
Sore telah berganti malam, sementara Faylan masih mengayuh sepeda hingga akhirnya berhasil menemukan gedung yang sesuai dengan alamat yang tertera di kartu nama. Meski sedikit ragu, tapi Faylan berhasil meyakinkan diri dan mulai melangkah memasuki gedung tiga lantai di hadapannya.
"Dengan nona Faylan?" seorang wanita berpakaian formal menghampirinya.
"Iya, bener. Saya Faylan."
"Mari ikut saya nona, tuan sudah menunggu di ruangan," ajaknya, Faylan mengekor di belakang wanita yang penampilan tampak seperti seorang sekretaris atau asisten pribadi.
Faylan dibawa hingga sampai di sebuah ruangan, yang di depan pintu dijaga boddyguard bertubuh kekar dengan wajah yang menyeramkan. Mereka berjumlah kurang lebih sepuluh orang. Faylan ketakutan kala mengingat adegan di mana ia dijual oleh ayahnya.
Dua orang boddyguard membukakan pintu, wanita yang mengantarnya mempersilahkan Faylan masuk. Faylan merasai jantungnya berdegub kencang, perasaan gelisah menyelimuti hatinya.
"Terima kasih," meski merasa takut, Faylan tetap menjawab dengan ramah, wanita berpakaian cantik nan seksi itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Faylan melangkah perlahan, ia menghentikan langkah lalu membalikkan badan saat dikejutkan dengan pintu yang langsung ditutup dari luar.
"Akhirnya nona Faylan datang juga, silahkan duduk," ucap pria paruh baya yang langsung bangkit untuk menyambut kedatangan Faylan.
"Sebelum duduk, bolehkah saya bertanya terlebih dahulu?" pinta Faylan.
Pria paruh baya itu menatap Faylan sambil mengusap dagunya, ia tengah mempertimbangkan permintaan Faylan.
"Tentu saja, silakan bertanya," balasnya telah memutuskan.
"Sebelum bergabung, saya ingin tuan tahu bahwa saya adalah gadis di bawah umur. Untuk itu, saya ingin bertanya pekerjaan seperti apa yang akan saya lakukan?" tanya Faylan tak mau terjebak begitu saja.
"Nona sudah datang kemari dan itu artinya nona Faylan sudah menerima pekerjaan yang saya tawarkan," balasnya menyeringai. Faylan pun menyadari bahwa ia telah membuat sebuah kesalahan.
"Tapi saya belum menandatangani kontrak apa pun!" tegas Faylan mundur perlahan.
"Haha ... Nona akan menandatanganinya. Siapa pun yang sudah datang ke tempat ini, maka ia tak akan bisa keluar," pria paruh baya itu telah memperlihatkan wajah aslinya. Faylan merasa bahwa ia adalah wanita paling bodoh yang pernah ada.
"Tidak akan!" teriak Faylan berlari menuju pintu dan mencoba membukanya.
"Sudah saya katakan, siapa yang datang ke sini. Maka, ia tidak akan bisa pergi," tuturnya mendekati dan mencoba menangkap Faylan. Tapi, Faylan berhasil menghindar. Pria paruh baya itu tersenyum miring, kemudian kembali menangkap Faylan.
Praang!
Faylan memecahkan sebuah vas bunga, mengambil bagian tajam dan mengarahkannya ke pria paruh baya yang ingin menangkapnya.
"Apa yang kalian lakukan di luar sana!" bentaknya. Pintu terbuka, sepuluh orang boddyguard memberikan tatapan kelaparan pada Faylan.
"Jangan mendekat!" teriak Faylan sambil mengarahkan beling yang masih ia genggam erat hingga darah menetes dari telapak tangannya yang terluka. Bukannya takut, mereka justru tersenyum kemudian mengeluarkan senjata mereka berupa pisau.
"Tamat sudah," batin Faylan bingung harus melakukan apa. Ia hanyalah seorang wanita lemah yang bahkan tak tega menginjak semut. Bagaimana caranya ia melawan para singa kelaparan yang ingin memburunya.
__ADS_1
Praang!
Semua pria kebingungan melihat Faylan tiba-tiba membuang senjatanya.
"Baiklah, saya menyerah, tuan. Saya tidak akan bisa pergi dari tempat ini. Pekerjaan apa pun yang ada berikan akan saya lakukan," ungkap Faylan menyerah.
"Coba dari tadi begini, nona tidak akan terluka. Kalian boleh pergi," pria itu mengusir para boddyguardnya untuk kembali ke tempat.
"Kei, Ana!"
"Iya, Tuan."
"Bawa wanita ini, obati luka, setelah itu ganti pakaiannya. Pastikan dia tidak melarikan diri," perintahnya.
"Baik, Tuan."
Kedua wanita seksi itu membawa dan mengobati luka di telapak tangan Faylan. Tak hanya itu saja, mereka berdua juga memaksa Faylan mengenakan pakaian seksi sama seperti yang mereka kenakan.
Usai dipersiapkan dengan cantik, Faylan duduk di sofa, ia menatap sekeliling, berusaha mencari celah untuk melarikan diri. Faylan menghela napas panjang, kali ini ia benar-benar tak bisa melarikan diri.
"Percuma, nona tidak akan bisa pergi dari tempat ini."
"Apa kalian berdua juga korban?" tanya Faylan dan kedua wanita yang menyiapkannya hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi datar.
"Bagaimana kalau kita bertiga bekerja sama untuk melarikan diri?" tawar Faylan.
"Sudah, lebih baik nona terima saja. Meski tidak berperasaan, tapi setidaknya upah kita tidak dipotong. Mereka memberikan gaji sesuai dengan kerja keras kita," timpal wanita bernama Kei.
Faylan tergoda mendengarnya. Tapi, ia tetap tidak akan menjadikan tubuhnya sebagai alat untuk mencari uang. "Kalau sudah menjadi senior, mereka tidak akan terlalu mengekang maupun memaksa."
"Memangnya mereka akan memberikan berapa uang?" tampaknya Faylan sedikit tergoda. Lagian ia tak akan melakukan adegan yang sangat fatal. Mereka bilang Faylan hanya akan melakukan adegan ciuman, setelah itu memperlihatkan tubuh polosnya.
"Banyak, Nona. Sangat banyak. Lebih baik coba saja dulu, kalau benar-benar tidak betah baru pergi."
Kedua wanita itu membawa Faylan ke ruangan lainnya. Faylan melangkah penuh keyakinan mendekati seorang aktor pria tampan yang akan melakukan adegan ciuman dengannya. Faylan terlihat sangat gugup karena ia tak pernah berciuman sebelumnya.
***
Ckit!
"Apa yang kau lakukan, Juan!" bentak Allison murka.
"Maaf, tuan. Tapi, bukankah itu sepeda nona Faylan," tunjuk asisten Juan keluar sana.
"Kalau iya memangnya kenapa?" ketus Allison.
__ADS_1
"Tuan, gedung itu adalah perusahaan yang membuat film dewasa danโ"
Belum selesai asisten Juan mengucap kalimatnya, tapi Allison telah turun dari mobil dengan langkah lebar. Asisten Juan segera menyusul. Tak lupa ia menghubungi pengawal untuk datang membantu.
BRAK!
Pintu Allison buka dengan tendangan kakinya. Seorang pun tak ada yang berani menghentikan Allison. Termasuk pria paruh baya yang menawarkan Faylan pekerjaan.
"FAYLAN!" Allison menekan panggilannya. Faylan yang baru saja akan berciuman dibuat tercengang akan kedatangan Allison yang mendekatinya dengan tatapan tajam, wajah merah serta urat-urat leher yang mengencang.
Bruk!
Satu bogem mentah Allison daratkan pada aktor di sebelah Faylan. Faylan mematung, tubuhnya terasa lemas, bahkan lidahnya kelu saking shock-nya.
Allison melepas jasnya, kemudian membuatkannya ke tubuh seksi Faylan. Faylan pasrah ketika Allison menggendong dan membawanya pergi.
"Juan, kau tau apa yang harus kau lakukan, bukan?"
"Saya mengerti, Tuan," balas asisten Juan tersenyum simpul menatap beberapa pria di dalam gedung itu.
Allison melanjutkan kembali langkahnya, ia memasukkan Faylan ke dalam mobil, kemudian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Selama di perjalanan, Faylan hanya terdiam takut.
Sampai di spring mansion, Allison kembali menggendong Faylan dan menuju kamarnya. Faylan tampak panik, apalagi ketika Allison menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Kini, Allison mengukung tubuh Faylan.
"Bekerja," jawab Faylan dengan bibir bergetar hebat. Allison menatap Faylan rendah.
"Demi uang?' Faylan menganggukkan kepala.
"Ck! Demi uang kau menjual tubuh?"
"Kenapa? Apa ada yang salah? Bukanlah tuan juga membeli tubuh saya?"
PLAK!
.
.
.
Nah, dah cukuran pince kita, Guys๐. Ya Allah, tampannya suami orang๐ญ. Tapi nampaknya dia kegerahan, gak sanggup Istikomah rupanya. Ada yang mau bantu dinginkan prince kita inih?
__ADS_1
Teruntuk readers tercinta yang sudah kasih rate bintang 5-nya. Terima kasih banyak, ya๐๐ป๐๐๐