGAMPANG ITU.
Kemudian selanjutnya, Keyla dan Meisya dikejutkan oleh kedatangan Rangga yang menghampiri Rizvan dan Diana.
"Cie.. Yang makin hari makin lengket, kaya perangko." Goda Rangga.
Rizvan tersenyum salah tingkah. "Apaan sih kamu.. Oiyah, nanti sore jadi kan?"
"Jadi dong."
"Kalian mau kemana?" Tanya Diana dengan suara syahdunya.
Rizvan tersenyum lembut dan menyentil pelan hidung Diana yang mancung. "Kepo!"
"Mei.. Mei.. " Keyla yang shock memukul-mukul pundak Meisya. "Si Rizvan sama si Rangga saling kenal?"
Meisya tak menjawab dan malah tampak murka.
Kenapa? Karena tiba-tiba, ia berpikir jika selama ini Rangga bersandiwara . Mendekatinya semata-mata karena disuruh oleh Rizvan, agar Meisya berhenti mengharapkannya.
Disaat yang sama, Regy berjalan melintasi mereka. Keyla langsung menghentikannya. "Regy, tunggu!"
Sejenak Regy menatap Meisya, yang juga sedang menatapnya dengan wajah emosi.
"Ada apa Kak?" Tanya Regy pada Keyla.
"Rizvan sama Rangga saling kenal?"
Regy membenarkan dan menjelaskan jika mereka adalah sepupu.
"Sepupu?" Pekik Keyla, tak menyangka. Raya sendiri planga-plongo, karena tidak tahu masalah mereka. Yang dia tahu hanyalah Meisya menyukai Rizvan. Titik.
Sementara Meisya benar-benar emosi. Ia bangkit dan membentak Regy. "Kenapa kamu nggak pernah bilang?!" lalu belari pergi sambil menangis.
Sesaat Regy terdiam. Sebelum akhirnya ia pun berlari, mengejar Meisya.
Raya seperti orang bego. "Apaan sih tuh tadi? Regy siapa? Rangga siapa?"
Keyla langsung menjelaskan semuanya pada Raya.
Di belakang kelas, Meisya menangis tak tertahankan. Ia merasa dipermainkan oleh Rangga selama ini.
Tak lama , Regy muncul dan berdiri di hadapan Meisya. "Maafin saya Kak. Saya gak bermaksud membohongi Kakak dengan menutupi kenyataan bahwa Rangga dan Kak Rizvan adalah sepupu."
"Bohong! " Meisya tampak terluka. "Kakak nggak percaya sama kamu."
"Demi Allah Kak.. Saya nggak bohong.
Lagipula apa salahnya kalau mereka sepupuan?"
"Ya salah lah! Bisa aja selama ini Rangga deketin Kakak cuma karena disuruh sama Rizvan, biar Kakak berhenti ngarepin dia."
Regy terdiam sambil menggigit bibirnya. Ia bingung harus berkata apa lagi. Tapi bagaimanapun semua ini harus diluruskan, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka berempat.
Akhirnya Regy berkata. " Dugaan Kakak salah. Rangga beneran tulus cinta sama Kakak. Dan dia juga belum tahu kalau Kakak suka sama Kak Rizvan."
"Tahu darimana kamu?" Tanya Meisya dengan nada menantang. Ia terlanjur bernegative thinking. "Meskipun Rangga adalah sahabat kamu, dia bisa aja bohongin kamu.
Dan bisa jadi, semua yang dia lakukan selama ini cuma drama yang dia susun sama Rizvan."
"Nggak Kak.. Saya tahu betul sifat Rangga. Dia bukan orang kaya gitu."
"Kalau gitu buktiin sama Kakak, kalau Rangga beneran suka sama Kakak."
"Baik. Saya akan membuktikannya."
**
Tiba di kelas, Regy langsung mendekati Rangga yang sedang bermain handphone di tempatnya.
"Ga.. Gue pengen tanya sesuatu sama loe."
Rangga menyimpan handphonenya dan menatap Regy. "Nanya apa?"
Regy menatap Rangga dengan tatapan menyelidik. "Loe beneran suka kan, sama Kak Meisya?"
"Ya iyalah! Kalau nggak, ngapain gue deketin dia. Pertanyaan loe aneh-aneh aja." Rangga tidak habis pikir dengan pertanyaan Regy yang baginya terdengar konyol.
"Kalau gitu, loe tahu gak, siapa cowok yang disukain Kak Meisya?"
Rangga menggeleng. Hingga detik ini, ia masih belum tahu siapa pemuda beruntung yang dicintai oleh wanita pujaannya.
"Kalau gue bilang, orangnya adalah Kak Rizvan. Loe percaya nggak?"
Mata Rangga langsung melotot. "Demi apa loe Gi?"
Regy mengangguk pelan. Dengan tatapan meyakinkan, Regy menyuruh Rangga memastikan hal itu. "Kalau loe gak percaya, loe bisa langsung tanya Sama Kakak sepupu loe."
Tanpa basa-basi, Rangga langsung pergi dan berniat mencari Rizvan saat itu juga. Kalau ucapan Regy benar, ia benar-benar kecewa pada Rizvan yang selama ini tidak jujur padanya.
Regy sendiri mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celana. Rupanya daritadi, handphonenya dengan handphone Meisya saling terhubung, sehingga percakapan Rangga dan Regy tak luput Meisya dengarkan.
"Gimana? Kakak percaya sekarang?" Tanya Regy, melalui telfon. Meisya yang masih berada di belakang kelas terdiam, dan tidak tahu harus berkata apa.
Sepertinya, dugaannya memang salah. Tapi sejujurnya ia hanyalah takut. Takut bernasib sama dengan Keyla yang dipermainkan oleh Hugo beberapa waktu lalu.
**
Setelah berhasil menemukan Rizvan, Rangga langsung menarik Kakak sepupunya ke samping kelas.
"Bang.. Jawab pertanyaan aku..
Apa bener, Cowok yang disukain Kak Meisya itu Abang?"
Rizvan tertegun. 'Rangga... Kamu tahu darimana?'
__ADS_1
-Bersambung-