Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 27 ~ Faylan Hilang


__ADS_3

Saat membuka kedua mata, Allison disambut oleh wajah cantik sang istri yang hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya. Allison sama sekali tak berpaling, wajah tenang Faylan saat sedang tidur begitu mempesona.


Bulu mata lentik milik Faylan bergerak pelan, saat membuka kedua mata, ia langsung menjauhkan diri karena kaget. Namun, Allison menahannya hingga kembali ke posisi semula. Faylan menelan saliva bersusah payah.


"Apa aku semengerikan itu?" Faylan reflek menggelengkan kepala.


"Apa aku membuatmu sakit?" Faylan kembali menggelengkan kepala.


"Kamu serius?" Faylan menggeleng lagi.


"Mak-maksudnya saya serius," ralat Faylan cepat.


"Bohong. Lain kali katakan sakit kalau kamu sakit, berhenti berpura-pura kuat di depanku. Aku berjanji akan menahan diri," jelas Allison membuat Faylan terdiam.


"Kalau sampai kamu berbohong, aku akan menghukummu selama 2 hari berturut-turut!" tegas Allison, Faylan menelan saliva lagi.


"Mau sekolah?" Faylan menganggukkan kepala.


"Pergilah mandi sebelum aku berubah pikiran," titah Allison, tapi Faylan masih membatu di tempat.


"Kenapa tidak pergi? Mau aku hukum?" ancam Allison.


Faylan menggeleng cepat, kemudian berkata, "Bagaimana saya bisa pergi kalau tuan tidak melepaskan saya."

__ADS_1


Allison langsung melepaskan sang istri setelah menyadari bahwa kedua lengannya masih melingkar di pinggang ramping Faylan.


Setelah Allison lepaskan, Faylan langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi. Dan sialnya, Faylan lupa membawa handuk mau pun jubah mandi. Ia sudah memeriksa setiap laci, tapi tak menemukan apa pun untuk membungkus tubuh polosnya.


Tak punya pilihan lain, Faylan membuka sedikit pintu kamar mandi, kemudian mengintip sedikit. Ia tersenyum senang kala tak lagi melihat Allison di atas ranjang. Faylan segera keluar dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.


Faylan melesat masuk ke walk in closet dan tak lupa mengunci pintunya. "Aman," ucapnya seraya membalikkan badan.


"Aaaakh!" teriak Faylan histeris karena kaget akan keberadaan Allison yang rupanya juga berada di ruangan yang sama dengannya.


Faylan langsung bersembunyi di balik pintu, Allison dengan santai mendekat kemudian memberikan seragam sekolah milik Faylan yang telah ia siapkan.


"Takut?" sempat-sempatnya Allison bertanya, Faylan berusaha menutupi bagian sensitif seadanya.


"Kenapa malu, aku bahkan sudah merasakannya. Pakai seragammu, aku akan mengantarmu berangkat sekolah," Allison pun pergi, Faylan langsung mengunci pintu. Ia menghela napas lega karena Allison benar-benar menepati janjinya.


Setelah selesai bersiap, Faylan keluar dari kamar. Ia menuju ruang makan, di sana sudah ada Allison yang menunggu dengan setelan jasnya. Allison meminta Faylan duduk dan sarapan bersama dengannya. Setelah sarapan, mereka pun berangkat.


Sampai di depan gerbang sekolah, Faylan langsung turun dari mobil. Seisi sekolah dibuat heboh karena Allison turut keluar hanya untuk memastikan sang istri benar-benar memasuki gerbang sekolah dengan aman.


Allison sengaja melakukan hal itu agar tak lagi ada murid yang berani mengganggu Faylan. Ya, diam-diam Allison telah memberikan pelajaran kepada setiap murid yang telah membully istrinya.


Setelah Faylan tak lagi nampak di pandangnya, barulah Allison masuk ke dalam mobil. Asisten Juan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Allison serius.


"Hasilnya sudah keluar, tuan," jawab asisten Juan.


"Ke rumah sakit sekarang juga!"


"Baik, tuan."


***


Faylan pulang sekolah sore hari sekitar jam 3 sore. Sementara saat ini baru menunjukkan jam 2 sore. Allison berencana datang satu jam lebih awal. Saat tengah di dalam mobil menuju sekolah, Allison mendapat panggilan dari pengawal yang mengawasi serta melindungi sang istri dari kejauhan.


"Apa?" tanya Allison singkat berselimut perasaan khawatir.


"Kami kehilangan nona Faylan, tuan," lapornya dengan suara bergetar ketakutan.


"APA!!!"


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2