Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 06 ~ Tidur di Teras


__ADS_3

"Tino!" seru Faylan menghentikan kayuhan sepedanya.


"Kak Faylan," remaja lelaki berusia lima belas tahun membalas sapaan Faylan.


"Shift malam, ya?"


"Iya, Kak. Kakak mau ke panti?" remaja tampan bernama Tino itu balik bertanya.


"Iya, Ibu menghubungi kakak, katanya adik-adik belum makan. Tunggu ... Wajahmu kenapa?" Faylan kaget saat baru menyadari wajah Tino yang dipenuhi oleh plester luka. Tino hanya diam sambil menundukkan wajah menyembunyikan luka di wajahnya.


"Apa ini perbuatan gangster elang?" lanjut Faylan mengintrogasi. Tino hanya menganggukkan kepala dengan lemah.


"Ya Tuhan."


"Aku baik-baik saja, Kak. Adik-adik membutuhkan kakak," balas Tino mengingatkan Faylan akan tujuan utamanya.


"Ah iya, jaga dirimu Tino. Jangan bekerja terlalu keras, istirahat bila lelah. Jangan lupa makan!" Faylan berseru sambil melajukan sepedanya. Tino yang akan berangkat bekerja hanya melambaikan tangan dengan senyuman kecil di bibirnya.


Faylan berhenti di sebuah minimarket yang buka 24 jam. Ia membeli satu karpet telur ayam, satu kardus mie instan, dan beberapa kilogram beras. Faylan mengikat semuanya dengan rapi di atas sepedanya.


Setelah dirasa aman, ia pun naik dan melajukan sepeda sambil berdiri. Lelah dan letih tak ia rasakan, karena yang ada di pikirannya saat ini adalah sampai di panti dengan cepat karena adik-adik pasti telah menunggunya. Karena tak punya banyak waktu, Faylan pun mempercepat laju sepedanya.


Brak!


"Aw!" ringis Faylan yang sudah tergeletak di aspal jalan dengan luka lecet di betis dan juga lengannya.


"Sepedaku!" serunya berusaha bangkit kemudian menyeret kakinya untuk meraih sepeda yang beruntung tak mengalami kerusakan parah. Hanya rantainya yang lepas, Faylan mencoba membenarkannya tapi tak berhasil.


Huff....

__ADS_1


Faylan menghela napas panjang menatap beberapa telur ayam yang telah pecah dan berserakan di pinggir jalan. Faylan memungut beberapa dari mereka yang masih bagus. Jaketnya ia gunakan sebagai wadah. Sekitar 10 biji telur yang masih bagus berhasil ia amankan. Sementara satu kardus mie instan dan beras masih kokoh di tempat semula karena diikat dengan kuat.


Berbekal cahaya rembulan yang berpendar di langit, Faylan melangkah gontai sambil mendorong sepedanya menuju panti asuhan yang jaraknya masih lumayan jauh. Kisah hidup yang perih dengan darah segar yang menetes dari luka lecetnya sama sekali tak membuat Faylan menyerah.


Gadis kecil yang dahulu lemah tak berdaya kini sangatlah kuat dan pantang menyerah. Lihatlah, pipinya basah bukan karena air mata, melainkan keringat yang menjadi saksi perjuangannya menjalani hidup di dunia yang keras.


"Faylan, akhirnya kamu datang juga, Nak. Masuklah!" seru ibu panti menyambut kedatangan Faylan. Wanita paruh payah itu terlihat sangat senang akan kedatangan Faylan yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Duduk dulu, Nak. Ini minumlah," Faylan menerima dan langsung meneguk segelas air putih yang ibu panti berikan padanya.


"Adik-adik mana, Bu?" tanya Faylan seraya meletakkan gelasnya ke atas meja.


"Di kamar mereka masing-masing, Nak. Tadi ibu suruh tidur untuk mengalihkan lapar," jawabnya sambil melirik beberapa makanan yang Faylan bawa.


"Terima kasih banyak, ya, Nak. Ibu akan segera siapkan makan malamnya," ia bangkit dari duduk dan berjalan terseok-seok karena kakinya yang lumpuh sebelah kanan.


"Tidak perlu, Sayang. Kamu tetap di sini, ibu akan meminta bantuan pada Key dan Fara," Faylan pun kembali duduk di sofa ruang tamu.


Beberapa menit kemudian, ibu panti kembali datang, ia membangunkan anak-anak yang masih terlelap. Faylan juga turut membantu. Anak-anak panti yang sudah kelaparan terlihat sangat bahagia melahap mie instan yang sudah tersaji di piring mereka masing-masing.


"Terima kasih makan malamnya, kak Faylan!" ucap mereka kompak.


"Sama-sama, Sayang. Sudah larut malam, sekarang kalian bisa istirahat dengan tenang," balas Faylan, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


"Nak, maaf karena ibu baru menyadari luka di betis dan lenganmu. Kemarilah akan ibu bantu obatkan."


"Tidak perlu, Bu. Faylan pergi tanpa izin dan harus pulang sekarang juga. Lagian ini hanya lecet kecil, pasti akan Faylan obati saat sampai di rumah," tolak Faylan dengan halus.


"Maafkan ibu karena sudah menyusahkanmu, Nak. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu. Sekali lagi ibu minta maaf. Karena anak-anak sudah tidur, ibu akan antar kamu pulang," ajaknya yang khawatir membiarkan Faylan pulang seorang diri di tengah malam.

__ADS_1


"Tidak perlu, Bu. Faylan pulang sendiri tidak apa-apa. Di jalan masih ramai pengendara, Faylan akan baik-baik saja. Adik-adik lebih membutuhkan ibu di sini," Faylan kembali menolak tawaran wanita paruh baya itu. Mana mungkin Faylan setega itu menyusahkan ibu panti yang tak hanya buta sebelah matanya, tapi juga lumpuh sebelah kakinya.


Usai berpamitan dengan ibu panti dan tak lupa menyerahkan sejumlah uang yang ia punya, Faylan pun kembali mendorong sepedanya kembali ke spring mansion. Setelah cukup jauh dari panti, Faylan berhenti dan mencoba memperbaiki rantai sepedanya.


Tak sampai satu menit, Faylan berhasil memperbaiki rantai sepedanya. Ia pun naik dan segera melajukan sepedanya hingga sampai di depan pagar spring mansion. Pihak keamanan sudah mengenalinya hingga pagar beton itu pun terbuka secara otomatis.


Namun sayang, hal serupa tidak terjadi pada pintu utama rumah mewah itu. Pintu telah terkunci dan tak bisa dibuka dengan cara apa pun. Faylan tak bisa masuk ke dalamnya.


"Ya Tuhan," keluh Faylan masih berhasil membendung air matanya. Mau tidak mau, Faylan pun merebahkan tubuhnya di teras rumah yang dingin dan juga banyak nyamuk.


Dari balik jendela, tampak sepasang mata elang menatap iba seorang gadis yang terbaring memeluk diri di luar sana.


"Tuan, Nona Faylan—"


Srreet!


Suara gesekan gorden yang ditutup kasar.


"Aku tak akan peduli!"


.


.


.



__ADS_1


__ADS_2