
"Tuan Son...."
Suara lembut mendayu terdengar begitu merdu. Allison membelalakkan mata menatap sosok seksi yang duduk melipat kaki di pinggir ranjang.
Lingerie transparan berwarna merah menyala membuat Faylan tampil semakin menggoda. Hanya duduk tanpa melakukan apa pun, tapi sukses membuat gila seorang prince Allison. Lihatlah wajah merah serta keringat dingin yang membasahi rambutnya. Ja kun yang turun naik pertanda hasrat telah menggebu.
"Maaf, saya tidak pandai memberi kejutan."
Sesuai skenario, seharusnya saat ini Faylan sudah bangkit, kemudian melenggak-lenggokkan tubuhnya menghampiri Allison. Namun, yang ia lakukan hanya duduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Realita yang terjadi jauh dari ekspektasi. Faylan menyesal karena merasa gagal menjadi istri yang baik untuk menggapai hati suaminya.
Mendengar ucapan Faylan, Allison pun langsung mendekat dengan langkah lebarnya. Ia duduk di sebelah Faylan, menatap lekat dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kepalanya terasa berdenyut, Allison tak yakin dapat menahan diri.
"Lihat aku," pintanya masih dengan suara lembut tapi menekan.
"Saya malu, tuan," kedua telapak tangan masih menutupi wajahnya.
Andai Faylan tahu bahwa sikapnya yang malu-malu justru membuat Allison semakin tak sabar ingin menerkam. Namun, Allison masih berupaya menahan diri karena tidak ingin memaksa, apalagi ia sadar baru beberapa hari ini kondisi Faylan membaik.
"Kalau malu kenapa kamu lakukan? Siapa yang memaksamu?" suara Allison sedikit meninggi. Allison khawatir Faylan terpaksa karena terus kepikiran akan permintaannya beberapa hari lalu.
"Tidak ada, tidak ada yang memaksa. Saya sendiri yang berinisiatif," ungkap Faylan dengan suara tegangnya.
Allison yang semula ingin marah, seketika menciut kala mendengar ungkapan istrinya.
"Kalau kamu siap, katakan saja padaku. Tidak perlu melakukan suatu hal yang membuatmu tidak nyaman," tutur Allison dengan penuh kelembutan. Senyuman simpul masih menghiasi bibir tipisnya.
Perkataan lembut Allison mampu membuat Faylan tak lagi tegang. Ia menyingkirkan kedua tangan, kemudian menatap Allison seraya berkata, "Apa tuan tidak suka?"
"Iya, aku tidak suka karena kamu yang begini bisa membuatku gila!" batin Allison geram.
Allison menghela napas, berusaha menyingkirkan nafsunya untuk sesaat.
"Aku tidak suka melihatmu tidak nyaman," ketus Allison.
"Terima kasih dan maaf karena membuat tuan tidak suka. Lain kali, saya akan membiasakan diri," balas Faylan tersenyum manis.
Allison mengangkat salah satu tangan, kemudian menyingkirkan anak rambut Faylan yang menghalangi pandangannya. Mendapat sentuhan lembut, tubuh Faylan kembali menegang.
"Siapa yang merias wajahmu?" Allison memandang Faylan tak suka.
"Tuan tidak suka?" Allison menggelengkan kepala sebagai jawaban. Baginya Faylan sudah sempurna tanpa riasan wajah, walau riasan tipis sekali pun.
"Kalau begitu tunggu sebentar, saya akan menghapusnya," Faylan bangkit akan menghapus riasan di wajahnya. Namun, Allison justru menahan pergelangan tangannya.
"Tuan, saya—"
Akh!
Faylan kaget saat ditarik hingga membuatnya berakhir di atas pangkuan sang suami. Faylan menelan saliva gugup kala merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Deru napas Allison yang menyegarkan menerpa wajah, membuat merinding tubuhnya.
"Sudah tidak ada waktu!" seru Allison langsung melahap bibir Faylan. Sementara Faylan hanya diam membiarkan Allison melakukan apa pun kepadanya. Ingin membalas tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Allison menghentikan kegiatannya karena Faylan tak menutup kedua mata. Allison mengira Faylan tidak menikmati kinerjanya.
__ADS_1
Faylan menundukkan wajah, menyembunyikan kedua pipi yang sudah Semerah tomat.
"Tutup mata lalu rasakan," ujar Allison. Faylan mengangguk pelan.
Allison meraih dan mengangkat kembali wajah Faylan, ia menatap kedua mata, alis, hidung, pipi dan berakhir pada bibir Faylan yang terlihat seperti buah cherry yang tak sabar ingin ia lahap.
Allison kembali mendarat di bibir Faylan. Faylan langsung memejamkan mata sesuai perintah Allison. Kali ini tak hanya kecu pan bibir biasa, tapi juga luma tan, kulu man, hisa pan, serta gigi tan lembut yang membuat Faylan menggila. Allison menguasai rongga mulut Faylan.
Faylan menggenggam piyama yang melekat di tubuh kekar Allison. Sebuah gejolak aneh ia rasakan untuk pertama kali, hatinya berkata menginginkan hal lebih.
Tanpa melepaskan pangutan, Allison menuntun Faylan hingga berbaring di ranjang. Allison terpaksa mengakhiri ciuman kala Faylan menepuk-nepuk dadanya karena hampir kehabisan napas.
"Maaf," ucap Allison sambil menyeka salivanya yang tertinggal di bibir bengkak Faylan. Faylan hanya menganggukkan kepala sambil memburu oksigen.
Sembari menunggu Faylan membaik, Allison membuka satu persatu kencing piyamanya. Kemudian melepas dan membuangnya ke sembarang arah. Faylan membuang pandangan ke arah lain saat tak sanggup menatap tubuh kekar Allison yang dihiasi otot besar nan keras yang menggoda.
Allison tersenyum smirk, kemudian melahap kembali bibir candu Faylan yang tak kunjung membuatnya puas. Meski Faylan masih kaku dan tak membalasnya, tapi tetap saja Allison merasa terus menginginkannya lagi dan lagi.
Kedua tangan laknat Allison mulai bekerja, menggerayangi setiap inchi demi inchi tubuh Faylan. Tak ada yang terlewat satu pun. Sementara permainan bibir dan lidahnya semakin turun ke bawah dan berhenti di ceruk leher Faylan.
"Emm ahh...." lenguhan pertama lepas, Faylan menutup mulutnya. Allison tersenyum smirk, menyingkirkan tangan Faylan dari mulut, kemudian berkata, "Jangan ditahan."
Allison kembali membenamkan wajah di ceruk leher Faylan, ia memberikan kecupan lembut, memainkan lidah handalnya, dan tak lupa memberikan tanda kepemilikan di sana.
"Ahh...." Faylan mengigit bibir bawah saat Allison menghi sap serta meng gigit cu ping telinganya, dengan kedua tangan laknat yang mulai membuka pita lingerie yang membungkus tubuh istrinya.
"Siap?" tanya Allison memastikan, Faylan mengangguk kepala yakin meski takut.
Usai mendapat persetujuan, Allison mulai melucuti lingerie transparan yang menutupi aset-aset berharga istrinya, kemudian ia buang ke sembarang arah.
Bukannya menutup bagian sensitifnya yang terekspos, Faylan justru menutup kedua matanya malu. Allison sibuk memandangi lekuk tubuh Faylan yang selama ini membayangi pikirannya.
Allison menghentikan tingkahnya, kemudian menyingkirkan kedua telapak tangan di wajah Faylan. Ia ingin melihat ekspresi Faylan yang menggoda.
"Tak perlu malu, aku suamimu. Kamu harus membiasakan diri," ucap Allison kemudian kembali fokus pada kegiatannya.
Allison melepas kancing pengait bra yang membungkus gunung kembar milik Faylan, kemudian kembali melemparnya ke sembarang arah. Tanpa menunda waktu, ia langsung memainkan benda kenyal itu sesuka hati, membuat Faylan meliuk-liukkan tubuhnya geli dengan suara erotis yang tak tertahan.
"Tu-an, cu-kup ahh," mohon Faylan sudah tak sanggup. Kasihan, Allison pun menghentikan kegiatannya, meski belum puas membuat tanda kepemilikan di benda kenyal itu.
"Sedikit lagi. Susunya belum keluar," balas Allison.
"Susu?" tanya Faylan membulatkan mata sempurna sambil menutupi dada seadanya.
"Iya, susu."
"Tuan Son, saya tidak sedang hamil atau pun melahirkan. Tidak akan ada air susu yang keluar," Faylan menjelaskan dengan lembut.
"Bukankah bisa asal dire mas dulu?"
"Apa tuan kira saya sapi?" batin Faylan berteriak histeris.
"Apa tuan tidak belajar biologi?"
"Sedari kecil aku hanya diajarkan bisnis dan bisnis," Jawab Allison jujur. Ia tak punya banyak waktu untuk mempelajari pelajaran yang baginya tak berguna. Karena sedari kecil ia dipersiapkan untuk menjadi raja kerajaan Oesteria selanjutnya.
__ADS_1
"Saya perlu hamil dan melahirkan terlebih dahulu baru ada asi, tuan."
"Kalau begitu aku akan membuatmu hamil!" seru Allison beranjak ke bagian sensitif milik Faylan di bawah sana. Ia melucuti kain terakhir itu dengan tergesa-gesa.
Allison berdiri dan melepas celananya, kemudi melepas kain terakhir yang membalut senjata pusakanya yang sudah siap tempur. Faylan mengalihkan pandangan, bergidik ngeri menatap aurora Allison yang begitu besar dan panjang dengan urat-urat yang mengerikan. Faylan ketakutan kala memikirkan benda itu akan mengoyak tubuhnya.
Allison membuka kedua paha istrinya, Faylan hanya pasrah. Allison menatap kagum pemandangan indah di hadapan matanya saat ini. Tanpa menunda waktu, Allison mulai memposisikan diri.
Sementara Faylan memejamkan mata, mengganggap selimut dengan erat, enggan melihat tragedi yang akan menyakitinya. "Tuan, pelan-pelan," pinta Faylan.
"Sebentar."
"Ada apa, tuan?" tanya Faylan heran.
"Seingatku di sini, kenapa tidak ada?" balas Allison sembari mencari.
"Apanya, tuan?"
"Lubangnya, di mana lubangnya?"
"Taun, bagaimana saya harus menjelaskannya?" jerit Faylan dalam hati.
"Tuan, gadis perawan tidak memilikinya," ujar Faylan malu.
Allison terdiam sesaat, rasa gugup sekaligus tak sabar membuatnya agak oleng sedikit. "Aku lupa, akan kulanjutkan."
"Pelan-pelan, tuan," pinta Faylan lagi.
"Baiklah," balas Allison mulai memposisikan kembali senjatanya, kemudian mendorong dengan pelan.
"Tu-an, saa-kiiitt...."
"Sedikit lagi," balas Allison tetap mendorong dengan perlahan. Meski perlahan, Faylan tetap mendapat rasa sakit yang luar biasa.
"Aaarrrgh!" jerit Faylan kesakitan, tubuhnya melemas seketika saat Allison berhasil merenggut mahkota paling berharga dalam hidupnya.
Rasa sakit bisa ia tahan, Air mata yang mengalir hanya perasaan bahagia yang diselimuti sedikit penyesalan. "Meski tidak memberikannya kepada orang yang tepat, setidaknya aku memberikannya kepada suamiku," batin Faylan dengan air mata yang masih mengalir deras.
Kecupan lembut mendarat di keningnya, "Maaf."
"Kenapa menangis? Apa menyesal?" tanya Allison dengan napas yang terengah-engah menikmati sensasi pijat dan hangat di bawah sana.
Faylan menggelengkan kepala, "Aku menangis karena perih, bukan menyesal."
Allison tersenyum lega, kemudian mulai memajukan kemudian memundurkan lagi tubuhnya, Faylan mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar Allison. Sensasi nikmat sekaligus perih ia rasakan.
"Tidak sakit lagi, bukan?" Faylan hanya menganggukkan kepala. Allison mulai menggerakkan tubuh dengan ritme pelan hingga cepat. Faylan pasrah, entah sudah berapa kali pelepasan ia dapatkan. Tapi, Allison tak kunjung menyudahi aksinya.
.
.
.
Beruntunglah kalian yang baca sekarang, kalau bacanya beberapa hari ke depan, pasti sudah author revisi 🙈. Jangan lupa sesajennya loh😘
__ADS_1