Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 18 ~ Lektin


__ADS_3

Bruk!


Faylan jatuh pingsan, beruntung Allison berhasil menangkapnya sebelum berakhir di lantai. Allison panik bukan main, ia menggendong Faylan dengan raut wajah khawatir. Dokter mengarahkannya masuk ke dalamp ruang igd. Faylan ditangani oleh dokter.


Allison menghubungi Asisten Juan dan meminta untuk menyelidiki restoran tempatnya memesan makanan. Seperti biasa, Allison enggan melibatkan polisi dalam setiap kasus yang berhubungan dengannya.


"Bagaimana?" tanya Allison pada dokter yang telah selesai menangani Faylan.


"Untuk sekarang kondisi nona sudah membaik, tuan. Sama seperti yang lain, nona juga harus dirawat karena kami perlu memantau kondisinya," jawab sang dokter menjelaskan.


"Kapan dia akan sadar?" Allison menatap Faylan lembut.


"Beberapa menit lagi nona akan sadarkan diri."


Faylan dipindahkan ke ruang rawat inap, ia ditempatkan di kamar yang berbeda dengan adik-adiknya karena Allison sendiri yang akan merawatnya. Berbeda dengan anak panti yang dirawat oleh suster. Tentu Allison memberikan perawatan terbaik, anak-anak panti ia tempatkan di ruangan super vvip.


Di ruang rawat inap, Allison duduk di sebelah brankar. Ia menatap Faylan dalam, hatinya terasa perih kala melihat Faylan yang terbaring tak berdaya.


Derrtt....


Panggilan masuk dari asisten Juan, Allison bangkit dan melangkah menuju jendela. Ia mengangkat panggilan di sana agar suaranya tak menganggu istirahat Faylan.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Kami berhasil menemukan botol bekas racun berjenis lektin yang disembunyikan di tempat sampah. Namun, tidak terdapat sidik jari di sana, tuan," terang asisten Juan. Sementara Lektin adalah racun yang bisa membuat sakit perut, muntah serta diare.


"Bagaimana dengan cctv?"


"Kami sudah memeriksanya dan tidak ada yang aneh dengan cctv. Namun, manager restoran mengatakan bahwa cctv sempat diretas. Pihak restoran mau bertanggung jawab dan bekerja sama dengan kita. Tapi, kasus ini terlalu rapi bila disebut kesalahan pihak restoran," lanjut asisten Juan menjelaskan.


"Jika tujuannya ingin membunuhku, dia tidak mungkin menggunakan lektin. Hubungkan kasus ini dengan kematian ayah dan ibuku juga Redmir, " titah Allison lalu menutup panggilan sebelum mendapat balasan dari asisten Juan. Allison masih berdiri di dekat jendela, tatapannya lurus ke depan, menatap suasana malam sambil membatin, "Kau ingin bermain denganku."


Uhuk!


Allison menoleh secepat kilat. Melihat Faylan telah sadarkan diri, ia pun langsung mendekat, "Bagaimana? Bagian mana yang masih sakit?"


Faylan tak merespon, ia membuang muka dan menatap ke sembarang arah.


"Saya tidak punya musuh selama ini. Siapa yang melakukannya? Musuh ayah saya atau musuh anda, tuan Son?" tanya Faylan tanpa menoleh. Allison langsung paham bahwa Faylan mendengar perbincangannya dengan Asisten Juan. Allison hanya diam tanpa mengatakan apa pun.


Awalnya Faylan sempat mengira bahwa Allison yang memberikan makanan yang mengandung racun. Namun, ia memetik kesimpulan berbeda usai mendengar pembicaraan Allison barusan.


Karena tak mendapat jawaban, Faylan kembali menoleh dan menatap Allison serius. "Terima kasih sudah menyelidiki kasus kematian ayah saya."


Allison menghela napas lega, ia senang karena Faylan tak salah paham padanya, "Tidak perlu pikirkan masalah itu. Istirahatlah dulu."


"Tuan Son mau pergi ke mana?"

__ADS_1


"Tidak ke mana-mana, aku akan menunggumu di sini. Sekarang tidurlah sebelum matahari terbit," titah Allison lagi. Faylan pun patuh dan terlelap dengan nyenyak karena memang sudah sangat mengantuk. Allison juga ikut tertidur sambil menggenggam jemari Faylan dengan erat.


Keesokan harinya, kondisi Faylan membaik, ia dibawa pulang, begitu juga para anak panti. Hanya ibu panti yang masih harus dirawat karena kondisinya yang paling buruk. Oliva, Daisy dan Alexa menemani ibu panti selama di rumah sakit.


Sementara Allison sibuk mengurusi anak-anak dengan tulus, ia menempatkan beberapa pelayan untuk mengurusi anak-anak di panti. Hari itu Allison berhasil meyakinkan anak-anak hingga tak lagi takut padanya.


Setelah urusan anak-anak panti selesai. Barulah Allison membawa Faylan pulang ke rumahnya. Allison menggendong Faylan hingga tiba di kamar. Bibi Fani membawakan bubur khusus untuk Faylan. Allison dengan telaten menyuapi.


"Terima kasih, tuan Son," ucap Faylan tulus.


"Sama-sama, sekarang istirahatlah."


"Baik."


Setelah memastikan Faylan benar-benar terlelap, Allison pun beranjak pergi karena ada urusan yang harus diselesaikan.


***


"Bagaimana dengan foto Maria?" tanya Allison yang kini sudah duduk di mobil.


Sebelum terbakar seutuhnya, asisten Juan berhasil menyelamatkan foto ibu kandung Faylan. Meski gambarnya setengah terbakar, tapi Allison telah meminta seorang pelukis untuk melukis ulang foto tersebut. Ia menggunakan wajah Faylan sebagai contoh, mengingat Faylan dan ibunya memiliki banyak kemiripan.


"Pelukis menemukan sesuatu yang aneh, di balik foto tersebut," balas Asisten Juan. .

__ADS_1


"Bawa aku menemuinya!"


__ADS_2