
"Dia sengaja menampakkan diri dan menakut-nakuti Faylan tanpa melakukan apa pun. Bagaimana menurutmu, Juan?" tanya Allison menatap serius sang asisten.
"Sekali tepuk dua nyamuk didapat, dia melakukan itu untuk memperlihatkan kekuatannya kepada tuan. Tak hanya membuat nona takut, tapi juga tuan," balas asisten Juan menurut pandangan.
Sebelumnya, kamar Faylan tak dipasang cctv. Allison baru memasangnya setelah kejadian di mana Faylan melihat sosok misterius di taman mansion. Yang tahu letak cctv tersembunyi yang dipasang hanya Allison dan juga Asisten Juan. Hebatnya sang musuh masih saja dapat meretas cctv hingga pengawal yang berjaga tidak menerima kejanggalan apa pun.
"Punya banyak cara yang tidak bisa ditebak, dapat melakukan apa pun tanpa meninggalkan jejak. Sampai detik ini, aku masih belum punya tebakan siapa dia sebenarnya," sambung Allison.
***
Byuurr!
Seember air membasahi wajah, sekujur tubuh dan juga kasur yang Faylan tempati.
"Waktunya makan siang! Cepat bangun!" bentak seorang gadis yang wajahnya persis seperti Tina. Faylan mengusap wajahnya, tak menyangka bahwa Tina bukankah pelayan baik seperti yang ia kira sebelumnya.
"Tini! Apa yang kau lakukan!"
__ADS_1
Pelayan yang memiliki perawakan sama masuk dan langsung membantu Faylan bangkit. Faylan pun baru menyadari bahwa yang menyiramnya dengan air bukanlah Tina, melainkan Tini kembaran Tina.
"Dia kan cuma Unlucky Bride, Kak. Statusnya lebih rendah dari kita. Biar dia rasain, enak aja kita capek-capek kerja dia cuma tiduran," ketus Tini menatap Faylan rendah.
"Keluar!" bentak Tina, Tini menghentakkan kaki dan langsung keluar dari kamar Faylan.
"Astaga, nona basah," ujar Tina sibuk mengambil handuk, lalu membantu mengeringkan tubuh Faylan yang basah kuyup.
"Tidak apa-apa, Tina. Saya baik-baik saja. Lagian kamar ini juga panas, saya sama sekali tidak kedinginan. Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum nyonya Diona tahu kamu di sini," usir Faylan tak ingin menambah masalah.
"Iya, sudah dimaafkan," Tina pun segera pergi meninggalkan Faylan seorang diri di kamarnya.
Melihat tubuhnya yang basah, Faylan hanya menghela napas panjang. Kemudian melangkah menuju dinding di mana foto ibunya berada.
"Faylan baik-baik saja, Bu. Tidak perlu khawatir, ini bukan apa-apa," tuturnya seraya mengusap kasar air mata yang mengalir tanpa seizinnya.
Usai mengganti pakaian, Faylan pun pergi ke ruang makan untuk makan siang. Namun, perutnya kembali kram. Sakit kali ini melebihi rasa sakit sebelumnya.
__ADS_1
"Jadi seperti ini rasanya hidup dengan satu ginjal?" batin Faylan berjalan perlahan sembari berpegangan dengan dinding agar langkahnya tetap seimbang.
Kram perutnya mulai mereda ketika sampai di ruang makan. Tina memintanya duduk dan melayaninya dengan baik. Faylan merasa senang karena menemukan pengganti bibi Fani. Walau ada Tini yang sedari tadi menatapnya tak suka. Faylan tak peduli, ia tetap menyantap makan siangnya dengan lahap sebelum perutnya kembali kram.
Usai makan siang, Faylan kembali ke kamar, saat melewati ruang keluarga. Faylan berjalan sembari menundukkan wajah, takut dengan tatapan tajam nyonya Diona padanya.
"Kau lihat, dia sangat jauh berbeda dengan menantuku Cleona. Ibarat langit dan bumi. Cleona selalu membantu pelayan di dapur setelah makan siang, setelah itu menemaniku minum teh dan berbincang bersama. Sementara dia, tahunya hanya tidur sepanjang waktu."
Faylan tentu mendengar karena volume suara nyonya Diona amatlah tinggi. Meski begitu, Faylan pura-pura tak mendengar dan tetap melanjutkan perjalanan menuju kamar. Faylan akan membantu pelayan lain kali, saat kondisinya membaik.
Untuk saat ini Faylan hanya mampu menutup telinga. Sampai di kamar, Faylan terpaksa melanjutkan istirahat untuk mengurangi kram yang sesekali datang dan kemudian menghilang dengan sendirinya.
.
.
.
__ADS_1