Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 47 ~ Meregang Nyawa


__ADS_3

"Aaaakhhh!" teriak Diona kemudian langsung pingsan kala tak sanggup melihat suaminya tercinta dihabisi oleh putranya sendiri.


"Kakek," ucap Allison pelan dengan mata yang memejam. Hatinya begitu sakit mendengar jeritan sang kakek yang mengadu kesakitan.


Puas mengacak-acak sekujur tubuh raja Altan Afson hingga meregang nyawa. Luiz tersenyum senang dengan wajah yang dipenuhi oleh percikan darah segar. Ia mengusap matanya, kemudian menoleh pada Allison yang hanya menitikkan air mata atas kehilangan kakek tercintanya.


Luiz menatap Allison tajam, Allison balas menatap tak kalah tajamnya. Kedua netra mereka saling bertautan erat. Membuat suasana kian mencekam. Dua nyawa telah meregang, sisa tiga nyawa lagi.


"Sekarang aku ingin mendengar jeritanmu," ucap Luiz dengan ekspresi wajah yang amat mengerikan.


Allison kira sekarang gilirannya, tapi rupanya ia salah. Luiz tidak melangkah ke arahnya, melainkan melangkah ke arah penjara di mana Faylan berada.


"Tidak! Aku mohon jangan Faylan, dia tidak bersalah apa pun!" Luiz belum menyentuh Faylan, tapi Allison sudah menjerit histeris.


Luiz tak peduli, ia justru memainkan pisaunya, membuat Allison semakin panik dan ketakutan. Takut kehilangan wanita yang berhasil merebut hatinya serta takut kehilangan calon bayi yang bahkan belum pernah ia berikan kasih sayang.


Allison berusaha melepaskan diri dari ikatan baja di kaki dan tangannya. Ia tak peduli darah yang mengalir dari kedua pergelangan kaki dan tangannya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya menyelamatkan nyawa sang istri tercinta.

__ADS_1


Sementara Luiz telah siap menancapkan pisaunya tepat ke perut Faylan.


"Luizz!" teriak Diona yang tiba-tiba datang dan langsung mendorong sang putra. Entah bagaimana caranya ia bisa lepas dari ikatan di kursi.


Tubuh Luiz tersungkur ke samping dan keningnya terbentur dinding. Sementara pisau menggelinding dan mendarat ke lantai yang berada tepat di sebelah Faylan.


"Faylan bangun!" teriak Diona sekuat tenaga, tapi berhasil membuat Faylan membuka kedua mata. Menyadari posisinya dalam bahaya, Faylan beringsut menyelamatkan diri. Pisau ia sembunyikan di balik dress-nya.


"Berhenti sayang, mama mohon. Jangan bunuh Faylan, dia tidak bersalah apa pun padamu," mohon Diona sambil memeluk Luiz dengan begitu eratnya.


"Minggir!" hanya dengan sekali kibasan, Diona pun tersungkur ke lantai.


Saat Luiz siap menikamnya, Faylan reflek melindungi perut dengan mata memejam erat dan siap menerima sakitnya ketika pisau tajam menembus tubuhnya.


"FAYLAAN!" terdengar jeritan Allison.


Faylan yang meringkuk dengan mata terpejam, seketika mematung dan bingung kenapa ia tak merasakan sakit sama sekali seperti yang ia bayangkan.

__ADS_1


Faylan membuka kedua mata, kemudian menengadah. Betapa kagetnya ia saat melihat Diona dan juga Luiz terjatuh dengan pisau tertancap di tubuh masing-masing. Diona di dada, sementara Luiz di tengah belakangnya.


"Nyonya!" panggil Faylan sembari memangku Diona yang masih sadarkan diri. Faylan tak sanggup membendung air mata, ia tak menyangka Diona rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan dirinya.


Diona menggelengkan kepala, nyawa sudah lekat ditarik membuatnya tak lagi bisa berkata. Diona hanya menatap Faylan lega, tangannya mengelus perut datar Faylan. Kemudian, ia pun kehilangan nyawanya. Faylan menangis sejadi-jadinya.


Di saat Faylan menangisi kepergian Diona yang menyelamatkan nyawanya. Asisten Juan yang terluka parah kembali bangkit sambil menekan perutnya yang terus mengalirkan darah segar. Dengan wajah pucat ia melangkah perlahan mendekati Luiz yang berbaring telungkup. Satu tusukan darinya tak mungkin membuat Luiz meregang nyawa.


Asisten Juan pun bangkit kembali, mencabut pisau yang tertancap di punggung Luiz, dan bersiap menangkapnya lagi. Namun, saat akan menancapkannya pisau tersebut, asisten Juan jatuh kehilangan kesadaran.


Faylan melihat Luiz menggerakkan jemari, ia bangkit sembari menatap Faylan yang ketakutan melihatnya. Faylan menggelengkan kepala sambil beringsut mundur.


"Arrrgh!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2