Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 12 ~ Menerima Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

"Kenapa? Apa yang salah dengan susu?"


"Ti-tidak, tuan. Tidak ada yang salah. Tapi, kalau boleh tahu, susu merk apa yang biasanya tuan minum?" tanya Faylan serius meski lututnya bergetar karena takut salah bicara.


"Pikirkan saja sendiri!" sahut Allison ketus dan kembali fokus menandatangani dokumen di atas meja.


"Tapi—"


"Keluar!" usir Allison membuat Faylan meneguk saliva bersusah payah. Faylan langsung membungkukkan badan, kemudian keluar dari ruang kerja Allison.


Faylan tak pergi ke kamarnya, melainkan pergi ke dapur dan menyiapkan segelas air putih hangat. Faylan membawa secangkir air putih hangat menuju ruang kerja Allison.


"Apalagi?" tanpa melihat, Allison tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Faylan.


"Ini hanya air putih hangat, Tuan. Silakan diminum," Faylan meletakkannya ke atas meja, kemudian melesat pergi. Setelah kepergian Faylan, Allison tersenyum kecil seraya menatap segelas air putih yang Faylan bawakan untuknya.


Saat akan pergi ke kamar, Faylan menghentikan langkah asisten Juan yang melewatinya.


"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanyanya dengan sopan dan ramah.


"Emm ... Tuan Son bilang dia menyukai minuman susu, apa anda tahu merk susu apa yang biasa diminumnya?"


"Setahu saya, terakhir kali tuan muda minum susu adalah ketika berusia tiga tahun. Bukan dari ibu kandungnya, tapi dari ibu persusuannya yaitu nona Cleona Chaves (Di Novel Duren Bangsawan dan Turun Ranjang Castin & Cleona)."


"Jadi, maksudmu tuan Son minum susu—"


Faylan tak melanjutkan perkataannya karena bingung cara mengatakannya.


Melihat ekspresi Faylan, asisten Juan tersenyum simpul. "Saya akan membantu anda tuan," batinnya.

__ADS_1


"Benar, Nona. Kasihan sekali tuan muda. Padahal menyusui secara langsung mampu mengobati alerginya," jelas asisten Juan mengarang cerita.


"Mengobati alergi?"


"Betul, nona. Apa nona mau membantu tuan?" ledek asisten Juan menahan tawa.


"Mana mungkin!" sentak Faylan langsung melarikan diri.


"Bagaimana bisa tidak mungkin? Bukankah nona istri tuan muda?" teriak asisten Juan masih menahan tawa.


"Tidak akan!"


***


Keesokan harinya.


Seperti biasa Allison berangkat ke perusahaan sambil mengikuti Faylan yang berangkat ke sekolah dengan sepedanya. Tidak ada yang berubah sama sekali, di sekolah Faylan terus dibully.


Sore hari setelah pulang sekolah, Faylan tak langsung kembali ke spring mansion, ia memilih mencari pekerjaan yang mau menerimanya. Sayangnya, tak satu pun yang menerima karena mereka semua tahu status Faylan.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku punya hutang pada bibi Fani, adik-adik di panti juga butuh makan, belum lagi biaya rumah sakit Deo," keluh Faylan frustasi. Ia adalah seorang pengangguran yang punya banyak tanggung jawab.


Merasa lelah, ia pun duduk di kursi yang ada di taman mini pinggir jalan raya. Faylan berteduh di bawah pohon guna mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah. Faylan mengusap keringatnya, lalu mengeluarkan botol minum yang selalu ia bawa di dalam tas. Faylan meneguk air minumnya sampai habis tak bersisa.


Usai minum, ajaibnya rasa lelah dan mengantuk yang sedari tadi ia nikmati langsung menghilang seketika. Saat merasa tenang, tiba-tiba Faylan teringat pada sosok pria yang pernah menawarkannya pekerjaan. Faylan ingat ia meletakkan kartu nama sang pria di dalam tasnya. Faylan pun langsung mencari hingga ketemu.


"Syukurlah masih ada!" seru Faylan tersenyum lebar. Tanpa berpikir panjang, Faylan langsung menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu.


"Hallo," sapa Faylan pelan.

__ADS_1


"Hallo, ada yang bisa dibantu?" terdengar sahutan dari sana.


"Ini saya Faylan, Tuan. Saya adalah wanita yang pernah taun tawarkan pekerjaan," balas Faylan langsung menejelaskan.


"Oh, Nona Faylan. Bagaimana? Apa nona sudah membuat keputusan?" mendengar suara pria itu, entah kenapa Faylan merasa gelisah dan tak tenang.


"Saya mau, Tuan. Saya menerima tawaran yang tuan berikan," jawab Faylan yakin.


"Baiklah kalau begitu. Nona datanglah ke perusahaan kami untuk menandatangani kontrak perjanjian kerja. Apa nona tahu tempat perusahaannya?"


"Sepertinya tahu, Tuan."


"Baguslah kalau begitu, saya akan menunggu kedatangan nona."


"Saya akan ke sana sekarang!" seru Faylan menyemangati diri sendiri.


***


Setelah panggilan diputuskan, pria yang memiliki nama panjang itu tersenyum lebar. "Pokoknya aku tidak mau melakukan adegan ini!" tolak seorang aktris cantik.


"Tidak masalah, aku sudah menemukan pemeran pengganti yang tubuhnya lebih sempurna darimu😼."


.


.


.


__ADS_1


Masih aman, Guys. Pake baju dia, masih Istikomah rupanya. Tapi, kok agak laen, ya🤔. Itu baju kesannya kayak gak ada harga diri🧐.


Teruntuk pembaca ghoib, meski author gak pernah nampak komen kalian. Tapi, boleh nggak author minta bintang 5 nya?😍. Terima kasih, ya😘


__ADS_2