
Setelah makan malam bersama, Allison pamit dan membawa Faylan pulang bersama dengannya. Sepanjang perjalanan, Faylan tersenyum bahagia, Allison turut senang melihatnya.
"Tuan Son," panggil Faylan.
"Hem," dehem Allison sebagai jawaban, kedua matanya tetap fokus pada jalanan.
"Tuan kenapa tidak makan tadi? Padahal makanannya sangat enak," sekarang Allison paham bahwa Faylan akan banyak mengoceh ketika bunga di hatinya tengah bermekaran indah.
"Melihatmu makan aku juga sudah senang," jawaban Allison sukses membuat Faylan mengerjabkan mata tak percaya. Kini Faylan paham bahwa Allison akan banyak bercanda ketika moodnya tengah baik.
"Aw!" ringis Faylan sambil menekan perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Beruntung Allison tak mendengar ringisannya.
Sepersekian detik kemudian, Allison menyatukan kedua alis terheran karena Faylan tak lagi banyak bicara seperti sebelumnya. Sesekali Allison menoleh ke arah Faylan, Faylan membalas tatapan herannya dengan senyuman manis. Namun, wajah pucat serta keringat dingin yang membasahi rambut membuat Allison menginjak rem mendadak.
"Apa yang terjadi? Kenapa mobilnya dihentikan?" tanya Faylan menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Allison.
"Wajahmu pucat. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Allison khawatir.
"Tidak mungkin, aku baik-baik saja," balas Faylan.
"Tapi, wajahmuβ"
Derrrrt....
__ADS_1
Ponsel Faylan tiba-tiba bergetar, ibu panti menghubunginya, Faylan langsung menerimanya. "Hallo, Bu. Ada apa?" tanya Faylan dengan raut wajah yang jelas terlihat panik dan gelisah.
"Faylan tolong ibu, nak," mohon ibu panti dengan nada suara memohon.
"Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?" Faylan semakin khawatir.
"Adikmu, nak. Mereka semua mengadu sakit perut. Sekarang mereka muntah-muntah, tolong ibu Faylan," mohonnya yang juga kesakitan.
"Faylan ke sana sekarang!" Faylan langsung memutuskan panggilan.
"Apa yang terjadi?" tanya Allison tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kembali ke panti sekarang juga!" seru Faylan membuat Allison langsung putar balik meski belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai di rumah sakit, Faylan sibuk membantu mengurusi adik-adiknya tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Allison mencoba menenangkan Faylan. Ia baru bisa menarik napas lega ketika semuanya telah mendapatkan pertolongan pertama dari dokter.
Ceklek!
Pintu ruang igd terbuka, salah satu dari dokter yang bertugas keluar daru ruangan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak panti hingga mengeluh sakit perut sertamuntah-muntah.
"Bagaimana, dokter? Adik-adik saya baik-baik saja, bukan?" desak Faylan.
"Untuk sekarang kondisi mereka semua sudah mulai membaik, nona, tuan. Kamu sudah berikan penanganan serta obat-obatan terbaik. Namun, semuanya tetap harus dirawat untuk beberapa hari ke depan, karena kami perlu memantau kondisi mereka. Takutnya racun yang mereka konsumsi masih tertinggal di dalam tubuh," jelas sang dokter membuat Faylan dan Allison kaget.
__ADS_1
"Racun?" tanya Faylan menoleh dan menatap Allison dengan tatapan kecewa.
"Benar, nona. Anak-anak itu sakit perut karena keracunan makanan," lanjut dokter lagi.
"Anda jahat tuan!" tekan Faylan dengan linangan air mata membanjiri pipinya.
"Faylan, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Akuβ"
Bruk!
.
.
.
Mumpung belum puasa, jadi Othor keluarkan semua roti sobek yang menggoda iman iniπππ
Jangan lupa like, komen, hadiah, vote dan rate bintang 5 nya ya, all reader friend πππ
__ADS_1