
"Loe serius?" Pekik Raya yang sedang menyetir, begitu mendengar penuturan Keyla. "Si Hugo nyeret loe secara paksa?"
Keyla mengangguk sambil berkaca dan mengoleskan liptint ke bibirnya.
"Wah.. Psycho tuh cowok."
"Terus abis itu?" Meisya tak kalah kepo.
"Abis itu, seseorang datang dan mukul punggung cowok bangsat itu pake helm."
"Siapa?". " Siapa?" Tanya keduanya, kompak.
"Mantan terindah gue."
"Oh my God.. Si Fathan?" Meisya tak menyangka.
"Kok bisa dia ada disana?" Raya tak habis thinking.
"Katanya dia lagi disuruh beli siomay sama Kakaknya."
Meisya seperti diingatkan. "Oh Iyah! Siomay yang ada di taman kota emang gak ada lawan."
Raya geleng-geleng. Soal makanan Meisya memang seperti Yamaha. Semakin di depan.
"Terus abis itu?"
"Abis itu dia nganterin gue pulang."
Sesampainya di rumah Keyla, Gadis itu berterimakasih pada sang mantan untuk yang kedua kalinya.
Sang mantan tersenyum. "Sama-sama Key..
Oiyah.. Aku harap, setelah adanya kejadian ini, kamu mau buka hati lagi buat aku. Karena jujur, aku udah berusaha move on dari kamu, tapi aku tetep gak bisa."
Keyla menatap Fathan sendu. Jujur, ia pun masih menyimpan rasa terhadap mantan terindahnya itu.
Fathan pun memberanikan diri menggenggam kedua tangan Keyla.
" Kamu mau kan, kembali ke sisi aku lagi?"
"Terus loe terima?" Tanya Raya, berharap jawabannya tidak. Karena ia sangat tidak setuju mereka balikan lagi. Begitupun dengan Meisya.
Dan jawaban Keyla tidak sesuai ekspektasi. Ia mengangguk, seraya berkata. "Iyah.. Karena jujur, gue juga masih punya rasa sama dia."
Meisya dan Raya kompak menghela nafas kecewa. Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja, bisa-bisanya Keyla masih menerima Fathan di hidupnya. Well.. Kalau sudah bucin memang susah sih.
Keyla teringat sesuatu. "Oiyah Bo.. Tolong sampein rasa terimakasih gue buat adik kelas loe itu yah. Kalau nggak ada dia, mungkin kebusukan si Hugo gak bakal kebongkar."
Meisya menyuapkan sepotong donat ke mulutnya. Mulutnya yang tidak bisa berhenti makan. "Kenapa nggak loe aja yang ngomong langsung?"
"Gak ah.. Kenal juga kagak."
**
"Regy.. Rangga belum datang?" Tanya Meisya pada Regy, yang sedang berdiri menonton teman-temannya yang sedang bermain volley, di depan kelasnya.
"Belum kayaknya. Emang kenapa Kak?"
Meisya menunjukkan buku novel horror miliknya.
"Katanya dia mau minjem. Sekalian Kakak juga mau menyampaikan rasa terimakasih Keyla atas informasi rekaman video itu."
"Owh.. Paling bentar lagi-"
"Kak Meisya!" Panggil Rangga yang baru datang. Tiba di hadapan Meisya, ia bertanya. "Kakak lagi ngapain disini?"
"Nyariin kamu. Kakak mau ngasih novel ini."
Rangga tersenyum sumringah menerima novel berjudul The wall karya Hilman. "Wah.. Udah lama banget aku pengen baca novel ini.. Aku pinjam yah Kak."
"Iyah.. Oiyah, Keyla bilang, makasih banyak atas informasi video rekaman itu." Kata Meisya yang tidak tahu jika video tersebut aslinya milik Regy.
Rangga pun langsung menatap Regy yang balas menatapnya. Harusnya sahabatnya yang mendapat ucapan terimakasih tersebut.
Tapi Rangga tidak mau berterus-terang. "Iya Kak, sama-sama. Oiyah, nanti malam kita nonton yuk Kak?"
"Nonton? Di bioskop?"
"Iyah. Film menjelang Maghrib udah rilis minggu lalu. Dan kata temen aku yang udah nonton, filmnya seru."
"Mmm... Boleh deh. Kebetulan malam ini Kakak nggak ada jadwal nyanyi di kafe." Meisya menatap Regy yang sedari tadi mematung. "Regy ikut yah? Biar rame."
Regy tersenyum tipis. "Nggak usah Kak.. Selain bukan pecinta horror, saya juga ada urusan.
Kalau gitu, saya permisi dulu yah." Regy berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Ia tersenyum miris saat mengingat kejadian saat istirahat kemarin.
"Ga.. Loe dengerin video ini deh." Regy memutar video yang sedianya akan ia kirim pada ibunya.
Rangga menyimak. Tapi tidak tertarik. "Terus? Apa urusannya sama gue?"
"Ih! Loe tahu siapa yang dimaksud Keyla sama dua orang ini? Dia sahabatnya Kak Meisya.
Intinya, Kak Keyla dijadiin taruhan sama dua cowok bangsat ini."
Rangga mengerti. Ia tersenyum dan seolah mendapat ide. "Sini handphone loe." Katanya sambil merebut handphone Regy.
Sahabatnya itu bingung. "Loe mau ngapain?"
Setelah berhasil mengirim video milik Regy tersebut, Rangga menjawab. "Ngambil hati Kak Meisya. Dengan gini kan, dia bakal berterimakasih sama gue dan gue bakal punya nilai plus dimata dia." Rangga mengembalikan handphone Regy. "Thanks ya Gi.. Gue mau nemuin Kak Meisya dulu. Bye!"
**
Saat Raya sedang menyontek tugas matematika milik Meisya (yang jago matematika), seorang gadis yang tidak dia kenal tiba-tiba datang menghampirinya.
"Permisi Kak.." ucap gadis berkacamata dan bergigi kawat yang lumayan cantik tersebut. Ditangannya terlihat segulung poster.
"Iyah?" Raya menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kakak yang duduk sebangku sama Kak Divio yah?" Tanya gadis itu kemudian. Panggil dia Tania.
Raya mengangguk, membenarkan. Penasaran. Siapa cewek ini sebenarnya?
Tania pun menyerahkan gulungan poster yang ia pegang. "Kalau gitu bisa titip ini nggak? Aku buru-buru soalnya."
Raya menerimanya. "Oke."
__ADS_1
Karena penasaran dengan poster tersebut, Raya langsung membukanya begitu Tania pergi.
Sumpah demi apapun, dia shock. "Oh my God.."
5 menit kemudian, Divio baru datang. Ia dibuat heran oleh Raya yang terus tersenyum padanya. Senyuman yang tidak biasa.
"Kenapa loe?"
Raya tampak menahan tawa. "Gue gak nyangka sama loe."
Divio menaruh tasnya diatas meja. "Maksud loe?"
Raya menunjukkan poster pemberian Tania. "Loe ngefans sama Blackpink?"
Divio ternganga. Bagaimana bisa poster yang ia pesan melalui adik kelasnya kini ada di tangan Raya?
"Heh.. Kenapa poster itu ada di tangan loe?"
Raya nyengir. "Gak penting! Jawab pertanyaan gue. Loe beneran ngefans sama Blackpink?"
"Bukan urusan loe! Sini!" Divio berniat merebutnya. Namun dengan cepat, Raya menghindar.
"Waw ternyata seorang Divio Mahendra, suka sama Blackpink.. Hahahaha." Raya tertawa meledek. Masih tidak habis pikir. Seorang Divio yang macho ternyata merupakan seorang blink.
Divio tidak tinggal diam dan langsung mengejar Raya yang berlari menghindarinya.
"Raya! Sini loe!"
**
"Anak-anak.. Minggu depan, Ibu minta kalian menggambar tokoh idola kalian di buku gambar masing-masing. Bebas yah, mau itu artis, pahlawan, orangtua, pokoknya yang kalian idolakan." Ucap Bu Dewi, Guru seni budaya.
"Iya Bu.." Jawab siswa-siswi kelas 11 IPS 3, kompak.
Meisya menatap Keyla yang tampak sedang berpikir. "Loe mau gambar siapa Key?"
"Gak tahu. Bingung gue. Pak Bambang (Guru killer) aja kali yah?"
"Stress!"
"Loe sendiri mau gambar siapa? Pasti si Rizvan."
"Dih! Bukanlah."
"Terus?"
"Gue mau gambar Lucinta Luna."
Keyla nyengir dan langsung menoyor kepala Meisya.
Raya sendiri menatap Divio sambil menopang dagunya. "Loe mau gambar siapa Div? Lisa? Jennie? Ji-"
Divio langsung menodong Raya dengan penggaris besi miliknya. "Diem atau gue tusuk mata loe pake penggaris ini."
"Astagfirullah sadis beud."
**
Setelah menggendong tasnya, Keyla pamit pada dua somvlak. Siang itu mereka tidak pulang bersama. Karena Fathan sudah stand by di depan gerbang untuk menjemput Keyla.
Raya dan Meisya berdiri berdampingan menatap kepergian si kutil.
Meisya mengangguk setuju. "Padahal kalau gue jadi dia, gue mending move on sama si Aby. Dari cerita Keyla aja udah jelas kalau si Aby tuh cowok baik. Buktinya tiap kali Keyla minta dijemput, si Aby gak pernah nolak."
"Sayangnya si kutil udah bucin tingkat dewa sama si Fathan. Kaya lu sama si Rizvan!"
"Loe juga sama si Randy."
"Dih sorry yah.. Gue udah move on dari dia."
"Move on ke Divio?"
Raya langsung mendorong Meisya. "Apaan sih loe!"
**
Sore hari..
"Mbok, Keyla pergi dulu yah." Pamit Keyla sambil menenteng kotak makanan berisi martabak telor buatannya. Ia yakin, Aby akan memakannya dengan lahap.
Mbok Sumi yang sedang cuci piring, balik bertanya. "Non mau kemana?"
"Biasa, mau ke rumah sakit buat jenguk Aby."
"Bukannya Den Aby sudah pulang yah?"
Keyla bingung. Aby sudah pulang? Masa Iyah? Apa buktinya?
"Tadi pagi Mbok lihat sendiri Den Aby pulang sama ayahnya. Malahan mbok sama Nyonya langsung nyamperin mereka dan menanyakan kondisi Den Aby."
Mendengar penuturan Mbok Sumi, Keyla justru kecewa mendengarnya. Bukan apa-apa, tapi kalau Aby benar-benar sudah pulang, kenapa Aby tidak memberitahunya? Sedangkan sebelum-sebelumnya, Aby tidak pernah absen memberitahu Keyla tentang hal penting yang menyangkut dirinya. Misalnya saat Aby dibelikan motor oleh Ayahnya, Saat Ayah Aby diangkat jadi wakil direktur di perusahaan tempat beliau bekerja, bahkan saat Aby tiba-tiba merindukan almarhumah ibunya pun tak luput ia ceritakan.
Karena itu Keyla pun tak pernah segan curhat pada Aby.
Setelah berpikir beberapa lama, Keyla segera menelfon Aby untuk memastikan. Kalau ucapan Mbok Sumi terbukti benar, ia berniat memarahi Aby saat itu juga.
Namun sayang. Telfon Keyla tidak diangkat.
"Ih! Nyebelin banget sih ni orang!" Keyla ngamuk.
Mbok Sumi pun menyarankan Nona mudanya untuk pergi ke rumah Aby. Biar jelas toh?
Lagipula rumah mereka hanya berjarak beberapa langkah.
Keyla mengerti dan segera pergi.
Tok.. Tok.. Tok..
5 detik setelah Keyla mengetuk, pintu terbuka. Namun bukan Aby, Ayah Ginanjar yang membukanya.
"Keyla?"
"Bener Aby udah pulang Om?"
"Iyah. Aby sudah check out tadi pagi."
"Gitu ya Om? Keyla boleh ketemu Aby nggak?"
__ADS_1
Ayah Ginanjar tersenyum dan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Karena Keyla dekat dengan Aby, beliau tak segan menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri.
Begitu tiba di depan kamar Aby, Keyla langsung mengetuk pintunya.
"Siapa?" Teriak Aby dari dalam sana.
"Ini gue, Keyla."
Tidak ada sahutan. Aby justru diam tak bersuara.
Keyla auto geram. "Aby loe budek yah? Ini gue Keyla!"
"Masuk!"
Keyla langsung memegang handle pintu kamar Aby, dan mendorongnya. Namun rupanya dikunci.
Gadis itu jadi semakin kesal dan refleks menendang pintu kamar tersebut.
"Gimana gue mau masuk kampret! Orang pintunya loe kunci."
Ceklek! Pintu akhirnya terbuka dari dalam.
Keyla berjalan maju, sementara Aby refleks mundur.
"Loe udah gak nganggap gue sebagai sahabat loe lagi?" Tanya Keyla yang terluka.
"Maksud loe?"
"Kenapa loe gak ngasih tahu gue, kalau loe udah pulang? Kalau Mbok Sumi nggak ngasih tahu, mungkin sekarang gue lagi on the way ke rumah sakit. Dan nanti gue bakal kaya orang bego yang jengukin orang yang udah gak ada di rumah sakit."
Aby menghela nafas, dan membuang muka. Mulutnya tertutup rapat. Tidak ada jawaban atas perkataan Keyla.
Keyla menepuk pundak Aby. Heran, apa semenjak kecelakaan itu, telinga Aby jadi konslet? Kadang mendengar, kadang tidak.
"Bi? Loe gak denger?"
Aby menelan ludah getir dan akhirnya menatap Keyla. "Emang harus banget gue ngasih tahu loe?"
"Hah? Apa loe bilang?" Keyla seolah tak mendengar. Ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa Aby berkata seperti itu padanya?
"Kenapa? Kenapa gue harus ngasih tahu loe kalau gue udah pulang dari rumah sakit?"
"KARENA GUE PEDULI SAMA LOE! Gue sahabat loe! Dan sebagai sahabat yang baik, gue harus tahu keadaan loe!"
Aby kembali membuang muka, dan tersenyum miris. Sahabat? Persetan!
Keyla melunak dan merendahkan nada suaranya. "Loe tuh kenapa sih? Lagi punya masalah? Kalau gitu curhat dong sama gue. Kan biasanya juga gitu."
Aby menunduk. Pelik sekali rasanya.
"Sorry Key, gue cuma lagi butuh waktu buat sendiri."
"Jadi loe ngusir gue?"
Aby menatap Keyla. Oh Tuhan.. Kapan cewek ini peka? Dia benar-benar naif.
"Plis Key.. Ngertiin posisi gue. Gue bener-bener lagi gak pengen diganggu sekarang."
Keyla langsung kecewa mendengarnya. Jadi kehadiran dirinya membuat Aby terganggu? Oke, cukup tahu saja.
"Yaudah kalau gitu.." Keyla meletakkan kotak makanan yang ia bawa di atas meja belajar Aby.
"Setengah jam gue ngabisin waktu buat bikin makanan ini. Tapi kalau loe nggak suka, buang aja. SORRY, kalau gue ngeganggu." Gadis itu pun pergi dengan langkah cepat. Sikap Aby kali ini benar-benar membuatnya kecewa sekaligus sedih. Dia seperti bukan Aby yang Keyla kenal.
Aby sendiri membuka kotak makanan berwarna merah tersebut. Martabak telor. Makanan favoritnya. Dibuat oleh seseorang yang terkadang membuatnya bahagia sekaligus bersedih.
Aby pun menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, diiringi airmata yang jatuh tanpa terasa.
"Enak Key." Pemuda tengil berhati malaikat itu menyeka airmatanya kasar.
**
Rangga dan Meisya keluar dari bioskop seusai menonton film Menjelang Maghrib. Keduanya tampak puas menonton film bergenre horror berdurasi 1 jam 47 menit tersebut.
Kemudian keduanya pergi ke sebuah taman dan duduk berdampingan sambil memakan es krim cone.
"Seru yah Kak filmnya." Ucap Rangga disela-sela memakan es krim.
Meisya mengangguk sambil menjilati es krim rasa coklatnya. "Apalagi pas adegan si Ayu dikejar-kejar si Adi sambil bawa celurit. Bikin senam jantung."
Rangga tersenyum. Setelah berpikir beberapa lama, ia membuang es krimnya yang tinggal cone saja, lalu menatap Meisya yang masih asyik menikmati es krimnya. Kalau sudah makan, gadis itu memang suka lupa diri.
"Kak.. Aku boleh jujur nggak sama Kakak?"
"Jujur soal apa?"
"Soal perasaan aku."
"Kenapa sama perasaan kamu?"
"Jujur.. Aku suka sama Kakak."
Jika es krim yang sedang dinikmatinya lambat laun meleleh, Meisya sendiri justru membeku mendengar pengakuan Rangga.
Perlahan tapi pasti, ia menatap pemuda berkulit sawo matang dan berhidung bangir tersebut. "Hah? Apa kamu bilang?" Tanya Meisya, memastikan jika telinganya tidak salah dengar.
"Aku cinta sama Kakak." Rangga mempertegas. "
Awalnya, aku memang hanya sekedar mengagumi. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring kita semakin dekat, rasa kagum itu berubah menjadi cinta.
Dan aku harap, kakak pun merasakan hal yang sama." Rangga menelan ludah. Membasahi tenggorokannya yang kering. Tidak mudah baginya mengungkapkan perasaannya terhadap Meisya.
Meisya sendiri tampak shock. Setelah berpikir beberapa lama, ia membuang es krimnya dan menatap kedua mata Rangga.
**
Setelah memasang alarm di handphonenya, Meisya meletakkan handphonenya di atas nakas, dan bersiap tidur. Tidak lupa ia membaca doa sebelum tidur dan berdoa agar dirinya dijauhkan dari mimpi buruk. Bahkan tanpa segan Meisya berdoa agar Rizvan hadir dalam mimpinya malam ini. Karena di dunia ini, hanya dia satu-satunya lelaki yang Meisya inginkan. Bukan yang lain.
Baru 5 menit Meisya terlelap, tiba-tiba ia dibangunkan oleh dering handphonenya yang berbunyi nyaring. Bisa-bisanya ia lupa mematikan data seluler.
Meisya pun membuka penutup mata bergambar panda yang ia kenakan, dan meraih handphonenya. Telfon dari nomor asing.
"Halo?"
'Halo Mei.. Ini aku, Rizvan.'
Deg! Meisya tertegun. DEMI APA RIZVAN MENELFONNYA?
__ADS_1
-Bersambung-