Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 08 ~ Jemput Faylan, Bu!


__ADS_3

"Selamat jalan, Ayah. Selamat beristirahat. Jangan temui ibu di sana, berhenti mengganggu dan melukainya. Sekali lagi terima kasih karena membiarkanku tetap hidup."


Sore menjelang malam usai pemakaman ayahnya, Faylan melangkah gontai kembali ke kamarnya yang sempit dan pengap. Tanpa ac dan hanya tersedia satu kipas angin yang begitu dinyalakan, semua debu pun berterbangan.


Uhuk! Uhuk!


Faylan segera keluar dari kamar sebelum asmanya kambuh. Ia mengambil alat penyedot debu, kemudian membersihkan kamar yang meski kecil tapi cukup membuatnya merasa nyaman.


Begitu selesai membersihkan kamarnya, ia menjatuhkan tubuh kasar ke atas ranjang, memejamkan mata dan menghirup banyak oksigen. Tapi, dadanya tetap terasa sesak seakan ada batu besar yang menghimpit. Faylan kembali bangkit lalu berjalan menuju dinding di mana ada sebuah foto Maria yang melekat di sana.


Faylan bersimpuh di lantai, lalu menengadah menatap wajah cantik sang ibu yang tersenyum manis. Wajah berbentuk oval, mata indah dengan netra berwarna hazel, hidung lancip nan mungil, bibir ranum tipis atas tebal di bawah, gigi putih bersih yang tersusun rapi serta rambut panjang yang terjuntai indah.


Semua kesempurnaan Maria diturunkan kepada Faylan. Sekilas keduanya tampak sama, hanya warna kulit yang berbeda, karena Faylan lebih putih bersih daripada ibunya yang memiliki kulit lebih gelap dan terdapat lebih banyak luka. Hanya satu yang tidak Maria turunkan pada putrinya, yaitu tuna tungu wicara.


Faylan memukul pelan dadanya, berharap dapat mengurangi sesak akibat rasa rindu menggebu-gebu. Meski hampir meneteskan air mata, tapi ia masih keukeuh membendungnya. Faylan tersenyum kaku di hadapan Maria, ia tak akan menunjukkan kesedihannya.


"Bagaimana kabar ibu di sana? Kalau Faylan masih sama saja. Seperti yang ibu lihat, Faylan hanya merasa sedikit lelah, tapi Faylan baik-baik saja," ungkap Faylan dengan helaan napas berat. Bibirnya bergetar hebat karena menahan tangis.

__ADS_1


"Di sana ibu pasti lebih bahagia karena tidak akan menanggung derita lagi. Apa ibu tidak berniat menjemput Faylan? Faylan sangat iri, Faylan juga mau tinggal di sana bersama ibu. Jemput Faylan secepatnya, Bu, di sini sangat sepi tanpa ibu," mohon Faylan dengan air mata yang sudah tak lagi sanggup ia bendung.


"Sebenarnya Faylan sangat ingin berziarah ke makam ibu. Tapi, sampai ayah meninggal, ia tak memberitahu di mana letak ibu dimakamkan," Faylan mengambil jeda, mengusap air matanya dengan kasar.


"Oh iya, hari ini ayah juga pergi, Faylan baru saja pulang dari pemakaman. Apa ibu sudah bertemu ayah? Tapi, sepertinya tidak akan mungkin. Ayah pasti berada di tempat berbeda dengan ibu. Huff ... Kenapa hidup melelahkan sekali? Jemput Faylan, Bu. Faylan mohon," lanjut Faylan meringkuk memeluk diri. Kali ini ia menangis sejadi-jadinya, air mata mengalir begitu deras. Faylan terisak sesegukan hingga matanya membengkak.


Tanpa Faylan sadari, sepasang mata elang memperhatikannya dari kejauhan. Siapa lagi pemilik mata elang itu jika bukan Allison. Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Allison dapat melihat bagaimana hancurnya seorang Faylan yang mengadu pada ibunya yang telah tiada. Allison mengepalkan tangan hingga memutih, kemudian segera melangkah pergi.


"Bagaimana?" tanya Allison singkat.


"Laporkan padaku setiap perkembangannya."


"Siap, Tuan. Apa tuan mau pulang sekarang?"


"Tidak. Malam ini, aku akan istirahat di sini," jawab Allison yakin.


"Saya akan minta pelayan menyiapkan kamar untuk tuan."

__ADS_1


"Tidak perlu," timpal Allison melangkah pergi.


***


Keesokan harinya, Faylan membuka mata kala merasa ada benda berat yang menghimpit dada hingga membuatnya teramat sesak.


"Aaahh!"


.


.


.



Allison : Selamat pagi, Istriku! Jangan lupa like dan komen, ya😎

__ADS_1


__ADS_2