Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 49 ~ AKU LELAH!


__ADS_3

"Siapkan upacara perceraian sekarang juga!" tegas Allison.


"Tapi, tuan—"


"Apa perlu aku mengulang?"


"Baik, tuan. Akan segera saya siapkan," jawab asisten Juan pamit pergi untuk melaksanakan tugasnya.


Setelah kepergian asisten Juan, Allison pun mengirimkan pesan pada ketiga sahabatnya yaitu Melvin, Shanan, dan juga Castillo.


"Kita akan bercerai sore ini juga," tulis Allison mengirimkan pesan.


"Kau yakin, Allison?" tanya Melvin ragu.


"Kenapa tidak? Hanya ini satu-satunya cara. Apa kalian bertiga siap?" tanya balik Allison.


"Siap!" balas Melvin, Shanan dan Castillo berseru bersamaan.


Tanpa menunda waktu terlalu lama, Allison beranjak menuju kamar Faylan untuk membangunkannya.


Ceklek!


Pintu kamar ia buka perlahan, Faylan tak berada di atas ranjang, melainkan berada di dalam kamar mandi. Karena pintunya tidak dikunci, Allison pun langsung masuk. Faylan yang sedang bercukur hampir melukai kulitnya karena kaget.


"Sedang apa?" tanya Allison mendekat.


Faylan meraih handuk, kemudian ia lilitkan ke tubuh polosnya. Sementara Allison meneguk saliva bersusah payah, selama hamil, Faylan semakin menggoda di matanya.

__ADS_1


"Mandi," jawab Faylan dengan kedua pipi yang memerah. Meski sudah menjadi suami istri cukup lama, tetapi tetap saja ia merasa gugup dan malu jika tubuhnya ditatap terus menerus.


"Itu apa?" tunjuk Allison pada pisau cukur di tangan kanan sang istri. Faylan reflek menyembunyikannya ke belakang tubuh.


"Bu-bukan apa-apa."


"Berikan padaku," pinta Allison.


"Ta-tapi—"


"Aku ini suamimu, Sayang. Dengan kondisi perutmu saat ini, kamu mana mungkin bisa mencukurnya, jadi berikan padaku biar aku bantu," keukeuh Allison.


"Baiklah, tapi hanya mencukur saja, kan?" Faylan bertanya untuk memastikan sang suami tak membuatnya kelelahan.


"Kamu mengharapkan aku melakukan sesuatu?" goda Allison menarik paksa handuk Faylan lalu melemparnya ke sembarang arah. Faylan mematung sambil menutup tubuh polosnya dengan kedua telapak tangan seadanya.


"Tenang, setelah menyingkirkannya dan kamu telah bersiap, kita akan pergi. Berikan pisaunya," pinta Allison lagi, Faylan pun pasrah dan memberikan pisau cukurnya.


Allison mengangkat Faylan, kemudian ia dudukkan ke atas closet. Allison mulai melakukan tugasnya. Faylan senang karena Allison benar-benar menepati janji, tangan nakalnya cukup jinak hari ini.


"Setelah ini kita mau ke mana, taun?" tanya Faylan untuk mengurangi rasa malu yang melandanya.


Muach!


Satu kecupan mendarat di bibir Faylan. Faylan membelalakkan kedua mata.


"Sudah berapa kali aku ingatkan, panggil aku sayang. Hukumanmu akan lebih berat kalau sampai lupa lagi," Allison memperingati sang istri.

__ADS_1


"Maaf," balas Faylan merasa bersalah. Allison menghela napas berat.


"Tidak ke mana-mana. Sore ini aku akan membawamu ke upacara," Allison menjawab pertanyaan sang istri sebelumnya.


"Upacara apa?" tanya Faylan penasaran.


"Upacara perceraian," sahut Allison tanpa menoleh dan fokus pada urusannya di bawah sana.


Faylan terdiam dengan mata berkaca-kaca, ia sudah berusaha membendungnya. Akan tetapi tak bisa. Ia pun terisak pilu, Allison sampai dibuat kaget.


"A-aku a-kan me-men-jadi jan-daaa ..." tutur Faylan dengan air mata yang mengalir deras. Ia menutup mulut dengan kedua telapak tangan, berusaha meredam suara isakannya. Saking sedihnya, seluruh tubuh Faylan bergetar hebat mendengar ucapan sang suami yang akan menceraikannya.


"Sayang," panggil Allison tak menyangka respon Faylan akan sesedih itu.


"A-ku su-dah men-yiapkan ... di-ri dari la-maa, tapi ke-napa se-sakit ini...." tangisan Faylan semakin menjadi-jadi.


Allison langsung memeluk sang istri dengan erat.


"A-ku sudah kehi-langan ban-yak hal, sudah mele-wati segala sakit-nya. Tapi, ke-napa ti-dak juga a-da ujung? Ke-napa hidupku se-perti ini? Apa salah-ku?" lanjutnya terbata dengan bibir bergetar hebat.


"Sayang, bukan begitu mak—"


"Aku ... AKU LELAH!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2