Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 15 ~ Pergi ke Panti


__ADS_3

"Berikan hakku."


Deg!


Faylan langsung menoleh, menatap Allison dengan jantung yang berdegup kencang. Permintaan Allison yang tiba-tiba sukses membuatnya berkeringat dingin, bahkan wajahnya pucat seketika.


Mengingat Allison adalah suami sahnya, mau tidak mau, siap tidak siap, Faylan memang harus menyerahkan diri. Ia menghela napas panjang, kemudian menganggukkan kepala sambil berkata, "Aku siap."


Allison tersenyum lembut menatap Faylan dalam-dalam. Faylan terpesona melihat senyuman manis itu untuk pertama kalinya. "Jangan bilang selama ini dia telah menahan diri," batin Faylan curiga. Allison memang sulit ditebak.


Mau dibilang jahat, tapi perhatian. Mau dibilang baik, tapi dingin dan kasar. "Apa dia berkepribadian ganda?" tanya Faylan dalam hati.


Ctak!


"Aw!" ringis Faylan seraya memegangi keningnya yang Allison jitak.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Saya tidak berpikir tentang hal mesum," jawab reflek menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Aku tidak mengatakan kamu mesum," lanjut Allison membuat Faylan kehabisan kata-kata.


"Apa selama ini kau menungguku mengajakmu?" ledek Allison tapi dengan ekspresi wajah datar yang justru membuat Faylan semakin tegang.


"Tidak, tidak pernah sekalipun!" tegas Faylan yakin.


"Maksudmu tidak mau?"


"Mau," sahut Faylan dengan kedua pipi yang sudah Semerah tomat.


"Bagus, kalau begitu bersiaplah. Aku akan mandi terlebih dahulu," Allison bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.


"Tuan!" panggil Faylan menghentikan langkah Allison.


"Apa?"


"Tuan Son suka warna apa?"


"Tidak perlu pakai lingerie, aku lebih suka melihatmu polos tanpa sehelai benang pun," jawab Allison menyeringai mengerikan.

__ADS_1


Bukan lagi saliva yang tercekat, tapi kini napasnya yang tercekat. Faylan mengusap dadanya yang berdetak kencang, "Siapa yang mesum sekarang?"


Derrtt....


Ponsel Faylan bergetar pertanda ada panggilan masuk. Nama ibu panti tertera di layar dan Faylan langsung mengangkatnya cepat. Ibu panti mengatakan bahwa salah satu adik yang sakit terus menyebut namanya. Tanpa berpikir panjang, Faylan langsung keluar dari kamar meninggalkan Allison yang masih di kamar mandi.


Saat akan pergi, Faylan tak sengaja melihat bibi Fani dengan seorang pelayan lain tengah membawa kantung plastik berukuran jumbo berisikan banyak snack dan juga minuman.


"Ini semua mau dibawa ke mana, Bi?" tanya Faylan penasaran.


"Dibuang, nona. Semua ini sudah akan kadaluarsa," jawab bibi Fani.


"Benarkah?" Faylan memeriksanya, ia tersenyum lebar kala melihat tanggal kadaluarsanya adalah dua hari ke depan.


"Biar saya saja yang buang," ucap Faylan bersemangat.


"Tidak perlu, nona. Ini adalah tugas kamu, tuan muda akan memarahi kami bila tahu nona melakukan hal seperti ini," bibi Fani tak mengizinkan.


"Tidak apa-apa, Bi. Berikan saja padaku. Lagipula tuan Son tidak ada di sini," balas Faylan merebutnya secara paksa, bibi Fani tak dapat berbuat apa pun. Faylan menyangkut dua kantung plastik jumbo itu di sepedanya.


"Sampai jumpa, Bi!" seru Faylan kemudian melajukan sepedanya menuju panti asuhan.


"Nona mau ke mana?"


***


Setelah tubuhnya tak lagi licin, Allison pun menyudahi mandinya. Mematikan shower, meraih handuk kemudian ia lilitkan ke pinggang kekarnya. Saat keluar dari kamar mandi, tatapan mata Allison tertuju pada ranjang yang di atasnya sudah tidak ada Faylan.


"Faylan!" panggil Allison tapi terdengar sahutan.


"Sial!" umpat Allison menuju walk in closet, ia mengambil dan mengenakan sembarang baju. Kemudian melesat pergi untuk mencari keberadaan Faylan.


"Tuan muda," panggil bibi Fani yang baru saja masuk ke rumah.


"Mana Faylan?"


"Nona baru saja pergi dengan sepedanya dan—"


Belum selesai bibi Fani berkata, Allison telah pergi menyusul sambil menghubungi seorang bawahan yang ia tugaskan untuk menjaga Faylan dari kejauhan. Bawahannya mengatakan bahwa saat ini Faylan sudah berada di panti asuhan.

__ADS_1


***


"Akhirnya kamu datang juga, nak. Luisa sudah menunggu, ayo masuklah," ajak ibu panti. Faylan menyerahkan kantung plastik berisi makanan yang ia bawa.


"Apa ini, nak?"


"Ada sedikit makanan, Bu. Tapi, harus dimakan sekarang karena akan kadaluarsa," jawab Faylan jujur.


"Wah, adik-adikmu pasti senang, ibu bantu bawa," Faylan dan ibu panti menuju ruang tamu sambil menenteng dua kantung jumbo berisi makanan.


Sampai di sana, Lusia yang sakit begitu senang akan kehadiran Faylan. Ia terus menempel pada Faylan, Faylan menyuapinya makan. Sementara ibu panti sibuk membagikan makanan yang Faylan bawa.


"Cukup, Bu?"


"Cukup, nak," jawab ibu panti.


"Semuanya sudah kebahagiaan, bukan?" lanjutnya bertanya.


"Sudah, Bu!" seru mereka serentak.


"Bilang terima kasih sama kak Faylan."


"Terima kasih Kak Faylan!"


"Sama-sama, sekarang dimakan, ya."


"Baik, Kak," jawab mereka sibuk membuka snack dan minuman masing-masing.


"Selamat menikmati semuanya," ucap Faylan senang melihat adik-adiknya berbahagia.


"Tunggu!"


Faylan menoleh pada sumber suara, "A ... Allison...."


.


.


.

__ADS_1



Antara gak sempat pasang baju karena terburu-buru atau sengaja karena sejatinya memang gak suka pakai baju🙄🙈. Agak laen prince satu ini🥲


__ADS_2