
"Istrimu hamil," bisik sosok itu membuat Allison membatu mendengarnya, ia tak menyangka Faylan hamil. Tanpa sadar, air mata menetes, untuk kesekian kalinya Allison menyesal telah melibatkan Faylan. Akibatnya tak hanya Faylan yang menderita, tapi juga calon bayinya.
"Luiz, mama mohon hentikan semua ini," pinta Diona yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Mama?" tanya Allison mengerutkan dahi tak mengerti.
Sosok misterius yang ternyata bernama Luiz langsung menoleh pada Diona. Luiz hanya terkekeh, kemudian melangkah mendekati Diona.
"Kau masih ingat punya anak lain?" tanya Luiz tersenyum miring menatap wanita lansia yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
"Jangan begini, Nak. Kamu tetaplah anakku apa pun yang terjadi. Mama mohon lepaskan kami, setelah ini mama janji kamu yang akan naik tahta menggantikan posisi ayahmu. Allison akan melakukan apa pun untuk istrinya, dia pasti akan menuruti keinginanmu," Diona berusaha membujuk sang putra.
Luiz Suarez, pria yang usianya 2 tahun lebih tua daripada ayahnya Allison. Dari usia, tentu Luiz lebih berhak menjadi seorang raja. Akan tetapi, sesuai peraturan, yang bisa menjadi raja hanyalah keturunan kerajaan seperti Allison. Sementara Luiz tidak memiliki darah kerajaan. Karena Luiz adalah putra Diona bersama dengan almarhum suami pertamanya yang berasal dari golongan biasa.
Itulah sebabnya Luiz Suarez tak bisa menggantikan posisi raja Altan Afson meski Luiz adalah putra tertua. Tak hanya tidak bisa menjadi raja, tapi Luiz juga tidak termasuk anggota kerajaan maupun bangsawan. Itu artinya, Luiz hanyalah rakyat biasa yang bahkan harus menundukkan kepala kepada ibunya sendiri dan kedua adiknya.
Dahulu saat sang ibu belum dinikahi raja Altan Afson. Luiz adalah putra yang baik serta berbakti terhadap Diona. Namun, semuanya berubah setelah ibunya menikah lagi.
__ADS_1
Meski sang ibu masih memberikannya kasih sayang, tapi tak sebesar yang dia berikan kepada dua putra lainnya. Perasaan iri timbul dengan sendirinya. Seiring bertambahnya waktu, rasa iri yang Luiz pendam amatlah besar hingga akhirnya menimbulkan kebencian serta dendam yang tak akan pernah meredam.
Melihat penampilan sang putra yang tak terurus, timbullah perasaan bersalah yang teramat dalam. Karena ketidakadilannnya, banyak nyawa yang meregang. Diona merasa sangat bersalah.
"Aku sudah tidak berminat menjadi raja. Aku ingin kalian semua merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku rasakan selama ini!" tekan Luiz mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Yang salah adalah mama, Sayang. Semua salah mama karena mengabaikanmu. Untuk itu hukum saja mama dan lepaskan Papamu, Allison dan juga Faylan, mereka bertiga tidak tahu apa-apa," Diona masih berusaha membujuk putra tertuanya.
Sementara Allison seketika melemas setelah mengetahui siapa sosok misterius itu sebenarnya. Sosok yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya tak lain adalah kakak tiri dari ayahnya.
Akan tetapi apa pun yang sudah Luiz lalui, tak seharusnya ia merenggut nyawa kedua orangtuanya yang tidak tahu apa-apa. Allison tetap tak bisa memaafkan Luiz, meski ia tahu Luiz memiliki gangguan mental.
"Mereka juga salah, mereka tak hanya merebut mamaku. Tapi, mereka semua juga menghilangkan sosok mama pada dirimu!" bentak Luiz menunjuk-nunjuk Diona dengan kasar. Diona sama sekali tak menghindar, ia menerima perlakuan kasar sang putra.
"Setelah ini mama akan berubah menjadi mamamu seperti dahulu, mama mohon berikan mama kesempatan sekali lagi, nak."
"Sudah terlambat, aku sudah menjadi pria tua sama sepertimu," sahut Luiz terkekeh, kemudian mencabut pisau yang tertancap di bahu asisten Juan.
__ADS_1
"Siapa lebih dulu?" tanya Luiz sembari menjilati darah pada pisaunya.
"Jangan, Nak. Mama mohon jangan lakukan itu kepada papamu. Dia adalah pria baik yang menolong hidup kita," jelas Diona jujur.
"Baik?" Luiz kembali terkekeh. Diona sudah tak lagi mengenal putranya sendiri. Luiz telah menjadi sosok yang berbeda. Dan padahnya, ia adalah sebab sang putra berubah.
"Papamu sangat menyayangimu, Nak." mohon Diona dengan isakan tangis pilunya.
"Hahaha .... Menyayangiku? Ya, dia sangat menyayangiku!"
"Aaaaaakhhh....
.
.
.
__ADS_1