
Pagi itu Tina ingin menghubungi dan meminta dokter datang untuk memeriksa kondisi Faylan. Namun, Faylan menolak mentah-mentah dan mengatakan bahwa ia sudah lebih baik. Tina pun tak memaksa dan kembali melanjutkan pekerjaan setelah memastikan Faylan benar-benar beristirahat di kamarnya.
Setelah kepergian Tina, Faylan baru menyadari bahwa foto sang ibu yang seharusnya ada di dinding kini sudah tiada. Faylan bangkit dan langsung mencari-cari di segala tempat, tapi nihil. Ia telah kehilangan foto ibunya. Faylan tak kuasa membendung air mata.
"Siapa? Siapa yang telah mengambil foto ibu?" Faylan mengepalkan kedua tangan ketika mengingat Tini. Ya, Faylan yakin Tini lah yang telah mengambil foto ibunya. Faylan ingat saat tatapan penuh kebencian ditunjukkan oleh Tini saat nyonya Diona menyukai nasi goreng buatannya.
Tanpa berlama-lama, Faylan berjalan cepat dengan langkah lebarnya. Ia ingat Tini berada di ruang menyetrika.
BRAK!
"Hei wanita pembawa sial, ada apa dengan ekspresi wajah jelekmu?" ketus Tini yang bangkit lalu bertolak pinggang.
"Mana foto ibuku?" tanya Faylan menekan kalimatnya. Emosi sudah di ubun-ubun, diperlakukan buruk selama ini Faylan tak masalah. Tapi, beda lagi bila sang ibu yang diusik.
"Foto ibumu? Memangnya kamu punya ibu?" tanya balik Tini.
"Jangan berpura-pura tidak tahu!" tekan Faylan sambil mengepalkan kedua tangan.
"Kamu pikir kamu siapa, hah!? Beraninya menatapku seperti itu!"
Plak!
Satu tamparan tepat mengenai pipi Faylan hingga memerah. "Tatapan jelekmu itu tidak pantas diberikan untukku. Cepat pergi, jangan sampai aku menyiksamu lagi" usir Tini murka.
__ADS_1
Faylan merasai pipi nya yang memerah, tatapan matanya tertuju pada setrikaan yang masih menyala. Tanpa berpikir panjang, Faylan meraih setrika itu dengan cepat, kemudian ia tempelkan tepat di pipi Tini.
"Aaarrrgh!" teriak Tini kesakitan, ia mundur, tapi Faylan terus maju. Faylan terus menekan hingga asap mengepul, pipi Tini sudah tak berbentuk dimakan besi panas.
"Faylan! Lepaskan Tini!" teriak Tina mampu menyadarkan Faylan. Tina panik melihat adiknya yang sudah tak sadarkan diri dengan pipi yang mengalami luka bakar berat.
"Apa yang terjadi? Astaga! Tina, Tini kenapa?" tanya nyonya Diona ikut panik.
"Tolong nyonya, tolong adik saya," mohon Tina dengan air mata yang mengalir deras. Sejahat apa pun Tini, tapi Tini tetaplah kembarannya. Melihat kondisi adiknya yang mengenaskan, ia sangatlah khawatir.
"Pengawal!" teriak nyonya Diona. Beberapa pengawal masuk, mereka bergegas membawa Tini ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Tina juga turut ikut tentunya.
Di ruangan setrika, hanya tersisa Faylan yang mematung dan Diona yang menatapnya penuh amarah.
Praang!
"Apa yang kamu lakukan, Faylan?" tanya Diona menatap tajam Faylan.
"Dia jahat, dia mencuri foto ibu saya, nyonya," adu Faylan dengan air mata yang mengalir deras.
"Hanya karena foto kau hampir membunuhnya? Lagian, untuk apa Tini mencuri foto ibumu?" bentak Diona tak habis pikir dengan kelakuan Faylan yang layaknya seperti seorang psycho baginya.
"Tapi, dia—"
__ADS_1
"Belakangan ini aku tidak sengaja melihatmu membantu Tini dan Tina menyelesaikan pekerjaan mereka. Aku sampai mengira kamu itu sebenarnya wanita yang baik seperti menantuku, Cleona. Tapi ternyata aku salah, diam-diam kau seperti seorang psycho yang tidak punya hati. Aku hampir tertipu dengan wajah polosmu!" potongnya memarahi Faylan dengan suara tinggi.
Faylan hanya menundukkan wajah, napasnya terasa sesak, air mata mengalir deras. Akan tetapi, Faylan sama sekali tak menyesal, ia merasa Tini layak menerima pembalasan dendam darinya.
"Pengawal!" teriak nyonya Diona lagi, sekitar tiga orang pengawal mendekat. Faylan mengangkat wajah dengan tatapan sayu.
"Iya, nyonya," jawab ketiganya serentak.
"Seret dan kurung wanita jahat ini!"
"Baik, nyonya."
Faylan dibawa ke penjara bawah tanah, ia pasrah.
"Akh!" teriak Faylan saat dilempar dengan kasar ke dalam penjara. Keningnya mengalirkan darah akibat terbentur sudut dinding.
Ketiga pengawal langsung pergi meninggalkan Faylan seorang diri di dalam penjara yang begitu kumuh. Saat pintu mereka tutup, penjara pun gelap, hanya cahaya tamaran dari lampu duduk yang terletak di depan sana.
Faylan bersimpuh, keningnya yang berdenyut serta kram di perut tak ia pedulikan. Ia hanya menangis sejadi-jadinya.
Faylan berhenti terisak setelah mendengar derap langkah yang pernah ia dengar sebelumnya. Faylan menaikkan pandangan dan betapa kagetnya ia saat melihat sosok yang sama dengan sosok bayangan di kamarnya waktu.
.
__ADS_1
.
.