Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 10 ~ Kebakaran


__ADS_3

Di rumah sakit.


Allison sudah dipindahkan dari ruang icu ke ruang rawat inap. Kondisinya kembali pulih setelah sempat mengalami koma karena alergi yang ia alami memang sangat parah.


Kafein dapat membuat Allison tak bisa bernapas sama sekali. Allison hampir meregang nyawa, beruntung asisten Juan dengan cepat membawanya ke rumah sakit. Terlambat beberapa detik saja, Allison akan kehilangan nyawa.


Saat membuka kedua mata, Allison melihat sang nenek tengah berbincang dengan dokter yang menangani alerginya. Mengalihkan pandangan ke kiri, Allison dapat melihat asisten Juan yang tampak fokus pada layar ponselnya.


"Di mana dia?" itulah kalimat pertama yang Allison ucapkan.


"Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga, Allison. Nenek sangat khawatir," balas Diona terharu melihat kondisi cucunya yang sudah lebih baik dan telah sadarkan diri.


Karena tak mendapat jawaban dari neneknya, Allison pun mengalihkan pandangan dan bertanya kepada asisten Juan di sebelahnya. "Di mana dia?"


"Nona—"


"Dia siapa, Nak?" potong Diona ketus.


"Di mana Faylan!?"

__ADS_1


"Untuk apa kamu menanyakan keberadaan pembawa sial itu? Lihatlah, dia sudah membuatmu seperti ini, kamu hampir mati karenanya dan sekarang kamu bertanya di mana dia. Mana mungkin dia berani datang ke sini setelah mencelakaimu," terang Diona menggebu-gebu, emosi masih menguasai kepalanya.


Allison tak merespon ucapan neneknya, ia langsung bangkit lalu melepas paksa semua alat yang menempel di tubuhnya.


"Tuan, kondisi anda baru saja membaik. Anda tidak boleh banyak bergerak," sang dokter mencoba menahan Allison.


"Kau Tuhan!?" bentak Allison mendorong sang dokter hingga mendarat di lantai.


"Apa-apaan ini Allison? Jangan bilang karena pembawa sial itu kamu mengabaikan nenek!" Diona kaget atas perubahan sikap cucunya. Karena sebelum mengenal Faylan, Allison adalah cucu yang sangat menurut serta menghormati dirinya.


"Nenek tahu aku tidak suka rumah sakit," balas Allison yang sudah turun dari brankar.


"Juan, bawa nenek pulang."


"Baik, Tuan," jawab asisten Juan patuh. Allison pun pergi dengan masih mengenakan pakaian rumah sakit.


***


"Ibu!" teriak Faylan reflek melepaskan sepeda serta tasnya, ia langsung berlari memasuki rumah yang telah dilahap si jago merah.

__ADS_1


"Nona Faylan!" beberapa pelayan yang selamat mencoba menahan Faylan, tapi terlambat karena Faylan telah berlari ke arah kobaran api hanya demi menyelamatkan satu-satunya foto sang ibu yang ia punya.


Faylan berlari secepat kilat, para warga di sekitar bahkan polisi sekali pun tak sempat menghentikan Faylan. Semua orang tak bisa berbuat apa-apa, mereka tak berani mendekat karena api berkobar semakin besar, sementara pemadam kebakaran yang telah dihubungi belum juga datang.


Di dalam rumah, Faylan melangkah berhati-hati menghindari api sambil menutup mulutnya.


"Ibu harus selamat! Kalau tidak, Faylan juga tidak akan selamat!" batin Faylan tetap menuju kamarnya, walau kobaran api semakin membesar. Ia bahkan tak peduli dengan nyawanya sendiri, yang ia pedulikan hanya foto sang ibu yang masih melekat di dinding kamarnya.


Kedua manik matanya berbinar kala berhasil masuk ke dalam kamar. "Ibu!" serunya kala melihat foto sang ibu yang sedikit lagi akan dilahap api, Faylan pun langsung berlari untuk menyelamatkan.


Namun, harapannya harus terkubur dalam kala asmanya tiba-tiba kambuh. Faylan terjatuh dan tergeletak tak berdaya di lantai. Asap yang mengepul membuatnya kesulitan bernapas.


Samar-samar Faylan masih sempat menyaksikan foto sang ibu yang terbakar secara perlahan. Buliran bening menetes dari sudut mata, sementara bibirnya sudah tak sanggup berucap. Sepersekian detik kemudian, Faylan pun kehilangan kesadaran.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2