TRIO SOMPLAK

TRIO SOMPLAK
Nasi Padang


__ADS_3

"Keyla?" Aby tak menyangka Keyla hadir saat ini.


Padahal tadi ia hanya iseng berdoa, agar Allah mengirim Keyla untuk menemaninya saat ini.


Siapa sangka doa Aby benar-benar dikabul.


Keyla sendiri berlari ke arah Aby dan berhenti dihadapannya. Ia tatap wajah Aby yang dipenuhi memar dibagian mata, pipi, dan bibir.


"Loe kenapa?" Keyla bertanya dengan khawatir. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.


"Kelihatannya?" Aby balik bertanya sambil tersenyum.


"Gimana bisa loe kecelakaan? Loe lagi atraksi?"


"Iyah.. Gue ngendarain motor sambil rebahan."


"Ih! Jawab serius kenapa sih?"


"Lah, yang ngajak becanda duluan siapa?"


Keyla membuang muka dan menghela nafas. Mencoba meredam kekesalannya. Si Aby Ginanjar memang hobby menguji kesabarannya.


Tatapan Keyla kemudian tertuju pada tangan Aby yang digips. Secara mengejutkan gadis itu menangis. Seperti anak kecil. "Tangan loe patah? Ya ampun.. Gue harus gimana."


Aby geli sendiri. "Gak usah lebay deh Key.. Yang tangannya patah kan gue, kenapa malah loe yang nangis?"


"Lebay loe bilang? Loe gak tahu? Sepanjang jalan gue gak berhenti nangis mikirin keadaan loe.


Dan loe malah ngatain gue lebay?" Keyla terlanjur kesal dan berniat pergi. Namun Aby tidak membiarkan hal itu. Dengan kilat ia meraih lengan Keyla dengan tangan kirinya.


"Loe mau kemana?"


"Pulang! Loe nya juga nyebelin. Jadi buat apa gue masih disini."


Aby tersenyum begitu manis dan menarik Keyla ke dekat tubuhnya. "Jangan pergi, gue butuh loe." Tangan kirinya menyeka airmata yang membasahi pipi Keyla. "Loe tahu dari Ayah kalau gue kecelakaan?"


Keyla membenarkan. Ia menatap Aby dengan kesal. "Telfon gue kenapa nggak diangkat?"


"Emangnya loe nelfon?" Aby mengambil handphonenya yang terletak di samping bantal.


Di layar tertera, 1 panggilan tak terjawab : Keyla


Aby baru ingat. "Handphone gue mode silent. Sorry yah."


Keyla mengangguk dan bersedia memaafkan Aby. Ia pun menghapus air hangat yang masih tersisa di pelupuk matanya.


Sementara Aby terus tersenyum menatap Keyla. Tatapan yang lembut dan penuh kasih sayang.


Sayangnya Keyla terlalu bodoh untuk menyadari semua itu.


"Loe udah makan?" Tanya Keyla kemudian.


Aby menggeleng seraya menatap makanan pemberian suster yang masih belum ia sentuh.


Selain karena tangannya sakit, Aby pun ogah makan makanan rumah sakit yang rasanya hambar.


Keyla langsung mengambil nampan berisi makanan Aby yang terletak di atas nakas.


"Yaudah, buruan makan. Gue suapin."


"Gak mau."


"Kenapa?"


"Rasanya gak enak! Mending makan nasi Padang."


"Di rumah sakit mana ada nasi Padang kamvret!" Keyla emosi. Lama-lama cepat tua dia.


"Ya loe beli dulu keluar. Abis itu kita makan bareng." Aby mengide.

__ADS_1


"Boleh emang?"


"Asal jangan ketahuan suster aja."


Keyla menghela nafas panjang. Baiklah, meskipun merepotkan, ia bersedia menuruti keinginan Aby. Kebetulan dia juga sedang lapar.


"Yaudah.. Tunggu bentar." Keyla bergegas membeli nasi Padang. Sementara Aby terus tersenyum seperti orang gila. Sungguh aneh. Hatinya selalu bahagia setiap kali berada di dekat gadis itu.


**


Menjelang Maghrib, Regy dikejutkan oleh kedatangan Rangga ke kosannya.


Temannya itu memberi tahu jika ia tidak bisa datang ke kafe karena ada urusan mendadak. Lucu, padahal dia sendiri yang mengajak Regy.


"Sebagai gantinya, tolong kasihin ini sama Kak Meisya." Rangga menyerahkan sebuket mawar merah pada Regy.


Regy menerimanya. "Hobby banget loe ngasih dia bunga. Loe pikir dia orang mati."


"Yeehh bunga mawar merah itu lambang cinta.


Masa loe gak tahu."


Regy memang tidak tahu. Karena yang dia tahu, bunga adalah untuk hiasan di atas makam orang-orang yang sudah meninggal.


"Yaudah ntar loe bilangin kalau bunga itu dari gue yah.. Bye!" Rangga pergi dengan buru-buru.


**


Malam hari..


Didalam kamarnya, Divio merenungkan kejadian saat istirahat tadi pagi.


Apa yang ia minta dari Raya? Rupanya ia meminta untuk menjadi teman Raya, jika gadis itu tidak keberatan. Sayangnya Raya tidak mau.


Ia bertekad untuk tidak dekat-dekat lagi dengan makhluk yang bernama lelaki. Sekalipun hanya sebatas teman.


"Tolong anterin baju pesanan temen Mamah yah.


Yang waktu itu kamu numpang ke toilet. Masih ingat kan rumahnya?" Tanya Mamah Divio.


Beliau merupakan seorang fashion designer. Dan Mamah Raya adalah teman sekaligus salah satu customernya.


"Kenapa nggak sama Mamah?" Divio heran.


"Mamah masih banyak kerjaan. Udah sana buruan. Nanti Mamah tambahin uang saku kamu."


Karena perintah Mamahnya adalah sesuatu yang bersifat wajib dan tidak bisa dibantah, akhirnya Divio bergegas ke rumah Raya. Sayangnya hingga saat ini, dia masih belum tahu jika rumah yang akan ditujunya adalah rumah keluarga Raya.


Begitu sampai di rumah tersebut, dan berhadapan dengan Mamah Raya, Divio langsung menyerahkan papper bag yang ia bawa.


Lalu ia pamit tanpa basa-basi.


Namun Mamah Raya menahan kepergiannya. "Sebentar, jangan pergi dulu. Tante mau titip sesuatu buat Mamah kamu."


Meski malas, Divio tetap masuk dan duduk di sebuah sofa mewah setelah di persilahkan.


Mamah Raya pamit sebentar untuk mengambil sesuatu. Dan begitu beliau pergi, sayup-sayup terdengar suara nyanyian seorang gadis.


Raya menyanyikan lagu sedih lagi di kamarnya.


"Tuhan kembalikan dia padaku


Karena ku tak sanggup


Berada jauh darinya


Kirimkan malaikat cinta untuknya


Sampaikan pesan dariku

__ADS_1


Yang selalu merindunya.."


Divio terpaku. Demi apapun, ia semakin penasaran dengan sosok pemilik suara indah yang telah berhasil menggetarkan hatinya.


**


Keyla menatap jam di handphonenya. Sudah pukul 8 malam. Artinya sudah 4 jam waktu yang telah ia habiskan bersama Aby. Dan sekarang saatnya Keyla pamit.


"Gue pulang dulu yah Bi. Ayah loe juga lagi on the way menuju kesini."


Dengan berat hati, Aby mengangguk. Batinnya meminta Keyla untuk tetap tinggal dan menemani tidurnya malam ini.


Setelah mengenakan tasnya, Aby pikir Keyla akan langsung pergi. Namun ternyata Keyla kembali duduk di tepi ranjang, dan memeluk Aby tanpa diduga.


"Cepet sembuh yah sahabat gue yang tengil." Ucap Keyla sambil menepuk-nepuk punggung Aby.


Sementara Aby menutup mata dan membenamkan kepalanya di pundak Keyla. Aroma shampo Keyla semerbak menusuk hidungnya.


Tuhan.. Perasaan ini begitu indah dan ingin Aby miliki seutuhnya.


Keyla melepaskan pelukannya dan menatap Aby dengan senyuman. "Besok gue kesini lagi. Bye.."


Saat Keyla sudah hampir pergi, Aby meraih tangannya. Gadis itu terheran.


"Kenapa?"


Aby menelan ludah getir. "I love you Key.."


***


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, taxi online yang membawa Meisya akhirnya sampai di cafe Diamond.


Begitu masuk kafe, Meisya terbelalak melihat keberadaan seseorang yang sedang duduk di salah satu meja. Segera Meisya mendekatinya.


"Regy?"


Regy tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Kebetulan banget kita ketemu disini." Meisya takjub.


"Nggak kebetulan kok kak."


"Maksudnya?"


"Saya dan Rangga tahu Kakak suka nyanyi di kafe ini. Dan tadi sore, Rangga ngajak saya kesini buat nonton Kakak. Gak tahunya dia ada urusan mendadak, dan akhirnya gak bisa dateng. Tapi dia nitip ini." Regy mengambil buket bunga mawar yang ia letakkan di atas meja, dan menyerahkannya pada Meisya.


Meisya menerimanya. Tapi ada yang membuatnya heran. "Wait! Kalian tahu darimana kalau Kakak suka nyanyi di kafe ini?"


"Dari postingan Instagram Kakak."


"Owh." Meisya manggut-manggut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Kalau gitu, apa Rangga pernah datang kesini dan nitip coklat lewat pelayan buat Kakak?"


"Soal itu, saya kurang tahu Kak."


Meisya kecewa dengan jawaban Regy. Namun ia mencoba tidak mempedulikan hal itu, dan berlalu menuju ruang ganti setelah pamit pada Regy.


Begitu Meisya menghilang dari pandangannya, senyum yang semula menghiasi wajah Regy mendadak sirna.


Ia menghembuskan nafas panjang seraya bergumam pada dirinya sendiri. "Regy Alvino.. Mau sampai kapan loe pura-pura?"


**


"I love you Key.." Ucap Aby, DALAM HATI. Tidak mungkin ia berani mengatakan hal itu secara langsung. Bisa-bisa Keyla pingsan dibuatnya.


Pada kenyataannya, Aby berkata. "Selamat malam. Dan hati-hati dijalan."


Keyla tersenyum dan mencubit pipi Aby. "Iya bawel."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2