
"Aaaakkhh!"
Allison yang baru melangkah menuju kamar Faylan, dibuat kaget akan teriakan sang istri. Perasaan khawatir menyelimuti hatinya, Allison berlari menuju kamar Faylan.
BRAK!
Sekali tendangan, pintu yang terkunci langsung terbuka lebar. Allison menghidupkan lampu, kemudian menghampiri Faylan yang meringkuk di lantai sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Faylan," panggil Allison memeluk sang istri erat.
"Pergi! Jangan ganggu saya! Pergi!" jerit Faylan mendorong Allison. Allison menahan tubuhnya, mengeratkan pelukan dan kembali menenangkan.
"Ini aku Allison, tenangkan dirimu," bujuk Allison.
Faylan pun tenang dan tak lagi menjerit ketakutan. Allison melepaskan pelukan, membawa sang istri kembali naik ke atas ranjang.
"Bawa saya pergi, tuan. Saya mohon, saya tidak mau di sini," pinta Faylan dengan air mata yang membanjiri wajah pucatnya.
Allison langsung menggendong dan membawa Faylan ke kamarnya. Pengawal yang peka mulai menyebar dan memeriksa seluruh bagian mansion.
Sampai di kamarnya, Allison membaringkan Faylan ke atas ranjang, Faylan kembali meringkuk memeluk tubuhnya ketakutan. Tubuhnya masih bergetar hebat membuat Allison sangat khawatir.
Bukannya bertanya apa yang terjadi, Allison lebih memilih menemani sang istri yang masih ketakutan. Meski Faylan telah terlelap dengan sendirinya, Allison tak beranjak dari ranjang meski perutnya terasa lapar. Allison memastikan Faylan tetap aman dalam dekapan.
Tak lama berselang, pintu kamarnya diketuk. Allison pun terpaksa bangkit dan membukakan pintu. Bibi Fani mengulurkan makan malam untuk sang tuan muda. Bibi Fani melakukannya tanpa Allison minta. Allison pun berterima kasih dan langsung melahapnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Faylan terbangun dari tidur panjangnya. Saat membuka mata, ia reflek memeluk Allison yang berada tepat di hadapannya. Allison membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya.
"Aku di sini," bujuk Allison menepuk pundak sang istri dengan lembut.
Setelah puas menangis, barulah Faylan melepas pelukan, ia mengelap air matanya dengan perlahan.
"Sudah lebih baik?" Faylan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Mandilah, setelah itu kita sarapan. Hari ini tidak perlu sekolah," titah Allison, Faylan kembali menganggukkan kepala, turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Allison menyiapkan pakaian untuk Faylan, kemudian berdiri di depan pintu kamar mandi untuk mamastikan keamanan.
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Faylan muncul dengan jubah mandi yang kebesaran. Allison membantu Faylan mengenakan dress-nya, Faylan tampak pasrah dan lebih banyak melamun.
Allison sama sekali tak mengintrogasi Faylan atas apa yang terjadi semalam. Ia lebih fokus pada trauma yang kini dialami sang istri. Ia akan bertanya saat kondisi Faylan membaik nantinya.
Mendengar hal itu, Faylan langsung menoleh pada sang suami. "Pindah?" tanyanya singkat.
"Keputusanku sudah bulat," tegas Allison tak dapat dibantah.
"Pindah ke mana, tuan?" tanya Faylan penasaran.
"Untuk saat ini hanya istana utama yang aman. Di sana lebih ketat dan pastinya lebih aman," balas Allison menjelaskan, Faylan pun kembali melanjutkan sarapannya. Ia sama sekali tak keberatan mau tinggal di mana pun, asalkan tidak di mansion saat ini. Faylan benar-benar ketakutan.
Tanpa menunda-nunda waktu, pagi itu usai sarapan, Allison langsung memboyong Faylan menuju istana utama.
__ADS_1
Di dalam mobil mewah milik Allison, Faylan terlihat gelisah kala mengingat kejadian semalam. "Tidak perlu takut lagi, di istana sangat aman," ucap Allison, Faylan tak merespon karena tenggelam dalam pikiran. Allison menghela napas panjang.
Hampir setengah jam di perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh asisten Juan pun berhenti. Allison turun lebih dulu, kemudian menuntun Faylan yang masih lemah.
Karena halaman kerajaan amatlah luas, mereka harus menaiki mobil khusus, menempuh perjalanan melewati taman, rumah tamu, lapangan dengan kuda-kuda perkasa, serta pepohonan dengan penjagaan yang amatlah ketat.
Sepenjang perjalanan, para pengawal bersenjata ada di mana-mana. Tak hanya penjagaan di darat, tapi juga di atas tower yang tingginya mencapai 25 meter. Di atas sana bahkan lebih banyak pengawal yang memperhatikan apa-apa saja yang terjadi di bawahnya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, maka para pengawal akan saling terhubung. Sistem kemanan istana utama amatlah ketat.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 menit, mereka tiba di pintu utama istana yang dijaga lebih banyak pengawal bersenjata yang ahli di bidang mereka masing-masing. Karena setiap pengawal punya tugas masing-masing.
"Ayo masuk, apa yang kau tunggu?" ajak Allison. Faylan terlihat ragu memasuki istana utama, karena memang tak sembarang orang bisa memasukinya. Apalagi dirinya hanyalah seorang Unlucky Bride.
Geram melihat sang istri tak kunjung melangkah, Allison menarik pergelangan tangan Faylan hingga tiba di ruang tamu yang luasnya sepertiga dari lapangan sepak bola. Ini adalah kedua kalinya Faylan memasuki istana utama setelah upacara pernikahan.
"Allison sayang, cucuku!" sambut Diona akan kedatangan cucunya tercinta, mereka berpelukan sebentar.
Saat melepas pelukan, Diona baru menyadari kehadiran Faylan. Dia melemparkan tatapan serta senyuman tak suka kepada Faylan.
"Sayang, kenapa kamu membawa Faylan?"
"Allison memutuskan untuk membawa Faylan tinggal di sini," balas Allison membuat Diona kaget.
"Baiklah dia boleh tinggal di sini, tapi dengan syarat....
.
__ADS_1
.
.