
Malam itu setelah selesai mengerjakan tugasnya, Tina pergi ke kamar untuk segera beristirahat. Saat akan membuka pintu kamar, ia menyadari bahwa nona mudanya belum makan malam. Tina beralih ke pintu kamar Faylan, membukanya dengan niat membangunkan karena mengira Faylan masih istirahat di kamar.
"Di mana nona Faylan?" Tina masuk ke dalam kamar lalu memeriksa kamar mandi. Tapi masih sama, Faylan tak ada di kamar. Tina mencari ke segala tempat, sementara bertanya tidak mungkin mengingat semua pelayan telah istirahat, termasuk adik kembarannya, Tini.
Saat memeriksa ruangan khusus tempat menyetrika pakaian, Tina dibuat kaget kala melihat Faylan yang duduk terlelap, beruntung setrika akan otomatis mati sendiri bila lama tidak digunakan.
"Astaga, perbuatan siapa ini? Nyonya besar atau Tini?" gumamnya melangkah cepat menghampiri Faylan.
"Nona bangunlah, saya bantu pindah ke kamar."
Faylan mengangkat kepala, mengerjabkan mata beberapa kali, "Tina," panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nona kenapa bisa ada di tempat ini? Mari saya bantu kembali istirahat di kamar," ajak Tina, Faylan hanya pasrah karena merasa lelah.
"Istirahatlah nona, saya akan ambilkan makanan."
Tina bergegas menuju dapur, mengambil sepiring makanan dan langsung membawanya kembali ke kamar.
__ADS_1
"Nona, makanlah dulu," dengan telaten Tina menyuapi Faylan. Sayangnya pada suapan ketiga Faylan menyerah karena hampir muntah.
"Terima kasih atas bantuanmu, Tina," Faylan menyudahi makannya, Tina pun tak juga memaksa.
"Sama-sama, Nona. Memang sudah tugas saya sebagai pelayan," jawabnya ramah.
"Apa Tuan Son sudah kembali?" tanya Faylan menatap Tina dengan mata berkaca-kaca.
"Saya dengar tuan muda pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri," berat untuk mengatakannya, tapi apa boleh buat. Tina tak pandai berbohong.
"Maaf, nona. Untuk ini saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih sudah membantu. Sekarang pergilah ke kamarmu dan segera istirahat karena besok kamu harus bekerja," tutur Faylan dengan suara lemahnya.
"Kalau begitu nona juga harus beristirahat," balas Tina, Faylan menganggukkan kepala, lalu memejamkan kedua mata. Usai memastikan Faylan benar-benar terlelap, barulah Tina pergi ke kamarnya.
Ceklek!
__ADS_1
Faylan membuka kedua mata tepat setelah pintu kamarnya ditutup.
"Ibu, Faylan capek," adunya sembari menatap foto sang ibu dengan tangisan pilu.
"Tuhan, kalau terus menderita begini, ambil saja nyawaku!" Faylan menggigit bantal agar isakannya tak terdengar oleh Tina.
Keesokan harinya, seember air kembali membangunkan Faylan. Kali ini ia tersenyum manis dengan wajah pucat pasi, karena sebelum Tini siram, tubuh Faylan memang telah basah kuyup. Basah kuyup karena semalam Faylan sengaja pergi ke kamar mandi dan berendam hingga mengalami demam tinggi.
Faylan berharap sudah berada di surga saat membuka kedua mata. Sayangnya, ia masih berada di neraka yang tak lain adalah neraka tempat tinggal mertuanya sendiri.
"Dasar wanita pemalas! Mentang-mentang nyonya tidak ada, kamu bisa seenaknya tidur sampai siang begini! Bangun! Lanjutkan setrikaanmu!" bentak Tini menyeret rambut Faylan kasar hingga tiba di ruangan setrika.
"Lanjutkan kerajaanmu!" bentaknya bertolak pinggang.
"Kamu dalam bahaya, Tini," ucap Faylan menatap Tini dengan senyuman miringnya.
"Dalam bahaya apanya? Kakakku pergi bersama nyonya. Tidak akan ada seorang pun yang akan menolongmu. Justru aku ini sedang menyelamatkan negara Oesteria dari mala petaka. Unlucky Bride memang harus menderita, kalau tidak maka negara Oesteria yang akan menderita!"
__ADS_1