
"Apa kalian mendengar suara?" tanya Melvin pada para pengawal.
"Tidak, tuan," jawab mereka yang berdiri paling dekat dengan Melvin.
"Suara apa, tuan Melvin?" tanya pengawal lainnya.
"Entahlah, aku juga tidak yakin. Kita lanjutkan pencarian," ujar Melvin kembali berpencar mencari di sekitar istana. Dan saat ini mereka berada di penjara bawah tanah karena Melvin yakin bahwa Faylan dan Diona masih berada di istana.
Tak hanya mencari di sekitar istana utama, tapi tim khusus juga diterjunkan untuk mencari di setiap sudut kota Oesteria. Sementara tim IT istana masih terus mencoba untuk terkoneksi dengan chif canggih yang tertanam di kulit raja Afson dan juga Prince Allison.
Seharusnya, mereka dapat melacak keberadaan raja Afson dan prince Allison dengan chif tersebut. Namun sayang, entah apa yang terjadi hingga chif tersebut sama sekali tidak berfungsi. Padahal, selama ini selalu berfungsi dengan baik.
Chif tersebut tidak mungkin rusak dengan sendirinya, tapi jika dirusak tentu cukup mudah itu pun jika tahu letaknya. Mengetahui letak chif yang tersembunyi, tentu bukan sembarangan orang.
Beberapa jam berakhir, mereka tak kunjung menemukan jejak. Hingga akhirnya, Melvin memutuskan untuk memberi tahu Castin yang saat ini tengah berada di luar negeri.
Setelah mendapatkan info dari Melvin, Castin langsung terbang ke negara Oesteria tanpa sepengetahuan Cleona yang tinggal menghitung hari akan melahirkan anak ketiganya.
__ADS_1
***
"Berhenti berteriak," ucap sosok misterius ketika memasuki ruangan, tapi belum terlihat wujudnya, hanya suara yang terdengar. Allison tak peduli, ia justru semakin mengencangkan suara teriakan dan terus memanggil Faylan yang sudah pingsan di seberang sana.
Allison berhenti berteriak ketika kaget melihat sang nenek yang dipikul dan diletakkan di atas kursi oleh sosok misterius yang kali ini tak memakai topeng di wajahnya.
"Sialan! Kau bajingan! Untuk apa menyekap semua keluargaku, hah!?" bentak Allison berteriak kencang.
Sosok misterius itu menoleh, ia hanya menyeringai tanpa berkata apa pun dan kembali melanjutkan kegiatannya. Sosok itu mengikat Diona yang duduk berdampingan dengan suaminya.
"Jangan! Jangan ganggu istriku!" teriak Allison berontak sekuat tenaga ketika sosok misterius itu melangkah masuk ke dalam penjara di mana Faylan tergeletak tak berdaya.
Pria itu menyentuh pergelangan tangan Faylan, kemudian ia pun keluar dari penjara meninggalkan Faylan yang tak kunjung sadarkan diri. Allison menghela napas lega karena pria yang tak dikenali itu tak menyakiti istrinya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Allison dengan wajah memerah serta urat-urat leher yang mengencang.
"Nyawa," seringai'an mengerikan kembali terbit di bibirnya.
__ADS_1
Allison mengepalkan kedua tangan, "Kalau begitu lepaskan Istri, nenek dan kakekku. Setelah itu kau boleh membunuhku!" tegas Allison yakin.
"Aku menginginkan nyawa kalian semua," jawabnya lagi.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Siapa lagi? Tentu saja aku yang membunuh kedua orangtuamu, Redmir, dan setelah ini aku akan membunuh kalian semua," sahutnya mendekat pada penjara Allison. Napas Allison semakin tak beraturan kala mendengar jawaban pria misterius yang masih terlihat tampan dan kuat dengan rentang usia lebih dari 40 tahun.
"Ada satu lagi berita lain untukmu," lanjutnya.
"Apa!?" tanya Allison singkat tapi mendesak, ia penasaran kejutan apa lagi yang akan sosok itu ungkapkan padanya.
"Istrimu hamil."
.
.
__ADS_1
.