
"Entahlah," balas Allison asal.
"APA!?" Melvin murka.
Sontak saja teriakannya membuat Faylan dan Daisy menoleh ke arah mereka dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.
"Tidak ada apa-apa, kalian berdua lanjut saja," terang Melvin membuat Faylan dan Daisy kembali melanjutkan bincang-bincang mereka.
"Kau jangan macam-macam All, Faylan itu adikku! Kau jangan mempermainkan perasaannya," Melvin menekan suaranya agar tak mengganggu Faylan dan Daisy.
"Misteri kematian ayah dan ibuku belum terbongkar," balas Allison dengan tatapan elangnya.
"Sampai kapan kau akan terus begini, Allison? Akhiri saja karena dendam tidak akan mengakhiri semuanya. Biarkan kedua orangtuamu istirahat dengan tenang," tutur Melvin menjelaskan dengan pelan.
"Ini bukan hanya tentang kedua orangtuaku, tapi juga tentang Redmir, tentang Faylan dan anak-anak panti yang dia racuni. Sebelum mendapatkan nyawaku, bajingan itu tidak akan diam," sanggah Allison menerangkan dengan api yang menggebu-gebu.
"Baiklah, sekarang terserah padamu. Aku hanya minta satu hal, JANGAN LIBATKAN FAYLAN!" tegas Melvin langsung bangkit dari duduknya.
"Tunggu!" tahan Allison.
"Aku punya rencana sendiri," lanjut Allison lagi.
"Awas saja kalau sampai rencanamu menyakiti Faylan!" ancam Melvin kemudian bergabung dengan Faylan dan juga Daisy. Allison pun juga menyusul.
Seorang dokter masuk, melepas perban dan memeriksa luka di pipi Faylan.
"Bagaimana, dokter?" tanya Melvin lebih dulu.
"Karena hanya digores saja, jadi lukanya cepat kering, tuan. Dan sekarang saya akan bawa nona ke ruang treatment untuk menghilangkan bekas lukanya," terang sang dokter ramah.
Melvin mengambil kursi roda untuk membawa Faylan, sementara Allison justru langsung menggendong Faylan. Melvin pun menggandeng Daisy hingga Faylan masuk ke dalam ruang treatment. Mereka menunggu di luar ruangan.
Hampir satu jam berlalu, begitu treatment-nya selesai, Faylan dipindahkan kembali ke ruang rawat inap dengan pipi yang telah mulus kembali seperti semula. Allison senang melihatnya, begitu pun Melvin dan Daisy.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan Kak Faylan saat ini?" tanya Daisy khawatir.
"Apa sakit?" sambung Melvin lembut. Allison memperhatikan.
"Tidak sakit sama sekali, Daisy, Tuan Melvin."
"Tuan? Aku ini kakakmu, mulai sekarang panggil aku kakak," ralat Melvin.
"Baik, Kak," balas Faylan kaku.
Sore harinya setelah kepergian Melvin dan Daisy, Allison mendekat dan duduk tepat di sebelah sang istri.
"Ingin istirahat?" Faylan menggelengkan kepala karena memang tidak mengantuk.
"Mau apa? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Allison perhatian, tapi tetap setia dengan ekspresi dinginnya.
"Ingin pulang, tuan. Lagian saya sudah sembuh," sahut Faylan cepat.
"Tubuhmu masih lemah, ikuti saja apa yang dokter katakan. Besok baru pulang." Faylan tampak kecewa.
"Markas!" titah Allison pada asisten Juan.
"Baik, tuan."
Asisten Juan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Hanya beberapa menit di perjalanan, mobil pun berhenti di markas khusus yang dihuni oleh pengawal-pengawal kerajaan. Tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan markas yang dijaga sangat ketat.
Semua pengawal yang ada di markas membungkukkan badan menyambut kedatangan Allison. Edwin sang pemimpin para pengawal, menunjukkan arah hingga tiba di sebuah ruangan di mana Torres dan para anak buahnya diikat dan dipukuli hingga wajah dan tubuh mereka dilumuri oleh darah.
Asisten Juan mempersiapkan sebuah kursi yang ia letakkan tepat di hadapan Torres. Menyadari kehadiran Allison, Torres tersenyum miring memamerkan darah yang melumuri giginya. Allison duduk dengan melipat kedua kaki, kedua manik elangnya menatap Torres dengan arogan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Allison singkat.
"Kapan kau akan membunuhku?" tanya Torres pelan.
__ADS_1
"Edwin, lihatlah dia masih bisa bicara, sejak kapan pukulan mematikan milikmu menghilang?" tanya Allison tanpa menoleh. Tanpa berkata Edwin pun langsung melangkah, kemudian memberikan beberapa pukulan yang membuat Torres tak lagi bisa bicara.
Usai memukul Torres, Edwin kembali ke posisi semula. Asisten Juan memberikan tissue kepada tuan mudanya, Allison mengelap percikan darah yang mengotori pipinya.
"Tentu aku akan melenyapkanmu, tapi setelah kau mengatakan siapa sosok itu?"
"Sampai mati, aku tidak akan mengatakannya," ucap Torres dengan terbata-bata.
"Baiklah," Allison bangkit dari duduknya.
"Kubur mereka semua hidup-hidup!" titahnya kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Tunggu!" cegat Torres, Allison menyeringai.
"Apa kau berubah pikiran?" tanya Allison santai.
"Lepaskan aku, maka akan aku katakan."
"Edwin, lepaskan dia!"
"Tuan," panggil Asisten Juan, tapi Allison mengangkat telapak tangan sebagai isyarat agar asisten Juan tak banyak bicara.
Edwin pun membuka borgol, lalu melepaskan rantau baju yang mengikat Torres. Torres pun terjatuh ke lantai dengan darah mengucur deras.
"Katakan!" Allison melipat kedua tangan.
"Dia adalah ....
.
.
.
__ADS_1