
Fu kai terus melesat berbagai rintangan juga telah dia lalui hingga sampailah Fu kai kesebuah danau dengan banyak teratai yang sangat indah menghiasi danau itu, disana terlihat dua orang wanita cantik, yang satu sedang menari dengan pedang panjang dengan anggunnya, dan satulagi melihat sambil meminum secangkir teh.
Fu Kai menghampiri Mereka berdua, sontak kedatangan Fu Kai membuat Dua wanita itu terkejut, sang Wanita yang memegang pedang dengan reflek mengarahkan pedangnya keleher Fu Kai.
Bukannya takut Fu Kai malah tersenyum membuat dua orang wanita itu Terkejut.
"Apa kau akan membunuhku dengan pedang itu tuan putri" ucap Fu kai sambil Tersenyum.
Tubuh wanita itu bergetar dan tanpa sadar pedang itu juga berhasil mengores leher Fu kai. Wanita itu langsung menjatuhkan pedangnya dan menutup luka Fu Kai dengan kedua tangannya dia menangis sambil memandang Fu Kai dan tangannnya tetap berusaha menutup luka Fu Kai.
Fu Kai tersenyum dan mengelengkan kepalanya kemudian mengusap Air mata wanita itu, wanita itu tak lain adalah Yan Sha yang sedang belajar bersama Ling Na.
"Jangan menangis lagi ini hanya luka kecil" ucap Fu kai lalu melepas tangan Yan Sha yang sudah penuh darah dari Leher Fu kai.
Yan Sha langsung memeluk Fu Kai sambil menangis sesenggukan, sementara Fu Kai membalas pelukan Yan Sha dengan penuh kasih sayang.
" kakak maafkan aku, aku sungguh tidak tau" ucap Yan Sha.
" yan Sha, tidak apa apa bahkan kakak merasa bangga padamu karena kau berhasil mengatasi rasa takutmu, sekarang berhentilah menangis" ucap Fu Kai.
Ling Na menghampiri Fu kai dengan senyumnya.
"Jadi kau Fu Kai, senang bertemu denganmu" ucap Ling Na.
"Suatu kehormatan bagiku bisa berjumpa dengan sang dewi air" ucap Fu Kai sambil membungkukkan badannya.
"Hahaha itu hanya julukan saja pangeran" ucap Ling Na yang membuat fu Kai Terkejut.
"Dia adalah kakakku dan bukan seorang pangeran" ucap Yan Sha menyangkal perkataan Gurunya yang menyebut Fu Kai sebagai pangeran.
"Hahaha Yue'er ambilkan minum untuk kakakmu" ucap Ling Na mengalihkan perhatian.
"Tidak perlu, aku juga akan segera pergi setelah ini" ucap Fu Kai.
"Setidaknya terimalah jamuan kecil dariku dulu" ucap Ling Na .
Akhirnya Fu kai hanya bisa pasrah , sementara Yan Sha mengambilkan minum untuk Fu Kai.
"Ehm dewi, bagaimana anda bisa tau tentang itu" tanya Fu kai dengan penasaran.
" ceng Ho bukankah itu nama ayahmu" ucap Ling Na.
"Emm" jawab Fu kai dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"aku pernah bertemu denganya sebelumnya, tepatnya setelah dia diusir dari kerajaan Chen" ucap Ling na dengan Senyum.
"Jadi.."
"Ya aku tau semuanya, bahkan yang membantu ayah dan ibumu waktu itu adalah aku, meski aku tidak ingat lagi wajahnya namun untuk namanya aku mengingatnya" ucap Ling Na.
" bagaimana bisa seperti itu" tanya Fu Kai.
"Ceritanya sangat panjang, tapi aku bersyukur kau sudah mengetahui yang sebenarnya, apa kau sudah diangkat menjadi pangeran kerajaan Chen" tanya Ling Na.
" tidak, karena tidaka ada yang tau kecuali Chen Ga, namun Kakek Chen Ga juga tidak berani mengungkap identitas asliku" ucap Fu Kai.
"Huh pasti karena Chen Huo Itu" ucap Ling Na.
"Entahlah, tapi aku juga merasa senang karena dengan begitu aku tidak perlu repot dengan urisan kerajaan" ucap Fu Kai.
"Kau ini memang berbeda dengan anak lain, disaat mereka semua mengimpikan tahta dan kau, tahta ada didepan matamu kau malah menghindarinya" ucap Ling Na.
"Mereka tidak mengerti bagaimana sulitnya menjaga begitu banyak rakyat dan negara, mereka semua hanya tau bahwa menjadi raja memiliki kekuasaan dan kekayaan tanpa tau kesulitan" ucap Fu kai.
"Kau memang benar tapi bagaimana jika ayahmu menginginkan kau memperjuangkan kerajaan itu" tanya Ling Na.
Fu kai menatap Ling na dengan serius.
"Kenapa kau mau menuruti setiap keinginna ayahmu, bukankah dia sudah ditakdirkan untuk mati dengan kejam dan disaksikan oleh seorang anaknya" ucap Ling Na.
"Dutakdirkan, bagaimana anda bisa tau tentang takdir" ucap Fu Kai.
" fu kai, dengan ilmu perbintangan tentunya, dan kulihat kau memang ditakdirkan menjadi seorang raja yang hebat disuatu daerah namun aku tidak tau dimana daerah itu" ucap Ling Na.
"hahaha jangan bercanda Dewi, aku tidak pernah mempunyai mimpi menjadi Raja" ucap Fu Kai.
"Kau memang tidak pernah bermimpi tapi takdir dari mimpimu sangat besar, dengan kewibawaanmu kecerdasanmu dan juga tanggung jawabmu yang besar kau sangat layak menjadi raja" ucap Ling Na.
"Ak..."
"Siapa yang akan menjadi raja" tanya Yan Sha yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi Tiga cangkir teh dan sebuah teko kecil.
"Tidak ada , kenapa kau begitu repot dengan semua ini, " tanya Fu kai.
"Bukankah sangat jarang kakakku kemari jadi setidaknya dia bisa menikmati teh buatanku" ucap Yan Sha.
"Sungguh ini buatanmu, emmm sangat lezat" ucap Fu kai.
__ADS_1
"Sungguh, kakak kau tidak berubah selalu memujiku" ucap Yan Sha dengan malu malu
" emm guru Juga setuju dengan kakakmu, rasa teh ini sangat lezat aromanya juga sangat menenangkan" ucap Ling Na
"Sungguh" tanya Yan Sha dengan bersemangat.
"emm ngomong ngomong ada urusan apa kakak kemari, aku tidak yakin kakak hanya ingin menjengukku" ucap Yan Sha.
"Kau ini tidak percaya sekali kepada kakak, berikan tanganmu" ucap Fu Kai, dia lalu memberikan sejumplah uang keruang dimensi milik Yan Sha.
"Kakak aku masih mempunyai sisa uang, kau tidak perlu memberiku lagi" ucap Yan Sha.
" aku telah membaginya rata, kau boleh membeli apapun asal semua kebutihanmu terpenuhi bukankah aku akan merasa senang" ucap Fu Kai.
"kebutuhanku sudah sangat terpenuhi kakak, apa kau tidak tau Guru Ling Na sangat kaya dia bahkan membelikanku banyak barang" ucap Yan sha.
"Uhuk uhuk, Yan Sha kapan aku membelikanmu" tanya Ling Na.
" guru jangan malu begitu, bukankah Guru memang selalu membelikanku banyak barang saat guru keluar" ucap Yan Sha.
" Yah bagaimana ya, mungkin itu benar" ucap Ling Na dengan tertawa kecil.
"Hah aku senang kau bahagia disini Yan Sha, sekarang sepertinya aku akan pergi" ucap Fu Kai lalu berdiri dari tempatnya.
"Secepat itu, kakak Bisakah kau berada disini sedikit lebih lama kumohon" ucap Yan sha sambil memegang Tangan Yan Sha bahkan matanya Sudah berkaca kaca.
"Fu kai tinggalah sebentar lagi, apa kau tidak merasa kasihan pada adikmu" ucap Ling Na.
"Aku ingin tapi aku tidak bisa ada janji yabg harus kutepati, lagi pula aku masih harus ketempat Sao Feng, adik kecilmu itu bukankah juga harus bertemu kakak" ucap Fu Kai.
"Sao Feng, jadi kakak akan ketempat sao Feng" tanya Yan Sha.
"Tentu saja" jawab Fu Kai dengan senyumnya.
"Bisakah kakak menyampaikan salamku padanya, aku sungguh sangat merindukan sao Feng kecil, dia itu tidak bisa diam dan itu membuatnya terluka beberapa kali" ucap Yan Sha.
"Kakak akan sampaikan salammu untuk Sao Feng, baiklah kau jangan bersedihlagi, berlatihlah dengan baik dua tahun lagi kita akan bertemu dirumah apa kau mengerti" ucap Fu Kai sambil memegang Pipi Yan Sha.
"Emm aku mengerti kak" ucap Yan Sha dengan tersenyum.
.
__ADS_1
Yan Sha