
Keesokan harinya, Faylan akan berangkat ke rumah sakit untuk menemani ketiga adiknya melakukan operasi terlebih dahulu. Sementara dirinya akan melakukan operasi setelah melahirkan.
Sampai di rumah sakit, Faylan melepas ketiga adiknya yang dibawa ke ruang operasi yang berbeda. Faylan ingin menunggu di luar ruangan, tapi tak diizinkan. Ia pun dibawa menuju ruangan khusus yang telah Asisten Juan siapkan sebelumnya.
Di dalam sana, tentu Faylan sangat betah karena dihidangkan banyak makanan. Faylan merasa berada di restoran mewah, bukannya di rumah sakit. Faylan menikmati makanannya sambil menonton televisi. Sementara asisten Juan sudah pergi usai mengantarkan dirinya.
"Sedang apa?"
"Makan," Faylan reflek menjawab tanpa menoleh dan tetap fokus pada makanannya.
Sepersekian detik kemudian, Faylan menghentikan kegiatan kala menyadari siapa yang bertanya barusan. Ia mengangkat wajah dan betapa kagetnya ia saat melihat sang suami ada di hadapannya.
Allison tersenyum lebar, Faylan yang mulutnya penuh terlihat sangat imut di matanya. Namun, ia dibuat kaget ketika manik mata sang istri berkaca-kaca.
"Sayang," Allison langsung mendekat kemudian memeluk sang istri sebelum benar-benar menangis.
"Terima kasih," hanya kalimat itu yang lolos dari bibirnya yang bergetar hebat. Faylan sudah menahannya sekuat tenaga, tapi entah kenapa selama hamil ia tak bisa mengendalikan ari matanya seperti dulu sebelum hamil.
"Sudah, jangan sedih lagi dan tidak perlu berterima kasih padaku. Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun," bujuk Allison menepuk pundak sang istri dengan pelan.
Faylan melepaskan diri dari pelukan, kemudian menghapus air matanya dengan pelan, Allison merapikan anak rambut Faylan yang berantakan.
"Asisten Juan bilang aku akan dioperasi setelah melahirkan nanti. Aku pasti akan semakin cantik," tutur Faylan dengan polosnya. Andai Faylan tahu bahwa tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang mampu menandingi kecantikannya yang alami.
"Tanpa pisau bedah, tanpa make up sekalipun kamu sudah sangat cantik. Aku minta maaf karena harus merusak wajah sempurnamu ini," balas Allison membelai lembut wajah mulus sang istri.
"Aku akan melakukannya dengan senang hati, asalkan—"
"Tetap bersamaku, kan?" potong Allison percaya diri.
"Asalkan tidak diasingkan ke desa terpencil," lanjut Faylan seketika mengubah ekspresi sang suami.
Saat sedang asik menikmati makannya, tiba-tiba Faylan merasa mules. Karena mengira mules biasa, ia pun pergi ke kamar mandi sebentar, tentu Allison ikut menemani sampai di depan pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Faylan merasa perutnya semakin lama semakin sakit. Sementara ia tak kunjung buang air. Lelah duduk terlalu lama, Faylan pun berdiri dan mengakhiri kegiatannya. Saat sedang melangkah perlahan menuju pintu, ia bersandar pada dinding, tubuhnya tiba-tiba merosot kala merasakan sakit berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Faylan berusaha mengatur napas dengan keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya. Kedua netranya membulat saat melihat begitu banyak air bening merembes di bawah sana.
"Allison!" panggil Faylan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Apa sudah selesai?" tanya Allison di luar sana.
"Pe-cah!" sahut Faylan dengan suara terbata-bata.
BRAK!
Pintu kamar mandi langsung Allison dobrak saking khawatirnya ketika sang istri mengatakan pecah.
"Sayang!" teriak Allison panik saat melihat sang istri sudah tergeletak di lantai dingin kamar mandi.
"Air ketubannya," ucap Faylan sembari menunjuk ke bawah sana.
"Kamu pipis? tanya Allison tak mengerti.
Bug!
Satu pukulan lemah Faylan daratkan ke pundak suaminya.
"Aku akan melahirkan!" tegas Faylan sembari menahan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa.
Mendengar perkataan sang istri, Allison langsung menggendong Faylan, kemudian membawanya ke luar ruangan sambil berteriak memanggil dokter.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya asisten Juan mendekat.
"Istriku ingin melahirkan! Cepat lakukan sesuatu!" bentak Allison.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak asisten Juan.
"Bukankah ini rumah sakit?"
"Hanya ada dokter kecantikan di sini, tuan. Tidak ada dokter bersalin," jelas asisten Juan.
"Ya sudah cepat!" Beruntung rumah sakitnya tidak jauh dari lokasi sebelumnya.
Saat datang, Faylan langsung ditangani oleh dokter. Allison juga turut masuk ke ruang persalinan. Allison meminta agar sang istri melakukan operasi cecar. Tapi, Faylan menolak mentah-mentah. Dokter juga tidak bisa melakukan operasi cecar karena sudah pembukaan terakhir.
Dokter memandu Faylan mengatur napas dan juga mengejan, Allison setia berada di sebelah Faylan guna memberikan semangat dan juga menguatkan. Perjuangan Faylan demi melahirkan buah hatinya, akan ia rekam dan simpan dalam memory terbaiknya.
Jeritan kesakitan sang istri begitu melukai hatinya, apalagi saat mendengar suara gunting ketika dokter memotong guna memperbesar jalannya bayi. Allison bergidik ngeri, ia berjanji tak akan melukai sang istri, ia bersumpah akan membuat Faylan bahagia seumur hidupnya.
__ADS_1
Oek! Oek! Oek!
Tangisan bayi memecah ruang persalinan. Suster meletakkan bayi ke atas dada Faylan. Faylan menerima bayinya dengan air mata mengalir deras. Allison mengusap setiap air mata sang istri yang mengalir. Fokusnya hanya pada Faylan yang sesekali tersenyum, kemudian memejamkan mata dengan ringisan di wajah saat dokter mulai menjahit di bawah sana.
"Bayi laki-laki," ucap Faylan kepada suaminya. Allison hanya menganggukkan kepala, ia masih fokus menatap Faylan.
"Beri nama siapa?" tanya Faylan lagi.
"Aku belum memikirkannya," balas Allison mengusap keringat di kening Faylan.
"Bagaimana kalau Neeson?" tanya Faylan yang sudah tak peduli dengan rasa sakit kala melihat betapa menggemaskan buah hatinya.
"Neeson Fayviz Afson," sambung Allison untuk pertama kalinya menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka bahwa ia telah menjadi seorang ayah.
"Terima kasih atas semuanya," ucap Allison mengecup kening, kedua mata, hidung, kedua pipi, dan juga bibir istrinya. Kecupan hangatnya juga mendarat di wajah putranya yang begitu tampan, bahkan lebih tampan darinya, karena ada campur tangan dna sang istri yang amatlah sempurna.
***
Sebulan setelah kelahiran bayinya, Faylan menjalankan operasi merubah penampilan wajah dan juga identitas dirinya. Ia tetap tinggal di negara Korea Selatan. Dengan alasan proyek kerja sama, Allison menetap lama di negara ginseng itu.
Setelah beberapa tahun saat bayinya telah sudah berusia 7 tahun. Barulah Allison membawa Faylan kembali ke Oesteria. Usia Neeson seharusnya 7 tahun, tapi dibuat 6 tahun. Faylan sudah berganti identitas. Tak banyak yang berubah darinya, hanya wajah dan penampilan yang lebih modis dan dewasa.
Ia diangkat menjadi ratu kerajaan Oesteria sebagai pendamping suaminya yang adalah seorang raja. Sementara Pince Neeson tumbuh menjadi anak laki-laki yang digemari berkat wajahnya yang sangatlah tampan dan pintar, bahkan melebih Allison ketika kecil dulu.
Sejak saat itu, Allison dan Faylan hidup bahagia bersama putranya yang semakin hari semakin bersinar. Meski wajahnya dominan Allison, tapi sikap dan perilakunya berbanding terbalik dengan Allison. Neeson tumbuh menjadi pria baik hati, hangat, sopan, ramah kepada siapa pun. Dan yang pasti, Neeson tumbuh menjadi pria yang sangat menghargai serta menghormati kaum wanita, apalagi ibunya tercinta.
TAMAT!
.
.
.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk dukungan pembaca semuanya🙏🏻 Calangeo😘😘😘😘 Oh iya, beberapa hari lagi novel terbaru author akan rilis nih. Ditunggu ya😍.
Nih, Author spill judulnya. Masih COMING SOON!!!
__ADS_1