
Mereka berdua berkeliling pasar dan mencoba banyak makanan.
"Rasakan kue ini sangat manis" ucap Putri Sia sambil menyodorkan kue kemulut Fu Kai.
"Putri ini.."
"Ssstt jangan memanggilku Putri, cepat makan ini" ucap Putri Sia sambil memaksa Fu Kai membuka mulutnya.
Fu Kai akhirnya membuka mulutnya dan memakan kue itu.
" bagaimana bukankah ini enak" tanya Putei Sia.
"Emmm ini enak dan manis, bisa kau memberikannya lagi" ucap Fu Kai pada penjual kue itu.
"Ini memang kue yang sangat lezat Tuan muda, kue ini sering disebut sebagai kue kastanya " ucap Penjual itu.
"Emm memang sangat enak, Sia kau sungguh pandai memilih makanan" ucap Fu Kai.
"Tentu saja, aku selalu membeli kue ini saat berkunjung kerumah kakek karena kue ini tidak dijual diibu kota" jawab putri Sia
"Benarkah" tanya Fu Kai.
mereka terus berkeliling hingga sampai di sebuah toko perhiasan.
"Woah lihat kalung ini bukankah sangat indah" ucap Putri sia.
" itu memang indah" jawab Chu Tian.
"Wah nona penglihatan anda memang bagus kalung ini hanya satu dan kalung ini mang yang paling bagus disini" ucap Penjual perhiasan.
"Benarkah, tapi hanya ada satu, aku ingin memberikannya pada saudara perempuanku juga" ucap Chen Sia dengan agak sedih.
Fu Kai hanya diam dia memang pandai dalam urusan wanita tapi tidak dengan perhiasan.
"Jika gelang ini bagaimana nona, gelang perak berlambang feniks ini biasanya dipakai oleh sepasang saudari atau sepasang saudara" ucap Penjual itu.
"Gelang ini juga bagus ukirannya sangat indah, baiklah aku ambil dua" ucap Putri Sia.
Setelah selesai membayar mereka melanjutkan berkeliling dengan Fu Kai membawa banyak barang.
"Apa tidak sebaiknya kita kembali, nanti Tuan besar akan mencarimu" ucap Fu Kai.
"Tidak apa apa, Aku akan mencari satu barang lagi , setelah itu kita kembali" ucap Putri Sia.
__ADS_1
"Huft baiklah" jawab Fu Kai.
setelah beberapa saat semua barang yang diinginkan Putri Sia sudah dia dapatkan, dan kini mereka kembali kerumah Chen Ga.
"Astaga Cucuku Sia'er Kau dari mana sajaa hingga baru pulamg" ucap Chen Ga dengan wajah khawatir.
"kakek aku..."
"Sebentar Sia'er , kau pelayan rendahan beraninya kau berada diluar kediaman begitu lama dengan Cucuku, kau harus sadar siapa dirimu...!" teriak marah Chen Ga.
"Kakek dia itu..."
"Diam Sia'er jangan coba coba membelanya, " ucap Chen Ga.
Fu Kai hanya diam dia tidak membela dirinya ataupun mengakui apa yang Chen Ga katakan, dia hanya diam seperti tak perduli.
Hingga pada Akhirnya Fu Kai mendapat Hukuman untuk tidur di gudang selama dia disini dan dia juga tidak akan mendapat makanan dari kediaman besar itu, Fu Kai tidak memabantah dia hanya menurut dan itu membuat Putri Sia merasa bersalah
Fu Kai berjalan menuju gudang berasama seorang pengawal sebai penunjuk arahnya.
"Fu Kai tunggu" teriak Putri Sia dari belakang.
Fu Kai berbalik dan melihat Putri Sia dengan Wajah bersalahnya.
"Fu Kai maafkan aku, karena aku kau harus seperti ini" ucap Putri Sia.
Putri Sia merasa aneh dia terdiam ditempatnya, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, kakeknya adalah orang yang keras kepala jika bukan keinginannya kakek tidak akan melepas Fu Kai begitu saja.
"Adik" ucap Seseorang dari belakang Putri sia sambil memegang pundaknya.
"Kakak, aku yang bersalah katakan pada kakek agar tidak menghukum Fu kai seperti ini, jika fu kai tidak makan lalu bagaimana dia hidup" ucap Putri sia sambil memeluk putri Mia.
"Kakak tidak bisa mengubah keputusan kakek tapi kita bisa membantu Fu Kai dengan memberinya makanan secara diam diam, kakak juga tidak ingin repot jika anak itu kenapa kenapa" ucap Chen Mia dan itu berhasil membuat Chen Sia tenang.
Sementara ditempat Fu kai dia melihat gudang yang begitu kotor dan berantakan, meski dia lelah namun dia masih membereskan tempat itu hingga benar benar bersih dan rapi.
"Huft akhirnya selesai" ucap Fu kai lalu membaringkan badannya di kasur tipis yang ua temukan digudang itu.
Hari mulai malam fu kai keluar untuk menyiapkan makan malam tuan putri.
"Kau ini bekerja lambat sekali" teriak chen ga pada chu tian yang baru saja mengantarkan makanan.
"Suamiku kau jangan marah marah begitu, dia juga pasti lelah karena perjalanan kemari" ucap yun Peng.
__ADS_1
"istriku kau terlalu memanjakan para pelayan, mereka tidak pantas mendapatkan itu" ucap Chen Ga sambil mengambil makanan.
"Puihh... siapa yang memasak makanan ini sungguh tidak enak" ucap Chen Ga.
"Hamba yang memasaknya tuan besar," ucap Fu Kai.
"Pantas saja rasanya tidak enak pergi dan buatkan lagi" ucap Chen Ga.
Sementara Chu Tian langsung kembali kedapur dan mencari tau dimana letak kesalahannya.
dimeja makan Chen Ga makan begitu lahap.
"Bukankah tadi kakek bilang itu tidak enak" ucap Chen Sia.
"Ini sangat enak, aku sengaja katakan tidak enak agar dia bisa bekerja lebih keras" ucap Chen Ga sambil terus melahap makanannya.
"Apa kakek tidak merasa kasihan padanya, dia tidak mendapat tempat yang layak dan juga kakek tidak memberinya makan" ucap Chen Mia.
"Itu adalah pelajaran baginya agar dia tau bahwa dunia ini keras, jika kau tidak punya uang dan kedudukan maka kau akan diijak" ucap Chen Ga.
"Tapi kakek dia aku bawa dari kerajaan Chen seharusnya aku yang berhak atas dia kan" ucap Chen Mia yang mulai berani.
"Tidak tidak cucuku dia berada di kediaman ku maka dia sekarang harus menuruti segala perintahku" ucap Chen Ga.
mereka terus berdebat sebelum akhirnya Fu Kai datang dengan dua pelayan dibelakangnya mereka membawa makanan yang disiapkan Fu Kai.
Fu Kai melihat wadah sudah kosong, dia sedikit heran bukankah tadi dia mengatakan bahwa masakannya tidak enak .
"Tolong letakkan Makanannya dimeja" ucap Chu Tian dia juga meletakkan satu makanan Dimeja dan berdiri disamping.
"Apa yang kau lihatt... pergi dari sini" ucap Chen Ga mengusir Fu Kai
sebenarnya Putri Sia dan Putri Mia ingin membela Fu Kai namun mereka juga mendapat tatapan tajam dari kakeknya.
Fu kai pergi dari sana tanpa sepatah kata yang keluar dia kembali kegudang tempat dia tinggal.
Fu kai duduk dan memandang sebuah lukisan yang baru saja dia buka dari gulungan. Lukisan itu adalah lukisan yang dibuat oleh Sao feng dia melukis keenam saudaranya ayah ibu serta dirinya.
"Kuharap kalian semua baik baik saja, kakak sungguh merindukan kalian" ucap Fu Kai satu tetes air matanya lolos begitu saja .
.
.
__ADS_1
.
.