
"Baiklah dia boleh tinggal di sini, tapi dengan satu syarat," ucap Diona menatap Faylan tak suka, Faylan hanya menundukkan wajah dalam.
"Apa?" tanya Allison singkat.
"Bawa kembali mereka bertiga, pelayan di rumah ini sudah cukup banyak," tutur Diona lugas.
"Baiklah," lanjut Allison memenuhi syarat yang neneknya berikan.
"Juan, antar kembali mereka ke mansion," titah Allison. Asisten Juan pun menyanggupi, ia membawa pergi Bibi Fani dan dua orang pelayan lainnya. Faylan menatap kepergian bibi Fani dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo masuk, sayang," Diona membawa sang cucu masuk ke dalam rumahnya. Faylan mengekor di belakang hingga tiba di ruang keluarga.
Diona meminta sang cucu duduk di sebelahnya, sementara Faylan masih berdiri karena belum dipersilahkan duduk. Allison juga tak mempedulikannya karena sibuk menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh sang nenek. Tampaknya Diona sengaja melakukan hal itu.
Saat pelayan membawakan minuman khusus untuk Allison. Barulah Allison menyadari bahwa Faylan masih berdiri dengan keringat membasahi wajah dan rambutnya.
Allison bangkit, kemudian menuntun Faylan duduk di sebelahnya. Di atas meja hanya ada satu air putih hangat untuk Allison dan satu teh hangat untuk Diona. Tidak ada minuman untuk Faylan.
"Minumlah," Allison memberikan minumannya kepada Faylan. Faylan menerima dan langsung meneguknya sedikit. Allison tak segan meminum di gelas yang sama dengan istrinya.
"All harus kembali ke perusahaan. Faylan sedang tidak enak badan, jangan membuatnya tidak nyaman," tutur Allison menatap sang nenek serius.
"Memangnya kamu kira nenek sejahat itu?" kesalnya.
Allison tak lagi membalas, ia bangkit, menatap Faylan dengan lembut. Diona kaget karena itu adalah tatapan paling lembut yang Allison berikan pada seseorang. Allison bahkan tak pernah menatapnya seperti itu. Diona kesal.
__ADS_1
"Aku antar ke kamarku," ajak Allison meraih pergelangan tangan Faylan.
"Biar nenek saja yang antar, kamu pergilah sekarang, asisten Juan sudah menunggumu lama," bujuk Diona dan Allison pun mengiyakan karena memang ada sesuatu penting yang harus ia lakukan.
"Jangan menunggu, aku tidak akan pulang malam ini," tutur Allison seraya mengusap lembut puncak kepala Faylan.
Dari tatapan mata sayunya, terlihat jelas bagaimana Faylan amat keberatan ditinggal seorang diri oleh sang suami. Namun, ia tak bisa berbuat banyak selain menganggukkan kepala.
Allison beranjak pergi, Faylan menatap kepergiannya hingga tak lagi tampak di pandangan mata.
"Tina!" seru Diona dengan suara lantangnya.
"Iya, nyonya."
"Bawa wanita ini ke kamar," titahnya kembali duduk dengan tenang.
"Tunggu!" cegat Diona menghentikan langkah kaki Faylan dan pelayan remaja bernama Tina.
"Kamarnya di sebelah kamarmu, setelah mengantarnya kau lanjutkan pekerjaan. Biar dia bersihkan sendiri kamarnya," tuturnya lagi. Faylan hanya diam seribu bahasa.
"Baik, nyonya."
"Mari Nona," ajak sang pelayan menuntun Faylan hingga sampai di kamar yang ada di dapur. Hanya ada dua kamar di sana. Kamar Faylan berada tepat di sebelah kamar Tina.
"Silahkan masuk, nona," ujarnya usai membuka pintu.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Faylan ramah, ia senang karena pelayan bernama Tina itu terlihat sama baiknya dengan Bibik Fani.
"Sama-sama, nona. Ini koper milik nona bukan?"
"Iya ini koper milik saya," balas Faylan menerima koper berisi seragam sekolah serta pakaiannya sehari-hari.
"Kalau begitu saya tinggal, jika mau bersih ini sapu dan pelnya. Maaf tidak bisa banyak membantu."
"Ini sudah bantuan yang luar biasa, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Faylan tulus.
"Kalau begitu saya pamit, selamat beristirahat." pamit sang pelayan meninggalkan Faylan seorang diri di depan kamarnya.
Faylan tersenyum manis, pelayan baik tadi tampak seumuran dengannya. Meski diletakkan di kamar pembantu, tapi Faylan sama sekali tak berkecil hati. Setidaknya ada Tina sebagai teman.
Pagi menjelang, Faylan mulai menyibukkan diri dengan membersihkan kamarnya yang berantakan dan dipenuhi debu serta kotoran. Faylan membersihkannya dengan sabar hingga akhirnya selesai.
Tanpa kipas angin apalagi AC membuat kamar terasa sumpek. Tapi, Faylan sudah terbiasa karena kamar yang ia tempati saat ini sama persisi seperti kamarnya saat di rumah.
Usai memberikan kamar, tak lupa Faylan meletakkan foto ibunya di dinding. Setelah itu, ia mulai mengeluarkan pakaiannya dari koper dan menyusunnya hingga rapi. Beruntung ia membawa sedikit dress sederhana yang sering ia kenakan. Kalau ia membawa semua pakaian, maka lemari kecil itu tidak akan muat.
Usai menyusun pakaian, Faylan mengistirahatkan tubuh dan berbaring di atas ranjang seukuran tubuhnya. Karena kelelahan, Faylan tak sengaja terlelap.
Byuurrr!
.
__ADS_1
.
.