
"Dia adalah....
DOR!
Torres kalah cepat dari Edwin. Saat hendak menembak Allison dengan pistol yang ia sembunyikan, Edwin lebih dulu menembak pergelangan tangannya hingga pistolnya pun jatuh cukup jauh darinya.
Allison mendekat dengan senyuman miring. Torres memandang Allison dengan tatapan penuh kebencian.
"Tampaknya kau benar-benar tidak tahu," ucap Allison dengan suara bass-nya yang mengerikan.
Edwin memanggil para pengawal, kemudian membawa bawahan Torres untuk dikubur hidup-hidup. Sementara Torres akan menjadi tanggung jawab Edwin. Edwin berdiri di sebelah Allison dan siap membawa Torres.
"Dia menginginkan nyawamu. Tapi, dia tidak akan menghancurkanmu secara langsung. Dia akan merenggut nyawa orang-orang yang kau sayangi, bersiaplah karena dia bukan tandinganmu," tutur Torres kemudian diseret oleh Edwin.
Allison terdiam beberapa saat, ia tengah berpikir keras tentang siapa sosok yang ingin menghancurkan dirinya secara perlahan.
***
Beberapa hari berlalu, kondisi Faylan telah membaik dan ia juga telah kembali sekolah seperti biasa. Hanya saja, kali ini pengawal tak lagi menjaganya dari jauh, melainkan ikut masuk ke dalam kelas. Bahkan, mereka menunggu di depan pintu kamar mandi ketika Faylan di dalamnya.
__ADS_1
Sementara Allison yang fokus bekerja di perusahaan akan menerima laporan setiap lima menit.
Meski hal itu membuatnya tidak nyaman, tapi Faylan tak dapat membantah sama sekali. Jangan si pembully, para guru yang mengajar saja tak berani mendekati Faylan.
Siang harinya Faylan pulang sekolah, tentu saja ia diantar pulang oleh beberapa pengawal yang telah Allison pilihkan secara khusus. Saat memasuki spring mansion, barulah Faylan dapat bernapas dengan lega.
"Tersisa waktu dua minggu lagi, setelah ini kamu benar-benar akan bebas, Faylan. Bersabarlah sedikit lagi," batin Faylan.
"Makan siangnya sudah siap, nona," tutur bibi Fani dengan sopan dan ramah.
"Baiklah, Bik. Faylan akan ganti baju dulu," pamit Faylan pergi ke kamarnya sendiri. Ya, sampai saat ini ia masih tidur di kamar yang berbeda dengan Allison. Meski terkadang perhatian, tapi Allison masih tetap dingin dan irit bicara. Sejak pulang dari rumah sakit, Allison tak pernah lagi menyentuhnya. Walau senang, tapi tak dapat dipungkiri Faylan merasa telah gagal menjadi seorang istri.
Setelah mengenakan pakaian, Faylan pergi ke ruang makan untuk menikmati makan siang yang telah disiapkan oleh bibi Fani.
"Sepertinya tuan akan pulang larut malam, nona. Apa ada sesuatu yang nona inginkan?"
"Tidak ada, Bik."
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit melanjutkan pekerjaan dulu. Panggil saja saya kalau ada sesuatu yang nona perlukan."
__ADS_1
"Terima kasih, Bik," ucap Faylan tulus.
"Sama-sama, nona."
Usai menikmati makan siangnya, Faylan pun membawa piring kotor ke dapur. Meski bibi Fani memohon agar Faylan kembali ke kamar untuk istirahat, tapi Faylan tetap membantu walau hanya sekedar mencuci piring.
"Aku tidak boleh terbiasa hidup enak karena dua minggu lagi semuanya akan kembali seperti semula," tutur Faylan yang kini sudah duduk di pinggir ranjangnya.
Bosan hanya duduk-duduk sembari memainkan ponsel. Faylan pergi ke balkon untuk menikmati pemandangan pepohonan rindang yang terdapat di halaman luas spring mansion.
Saat tengah asik menikmati pemandangan, kedua bola mata Faylan tak sengaja menangkap sosok berpakaian serba hitam yang tiba-tiba menghilang.
Rasa penasaran yang begitu besar menuntunnya berlari keluar dari spring mansion. Faylan yang berlari tiba-tiba, tentu membuat para pengawal yang berjaga di pintu utama panik dan ikut berlari dengan senjata M-12 yang siap siaga guna melindungi nona muda mereka.
Sampai di pepohonan yang rimbun, Faylan mencari-cari keberadaan sosok yang tadi tak sengaja ia lihat. Sepersekian detik kemudian, Faylan baru menyadari bahwa ia telah dikelilingi oleh para pengawal.
Salah satu dari mereka mendekat dan bertanya, "Apa nona melihat sesuatu?"
.
__ADS_1
.
.