
DOR!
"Aaaakkh!" teriak Faylan kaget.
"Faylan!" teriak seseorang yang suaranya Faylan kenali. Faylan langsung mengangkat pandangan dan betapa kagetnya ia saat melihat sang kakak sudah berada tepat di hadapannya. Sementara Luiz telah tumbang dengan luka tembak yang menembus otaknya.
"Kak Melvin," teriak Faylan lagi, Melvin langsung memeluk sang adik dengan erat. Ia dapat merasakan tubuh Faylan yang bergetar ketakutan.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu aman sekarang," tutur Melvin menenangkan.
"Faylan takut," isaknya pilu sembari melepaskan pelukan.
"Maaf kakak terlambat, kita pergi dari tempat ini sekarang," Faylan menganggukkan kepala, Melvin langsung menggendong Faylan dan membawanya pergi ke rumah sakit. Menyusul Allison yang telah lebih dulu dibawa karena tak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah. Diona dan asisten Juan yang jantungnya masih berdetak juga dibawa ke rumah sakit.
Di tempat kejadian hanya tersisa Castin yang masih membatu tepat di hadapan sang ayah. Castin bersimpuh dengan air yang mengalir deras karena begitu terpukul atas kepergian ayahnya yang benar-benar telah kehilangan nyawa.
***
Beberapa bulan kemudian.
"Karena keegoisan Al, kakek dan nenek yang menjadi korban," sesal Allison yang kini menangis di hadapan makam Kakek dan Neneknya. Faylan yang perutnya sudah membulat, setia berada di sebelah sang suami.
__ADS_1
Meski sudah mendapat penanganan terbaik di ruang ICU, rupanya Diona tak sanggup bertahan. Sebulan kemudian ia pun menyusul sang suami dan putranya Luiz. Berbeda dengan asisten Juan yang mampu bertahan dan berhasil sembuh total.
"Berhenti menyalahkan dirimu, Allison. Walau kematian kedua orangtuamu tidak diungkap. Selagi dia masih hidup, Luiz tak akan berhenti membalaskan dendamnya," ungkap Castin yang juga ikut berziarah ke makam kedua orangtuanya.
"Tapi—"
"Sekarang semua sudah berlalu, Allison. Lebih baik fokus pada istri dan bayimu, jangan sampai kondisimu mempengaruhi kondisi mereka," potong Castin membuat Allison menatap Faylan yang duduk di kursi roda di sebelahnya.
Sejak kejadian itu, Faylan hampir kehilangan bayinya. Walau kini kondisinya sudah membaik dan siap akan melahirkan. Tapi, Allison tak mengizinkan sang istri banyak bergerak. Itulah sebabnya Faylan harus menggunakan kursi roda saat berpergian.
"Maaf," ucap Allison menatap Faylan tulus. Satu kecupan penuh kasih sayang mendarat di perut buncit Faylan.
"Aku baik-baik saja," balas Faylan tersenyum manis.
Allison menatap sedih kepergian paman yang ia anggap sebagai ayahnya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Allison pada sang istri tercinta. Faylan yang masih duduk di kursi roda hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Setelah meninggalnya sang kakek dan nenek, otomatis Allison langsung naik tahta. Ia dan Faylan pun tinggal di istana utama. Semua pelayan dan pengawal yang mengabaikan Faylan kala itu telah ia singkirkan. Yang tersisa hanya Tina. Meski Allison juga memecat Tina, tapi ia memberikan kompensasi karena hanya Tina yang berbuat baik kepada Faylan.
Setelah memastikan sang istri istirahat, Allison pergi ke ruang kerjanya. Di kursi kebesarannya, ia duduk sembari menatap layar komputer dengan menitikkan air mata. Allison bersedih bukan karena mengingat sang kakek dan nenek yang telah tiada, melainkan melihat cctv di mana Faylan disiksa oleh Tini.
__ADS_1
Meski video tersebut membuat hatinya sakit, tapi Allison sama sekali tak menyingkirkannya. Karena dengan melihat penderitaan yang Faylan alami, di situlah timbul rasa ingin melindungi yang semakin besar.
Tok, tok, tok!
"Masuk," ucap Allison menyeka air matanya kasar.
"Maaf mengganggu, tuan," kata asisten Juan sambil membungkukkan tubuh.
"Ada apa?" tanya Allison singkat.
"Para pejabat kerajaan dan rakyat terus mendesak agar perceraian dilakukan secepat mungkin," lapor asisten Juan.
Meski Allison telah membuktikan bahwa tradisi tidak ada sangkut pautnya dengan kematian kedua orangtuanya. Akan tetapi, hal tersebut tak cukup untuk membuktikan ketidakbenaran tentang tradisi. Mengingat tradisi telah ada bahkan sebelum kakeknya dilahirkan.
Untuk itu, para pejabat dan masyarakat Oesteria terus mendesak agar keempat keturunan bangsawan untuk secepatnya bercerai.
Mendengar laporan asisten Juan, Allison mengetuk jemarinya, kemudian berkata,
"Siapkan upacara perceraian sekarang juga!"
.
__ADS_1
.
.